LOMBOK INSIDER – Rencana peningkatan batas investasi saham bagi industri asuransi dan dana pensiun dari kisaran satu digit menjadi hingga 20% per emiten dinilai dapat memperluas fleksibilitas pengelolaan portofolio. Namun, kebijakan tersebut harus ditempatkan secara ketat dalam kerangka tata kelola investasi dan manajemen risiko yang disiplin agar tidak memicu konsentrasi risiko berlebihan di tengah dinamika […]
Tekan Kenaikan Harga Makanan dan Minuman Berkemasan, Pemerintah Beri Insentif Industri Plastik
Pemerintah akan memberikan insentif berupa penurunan bea masuk impor bahan baku plastik menjadi 0 persen guna menekan biaya produksi. Kebijakan tersebut direncanakan mulai berlaku pada paruh kedua 2026. Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/6). (Foto Dok. Bakom RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah akan memberikan insentif berupa penurunan bea masuk impor bahan baku plastik menjadi 0 persen guna menekan biaya produksi. Kebijakan tersebut direncanakan mulai berlaku pada paruh kedua 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan insentif tersebut merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto menyusul disrupsi pasokan bahan baku plastik akibat ketidakpastian global. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap dapat meredam tekanan inflasi pada produk makanan dan minuman berkemasan plastik.
“Pemerintah mengharapkan dengan adanya (insentif) bahan baku plastik ini juga akan membantu terkait dengan inflasi, terutama hampir seluruh packaging makanan yang dibungkus dengan plastik,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/6).
Secara lebih rinci, Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah akan memberikan bea masuk sebesar nol persen untuk impor liquefied petroleum gas (LPG) bagi industri petrokimia selama enam bulan sambil menunggu perkembangan terbaru situasi geopolitik global.
Ia berharap pemberian insentif bagi sektor industri hulu tersebut juga akan berdampak positif terhadap industri hilir, khususnya sektor makanan dan minuman.
Dengan demikian, pemerintah memperkirakan kebijakan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi sebesar Rp2,25 triliun melalui peningkatan efisiensi dan efek pengganda terhadap sektor-sektor lainnya.
“Ini diharapkan bisa meningkatkan nilai manfaat bagi sektor ekonomi berupa pengurangan cost bagi industri terkait dan melalui multiplier effect, atau efek pengganda yang bisa didorong,” jelasnya.
Airlangga menuturkan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari paket stimulus ekonomi semester II 2026 dengan total anggaran sebesar Rp26,34 triliun. Pemerintah berharap berbagai insentif yang diberikan dapat mendorong konsumsi domestik sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita perlu terus untuk menjaga ekonomi domestik dan kita juga harus jaga dengan langkah-langkah proaktif untuk mencegah dan mengantisipasi risiko eksternal yang mungkin muncul,” kata Airlangga. (her/dav)
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
loading…
Listya Endang Artiani, Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia. Foto/Dok. SindoNews
Listya Endang Artiani Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia
SETIAP kali pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), perhatian masyarakat hampir selalu tertuju pada satu hal “Berapa tambahan biaya yang harus dibayar saat mengisi tangki kendaraan?”. Reaksi tersebut wajar karena dampaknya langsung dirasakan.
Namun dalam perspektif ekonomi, BBM bukan sekadar komoditas energi yang digunakan untuk menggerakkan kendaraan, namun merupakan salah satu input strategis yang menopang hampir seluruh aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi dalam perekonomian. Karena itu, ketika harga BBM meningkat, dampaknya tidak berhenti di SPBU, tetapi merambat ke berbagai sektor dan pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan rumah tangga.
Dalam analisis ekonomi modern, keterkaitan tersebut dapat dijelaskan melalui pendekatan Input-Output yang dikembangkan oleh Wassily Leontief. Teori ini menunjukkan bahwa setiap sektor ekonomi saling terhubung melalui rantai pasok.
Kenaikan biaya pada satu sektor akan menimbulkan efek berantai pada sektor-sektor lainnya. Karena energi digunakan hampir di seluruh aktivitas ekonomi, maka perubahan harga BBM memiliki kemampuan untuk memengaruhi struktur biaya perekonomian secara luas.
Gelombang pertama dari kenaikan BBM muncul melalui meningkatnya biaya produksi di sektor riil. Kenaikan harga solar dan bensin menyebabkan ongkos transportasi barang menjadi lebih mahal. Biaya distribusi bahan baku meningkat, demikian pula biaya operasional berbagai kegiatan ekonomi. Dalam teori cost-push inflation, inflasi dapat muncul karena kenaikan biaya produksi yang kemudian diteruskan ke harga jual barang dan jasa.
Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan harga energi. Pupuk, benih, alat produksi, hingga hasil panen harus didistribusikan melalui jaringan transportasi yang sebagian besar masih bergantung pada BBM. Ketika biaya transportasi meningkat, petani menghadapi kenaikan biaya usaha. Sayangnya tidak semua petani memiliki kemampuan untuk menaikkan harga jual hasil produksinya, akibatnya keuntungan yang diperoleh menjadi lebih kecil.
Hal yang sama terjadi pada sektor industri pengolahan. Energi dan logistik merupakan komponen penting dalam struktur biaya produksi. Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya marginal perusahaan sehingga dunia usaha dihadapkan pada pilihan yang sulit antara menaikkan harga jual atau mengurangi margin keuntungan. Dalam situasi permintaan yang belum sepenuhnya kuat, pilihan tersebut tidak selalu mudah dilakukan.
Kelompok yang paling rentan menghadapi kondisi ini adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki skala ekonomi dan akses pembiayaan yang lebih luas, UMKM sering kali memiliki ruang penyesuaian yang terbatas. Kenaikan biaya operasional yang tidak diimbangi peningkatan penjualan berpotensi menurunkan keuntungan bahkan mengancam keberlangsungan usaha.
Harga iPhone 18 Pro Berpotensi Naik Rp5 Juta, Tim Cook Beri Sinyal Kenaikan
Foto: Telset
Teknologi.id – Kabar kurang menyenangkan datang bagi penggemar Apple. Harga iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max dikabarkan berpotensi mengalami kenaikan signifikan saat resmi meluncur akhir tahun ini.
Sinyal kenaikan harga tersebut muncul langsung dari pernyataan CEO Apple, Tim Cook, yang mengakui biaya produksi perangkat Apple terus meningkat akibat lonjakan harga komponen memori dan penyimpanan di pasar global.
Jika prediksi analis benar, harga iPhone generasi terbaru bisa naik hingga hampir Rp5 juta dibandingkan model sebelumnya.
Dalam wawancara terbaru dengan media internasional, Tim Cook mengungkapkan bahwa Apple selama ini berusaha menahan kenaikan biaya produksi agar tidak dibebankan kepada konsumen.
Namun kondisi industri saat ini membuat langkah tersebut semakin sulit dilakukan.
Menurut Cook, harga komponen yang terus melonjak membuat perusahaan harus mempertimbangkan penyesuaian harga pada sejumlah produknya.
Meski belum menyebut produk secara spesifik, banyak analis meyakini iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max menjadi perangkat yang paling berpotensi mengalami kenaikan harga.
Harga iPhone 18 Pro Bisa Naik Hampir Rp5 Juta
Firma riset teknologi TechInsights memperkirakan Apple perlu menaikkan harga iPhone 18 Pro hingga sekitar 270 dollar AS untuk menjaga margin keuntungan perusahaan.
Jika dikonversikan ke rupiah dengan kurs saat ini, angka tersebut setara sekitar Rp4,8 juta atau hampir Rp5 juta.
Artinya, harga iPhone 18 Pro saat peluncuran nanti bisa jauh lebih mahal dibanding generasi sebelumnya.
Selain iPhone, beberapa perangkat Apple lainnya seperti iPad dan Mac juga disebut berpotensi mengalami penyesuaian harga apabila tekanan biaya produksi terus berlanjut.
Ledakan AI Jadi Penyebab Utama
Salah satu faktor terbesar yang memicu kenaikan harga komponen adalah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Perusahaan-perusahaan teknologi global saat ini berlomba membangun pusat data AI yang membutuhkan chip memori dan penyimpanan dalam jumlah sangat besar.
Akibatnya, pasokan chip memori global menjadi semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat harga komponen penting seperti RAM dan storage terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Apple juga membutuhkan kapasitas RAM yang lebih besar pada perangkat generasi terbaru untuk mendukung berbagai fitur AI yang sedang dikembangkan.
Bukan Hanya Apple yang Terdampak
Apple bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi kenaikan biaya komponen.
Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Samsung, Microsoft, Sony, Dell, HP, Nintendo, hingga Valve juga dilaporkan mengalami tekanan serupa akibat mahalnya harga chip memori global.
Beberapa analis bahkan memperkirakan tren kenaikan harga perangkat elektronik bisa berlangsung hingga beberapa tahun ke depan jika permintaan industri AI terus meningkat.
Hingga saat ini Apple belum mengumumkan secara resmi besaran kenaikan harga maupun produk yang akan terdampak.
Namun banyak pihak memperkirakan perubahan harga baru akan terlihat saat Apple memperkenalkan seri iPhone 18 pada September 2026 mendatang.
Karena itu, konsumen yang berencana membeli iPhone baru mungkin perlu bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Kesimpulan
Harga iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max berpotensi naik hingga hampir Rp5 juta akibat lonjakan biaya komponen memori dan penyimpanan yang dipicu ledakan industri AI global.
Meski Apple belum mengonfirmasi kenaikan harga secara resmi, pernyataan Tim Cook dan prediksi analis menunjukkan bahwa harga perangkat Apple generasi berikutnya kemungkinan akan lebih mahal dibanding sebelumnya.
Pengamat: Kenaikan Harga Pertamax Minim Timbulkan Risiko Gejolak Sosial
loading…
Keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan di tengah tekanan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Foto: Dok Sindonews
JAKARTA – Keputusan pemerintah menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan di tengah tekanan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata menilai penyesuaian harga tersebut sebenarnya sudah terlambat dilakukan karena gejolak energi global telah berlangsung sejak Februari 2026.
Menurut dia, pemerintah selama ini memilih menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional. Kebijakan tersebut memberikan ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk menyesuaikan kondisi keuangannya sebelum menghadapi kenaikan harga energi.
“Indonesia memang cenderung memiliki frekuensi penyesuaian yang lebih jarang dan bertahap. Namun, ini adalah pilihan kebijakan yang disengaja untuk menjaga bantalan sosial, bukan sekadar ketidaksiapan dalam mengelola harga,” ujar Bonti, Sabtu (13/6/2026).
Kenaikan Harga Pertamax Tak Terbendung, Pengamat UGM: Ini Batas Akhir Kemampuan Pemerintah
loading…
Sejumlah akademisi mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, Rabu (10/6/2026). Ini dinilai langkah realistis di tengah meningkatnya tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia. Foto: Dok Sindonews
JAKARTA – Sejumlah akademisi mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter pada Rabu (10/6/2026). Hal ini dinilai sebagai langkah realistis di tengah meningkatnya tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik global.
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai penyesuaian harga tersebut pada dasarnya mengikuti karakter Pertamax sebagai BBM nonsubsidi yang memang ditentukan oleh mekanisme pasar dan sudah lebih dahulu dilakukan negara lain.
“Saya kira RON 92 atau Pertamax itu sebetulnya BBM nonsubsidi. Harganya biasa ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar sesuai dengan harga keekonomian,” ujar Fahmy, Sabtu (13/6/2026).
Menurut dia, pemerintah sebelumnya telah menahan kenaikan harga Pertamax sejak Maret 2026 untuk meredam dampak ekonomi kepada masyarakat. Namun, seiring meningkatnya beban kompensasi yang harus dibayarkan kepada Pertamina, ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas sehingga penyesuaian harga akhirnya sulit dihindari.
KPK Fasilitasi 8 Tahanan Beribadah di Peringatan Kenaikan Yesus Kristus
loading…
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo. Foto/Dok SindoNews
JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) memfasilitasi tahanan nasrani untuk beribadah di momen peringatan Kenaikan Yesus Kristus yang jatuh pada Kamis (14/5/2026). Fasilitas ini diberikan untuk memastikan pemenuhan hak-hak dasar para tahanan, termasuk hak untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya.
“Dari total 65 orang tahanan di rutan KPK, terdapat 8 orang tahanan beragama nasrani yang akan mengikuti ibadah tersebut. Kegiatan ibadah dijadwalkan berlangsung pada pukul 13.30 hingga 15.30 WIB,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo dalam keterangan tertulisnya.
Budi melanjutkan, pihaknya rutin memfasilitasi pelaksanaan ibadah keagamaan dengan tetap mengedepankan aspek keamanan dan ketertiban di lingkungan rutan. “KPK memandang pemenuhan hak beribadah merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak asasi dan pembinaan bagi para tahanan selama menjalani proses hukum,” ujarnya.
Riset: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Hanya Berdampak Terbatas Terhadap Inflasi
Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan hanya menimbulkan tekanan inflasi yang terbatas. Riset BRI Danareksa Sekuritas yang diterbitkan pada Senin (20/4) menyebut dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terbatas karena penggunanya adalah segmen masyarakat berpendapatan tinggi. (Foto Dok. BRI Danareksa Sekuritas)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan hanya menimbulkan tekanan inflasi yang terbatas.
Riset BRI Danareksa Sekuritas yang diterbitkan pada Senin (20/4) menyebut dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terbatas karena penggunanya adalah segmen masyarakat berpendapatan tinggi.
Selain itu, kenaikan harga hanya ditetapkan untuk Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Rata-rata kenaikan sekitar Rp 8.367 per liter. Sementara harga Pertamax masih belum ada perubahan.
“Meski BBM nonsubsidi mencakup 44% konsumsi total BBM, relevansinya terhadap inflasi melemah karena komposisinya masih didominasi Pertamax. Produk yang naik paling tajam, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dikonsumsi segmen berpendapatan lebih tinggi dengan efek rambatan harga yang lebih lemah,” kata Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, dalam risetnya, Senin (20/4).
Secara historis, ia menambahkan, kenaikan Rp 1.000 per liter pada BBM kelas atas diperkirakan hanya menambah inflasi sekitar 0,02–0,15 poin persentase, jauh di bawah dampak penyesuaian BBM subsidi.
“Tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas dan hanya bekerja di sisi marjinal, bukan menjadi pendorong utama inflasi keseluruhan,” ujarnya.
Pembukaan singkat Selat Hormuz setelah gencatan senjata sementara sempat meredakan kekhawatiran pasokan dan mendorong harga minyak Brent turun hampir 10% ke USD 86 per barel, didukung optimisme negosiasi, termasuk pembahasan pelepasan dana Iran yang dibekukan.
Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. AS tetap mempertahankan blokade lautnya. Sementara Iran memberlakukan syarat transit ketat yang secara efektif menjaga kendali atas arus pelayaran. Ketegangan kembali meningkat pada Sabtu (18/4) ketika Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan lanjutan dari AS, termasuk rencana penyitaan tanker terkait Iran, sehingga harga Brent naik kembali di atas USD 90 per barel. (her/dav)
Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi: Benarkah Harga Kebutuhan Pokok Aman? DPR Angkat Bicara
Anggota Komisi VI DPR Rivqy Abdul Halim merespons kenaikan harga BBM nonsubsidi RON tinggi. Ia berharap kebijakan ini tidak berdampak pada harga kebutuhan pokok masyarakat. Rivqy menilai kenaikan harga BBM, meski mendadak, sulit dihindari pemerintah akibat tekanan sektor energi global. Komunikasi kebijakan dan transparansi kondisi riil BBM nasional sangat ditekankan.
Kenaikan Harga YouTube Premium: Berapa Biaya Langganan Anda Sekarang?
Google resmi menaikkan harga langganan YouTube Premium di Amerika Serikat mulai April 2026. Kenaikan bervariasi US$1-US$4 per bulan untuk paket Individual, Family, Lite, dan YouTube Music Premium. Penyesuaian harga ini berlaku bagi pelanggan lama mulai Juni 2026. Google menyebut langkah ini untuk keberlanjutan layanan dan dukungan kreator konten.