Dari Rak Buku Ke Ruang Usaha Wajah Baru Perpustakaan Di Wonosobo

WONOSOBO – Perpustakaan kini tak lagi sekadar identik dengan rak buku dan ruang baca. Di Wonosobo, perpustakaan berkembang menjadi ruang belajar keterampilan hingga mendorong lahirnya peluang usaha bagi masyarakat.

Perubahan peran perpustakaan itu ditampilkan melalui Festival Literasi Kabupaten Wonosobo 2026 yang digelar di kompleks Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda), 23–25 Juli 2026.

Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Arpusda Kabupaten Wonosobo, Nilawati Diah, mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Di dalamnya terdapat puluhan stan literasi, pelaku industri kecil menengah (IKM), perpustakaan desa, sekolah, taman bacaan masyarakat, hingga komunitas literasi dalam satu ruang kolaborasi.

“Kami ingin mengenalkan bahwa perpustakaan masa kini telah bertransformasi melalui pendekatan inklusi sosial menjadi wadah produktif untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan demi meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Nilawati, pendekatan inklusi sosial diwujudkan melalui keterlibatan pelaku IKM yang mempraktikkan berbagai hasil pembelajaran berbasis perpustakaan. Mulai dari keterampilan membatik hingga pengolahan singkong menjadi keripik bernilai ekonomi, seluruhnya menunjukkan bahwa literasi dapat melahirkan peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Lebih lanjut, sebanyak 33 stan literasi nonkomersial turut meramaikan festival. Stan tersebut menampilkan inovasi perpustakaan desa dan perpustakaan sekolah dari 15 kecamatan, serta diikuti Pojok Baca Nadliyin, Kementerian Agama, dan berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Selain pameran, festival juga menghadirkan gelar wicara literasi, pertunjukan seni pelajar, serta penampilan grup musik lokal.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pembukaan festival. salah seorang pengunjung, Nana, mengaku kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi para pelajar.

“Festival Literasi ini menjadi sarana belajar yang menarik dan interaktif. Anak-anak bisa belajar sambil bermain, sehingga lebih menyenangkan. Saya juga senang karena banyak produk UMKM berkualitas dengan harga terjangkau dan bisa menikmati berbagai penampilan seni,” tuturnya.

Saat membuka kegiatan, Asisten Administrasi Umum Sekda Wonosobo, Mohammad Riyatno, yang membacakan sambutan Bupati Wonosobo, mengatakan festival menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya membaca sekaligus memperkuat kolaborasi membangun masyarakat yang cerdas dan adaptif.

Menurutnya, sinergi pemerintah daerah bersama Bunda Literasi Daerah diharapkan mampu memperluas gerakan literasi berbasis keluarga sehingga tercipta ekosistem belajar yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo turut memberikan penghargaan kepada perpustakaan desa terbaik, pemenang lomba resensi buku, lomba bertutur tingkat SD/MI, hingga penghargaan bagi pihak yang mendukung Gerakan Literasi Daerah melalui hibah sarana audiovisual dan arsip sejarah daerah.

Melalui Festival Literasi 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap budaya membaca tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan semata, tetapi juga mampu melahirkan masyarakat yang lebih kreatif, produktif, dan sejahtera melalui pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat.

Penulis: Kontributor Wonosobo


Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng

251
Dari Rak Buku Ke Ruang Usaha Wajah Baru Perpustakaan Di Wonosobo

WONOSOBO – Perpustakaan kini tak lagi sekadar identik dengan rak buku dan ruang baca. Di Wonosobo, perpustakaan berkembang menjadi ruang belajar keterampilan hingga mendorong lahirnya peluang usaha bagi masyarakat.

Perubahan peran perpustakaan itu ditampilkan melalui Festival Literasi Kabupaten Wonosobo 2026 yang digelar di kompleks Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda), 23–25 Juli 2026.

Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Arpusda Kabupaten Wonosobo, Nilawati Diah, mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Di dalamnya terdapat puluhan stan literasi, pelaku industri kecil menengah (IKM), perpustakaan desa, sekolah, taman bacaan masyarakat, hingga komunitas literasi dalam satu ruang kolaborasi.

“Kami ingin mengenalkan bahwa perpustakaan masa kini telah bertransformasi melalui pendekatan inklusi sosial menjadi wadah produktif untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan demi meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Nilawati, pendekatan inklusi sosial diwujudkan melalui keterlibatan pelaku IKM yang mempraktikkan berbagai hasil pembelajaran berbasis perpustakaan. Mulai dari keterampilan membatik hingga pengolahan singkong menjadi keripik bernilai ekonomi, seluruhnya menunjukkan bahwa literasi dapat melahirkan peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Lebih lanjut, sebanyak 33 stan literasi nonkomersial turut meramaikan festival. Stan tersebut menampilkan inovasi perpustakaan desa dan perpustakaan sekolah dari 15 kecamatan, serta diikuti Pojok Baca Nadliyin, Kementerian Agama, dan berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Selain pameran, festival juga menghadirkan gelar wicara literasi, pertunjukan seni pelajar, serta penampilan grup musik lokal.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pembukaan festival. salah seorang pengunjung, Nana, mengaku kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi para pelajar.

“Festival Literasi ini menjadi sarana belajar yang menarik dan interaktif. Anak-anak bisa belajar sambil bermain, sehingga lebih menyenangkan. Saya juga senang karena banyak produk UMKM berkualitas dengan harga terjangkau dan bisa menikmati berbagai penampilan seni,” tuturnya.

Saat membuka kegiatan, Asisten Administrasi Umum Sekda Wonosobo, Mohammad Riyatno, yang membacakan sambutan Bupati Wonosobo, mengatakan festival menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya membaca sekaligus memperkuat kolaborasi membangun masyarakat yang cerdas dan adaptif.

Menurutnya, sinergi pemerintah daerah bersama Bunda Literasi Daerah diharapkan mampu memperluas gerakan literasi berbasis keluarga sehingga tercipta ekosistem belajar yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo turut memberikan penghargaan kepada perpustakaan desa terbaik, pemenang lomba resensi buku, lomba bertutur tingkat SD/MI, hingga penghargaan bagi pihak yang mendukung Gerakan Literasi Daerah melalui hibah sarana audiovisual dan arsip sejarah daerah.

Melalui Festival Literasi 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap budaya membaca tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan semata, tetapi juga mampu melahirkan masyarakat yang lebih kreatif, produktif, dan sejahtera melalui pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat.

Penulis: Kontributor Wonosobo
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng

Dari Rak Buku Ke Ruang Usaha Wajah Baru Perpustakaan Di Wonosobo
More like this
Pesona Sindu Melati Pada Kff Sukses Kenalkan Motif Batik Khas Klaten

Pesona Sindu Melati Pada Kff Sukses Kenalkan Motif Batik Khas Klaten

admin
Konser Rakyat Berintegritas Bersama Letto Klaten Kampanyekan Antikorupsi

Konser Rakyat Berintegritas Bersama Letto Klaten Kampanyekan Antikorupsi

admin
Dongkrak Pedapatan Petani Ketua Tp Pkk Karanganyar Dorong Hilirisasi Kopi Jenawi

Dongkrak Pedapatan Petani Ketua Tp Pkk Karanganyar Dorong Hilirisasi Kopi Jenawi

admin