Category: Jawa Tengah
Masyarakat Pati Diajak Peduli Kesehatan Mental Ibu

PATI – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra menegaskan, menjaga kesehatan mental seorang ibu merupakan tanggung jawab kolektif keluarga dan masyarakat, terutama sosok ayah.
Hal itu disampaikannya dalam Pengarahan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat pada Hari Kesatuan Gerak PKK Ke-54, di Pendapa Kabupaten Pati, Jumat (3/7/2026). Menurutnya, kesehatan mental ibu merupakan fondasi lahirnya keluarga yang harmonis, sehat, dan sejahtera. Karena itu, dia mengajak seluruh keluarga membangun lingkungan yang saling mendukung, agar para ibu mampu menjalankan perannya secara optimal.
“Menjaga kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama. Ayah harus hadir memberikan dukungan kepada istri, agar tercipta keluarga yang harmonis, sehat, dan sejahtera,” ujar Chandra.
Dia juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi yang baik di dalam keluarga, serta membiasakan aktivitas positif. Penggunaan teknologi dan media sosial juga harus dilakukan secara bijak, agar informasi yang diterima maupun dibagikan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Orang tua harus menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Dampingi tumbuh kembang mereka dan bijaklah dalam menyaring informasi dari media sosial,” katanya.
Senada, Plt Ketua TP PKK Kabupaten Pati, Dwi Risma Ardhi Chandra menyampaikan, penguatan kesehatan mental ibu merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang berkualitas. Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin meningkatkan pengetahuan sekaligus memperkuat peran Perempuan, sebagai penggerak kesehatan keluarga dan masyarakat.
“Semoga ilmu yang diperoleh hari ini dapat diterapkan di lingkungan keluarga masing-masing, sehingga mampu melahirkan keluarga yang sehat, kuat, dan saling mendukung,” ujar Dwi.
Psikolog Klinis RSUD RAA Soewondo Pati, Siti Fathurrohmah menjelaskan, ibu kerap menghadapi beban ganda sebagai pengasuh, pengelola rumah tangga, pekerja, sekaligus pelaku kegiatan sosial, sehingga berisiko mengalami burnout (stres berat di pekerjaan), serta kelelahan emosional apabila tidak dikelola dengan baik.
“Jangan memendam masalah atau melampiaskannya di media sosial. Kenali tanda-tanda kelelahan mental, lakukan selfcare, dan jangan ragu mencari bantuan profesional atau bercerita kepada orang yang tepat. Dukungan suami dan keluarga menjadi kunci terjaganya kesehatan mental ibu,” jelasnya.
Penulis: Kontributor Kab Pati
Editor: Di, Diskomdigi Jateng

Festival Bunga Bandungan Diharapkan Jadi Pengungkit Ekonomi Warga

KABUPATEN SEMARANG – Sebanyak 20 kendaraan hias yang dipenuhi aneka jenis bunga segar dan kertas, menyemarakkan sepanjang jalan Ambarawa – Bandungan, Minggu (5/7/2026) siang. Pawai megah ini menjadi puncak pergelaran Festival Bunga Bandungan ke-5, dimulai dari Alun-Alun Bandungan hingga Lapangan Desa Jetis.
Tidak hanya pedagang dan petani bunga, komunitas kesenian tradisional di seputaran Bandungan, juga ikut serta memeriahkan defile tersebut.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha berharap, salah satu kegiatan tahunan di Kabupaten Semarang itu, dapat membawa dampak positif berkelanjutan di berbagai sektor. Mulai dari pertanian, ekonomi kreatif, pemberdayaan UMKM, maupun pariwisata itu sendiri.
“Semoga bisa meningkatkan kesejahteraan petani dan pedagang bunga, serta masyarakat luas. Kesenian tradisional juga dapat berkembang, karena mendapat tempat di sini,” ujarnya.
Ketua Persatuan Petani Pedagang Bunga Bandungan (P3BB), Endro Pranoto menyampaikan, Festival Bunga Bandungan rutin digelar tiap tahun, untuk mempromosikan potensi bunga potong segar Bandungan ke pasar nasional, bahkan internasional.
Dikatakan, sejarah tentang bunga dari Bandungan sudah dikenal sejak zaman kerajaan Syailendra, sebagai sesaji.
“Kami para petani, pedagang, dan pelaku usaha bunga lainnya ingin potensi bunga segar di Bandungan dapat dikenal dunia,” tegasnya.
Selain kirab mobil hias, lanjutnya, Festival Bandungan juga dimeriahkan berbagai acara, yakni aneka lomba, workshop merangkai bunga, dan pertunjukan kesenian tradisional. Acara tambah menarik dengan kehadiran Putri Indonesia Pariwisata 2026, Karina Moudy Widodo.
Penulis: Junaedi, Diskomifo Kab Semarang
Editor: Di, Diskomdigi Jateng

Lari Sambil Berbagi Rp600 Juta Dari Rupiah Borobudur Playon Disumbangkan Ke Warga
MAGELANG — Gelaran Rupiah Borobudur Playon 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga lari, tetapi juga menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Seluruh dana pendaftaran peserta yang terkumpul lebih dari Rp600 juta, akan disalurkan kepada 10 desa di sekitar Borobudur, untuk mendukung program pengelolaan sampah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, mengapresiasi konsistensi Bank Indonesia yang setiap tahun menghadirkan Rupiah Borobudur Playon, dengan menggabungkan olahraga, pemberdayaan ekonomi, edukasi, hingga aksi sosial.
“Kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia, yang selalu konsisten menyelenggarakan kegiatan ini,” kata Sumarno, saat Konferensi Pers di Kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (5/7/2026).
Menurutnya, manfaat kegiatan tersebut tidak berhenti pada aspek kesehatan. Event lari juga menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata olahraga (sport tourism).
“Jawa Tengah pertumbuhan ekonominya banyak ditopang konsumsi. Untuk meningkatkan konsumsi, tentu saja harus banyak mendatangkan orang dari luar Jawa Tengah,” ujarnya.
Sumarno menilai, Rupiah Borobudur Playon menjadi contoh, bagaimana sebuah event olahraga mampu memberikan manfaat yang lebih luas. Selain menggerakkan sektor pariwisata dan UMKM, penyelenggaraan tahun ini juga menghadirkan dampak sosial melalui penyaluran dana pendaftaran peserta untuk masyarakat sekitar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Noor Nugroho mengatakan, seluruh dana pendaftaran peserta yang nilainya mencapai lebih dari Rp600 juta, akan disalurkan kepada 10 desa di sekitar Borobudur, untuk mendukung program pengelolaan sampah.
“Yang kami peroleh dari pendaftaran pelari itu kira-kira Rp600 juta, dan itu akan kami donasikan ke 10 desa untuk program pengolahan sampah,” ujarnya.
Selain lomba lari 5K dan 10K, kegiatan juga menghadirkan puluhan UMKM binaan Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, perlindungan konsumen, Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), hingga operasi pasar murah.
Noor menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap Rupiah Borobudur Playon terus meningkat. Jika pada penyelenggaraan perdana 2023 diikuti sekitar 2.000 peserta, tahun ini jumlahnya mencapai sekitar 4.000 pelari.
Antusiasme peserta juga terlihat dari keikutsertaan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Ahmad Luthfi mengikuti kategori 5 kilometer, sementara Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menuntaskan rute 10 kilometer bersama ribuan pelari lainnya.
Peserta asal Yogyakarta, Laras Khalifah, mengaku kembali mengikuti Rupiah Borobudur Playon, karena suasana yang ditawarkan selalu membuatnya nyaman. Tahun ini merupakan kali ketiganya mengikuti ajang tersebut.
“Event ini sangat menyenangkan. Rutenya juga bagus. Kebetulan tadi tidak terlalu panas, suasananya meriah, saya ikut bersama anak saya, dan kami sangat menikmati event ini,” ujar Laras.
Menurutnya, kedekatan lokasi dengan tempat tinggal menjadi salah satu alasan memilih Rupiah Borobudur Playon. Namun, yang membuatnya terus kembali, adalah atmosfer kawasan Borobudur yang sejuk dan menyenangkan.
“Selain dekat dari rumah, suasananya juga sejuk dan menyenangkan. Itu yang membuat saya tertarik ikut lagi,” kata Laras.(Humas Jateng)*ul

Sambil Dorong Kursi Roda Anak Ahmad Luthfi Ramaikan Rupiah Borobudur Playon
MAGELANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, ikut meramaikan event Rupiah Borobudur Playon 2026, yang digelar di Kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang pada Minggu (5/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan upaya untuk mendorong masyarakat, agar gemar berbagi dan selalu cinta rupiah.
Event yang digelar Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Tengah dan didukung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut, diikuti sekitar 4.000 pelari dari berbagai kalangan. Terbagi atas dua kategori yaitu kategori 10K dan 5K.
“Dengan kegiatan ini, masyarakat dididik untuk cinta rupiah,” kata Luthfi, seusai menuntaskan rute 5K sembari mendorong kursi roda putranya, Muhammad Alif Daffa.
Event tersebut sangat tepat digunakan sebagai sarana informasi, sosialisasi, edukasi, dan berbagi. Apalagi, lari merupakan salah satu olahraga yang sedang digandrungi oleh berbagai kalangan dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, menurut Luthfi, event olahraga lari ini tidak sekadar menyehatkan jasmani, melainkan juga mendukung sektor pariwisata olahraga (sport toutism) yang sedang bergeliat di Jawa Tengah.
“Mendukung sport tourism ini juga penting. Dampaknya UMKM bisa hidup, usaha-usaha lain hidup, komunitas-komunitas yang lain hidup,” katanya.
Karenanya, gubernur mendorong seluruh bupati dan wali kota untuk mencari spot-spot menarik, yang dapat diangkat sebagai sport tourism.
Dalam kesempatan itu, Luthfi juga berterima kasih atas semua dukungan dan kerja sama dari Bank Indonesia, yang telah sukses menyelenggarakan kegiatan tersebut. Termasuk, kegiatan lain yang bersentuhan dengan sektor perbankan dan perekonomian di Jawa Tengah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Noor Nugroho mengatakan, kegiatan Rupiah Borobudur Playon 2026 merupakan penyelenggaraan keempat. Kegiatan tersebut memang dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian warga sekitar. Selain itu juga sebagai sarana edukasi dan literasi mengenai cinta, bangga, dan paham rupiah. Sebab, acara itu terdiri dari banyak rangkaian.
“Kemarin ada beberapa event terkait dengan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS),” kata dia.
Dalam penyelenggaraan tersebut juga ada 53 booth UMKM yang sebagian besar terdiri atas sektor makanan dan minuman. Selanjutnya, ada wastra atau pakaian, juga tematik seperti booth OJK, BNN, Kimia Farma, dan Wakaf.
“Ini sesuai tema kita ‘Lari untuk Berbagi’, jadi di sini unsur berbagi. Uang pendaftaran kita sumbangkan seluruhnya kepada masyarakat di sini, jadi ada beberapa desa yang akan menerima. Ada sekitar Rp600 juta yang nanti akan kita serahkan kepada 10 desa,” ungkapnya.
Pelari asal Magelang, Rizal, mengaku sudah tiga kali ikut Rupiah Borobudur Playon. Untuk keikutsertaan ketiga ini, dia bersama seorang rekannya memilih untuk menggunakan aksesoris uang koin berukuran besar yang dikalungkan di badannya. Uang koin tersebut terdapat tulisan “Hutan untuk Kesejahteraan”.
“Ini juga untuk kampanye lingkungan. Harapannya ke depan event ini lebih ramai lagi,” kata Rizal. (Humas Jateng)*ul

Musim Liburan Kota Pekalongan Gelar Liburan Seru Di Perpustakaanku

KOTA PEKALONGAN – Masa liburan bagi pelajar sekolah bisa diisi dengan berbagai kegiatan positif, salah satunya dengan mengikuti program “Liburan Seru di Perpustakaanku”, di Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan, pada 1-8 Juli 2026, pukul 08.00 WIB sampai selesai.
Berbagai acara dapat diikuti secara gratis oleh para pelajar usia SD hingga SMP di Kota Pekalongan, antara lain Seminar Edukasi Literasi, Workshop Animasi Sederhana, Read Aloud, dan Workshop Permainan Edukasi.
Kepala Dinarpus Kota Pekalongan, Gufron Faza melalui Kepala Bidang Perpustakaan setempat, Mahfud, menuturkan, selain gratis, pendaftaran berbagai acara tersebut juga mudah. Peserta dapat mengisi formulir digital melalui link https://bit.ly/liburandiperpuskota.
Menurutnya, program Liburan Seru di Perpustakaanku” lahir dari tingginya antusiasme pelajar yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan selama liburan sekolah.
“Selain mengisi waktu liburan secara positif, kegiatan ini juga menjadi sarana menumbuhkan budaya literasi sejak dini,” ujarnya saat ditemui di Perpustakaan Daerah setempat, Selasa (30/6/2026).
Mahfud menambahkan, ada pembatasan kuota peserta Workshop Animasi Sederhana, yakni maksimal 50 orang, sementara kuota kegiatan lainnya disesuaikan dengan animo pendaftar dan kapasitas ruang kegiatan.
Kegiatan ini, imbuhnya, diharapkan dapat meningkatkan budaya literasi masyarakat dan mampu mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Pekalongan.
“Dengan meningkatnya indeks tersebut diharapkan menjadi langkah strategis agar Kota Pekalongan dapat masuk dalam tiga besar kabupaten/kota dengan capaian IPLM terbaik di Provinsi Jawa Tengah,”tukasnya.


Penulis: Dian, Tim Liputan Dinkominfo Kota Pekalongan
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng
Skrining Nasional Tuberkulosis Dimulai Di Nusakambangan
CILACAP – Pemerintah memulai pelaksanaan skrining tuberkulosis (TB) secara nasional bagi warga binaan di lingkungan pemasyarakatan. Lembaga pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, menjadi lokasi perdana.
Kegiatan yang dipusatkan di Lapas Kelas IIA Ngaseman, Nusakambangan, pada Senin (29/6/2026) tersebut, merupakan kolaborasi antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan Kementerian Kesehatan, dalam rangka eliminasi tuberkulosis 2030.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto mengatakan, program tersebut akan menjangkau 272.573 orang warga binaan, dan 48.876 orang petugas pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Di Nusakambangan, sasaran pemeriksaan meliputi 4.842 warga binaan, dan 926 petugas.
Menurut Agus, kondisi lapas yang dihuni oleh banyak orang di dalam ruang terbatas, berisiko tinggi terjadi penularan penyakit menular, termasuk TB. Deteksi dini menjadi penting, agar pengobatan dapat segera diberikan sekaligus memutus rantai penularan.
“Kesehatan merupakan hak setiap warga binaan. Melalui skrining ini kami ingin memastikan penyakit dapat ditemukan lebih awal, sehingga penanganannya lebih cepat, dan penyebarannya bisa dicegah,” ujarnya.
Ditambahkan, selama empat hari pelaksanaan, para warga binaan dan petugas pemasyarakatan menjalani serangkaian pemeriksaan, meliputi cek kesehatan gratis, pemeriksaan laboratorium, rontgen dada, serta skrining TB dan HIV.
Menteri Budi mengatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian tuberkulosis, dengan sekitar satu juta kasus baru setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 126 ribu orang penderita meninggal dunia. Padahal, penyakit ini dapat disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini.
Dia menilai, lingkungan pemasyarakatan menjadi salah satu lokasi yang perlu mendapat perhatian, karena tingkat kepadatan hunian membuat potensi penularan lebih tinggi dibandingkan masyarakat pada umumnya.
“Siapa pun, termasuk warga binaan, berhak memperoleh layanan kesehatan yang setara. Karena itu, pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara rutin sebagai langkah pencegahan,” kata Budi.
Kepala Lapas Kelas IIA Ngaseman Suwarto, mengungkapkan, lapas yang dipimpinnya saat ini dihuni sekitar 540 orang warga binaan. Jumlah tersebut jauh di atas kapasitas ideal sebanyak 257 orang. Akibatnya, satu kamar dihuni oleh beberapa orang, sehingga meningkatkan risiko penyebaran TB.
Lebih lanjut, saat ini terdapat 15 orang warga binaan yang masih menjalani terapi TB. Seluruh pasien menjalani pengobatan secara berkala dan ditempatkan di ruang terpisah, agar tidak menularkan penyakit kepada penghuni lain.
Selain pelaksanaan skrining, Kementerian Kesehatan juga menyerahkan bantuan sejumlah peralatan medis, untuk memperkuat layanan kesehatan di unit pemasyarakatan. Program serupa akan dilaksanakan secara bertahap di 532 lapas dan rumah tahanan di seluruh Indonesia hingga akhir 2026.

Penulis: Dn, Kominfo Cilacap
Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Jateng
Ratusan Pembudidaya Ikan Di Brebes Jadi Target Penebusan Pupuk Bersubsidi
BREBES – Pemerintah Kabupaten Brebes meluncurkan program Penebusan Pupuk Bersubsidi Sektor Perikanan 2026. Program itu diharapkan dapat membantu ratusan orang pembudidaya ikan setempat, untuk meningkatkan produktivitas tambak mereka.
Petani tambak asal Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Wasirudin mengatakan, dia menjadi lebih optimistis mengelola tambaknya, karena kini biaya produksi dapat ditekan melalui program pupuk bersubsidi.
“Alhamdulillah kami merasa sangat terbantu. Dengan adanya pupuk bersubsidi dan harganya yang lebih terjangkau, biaya produksi menjadi lebih ringan, sehingga kami semakin semangat mengelola tambak,” ujar Wasirudin, seusai mengikuti acara peluncuran penebusan pupuk bersubsidi di Aula Balai Desa Grinting, Senin (29/6/2026).
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, mengatakan, program pupuk bersubsidi merupakan bentuk komitmen pemerintah, untuk memperkuat sektor perikanan budidaya yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menurutnya, pupuk tidak hanya menjadi kebutuhan sektor pertanian, tetapi juga berperan penting dalam budidaya perikanan, karena membantu menumbuhkan pakan alami yang berdampak pada peningkatan produktivitas tambak.
“Pemerintah akan terus berupaya memberikan kemudahan kepada para pembudidaya, melalui program pupuk bersubsidi. Harapannya, fasilitas ini benar-benar dimanfaatkan agar produktivitas tambak meningkat, dan kesejahteraan masyarakat perikanan semakin baik,” tegasnya.
Paramitha menjelaskan, pelaksanaan program tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 22 Tahun 2025, tentang pemberian subsidi pupuk bagi pembudidaya ikan. Di Kabupaten Brebes, pendataan calon penerima dilakukan melalui sistem elektronik e-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Pembudidaya (e-RDKK Perikanan/e-RPSP).
Hingga saat ini, ujarnya, alokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Brebes pada 2026 mencapai 1.500 ton, terdiri atas pupuk Urea dan SP-36. Pupuk tersebut akan didistribusikan kepada 554 orang pembudidaya ikan, yang terdaftar sebagai penerima pupuk bersubsidi.
Bupati juga memastikan proses penebusan kini semakin mudah, karena pembudidaya cukup membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) ke kios atau titik penyaluran resmi, salah satunya melalui BUMDes Moncer Bae Desa Grinting.
“Saya berharap para penyuluh terus memberikan pendampingan dan edukasi, agar seluruh pembudidaya yang berhak dapat memanfaatkan program ini dengan baik,” pesannya.
Manager Wilayah Jateng 2 PT Pupuk Indonesia (Persero), Safari Yusuf, menegaskan pihaknya siap menjamin ketersediaan stok dan kelancaran distribusi pupuk bersubsidi hingga ke titik penyaluran. Menurutnya, sinergi dengan pemerintah daerah, Dinas Perikanan, BUMDes, dan penyuluh terus dilakukan, agar penyaluran berjalan tepat waktu, tepat sasaran, serta mudah diakses pembudidaya.
“Semoga seluruh kuota pupuk yang telah dialokasikan dapat dimanfaatkan secara optimal, untuk meningkatkan produktivitas tambak masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes, Eko Supriyanto mengatakan, dukungan pupuk bersubsidi sebanyak 1.500 ton, diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan tambak air payau seluas 9.923 hektare. Dengan meningkatnya produktivitas komoditas unggulan, terutama bandeng dan udang, sektor perikanan diharapkan semakin berkontribusi terhadap ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Kabupaten Brebes.

Penulis: Suprapto/Bayu Arfi, KOntributor Brebes
Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Jateng
Lestarikan Jejak Sejarah Cilacap Kumpulkan Puluhan Naskah Kuno
CILACAP – Sebanyak 41 dokumen naskah kuno berhasil diidentifikasi di Kabupaten Cilacap. Naskah-naskah kuno itu ditemukan di 14 kecamatan dan 18 desa/kelurahan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap bersama pemerhati sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta komunitas Tjilatjap History, pada kegiatan Sosialisasi, Penelusuran, Visitasi, dan Identifikasi Naskah Kuno Tahun 2026, selama Mei hingga Juni 2026.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap Ahmad Fauzi mengatakan, temuan tersebut menunjukkan masih tersimpannya jejak sejarah dan warisan budaya di berbagai wilayah, yang belum banyak dikenal masyarakat. Setiap naskah kuno memiliki nilai penting sebagai sumber informasi sejarah, sekaligus bagian dari identitas budaya daerah.
“Naskah kuno bukan sekadar dokumen lama. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, sejarah, silsilah, hingga nilai-nilai kehidupan masyarakat pada masa lalu yang perlu dijaga, agar tidak hilang ditelan waktu,” kata Fauzi, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, naskah yang ditemukan ditulis di berbagai media, mulai dari kertas, daun lontar, lempeng tembaga, hingga batu giok. Isinya pun beragam, meliputi ajaran agama, sejarah lokal, silsilah keluarga, pengobatan tradisional, hingga pengetahuan masyarakat pada zamannya.
Lebih lanjut, kegiatan penelusuran diawali dengan sosialisasi yang diikuti 142 orang peserta dari unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, perangkat daerah, akademisi, komunitas sejarah, pegiat budaya, dan masyarakat. Selanjutnya, tim melakukan visitasi ke berbagai wilayah, untuk mendata sekaligus mengidentifikasi keberadaan naskah kuno.
Meski telah menemukan puluhan naskah, Fauzi mengatakan, upaya pelestarian masih menghadapi tantangan. Hingga kini masih terdapat sejumlah kecamatan yang belum ditemukan naskah kuno. Di salah satu wilayah, tim bahkan telah mengetahui keberadaan sebuah naskah, tetapi belum dapat diidentifikasi karena belum diizinkan oleh pemiliknya.
“Kami ingin menegaskan bahwa pendataan tidak berarti mengambil alih kepemilikan naskah. Tim hanya melakukan identifikasi, pendokumentasian, dan memberikan pendampingan mengenai upaya pelestarian agar naskah tetap terjaga,” ujarnya.
Menurut Fauzi, seluruh hasil identifikasi akan menjadi dasar registrasi ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sekaligus membuka peluang konservasi dan digitalisasi naskah kuno, sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Ia mengajak masyarakat yang mengetahui atau menyimpan naskah kuno, untuk melaporkannya kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, agar naskah-naskah itu dapat didata dan dilestarikan.
“Bisa jadi naskah yang selama ini tersimpan di rumah masyarakat, merupakan bagian penting dari sejarah Cilacap. Semakin cepat didata, semakin besar peluang naskah tersebut dapat diselamatkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Fauzi.
Penulis: Dn, Dinas Kominfo Kab Cilacap
Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Prov Jateng
Hadiri Grebeg Suran Lintas Agama Dan Budaya Bupati Wonosobo Ajak Warga Perkuat Gotong Royong
WONOSOBO – Di tengah tantangan kehidupan sosial yang semakin dinamis, kerukunan dan harmoni merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Keberagaman yang dimiliki masyarakat merupakan kekuatan strategis yang harus terus dirawat, sebagai modal sosial untuk mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pesan itu disampaikan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, pada acara Grebeg Suran Lintas Agama dan Budaya ke-12 Tahun 2026, yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Wonosobo, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, masyarakat Wonosobo saat ini telah melangkah lebih jauh dari sekadar toleransi, sebagai kemampuan menerima perbedaan.
“Hari ini kita sedang membangun sesuatu yang lebih tinggi, yakni harmoni. Keberagaman tidak lagi sekadar hidup berdampingan, tetapi menjadi kekuatan untuk bekerja sama, bergotong royong, menyelesaikan persoalan bersama, serta menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat. Inilah modal sosial yang harus terus kita jaga sebagai fondasi pembangunan Kabupaten Wonosobo,” tegas Bupati Afif, sapaan akrabnya.
Ia menjelaskan, pembangunan tidak hanya bertumpu pada infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memerlukan kohesi sosial yang kuat. Daerah yang masyarakatnya hidup rukun akan lebih mampu menghadapi berbagai tantangan, memperkuat daya tahan sosial, menciptakan iklim investasi yang kondusif, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Afif mengajak seluruh warganya untuk terus menjaga persaudaraan, memperkuat semangat gotong royong, mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, Wonosobo tetap menjadi daerah yang damai, inklusif, toleran, dan berdaya saing.
Lebih lanjut, Grebeg Suran tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga ruang kebangsaan, mempertemukan tokoh agama, tokoh budaya, organisasi kemasyarakatan, pemerintah, pelajar, serta masyarakat dari berbagai latar belakang dalam semangat persaudaraan dan gotong royong.
Selain itu, Grebeg Suran juga menjadi tonggak penting dengan dilaksanakannya Launching dan Pengukuhan Paguyuban Perempuan Penggerak Harmoni dan Kerukunan (P3HK) Kabupaten Wonosobo Periode 2026–2027. Kehadiran paguyuban tersebut menjadi inovasi dalam memperluas partisipasi masyarakat, khususnya perempuan, sebagai agen penggerak kerukunan yang dimulai dari lingkungan keluarga, komunitas, hingga kehidupan bermasyarakat.
Bupati menyampaikan, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi, menanamkan nilai toleransi sejak dini, serta menjadi perekat kehidupan sosial. Karena itu, keberadaan P3HK diharapkan mampu memperkuat gerakan merawat harmoni secara berkelanjutan.
“Saya berharap paguyuban ini mampu menjadi motor penggerak lahirnya keluarga-keluarga yang harmonis, sebagai fondasi masyarakat yang rukun, kuat, dan tangguh,”ujarnya.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Wonosobo, Agus Kristiono, mengatakan,
kerukunan tidak dapat dipelihara hanya melalui slogan atau seremoni, tetapi harus terus dibangun melalui interaksi dan komunikasi, yang melibatkan seluruh unsur masyarakat.“Grebeg Suran menjadi bukti bahwa keberagaman dapat menjadi energi persatuan, memperkuat kebangsaan, dan membangun kolaborasi lintas agama maupun budaya demi menjaga kondusivitas daerah,” katanya.
Ia menambahkan, pembentukan P3HK diharapkan mampu memperluas gerakan merawat harmoni hingga ke tingkat keluarga, sehingga nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan kepedulian sosial dapat diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi mendatang.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Syaiful Mujab. Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan Grebeg Suran selama 12 tahun merupakan pencapaian yang patut dibanggakan. Keberhasilan menjaga tradisi tersebut menunjukkan jika kerukunan bukan sekadar konsep, melainkan telah menjadi budaya hidup masyarakat Wonosobo.
“Kerukunan yang telah terbangun harus terus kita rawat, terutama kepada generasi muda. Tugas kita ke depan adalah memastikan nilai-nilai toleransi, tradisi, dan budaya tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.
Sebagai informasi, rangkaian kegiatan ditutup dengan kirab tumpeng dan gunungan yang diikuti unsur lintas agama, tokoh adat, budayawan, organisasi masyarakat, serta masyarakat umum. Kirab menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi, keberkahan alam, dan kehidupan masyarakat yang tenteram.

Penulis: Sofyan, Kontributor Wonosobo
Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Jateng