Transaksi Capai Rp2037 Juta Blonjo Warung Tonggo Putar Ekonomi Desa

MUNGKID – Program Blonjo Warung Tonggo yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Magelang mencatat nilai transaksi lebih dari Rp203,7 juta hanya dalam waktu sekitar dua bulan pelaksanaan di tiga desa percontohan. Capaian tersebut mendorong Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyiapkan perluasan program ke seluruh kecamatan setelah mekanisme pelaksanaannya dinilai benar-benar siap.
Hal itu mengemuka dalam rapat evaluasi Program Blonjo Warung Tonggo di Ruang Cemerlang Setda Kabupaten Magelang, Rabu (5/8/2026).
Bupati menegaskan, rapat evaluasi tidak hanya bertujuan meninjau capaian program, tetapi juga mengidentifikasi berbagai kendala sebelum implementasi diperluas.
“Saya memang meminta jangan diperluas dulu. Pastikan tiga desa percontohan ini SOP-nya benar-benar berjalan. Semua kendala kita rumuskan, semua solusi kita siapkan. Kalau sudah terbukti berhasil, baru kita duplikasi ke wilayah lain,” ujar Grengseng.
Tiga desa percontohan tersebut yakni Kelurahan Sawitan, Desa Mendut, dan Desa Deyangan. Menurutnya, ketiga wilayah itu harus menjadi model pelaksanaan yang mampu menjawab berbagai persoalan teknis sebelum diterapkan di seluruh Kabupaten Magelang.
Grengseng juga mengapresiasi penyajian hasil evaluasi yang berbasis data. Menurutnya, keberhasilan program harus dapat diukur melalui capaian yang terukur, bukan sekadar narasi.
Berdasarkan hasil evaluasi, nilai transaksi terus meningkat. Pada tahap awal, transaksi tercatat sekitar Rp18 juta, kemudian naik menjadi sekitar Rp73 juta. Secara akumulatif, selama sekitar dua bulan 10 hari pelaksanaan tercatat 5.483 transaksi dengan nilai mencapai Rp203.706.948.
“Ini menurut saya luar biasa. Mengabaikan semua kendala yang masih ada, angkanya sudah menunjukkan hasil. Ini baru melibatkan sekitar 1.400 ASN. Artinya, potensinya masih sangat besar,” katanya.
Ia menilai, apabila seluruh ASN konsisten mengalihkan sebagian belanja rutinnya ke warung di sekitar tempat tinggal, dampak ekonomi yang tercipta akan semakin besar. Dengan rata-rata belanja sekitar Rp80 ribu per ASN setiap bulan, perputaran uang di tingkat desa berpotensi meningkat hingga ratusan juta rupiah.
“Kalau ini bisa dioptimalkan, perputaran uangnya bisa berkali-kali lipat. Dampaknya langsung dirasakan pelaku usaha kecil di desa,” ujarnya.
Menurut Grengseng, Blonjo Warung Tonggo bukan sekadar program belanja, melainkan strategi memperkuat ekonomi lokal melalui perubahan perilaku konsumsi aparatur sipil negara (ASN). Program tersebut juga diharapkan mampu memperkuat kehadiran ASN dalam menggerakkan perekonomian masyarakat melalui aktivitas belanja sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang Edi Wasono menjelaskan, Blonjo Warung Tonggo diluncurkan pada 20 Mei 2026 dan hingga kini masih diterapkan di tiga desa percontohan.
Menurutnya, evaluasi dilakukan atas arahan Bupati sebelum program diperluas ke 21 kecamatan.
“Tujuan evaluasi ini untuk memastikan pelaksanaan di tiga desa benar-benar siap. Kalau semua sudah baik, baru program diperluas sehingga implementasinya lebih efektif,” jelasnya.
Edi menambahkan, selama dua bulan 10 hari pelaksanaan efektif, sistem mencatat 5.483 transaksi dengan total nilai lebih dari Rp203,7 juta. Capaian tersebut menjadi indikator positif bahwa masyarakat dan ASN mulai merespons program tersebut.
Ia optimistis, setelah implementasi di tiga desa disempurnakan dan diperluas ke seluruh kecamatan, Blonjo Warung Tonggo tidak hanya menjadi gerakan sosial, tetapi juga instrumen penguatan ekonomi kerakyatan yang menghidupkan warung-warung kecil, memperkuat UMKM, serta menjaga perputaran uang tetap berada di Kabupaten Magelang.
Penulis: Kontributor Kab Mgl
Editor: WH/DiskomdigiJtg
MUNGKID – Program Blonjo Warung Tonggo yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Magelang mencatat nilai transaksi lebih dari Rp203,7 juta hanya dalam waktu sekitar dua bulan pelaksanaan di tiga desa percontohan. Capaian tersebut mendorong Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyiapkan perluasan program ke seluruh kecamatan setelah mekanisme pelaksanaannya dinilai benar-benar siap.
Hal itu mengemuka dalam rapat evaluasi Program Blonjo Warung Tonggo di Ruang Cemerlang Setda Kabupaten Magelang, Rabu (5/8/2026).
Bupati menegaskan, rapat evaluasi tidak hanya bertujuan meninjau capaian program, tetapi juga mengidentifikasi berbagai kendala sebelum implementasi diperluas.
“Saya memang meminta jangan diperluas dulu. Pastikan tiga desa percontohan ini SOP-nya benar-benar berjalan. Semua kendala kita rumuskan, semua solusi kita siapkan. Kalau sudah terbukti berhasil, baru kita duplikasi ke wilayah lain,” ujar Grengseng.
Tiga desa percontohan tersebut yakni Kelurahan Sawitan, Desa Mendut, dan Desa Deyangan. Menurutnya, ketiga wilayah itu harus menjadi model pelaksanaan yang mampu menjawab berbagai persoalan teknis sebelum diterapkan di seluruh Kabupaten Magelang.
Grengseng juga mengapresiasi penyajian hasil evaluasi yang berbasis data. Menurutnya, keberhasilan program harus dapat diukur melalui capaian yang terukur, bukan sekadar narasi.
Berdasarkan hasil evaluasi, nilai transaksi terus meningkat. Pada tahap awal, transaksi tercatat sekitar Rp18 juta, kemudian naik menjadi sekitar Rp73 juta. Secara akumulatif, selama sekitar dua bulan 10 hari pelaksanaan tercatat 5.483 transaksi dengan nilai mencapai Rp203.706.948.
“Ini menurut saya luar biasa. Mengabaikan semua kendala yang masih ada, angkanya sudah menunjukkan hasil. Ini baru melibatkan sekitar 1.400 ASN. Artinya, potensinya masih sangat besar,” katanya.
Ia menilai, apabila seluruh ASN konsisten mengalihkan sebagian belanja rutinnya ke warung di sekitar tempat tinggal, dampak ekonomi yang tercipta akan semakin besar. Dengan rata-rata belanja sekitar Rp80 ribu per ASN setiap bulan, perputaran uang di tingkat desa berpotensi meningkat hingga ratusan juta rupiah.
“Kalau ini bisa dioptimalkan, perputaran uangnya bisa berkali-kali lipat. Dampaknya langsung dirasakan pelaku usaha kecil di desa,” ujarnya.
Menurut Grengseng, Blonjo Warung Tonggo bukan sekadar program belanja, melainkan strategi memperkuat ekonomi lokal melalui perubahan perilaku konsumsi aparatur sipil negara (ASN). Program tersebut juga diharapkan mampu memperkuat kehadiran ASN dalam menggerakkan perekonomian masyarakat melalui aktivitas belanja sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang Edi Wasono menjelaskan, Blonjo Warung Tonggo diluncurkan pada 20 Mei 2026 dan hingga kini masih diterapkan di tiga desa percontohan.
Menurutnya, evaluasi dilakukan atas arahan Bupati sebelum program diperluas ke 21 kecamatan.
“Tujuan evaluasi ini untuk memastikan pelaksanaan di tiga desa benar-benar siap. Kalau semua sudah baik, baru program diperluas sehingga implementasinya lebih efektif,” jelasnya.
Edi menambahkan, selama dua bulan 10 hari pelaksanaan efektif, sistem mencatat 5.483 transaksi dengan total nilai lebih dari Rp203,7 juta. Capaian tersebut menjadi indikator positif bahwa masyarakat dan ASN mulai merespons program tersebut.
Ia optimistis, setelah implementasi di tiga desa disempurnakan dan diperluas ke seluruh kecamatan, Blonjo Warung Tonggo tidak hanya menjadi gerakan sosial, tetapi juga instrumen penguatan ekonomi kerakyatan yang menghidupkan warung-warung kecil, memperkuat UMKM, serta menjaga perputaran uang tetap berada di Kabupaten Magelang.
Penulis: Kontributor Kab Mgl
Editor: WH/DiskomdigiJtg
