KOWANI Gelar KLB: Menguak Akar Masalah, Menentukan Arah Integritas Organisasi
loading…
Dewan Pimpinan KOWANI menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Gedung The Tribrata, Jakarta, Rabu (3/6/2026). KLB ini sebagai langkah konstitusional untuk memulihkan tata kelola organisasi yang telah mengalami kebuntuan. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA – Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia ( KOWANI ) menggelar Kongres Luar Biasa (KLB)di Gedung The Tribrata, Jakarta, Rabu (3/6/2026). KLB ini sebagai langkah konstitusional untuk memulihkan tata kelola organisasi yang telah mengalami kebuntuan.
KOWANI, yang lahir selaras dengan semangat Sumpah Pemuda pada tahun 1928, merupakan aset sejarah bangsa yang memayungi lebih dari 100 organisasi perempuan. Ketua KOWANI Anggraini Purnami mengatakan, KOWANI adalah rumah besar bagi seluruh perempuan Indonesia . KLB ini adalah langkah konstitusional untuk menata ulang tata kelola dan memastikan organisasi ini kembali bekerja untuk seluruh perempuan Indonesia. Baca juga: Maknai Hari Kartini, Kowani Komitmen Wujudkan Perempuan Indonesia Mandiri
”KLB hari ini sepenuhnya sejalan dengan Anggaran Dasar Bab V Pasal 13 ayat 6 serta Anggaran Rumah Tangga Bab VI Pasal 16 ayat 8, yang mengamanatkan bahwa KLB dapat diadakan apabila timbul hal-hal penting atau yang mengancam kelangsungan hidup organisasi,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagai satu-satunya organisasi perempuan Indonesia dengan status konsultatif di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), KOWANI memiliki tanggung jawab moral dan politis yang besar, baik di tingkat nasional maupun internasional.
KLB digelar berangkat dari dinamika internal yang dinilai telah keluar jauh dari koridor Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Kebuntuan bermula dari pemecatan 19 Dewan Pimpinan secara sepihak oleh Ketua Umum Nanny Hadi Tjahjanto. Namun, berdasarkan hasil klarifikasi administratif dari Kementerian Hukum, komposisi 19 anggota Dewan Pimpinan tersebut secara legal-formal tetap diakui sah.
Aturan Kost Paling Absurd: Menguak Logika Pemilik yang Tak Terjangkau Nalar
Dulu, salah satu alasan kenapa saya pengin kuliah di luar kota adalah saya pengin banget merasakan jadi anak kos. Kayaknya seru aja gitu. Tinggal sendiri, makan sendiri, ngatur hidup sendiri, dsb. Pengin juga merasakan sensasi deg-degan kalau kiriman dari orang tua belum sampai. Tapi, hingga detik ini, saya belum pernah merasakan yang namanya nge-kos itu seperti apa.
Warna-warni cerita anak kos hanya bisa saya bayangkan lewat cerita teman-teman ataupun lewat curhatan netizen di media sosial. Baru-baru ini, misalnya. Saya baca diThreads ada yang curhat tentang betapa nggak ngotaknya peraturam di kos dia. Salah satunya, aturan dapur bersama hanya bisa dipakai jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Lewat dari itu, kompor akan dikunci gembok.
Duh. Mau heran, tapi ternyata, peraturan kos yang nggak umum memang nyata adanya. Berikut adalah kompilasi aturan tidak masuk akal di kosan yang pernah ada.
Peraturan kos paling aneh pertama, semua paket ditujukan ke pemilik kos
Jika Aldi Taher bilang bahwa semua burger milik Allah, maka ada kosan yang punya aturan bahwa tiap paket adalah milik pemilik kosan. Jadi, semua penghuni yang mau check out belanjaan di online store, mereka wajib mengatasnamakan pesanan tersebut kepada pemilik kos, baru nama si penghuni ditulis nebeng di sampingnya. Pokoknya, setiap paket yang datang harus lewat tangan pemilik kos terlebih dahulu.
Kepo?
Ternyata bukan. Katanya sih, aturan ini dibuat semata-mata untuk keamanan kosan. Si pemilik kos rupanya takut kalau-kalau ada anak kosnya yang check out barang berbahaya atau barang illegal yang bisa bikin kosannya digerebeg polisi. Masuk akal, sih. Ta-tapi kan… kalau mau check out daleman jadi agak gimanaaa gitu.
Ada pula kosan yang terang-terangan tidak mau menerima penghuni dari suku tertentu. Umumnya, orang timur, seperti Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Aturan yang terkesan diskriminatif ini lahir bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan trauma. Soalnya, banyak kasus yang bikin pemilik kos kecewa. Misalnya, yang sewa 1 orang tapi yang menempati bisa 4-5 orang. Belum lagi atmosfer keseharian yang selalu ramai dan tidak kenal waktu. Entah ngobrol dan ketawa-ketawa sampai dini hari, nyetel musik, bahkan mabuk-mabukan yang berakhir dengan keributan. Parahnya lagi, sering pula kejadian mereka berhutang di warung sekitar dengan membawa nama rumah kos.
Nah, daripada kepala dibikin ngelu karenanya, para pemilik kosan ini memilih untuk melarang orang timur ngekos di tempat mereka. Ya memang sih tidak semua orang timur punya kelakukan minus seperti itu. Tapi, sepertinya para pemilik kos lebih memilih untuk cari jalan yang aman-aman saja.
Tidak menerima tamu lawan jenis, meski keluarga
Aturan tidak masuk akal di kosan selanjutnya adalah larangan menerima tamu dari lawan jenis, termasuk anggota keluarga.
Aneh, tapi kosan yang seperti ini memang benar-benar ada loh. Jangankan untuk menginap barang sebentar karena kemalaman, anggota keluarga yang berlawanan jenis mau sekadar nengok ke area dalam pun, tidak boleh. Biasanya, aturan ketat ini berlaku di kosan perempuan.
Awalnya sih saya pikir aturan ini mengada-ada, ya. Masak bapaknya sendiri mau melihat kosan putrinya nggak boleh? Cuma, setelah saya pikir-pikir lagi, aturan ini ada benarnya juga. Dari POV penghuni kosan yang lain, keberadaan laki-laki asing di sekitar kos pasti bakal bikin syok. Terutama, penghuni kos yang sukanya cuma kaos dalaman saja di area kos.
Wajib foto meteran listrik dan air
Nah, ada lagi nih. Saya juga pernah baca di tautanini aturan ngekos yang nggak masuk akal. Bayangkan, di kosan pembuat utas, ada aturan setiap penghuni wajib mengirimkan foto meteran listrik dan air kepada pemilik kos. Kirim fotonya pun nggak sebulan atau seminggu sekali, ya. Tapi, dua kali sehari, setiap pagi dan malam. Wow, ini sih lebih rajin daripada petugas PLN yang datangnya hanya sebulan sekali.
Agak-agaknya, si pemilik kos ini ingin memantau berapa rata-rata konsumsi listrik dan air semua penghuni kosan. Dengan perhitungan tersebut, bisa ketahuan deh siapa penghuni yang boros pemakaiannya. Cerdas!
Peraturan kos paling horor, tidak boleh masuk ke ruangan tertentu
Terakhir, peraturan kos ini selain tidak masuk akal juga bikin merinding. Yaitu, aturan tidak boleh mendekati, apalagi masuk ke ruangan tertentu di area kos. Pernah ada yang cerita kalau di kosan dia, ada satu ruangan yang kondisinya selalu terkunci gembok. Dan kalau pemilik kos ditanya itu ruangan apa, jawabannya standar banget: “Gudang”.
Cuma, dari POV penghuni kos yang saban hari melewati ruangan itu kan agak serem, ya. Terutama kalau lewatnya malam-malam, pas kebelet pipis atau pengin bikin mie di dapur. Kebayang kan gimana horornya? Seketika, memori utas kosan horor viral di X langsung terbayang-bayang di kepala. Auto susah tidur, deh.
Itulah peraturan kos yang tidak masuk akal tapi benar-benar ada. Di antara aturan di atas, kosan-mu punya aturan yang mana saja, nih? Atau, kosan-mu tipikal kos yang bebas aturan sing penting bayar? Wow.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Prabowo dan Diaspora Prancis: Menguak Sosok Pejuang Modern yang Tak Gentar
Diaspora Indonesia di Prancis, Ida Digong, menyebut Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai sosok pejuang modern yang memiliki semangat kerja tinggi dan tidak mengenal lelah dalam memperjuangkan kepentingan bangsa. Hal itu dikatakan Ida usai salat Iduladha 1447 H bersama Presiden Prabowo di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Paris, Idola 92.6 FM-Diaspora Indonesia di Prancis, Ida Digong, menyebut Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai sosok pejuang modern yang memiliki semangat kerja tinggi dan tidak mengenal lelah dalam memperjuangkan kepentingan bangsa.
“Sosok Prabowo bagi saya, dia itu keras. Karena harus ada orang yang bisa disiplin, mengarahkan kepada masyarakat,” ujar Ida usai salat Iduladha 1447 H bersama Presiden Prabowo di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5).
Menurutnya, karakter tegas Presiden Prabowo dibutuhkan untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan disiplin.
“Jadi dia memberi contoh. Dia itu kerja keras banget, enggak kenal capek. Padahal perjalanan itu kan enggak gampang kalau ke Eropa,” katanya.
Ida mengaku kagum melihat semangat Presiden Prabowo yang dinilainya tetap penuh energi di tengah padatnya agenda internasional. Ia berharap kepemimpinan Prabowo mampu membawa Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
“Dia itu wajahnya selalu berseri. Memancarkan bahwa dia itu semangat 45. Pejuang yang benar-benar pahlawan modern, Harapan kita Indonesia Jaya 2045 akan tercapai berkat Prabowo,” katanya.
Ida menegaskan dirinya bersama komunitas diaspora Indonesia siap mendukung promosi Indonesia di tingkat internasional, khususnya di sektor pertanian dan kopi nasional.
“Jadi kita Insyaallah dari diaspora di Perancis akan membantu juga. Saya cinta petani di Indonesia ya. Karena petani kita juga canggih sekarang,” ujarnya.
Ida mengungkapkan, dirinya mengelola yayasan pertanian melalui Alko Cafe Blockchain yang membina petani di Indonesia. Ia juga aktif mempromosikan produk pertanian Indonesia di Eropa melalui berbagai pameran internasional.
“Saya punya yayasan pertanian di Indonesia dengan Alko Cafe Blockchain. Insyaallah saya akan keliling Eropa demi petani kopi Indonesia,” ujarnya.
Menurut Ida, kopi Indonesia memiliki kualitas unggul yang layak dikenal dunia internasional. “Karena kopi Indonesia nomor satu di dunia. Terima kasih Pak Prabowo untuk segala hal tentang petani,” katanya.
Ia turut mengapresiasi langkah Presiden Prabowo dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Prancis. Ida menilai kemampuan diplomasi Presiden Prabowo menjadi salah satu kekuatan penting Indonesia di mata dunia.
“Memperkuat kerja sama dengan Prancis. Dia itu pandai sekali berdiplomasi, menjaring relasi internasional,” katanya.
Selain itu, Ida juga menyampaikan apresiasi kepada Didit Hediprasetyo (anak kandung Presiden Prabowo) yang dinilainya berhasil mengharumkan nama Indonesia di dunia fesyen internasional.
“Mas Didit juga saya bangga banget. Dia sebagai desainer internasional yang kerja keras,” ujarnya.
Ida menyampaikan doa dan dukungan diaspora Indonesia di Prancis untuk Presiden Prabowo dan seluruh masyarakat Indonesia.
“Saya sangat bangga dengan Pak Prabowo. Tapi dia harus sehat, saya doakan. Salam diaspora, salam dari seluruh warga Indonesia yang ada di Prancis,” pungkasnya. (her/dav)
Iduladha 2026: Menguak Urgensi Kemanusiaan di Tengah Badai Global
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Macshoem Faqih, mengungkapkan Iduladha 1447 H hadir di tengah ketegangan dunia akibat perang, krisis kemanusiaan, dan tekanan ekonomi global. Konflik AS, Israel, Iran memicu kenaikan harga pokok. Iduladha menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai kesabaran dan ketaatan.
Prabowo Resmikan Museum Seskoad: Menguak Kawah Candradimuka Pencetak Pemimpin Bangsa
loading…
Presiden Prabowo Subianto meresmikan renovasi Museum dan Perpustakaan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung, Jawa Barat, Senin (25/5/2026). Foto/BPMI Setpres
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto meresmikan renovasi Museum dan Perpustakaan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (25/5/2026). Peresmian tersebut menegaskan peran Seskoad sebagai lembaga pendidikan strategis yang telah melahirkan banyak pemimpin besar, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini Senin, 25 Mei 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan renovasi museum dan perpustakaan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad),” ucap Presiden.
Seskoad tercatat telah melahirkan lulusan yang kemudian menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Sebagai Presiden Republik Indonesia, Presiden Ke-2 RI Soeharto, Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Prabowo Subianto tercatat sebagai lulusan Seskoad.
Sementara itu, tiga lulusan Seskoad lainnya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil Presiden RI. Ketiganya yakni Wakil Presiden Ke-4 Umar Wirahadikusumah, Wakil Presiden Ke-5 RI Sudharmono, dan Wakil Presiden Ke-6 Try Sutrisno.
Menguak Krisis Kontinuitas Brand: Strategi Kunci Jaga Integritas di Era Video Generatif AI
Produksi video AI generatif menghadapi krisis kontinuitas. Fragmentasi model AI menyebabkan “visual drift”, mengubah konsistensi karakter dan gaya. Tim kreatif kesulitan menyatukan output. Solusinya, Reference Anchoring menggunakan “Hero Image” sebagai referensi visual utama. Ini menjaga kontinuitas dan integritas brand dalam produksi video yang efektif.
P2G Menguak Rekayasa Branding Proyek Chromebook Nadiem: Fakta di Balik Citra
P2G menyoroti indikasi manipulasi opini publik terkait proyek laptop Chromebook era Nadiem Makarim, mantan Mendikbudristek. Kejaksaan Agung mengusut skandal korupsi yang merugikan pendidikan ini. P2G menilai kebijakan digitalisasi tersebut tidak berdasar pedagogis kuat, memberatkan guru, serta mengabaikan hak anak di daerah 3T.
Manasik Haji: Penemuan Terbesar yang Menguak Dimensi Baru
loading…
Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute, Penulis Buku Haji dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan. Foto/SindoNews
Fahmi Salim Direktur Al-Fahmu Institute Penulis Buku “Haji dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan”
DI SEPANJANG sejarah manusia, para ilmuwan dan sejarawan sering berbicara tentang penemuan-penemuan besar yang mengubah arah peradaban. Roda memudahkan mobilitas manusia. Api mengubah cara bertahan hidup. Listrik melahirkan revolusi industri. Bahkan penemuan atom menggeser wajah politik dunia modern.
Namun di atas semua itu, ada satu “penemuan” yang jauh lebih besar dan lebih menentukan masa depan manusia: penemuan tentang jalan menuju Tuhan. Dan itulah yang diwariskan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam melalui manasik haji.
Sebagaimana ditulis Abbas Mahmud al-Aqqad (1889-1964), penulis prolifik asal Mesir, dalam bukunya Ibrahim Abu-l Anbiya’: “Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim merupakan penemuan manusia terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan. Ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapa pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut.”
Karena itu, memahami haji tidak cukup hanya sebagai ritual tahunan umat Islam. Haji adalah rekonstruksi sejarah tauhid. Ia adalah museum hidup perjalanan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menemukan Tuhan, membangun peradaban iman, dan melawan penyembahan terhadap dunia.
Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia menunaikannya.” (QS. Al-Baqarah: 124)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ibrahim bukan sekadar nabi biasa. Ia adalah manusia yang berhasil melewati ujian-ujian besar kehidupan hingga layak menjadi imam bagi manusia. Dan seluruh manasik haji sesungguhnya adalah jejak-jejak perjalanan spiritual itu.
Ketika jamaah thawaf mengelilingi Ka’bah, mereka sedang mengingat pusat tauhid yang dibangun Ibrahim bersama Ismail: “Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah: 127)
Ka’bah bukan sekadar bangunan batu hitam di tengah padang pasir. Ia adalah simbol revolusi spiritual terbesar dalam sejarah manusia: memindahkan pusat penghambaan manusia dari makhluk menuju Allah semata.
Kendal: Menguak Peran Krusial Keluarga dalam Menyelamatkan Lingkungan
KENDAL – Pemerintah Kabupaten Kendal terus mendorong masyarakat, untuk membangun kesadaran menjaga lingkungan dari lingkup keluarga masing-masing. Pasalnya, saat ini Kendal tengah menghadapi persoalan serius terkait pengelolaan sampah.
Hal itu disampaikan Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, pada kegiatan Bersih Desa Tampung Aspirasi Warga (Bersatu Siaga), di Desa Puguh, Kecamatan Boja, Jumat (22/5/2026).
“Sekarang, Kendal sedang berjuang menghadapi tantangan besar, yaitu persoalan sampah. Tapi saya yakin, warga Puguh bisa jadi contoh bagaimana masalah ini bisa diselesaikan bersama. Mulai dari rumah masing-masing, dari kebiasaan sederhana untuk memilah sampah, mengurangi plastik, sampai ikut kerja bakti bersama,” tutur bupati.
Selain persoalan sampah, warga juga menyampaikan sejumlah aspirasi terkait penerangan jalan, perbaikan akses jalan, serta pembangunan irigasi di wilayah Desa Puguh.
Menanggapi hal tersebut, bupati memastikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, agar aspirasi masyarakat dapat segera ditindaklanjuti.
“Permasalahan terkait penerangan jalan, perbaikan jalan dan pembangunan irigasi di Desa Puguh, akan kami koordinasikan dengan OPD terkait, agar mencari solusinya dan ditindaklanjuti,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, dia juga mengajak masyarakat, untuk terus menjaga budaya gotong royong dan tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke saluran air yang dapat memicu banjir dan pencemaran lingkungan.
Kepala Desa Puguh, Ngamidjo menyampaikan terima kasih kepada Bupati Kendal yang terus memberikan perhatian terhadap masyarakat Desa Puguh, termasuk mengajak peduli terhadap lingkungan sekitar.
“Kehadiran beliau menjadi penyemangat bagi warga dan bentuk perhatian nyata dari pemerintah daerah, terhadap kondisi serta kebutuhan masyarakat desa,” ujar Ngamidjo.
Menguak Realitas Kapitalisme Negara: Bukan Sekadar Ilusi?
loading…
Firman Tendry Masengi, Advokat, Legal Consultant, dan Direktur Eksekutif RECHT Institute. Foto/Dok.SindoNews
Firman Tendry Masengi Advokat, Legal Consultant, dan Direktur Eksekutif RECHT Institute
NARASI tentang kebangkitan ekonomi Indonesia melalui intervensi masif negara kini gencar dibungkus dengan jargon kedaulatan, hilirisasi, dan pemenuhan amanat konstitusi. Negara diposisikan sebagai aktor tunggal yang mengambil alih kendali dari cengkeraman modal global demi mewujudkan kesejahteraan publik.
Melalui perluasan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang agresif serta pembentukan lembaga pengelola investasi baru, pemerintah giat membangun persepsi bahwa dominasi mutlak negara adalah jalan pintas menuju status negara maju. Namun, jika dibedah secara kritis melalui kacamata ekonomi politik dan filsafat hukum, romantisasi tersebut menyembunyikan realitas yang destruktif.
Apa yang sedang terjadi saat ini bukanlah perwujudan sejati dari keadilan sosial, melainkan ekspansi sistemik dari kapitalisme negara yang justru berisiko merusak tatanan hukum dan struktur ekonomi nasional. Secara doktrinal, legalitas intervensi masif ini selalu berlindung di balik tameng Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, khususnya frasa “dikuasai oleh negara”.
Sayangnya, interpretasi hukum yang diterapkan oleh penguasa saat ini kerap mengalami reduksi makna yang manipulatif. Negara menafsirkan konsep penguasaan tersebut secara sempit sebagai hak kepemilikan saham mutlak, monopoli pasar, dan keterlibatan bisnis langsung secara berlebihan melalui korporasi pelat merah.
Penafsiran sepihak ini sengaja mengabaikan konstruksi hukum yang telah mapan dalam khazanah yurisprudensi Indonesia. Akibatnya, esensi filosofis dari penguasaan negara yang seharusnya bermuara pada “sebesar-besar kemakmuran rakyat” bergeser menjadi sebesar-besar penguasaan modal oleh elite birokrasi.