Jawa Tengah: Banjir Mal Baru, Kepercayaan Investor Justru Menguat
SEMARANG —Geliat pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah terus tumbuh, dengan munculnya banyak mal baru. Geliat itu menandakan Jawa Tengah masih dipercaya investor.
Salah satu mal teranyar di Jawa Tengah adalah 23 Semarang Shoping Center yang ada di Kota Semarang. Mal tersebut diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Luthfi, tumbuhnya mal-mal baru tersebut membuktikan, Jawa Tengah dipercaya sebagai destinasi investasi yang aman dan nyaman bagi investor.
“Di saat tekanan fiskal dan geopolitik dunia, kita masih mampu menghadirkan investasi,” kata Luthfi, seusai meresmikan 23 Semarang Shoping Center dan Groundbreaking Hyatt Place.
Berdasarkan data, realisasi investasi di Jateng pada triwulan I 2026 mencapai Rp23,02 triliun, dengan serapan tenaga kerja sebanyak 92 ribu orang. Pada 2025, capaian investasi mencapai Rp110 triliun.
Dia menyatakan, Jawa Tengah memberikan pelayanan yang baik kepada investor, sehingga para investor juga percaya dengan menanamkan investasinya. Upaya-upaya yang dilakukan Pemprov Jateng di antaranya kemudahan perizinan, jaminan kondusivitas wilayah terkait kamanan dan ketertiban, tenaga kerja yang berkualitas.
Hal itu juga didukung dengan banyaknya kawasan industri yang ada. Tercatat ada sekitar tujuh kawasan industri eksisting yang tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, dan lainnya. Adanya kawasan industri itu sangat memudahkan para investor, untuk menanamkan modalnya di Jawa Tengah.
“Jawa Tengah adalah provinsi yang menarik untuk investasi. Maka kami minta bupati-walikota untuk membuat kawasan industri,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Luthfi menyebut, 23 Semarang Shoping Center tidak hanya didesain sebagai pusat perbelanjaan. Desainnya sudah menggunakan energi terbarukan, serta urban garden dengan ruang terbuka hijau. Hal itu sejalan dengan upaya Pemprov Jateng yang mendorong pengembangan ekonomi hijau, yang tidak merusak lingkungan.
“Bagi investasi yang menggunakan energi terbarukan kita kenakan insentif pajak, ini baru di Jateng,” jelasnya.
Lebih dari itu, 23 Semarang Shoping Center juga mampu menyerap sekitar tiga ribuan tenaga kerja.
Luthfi berharap, pengembangan mal tersebut juga dapat menghidupkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). (Humas Jateng)*ul
Pramuka: Membongkar Buang Waktu yang Justru Jadi Pondasi Karakter Sejati
“Buat apa ikut pramuka? Buang-buang waktu saja”.
Dulu, ketika masih sekolah, melihat saya aktif pramuka, almarhum Ibuk mengatakan kalimat demikian. Dulu, saya hanya menganggap angin lalu. Tapi, ketika dewasa, saya mengamini kalimat itu. Meski tentu saja dengan sudut pandang yang berbeda.
Fyi, sebelum kalian menuding saya sebagai barisan sakit hati yang hobi membolos saat latihan pramuka, izinkan saya pamer sedikit. Dulu, saya adalah aktivis pramuka garis keras. Saya pernah menjabat Ketua Dewan Ambalan, masuk jajaran Dewan Kerja Ranting (DKR), bahkan bergabung di Saka Bhayangkara di bawah naungan kepolisian. Saya pun sempat mencicipi rasanya dikirim ke lomba tingkat nasional dan pulang membawa piala.
Jadi, tulisan ini bukan berangkat dari kebencian. Tulisan ini adalah refleksi jujur dari orang yang pernah mencintai cokelat tua-cokelat muda sampai ke tulang sumsum, dan ketika dewasa akhirnya sadar kalau pramuka itu memang kegiatan buang-buang waktu.
Meski demikian, buang-buang waktu di sini nggak selalu negatif kok. Sebab, memang ada fase di mana kita harus membuang waktu dengan kegiatan yang minimal tidak berakibat ke arah negatif.
Waktu luang anak sekolah itu “berbahaya”
Sebagai alumni, harus saya akui, hampir 80 persen materi pramuka itu tidak terpakai di dunia nyata. Memangnya siapa yang kirim pesan ke pacar pakai bendera semaphore? Jelas tidak relevan.
Namun, mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Waktu luang bagi anak sekolah, terutama usia SMP dan SMA, adalah zona merah yang sangat berbahaya. Bayangkan seorang remaja laki-laki pulang sekolah jam dua siang, orang tuanya kerja, dan dia punya energi berlebih yang meluap-luap. Tanpa kanal penyaluran, energi itu akan mencari jalannya sendiri.
Jalannya biasanya kalau tidak nongkrong di warung sambil mulai belajar menyalut rokok, ya muter-muter kota tanpa tujuan jelas yang rawan gesekan dengan geng motor. Di sinilah pramuka hadir sebagai “penahan arus”.
Pramuka itu sejatinya adalah wadah untuk menghabiskan waktu luang agar anak-anak ini tidak sempat melakukan hal-hal yang benar-benar merusak. Ia adalah kegiatan “pengganti” yang sangat efektif.
Tidak harus selalu “bermanfaat besar”
Pramuka tidak menjanjikanmu jadi Elon Musk atau Bill Gates secara instan. Pramuka juga tidak menjamin nilaimu di rapot jadi cemerlang. Tentu saja tidak. Sebab, pramuka hanya akan menjamin satu hal: kamu punya lingkungan yang relatif lebih aman.
Ada struktur organisasi yang jelas, ada kakak pembina yang mengawasi, dan ada jadwal kegiatan yang membuatmu “sibuk”. Dalam konteks kenakalan remaja, menjadi sibuk—meskipun untuk hal yang terlihat buang-buang waktu—adalah sebuah kemenangan besar bagi pendidikan.
Kita harus berani jujur bahwa tidak semua kegiatan harus punya output besar yang prestisius. Kadang, keberhasilan sebuah organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler cukup diukur dari ia tidak menimbulkan dampak negatif.
Iya, bagi saya, pramuka mungkin tidak membuat orang langsung sukses besar, tapi setidaknya, pramuka jarang sekali membuat orang masuk penjara atau terjerumus narkoba. Lingkaran pertemanannya relatif lebih terkontrol dibanding pergaulan bebas di luar sana.
Dulu hampir setiap minggu waktu saya habis untuk kegiatan pramuka. Pulang sore, kulit gosong, sepatu kotor, kadang dimarahi di rumah karena terlalu sering keluar. Tapi kalau diingat-ingat lagi, justru pada masa itulah saya nyaris tidak punya waktu untuk macam-macam. Energi habis duluan buat kegiatan yang melelahkan tapi relatif aman.
Jadi, bagi para orang tua atau siswa yang merasa pramuka itu cuma bikin capek dan menyita waktu, tentu saja kalian benar. Memang begitu cara kerjanya. Pramuka adalah cara paling elegan untuk menyelamatkan masa muda dari kekosongan yang destruktif.
Biarlah waktu mereka habis untuk mengikat tali simpul yang mungkin tak akan pernah mereka gunakan lagi saat bekerja nanti, asalkan waktu mereka tidak habis untuk hal-hal yang membuat masa depan mereka hancur sebelum dimulai.
Sekali lagi, tujuan utama pramuka bukan untuk mencetak ahli sandi, baris berbaris, atau tali-temali, tapi untuk menjaga agar anak-anak kita tidak mencoba melakukan hal aneh-aneh dalam waktu luangnya. Dan bagi saya, sudut pandang ini kadang dianggap remeh. Padahal bisa saja ini punya manfaat berlipat-lipat ketimbang sekadar sertifikat atau piala tingkat nasional tapi berujung “kecelakaan” dan putus sekolah.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
PKB: Jangan Justru saat Terjadi Politik Uang, Bawaslunya Malah Hilang
loading…
Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan setuju dengan usulan dari anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Herwyn JH Malonda agar pelaku money politics atau politik uang bisa di-blacklist. Foto: Achmad Al Fiqri
JAKARTA – Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan setuju dengan usulan dari anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Herwyn JH Malonda agar pelaku money politics atau politik uang bisa di-blacklist. Sebab, kata dia, praktik politik uang bisa merusak demokrasi dan kesejahteraan rakyat.
“Wah, setuju banget! Setuju banget! Karena salah satu yang merusak demokrasi adalah politik uang. Politik uang itu menghancurkan, merusak demokrasi, dan sekaligus merusak kesejahteraan rakyat,” kata Daniel saat ditemui di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (10/5/2026).
Namun, Daniel menilai, Bawaslu harus tetap menjalankan fungsi sebagai pengawas penyelenggaraan pemilu. Ia meminta Bawaslu tak hilang bila ada praktik politik uang.
“Yang paling gampang, nomor satu, Bawaslu tegakkan aturan, jalankan tugas dengan baik. Jangan justru pada saat terjadi politik uang, malah Bawaslu-nya hilang,” tegas Daniel.
Kendati demikian, Daniel mendorong usulan pelaku politik uang diblacklist dari peserta pemilu masuk ke RUU Pemilu. Pasalnya, kata dia, praktik politik uang merupakan masalah besar di Tanah Air.
Ironi Red Sun: Microsoft Defender Justru Pulihkan Malware, Bukan Melindungi
Microsoft Defender Antivirus memiliki kerentanan keamanan “Red Sun”. Celah ini memulihkan file berbahaya ke lokasi asalnya, bukan menghapusnya, berpotensi eskalasi hak akses. Peneliti Chaotic Eclipse mengungkap temuan ini, menyoroti penanganan file bertanda “cloud”. Red Sun telah teridentifikasi sebagai ancaman nyata, terkait CVE-2026-33825. Perbarui perangkat lunak Anda.
DPR Soroti: Avtur Melonjak, Tiket Pesawat Justru Tak Perlu Naik?
Anggota Komisi VII DPR, Bambang Haryo Soekartono, mengapresiasi langkah pemerintah menyikapi kenaikan harga avtur. Pemerintah menaikkan fuel surcharge serta memangkas PPN tiket pesawat dan meniadakan bea masuk suku cadang. Kebijakan ini bertujuan meringankan beban maskapai dan dinilai mampu mengimbangi kenaikan biaya avtur.
Terhempas PHK, Suranto Justru Temukan Jalan Sukses di Dapur MBG
Suranto (50), warga Karanganyar, bangkit dari PHK. Ia kini bekerja di Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) ini. Program ini memberi Suranto kesempatan kerja, membantu mengatasi tekanan ekonomi. MBG membuka peluang bagi pekerja terdampak PHK dan masyarakat rentan di Karanganyar tanpa batasan usia.
Ironi Stigma Daycare: Saat Menyalahkan Orang Tua Justru Berbalut Nirempati
Kasus daycare problematik di Jogja memicu diskusi luas tentang pilihan pengasuhan anak. Orang tua menghadapi keputusan sulit antara daycare, babysitter, atau bantuan keluarga. Tiap opsi memiliki alasan kuat, mencerminkan kondisi dan prioritas berbeda dalam memenuhi kebutuhan anak.
Kopdes Merah Putih Tak Bebani APBN, Justru Optimalkan Dana Desa untuk Ekonomi Rakyat
Pemerintah memastikan bahwa program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Skema anggaran yang digunakan justru mengoptimalkan dana yang telah tersedia, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Hal itu dikatakan Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Fithra Faisal, Rabu (15/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah memastikan bahwa program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Skema anggaran yang digunakan justru mengoptimalkan dana yang telah tersedia, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Fithra Faisal, menyampaikan bahwa berbagai sumber pendanaan seperti dana desa, Dana Alokasi Umum (DAU), serta Dana Bagi Hasil (DBH) memang telah dialokasikan sejak awal melalui mekanisme fiscal recycling atau daur ulang fiskal. Oleh karena itu, implementasinya saat ini tidak menambah beban baru bagi keuangan negara.
“Sudah dianggarkan, jadi itu bukan beban tambahan, tetapi merupakan fiscal recycling,” ujarnya pada Rabu (15/4).
Lebih lanjut, Fithra menjelaskan bahwa distribusi anggaran ke desa tidak bersifat merata dalam jumlah yang sama.
Besaran dana yang diterima setiap desa bergantung pada skala usaha dan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Sebenarnya, dengan skala usaha seperti ini, ada yang mendapat Rp500 juta, ada yang Rp1 miliar. Tidak semuanya mendapat Rp3 miliar,” jelasnya.
Fithra juga menekankan bahwa dana desa harus segera disalurkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
Hal ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan berbasis desa sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dana desa itu memang sudah memiliki alokasi per desa. Jadi, harus segera disalurkan,” tegasnya.
Dalam konteks distribusi, Fithra mengatakan pemerintah telah mengusung pendekatan pembangunan dari desa dengan menciptakan ‘engine’ atau mesin penggerak ekonomi daerah melalui sistem yang telah disiapkan sejak awal.
“Engine daerah itu dibangun dan disiapkan sejak awal. Dalam perkembangannya, hal tersebut dapat menciptakan efek skala ekonomi yang memadai,” ungkapnya.
Pemerintah berharap, melalui optimalisasi penggunaan dana desa serta penguatan sistem di tingkat daerah, pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dapat terwujud dari akar rumput.
“Pemerintah menyadari bahwa permasalahan kemiskinan struktural memerlukan intervensi yang sistematis. Salah satunya, sesuai dengan Asta Cita, adalah membangun dari desa, membangun dari bawah,” pungkas Fithra. (her/dav)
Ketika Timur Tengah Bergelora, Dunia Justru Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia
Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2% pada 2026-2027, lebih tinggi dari rata-rata Asia Tenggara. Kekuatan domestik dan inflasi terkendali menjadi pendorong. FTSE Russell juga mempertahankan status Secondary Emerging Market pasar modal Indonesia, menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Fakta Shopee VIP: Benarkah Justru Bikin Kantong Bolong?
Shopee VIP menawarkan diskon besar, gratis ongkir, dan pengiriman cepat. Namun, status prioritas ini memicu ilusi hemat, mendorong belanja tak perlu. Diskon membentuk siklus pengeluaran berlebihan. Penting mengontrol diri, bertanya “Apakah saya tetap beli tanpa diskon?” agar Shopee VIP benar-benar menguntungkan.