Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa
Mempertanyakan fungsi bridesmaid dan groomsmen di hajatan desa.
Sudah beberapa kali saya ikut sinoman di hajatan kampung. Tugasnya macam-macam. Mengangkat kursi, memasang tenda, mengantar konsumsi, mengisi galon, mengatur parkir dadakan, hingga membereskan piring setelah tamu pulang. Pokoknya, kalau ada pekerjaan yang tidak kelihatan, tapi harus selesai, biasanya jatuh ke tangan sinoman.
Karena sering ikut membantu hajatan, saya mulai menyadari satu perubahan. Sekarang hampir setiap pengantin punya bridesmaid dan groomsmen. Tidak kecuali pengantin yang menggelar resepsi di kampung atau di desa.
Seragamnya senada, sepatunya sama, makeup-nya rapi, dokumentasinya lengkap. Bahkan, sebelum akad dimulai, fotografer sudah sibuk mengarahkan mereka bergaya.
Saya tidak mempermasalahkan keberadaan mereka. Yang membuat saya heran adalah perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang benar-benar terasa saat hajatan berlangsung.
Tetap sinoman dan ibu-ibu dapur yang paling banyak membantu
Sementara pengantin mengeluarkan uang untuk membeli baju seragam, riasan, buket bunga, hampers, hingga biaya dokumentasi tambahan, pekerjaan yang membuat hajatan tetap berjalan masih dikerjakan orang-orang yang sama.
Ibu-ibu dapur memasak sejak subuh. Bapak-bapak mendirikan tenda. Pemuda kampung mengangkat meja dan kursi. Sinoman mondar-mandir mengantar makanan tanpa sempat duduk.
Bridesmaid dan groomsman memang mendampingi pengantin. Namun, di banyak hajatan kampung yang saya ikuti, peran mereka lebih sering berhenti di situ. Saya pernah melihat belasan groomsman berdiri rapi di pelaminan.
Ketika konsumsi untuk tamu VIP kurang, yang berlarian mencari tambahan tetap sinoman. Saat galon habis, sinoman lagi yang mengganti. Ketika hujan datang dan air mulai masuk ke area prasmanan, bapak-bapak kampung yang sibuk memindahkan meja. Bridesmaid dan groomsman tetap sibuk menunggu giliran difoto.
Yang paling menarik justru setelah acara selesai. Bridesmaid dan groomsmen pulang lebih dulu karena sesi mereka sudah selesai. Sementara sinoman masih mengangkat kursi ke rumah tetangga, menggulung terpal, mengumpulkan gelas, dan mencuci peralatan yang dipinjam. Ibu-ibu dapur bahkan baru benar-benar bisa duduk ketika tamu terakhir pulang.
Jasa yang tidak terpotret kamera fotografer
Ironisnya, orang-orang yang paling capek justru hampir tidak pernah masuk album pernikahan.
Album pernikahan penuh dengan senyum bridesmaid, groomsman, keluarga inti, dan tamu penting. Hampir tidak ada foto ibu-ibu yang menggoreng ratusan potong ayam sejak pukul empat pagi. Hampir tidak ada foto bapak-bapak yang berkeringat memasang tenda sehari sebelumnya. Sinoman paling banter hanya tertangkap kamera secara tidak sengaja ketika sedang lewat membawa nampan.
Saya bukan sedang mengadu nasib sebagai mantan sinoman. Saya hanya merasa ada yang berubah dari cara kita memandang hajatan kampung.
Dulu, ukuran meriahnya hajatan adalah ramai orang membantu. Tetangga datang tanpa diminta. Pemuda kampung berebut mengangkat kursi. Ibu-ibu saling berbagi tugas di dapur. Gotong royong menjadi kebanggaan yang tidak perlu dipamerkan.
Sekarang, sebagian perhatian justru bergeser ke hal-hal yang tampil bagus di kamera fotografer. Seragam bridesmaid harus estetik. Buket harus serasi. Konten media sosial harus cantik.
Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi kadang kita lupa bahwa hajatan tidak berjalan karena hasil foto yang bagus. Hajatan berjalan karena ada orang-orang yang mau bekerja ketika kamera tidak sedang mengarah kepada mereka.
Saya bahkan beberapa kali mendengar calon pengantin mengeluhkan biaya bridesmaid yang membengkak. Harus mencarikan kain, menyewa baju, memberi hampers, membayar makeup, bahkan kadang menanggung penginapan untuk teman yang datang dari luar kota. Jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.
Padahal, tanpa bridesmaid sekalipun, akad tetap sah, resepsi tetap berlangsung dan tamu yang datang tetap dapat makan.
Yang tidak bisa digantikan justru ibu-ibu dapur, sinoman, dan para tetangga yang bergotong royong. Bayangkan kalau mereka memutuskan libur sehari. Hajatan bisa benar-benar berantakan.
Tidak perlu memaksakan bridesmaid dan groomsmen
Itu mengapa, setiap kali melihat rombongan bridesmaid dan groomsmen berjalan masuk dengan pakaian seragam yang serba senada, saya selalu teringat orang-orang yang tidak pernah mendapat sorotan. Orang yang bajunya penuh asap dapur, yang tangannya pegal mengangkat kursi, yang baru makan setelah semua tamu pulang.
Kalau saya diminta memilih siapa tokoh utama dalam hajatan kampung, jawabannya bukan bridesmaid atau groomsman. Tokoh utamanya tetap ibu-ibu dapur, bapak-bapak yang mendirikan tenda, dan para sinoman yang sejak pagi sampai malam memastikan semuanya berjalan tanpa banyak orang menyadari mereka ada. Mungkin mereka tidak pernah masuk foto utama pernikahan. Tapi tanpa mereka, pernikahan itu mungkin bahkan tidak akan sempat difoto.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Marriage is Scary Nyata, Anak Muda Sekarang Memang Takut pada Pernikahan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh