Plastik Indomaret Makin Tipis, Belanjaan Gampang Jebol!

Plastik Indomaret Makin Tipis, Belanjaan Gampang Jebol!

Indomaret menuai kritik tajam dari konsumen setianya terkait kualitas kantong plastik belanja yang semakin tipis dan mudah robek, memicu insiden barang “nyeprol” di jalan. Perubahan drastis ini mengemuka setelah kebijakan plastik berbayar diterapkan sejak Januari 2023, menimbulkan dugaan kuat adanya efisiensi anggaran yang merugikan pembeli.

Fenomena ini, yang dirasakan langsung oleh banyak pelanggan di berbagai gerai, menimbulkan kekecewaan mendalam. Plastik yang seharusnya menjadi solusi ramah lingkungan dengan bahan oxo-degradable sejak 2009, kini justru dianggap kontraproduktif karena kerap rusak dalam sekali pakai, membatasi fungsi guna ulang.

Kualitas Plastik Merosot Pascakonsumen Bayar

Sebelumnya, kantong plastik Indomaret dikenal tebal, kokoh, dan aman bahkan saat digantung di stang motor melewati jalan bergelombang. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ketebalannya anjlok drastis, menyebabkan belanjaan seringkali tumpah sebelum tiba di tujuan.

Kebijakan plastik berbayar, yang berlaku sejak awal 2023, awalnya bertujuan mendorong konsumen beralih ke tas belanja guna mengurangi sampah plastik. Setiap kantong plastik dikenakan biaya Rp 300. Namun, harapan ini kerap kandas lantaran belanja dadakan atau konsumen yang enggan membawa tas sendiri.

Meskipun Indomaret mengklaim plastiknya ramah lingkungan dengan bahan oxo-degradable (oxium) yang mudah terurai dalam dua tahun, kualitas fisik yang menurun justru menghadirkan dilema baru. Konsumen terpaksa membayar untuk kantong yang rapuh, seringkali tidak bisa dimanfaatkan kembali untuk keperluan lain seperti kantong sampah rumah tangga.

Kondisi ini ironis, karena justru berpotensi meningkatkan jumlah sampah plastik. Plastik yang tidak bisa dipakai ulang otomatis akan langsung dibuang, bertentangan dengan semangat pengurangan limbah. Konsumen merasa terjebak antara membayar plastik rapuh atau direpotkan dengan insiden belanjaan tumpah.

Dugaan efisiensi anggaran produksi menjadi sorotan utama di balik perubahan kualitas ini. Indomaret disebut-sebut sengaja menekan biaya dengan mengubah spesifikasi kantong plastik dari yang tebal menjadi jauh lebih tipis, meskipun bahan dasar ramah lingkungan tetap digunakan.

Kritik Pedas dari Konsumen Setia

“Plastik Indomaret itu, sudah dari 2009 pakai bahan yang bikin si plastik jadi ramah lingkungan. Hancur dalam dua tahun kan, ya? Nah, dari 2009 itu, plastik kamu pernah setebal itu, loh. Kuat. Beneran deh enggak bohong. Lha kok sekarang jadi tipis bingit itu bagaimana ceritanya, dah? Nyeprol belanjaanku, Domar. Nyeprol~” keluh seorang pelanggan setia, menyoroti penurunan kualitas yang mencolok.

Frustrasi konsumen memuncak melihat rapuhnya kantong yang dibayar. “Bayangkan, masa beberapa kali belanjaan saya nyeprol di jalan gara-gara plastiknya robek? Kan kesel,” imbuhnya. Pengalaman ini bukan lagi insidental, melainkan pola yang berulang dan merugikan.

“Kalau ini cara kamu untuk membuat kami beralih dari plastik ke kantong belanja, plis, ini enggak lucu,” tegasnya. “Ini malah terlihat seperti kamu sedang melakukan efisiensi anggaran kantong plastik. Kantong plastik yang semula tebal, diubah jadi tipis demi menekan biaya produksi.”

Tuntutan Konsumen: Kembalikan Kualitas

Permintaan untuk mengembalikan kualitas kantong plastik yang kuat, meski tetap ramah lingkungan, kini menguat. Konsumen berharap Indomaret tidak hanya fokus pada aspek “berbayar” dan “oxo-degradable” namun juga memastikan fungsionalitas dan daya tahan produk yang mereka jual demi kenyamanan dan kepercayaan pelanggan.


Posted

in

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *