Tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah bencana
Tinggal di lingkungan yang padat penduduk mengharuskan kita belajar banyak hal. Belajar memahami kebiasaan tetangga yang unik dan menyebalkan adalah salah satunya. Di antara banyak kebiasaan unik bin gatheli, salah satunya adalah mencoba memahami tetangga yang hobi menyetel musik keras-keras.
Saya tidak pernah mempermasalahkan selera musik orang lain. Mau dangdut, pop, koplo, campursari, sholawat, bahkan lagu galau yang liriknya membuat orang ingin menghubungi mantan, silakan saja. Yang menjadi masalah adalah ketika satu orang berpikir semua harus mendengarkan selera musiknya yang MANTEP itu.
Menganggap selera musiknya adalah selera satu kampung
Saya kadang penasaran, apa yang ada di kepala orang yang menyetel musik dengan volume seperti itu. Mungkin ia berpikir, “Gila, selera saya amat bagus. Sebaiknya orang ikut mendengarkan myuzik berkelas ini.” Lalu yang dilakukan selanjutnya bisa ditebak, knob volume diputar ke kanan mentok, lalu tetangga-tetangga mau tak mau, ikut dengar.
Lagunya yang MANTAP dan PENTING itu tadi akhirnya terdengar ke segala penjuru. Tanpa consent itu jelas, tanpa malu itu pasti, dan yang mengherankan, menganggap bahwa orang butuh mendengarkan musiknya meski bisa saja dia berbagi judul lagunya dan didengarkan dengan TWS.
Padahal selera musik itu seperti selera makan. Saya suka mi ayam, belum tentu tetangga saya juga ingin makan mi ayam tiga kali sehari. Lalu, mengapa urusan musik seolah semua orang harus menyukai lagu yang sama?
Volumenya Selalu Lebih Besar daripada Kegiatannya
Kalau musik keras diputar saat hajatan atau perayaan tertentu, saya masih bisa memakluminya. Toh itu tidak setiap hari. Yang sulit dipahami adalah ketika suara speaker menggelegar hanya untuk menemani aktivitas yang sebenarnya sangat biasa. Nyapu, nyuci, apa kek. PENTING banget sambil nyetel lagu kencang.
Kadang saya membayangkan, kalau menyapu halaman saja harus ditemani suara sekeras itu, bagaimana kalau tetangga tersebut sedang benar-benar bekerja keras? Jangan-jangan harus menyewa sound system konser sekalian.
Tetangga yang sebaiknya sekolah lagi, dari PAUD
Bagian paling membingungkan justru ini. Orang yang terganggu biasanya memilih diam. Bukan karena menikmati musiknya, melainkan karena sungkan menegur tetangga. Mungkin juga takut. Tahu sendiri, manusia-manusia berselera musik BAGUS ini kadang punya sumbu yang kelewat pendek.
Wajar jika tetangga yang baik ini pede saja nyetel musik kencang. Mereka menganggap diam adalah persetujuan, logika yang kerap dipelihara dan dijadikan pegangan dalam rapat-rapat. Nggak ada yang protes? Berarti mereka ikutan suka musiknya yang KEREN itu.
Padahal diam bukan selalu berarti setuju. Kadang diam hanyalah cara paling aman untuk menjaga kerukunan. Walau jujur saja, potensi ngamuk tetap ada. Cuma butuh dorongan sedikit. Seperti kata Joker dalam The Dark Knight, “All it takes is a little push.”
Menurut saya, hidup bertetangga bukan hanya soal saling membantu ketika ada hajatan atau kerja bakti. Bertetangga juga berarti menyadari bahwa rumah kita berdiri berdampingan dengan rumah orang lain. Ada bayi yang sedang tidur, ada siswa yang sedang belajar, ada orang yang bekerja dari rumah, ada pula tetangga yang mungkin hanya ingin menikmati hari tenang atau waktu istirahat tanpa dentuman musik sejak matahari baru terbit.
Kalau ingin menikmati musik, silakan. Itu hak setiap orang. Tetapi speaker diciptakan agar suara berhenti di telinga pendengarnya, bukan agar seluruh kampung tahu lagu favorit pemiliknya. Kalau begini saja tidak paham, agaknya kalian perlu mengulang sekolah lagi. Saran saya, mulai masuk PAUD dulu. Belum tentu juga kalian lulus, sih.
Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Alasan Kami Mutar Musik Keras-keras Sampai Bikin Dinding Tetangga Bergetar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

