Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
loading…
Founder Rembuk Pemuda, Aidil Afdan Pananrang mengatakan, perbedaan pendapat merupakan hal yang harus dihargai dalam kehidupan demokrasi. Terutama di lingkungan akademik yang menjunjung tinggi nalar kritis dan kebebasan berpikir. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA – Founder Rembuk Pemuda, Aidil Afdan Pananrang menyayangkan aksi penggerudukan dan pembubaran acara diskusi yang menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) , Senin (15/6/2026). Aidil menilai peristiwa tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak semata-mata dari satu sudut pandang.
Rembuk Pemuda tidak membenarkan aksi apapun yang bertujuan untuk menghalangi hak orang untuk berpendapat, terutama di ruang akademik kampus. ”Kalaupun kita tidak setuju dengan acara atau narasumber yang dihadirkan, menghentikan dialog lalu saling memaksakan kehendak juga tidak elok. Tetapi, di sisi lain pemerintah juga harus menangkap sinyal kegelisahan dan tantangan yang dihadapi para mahasiswa,” katanya, Rabu (17/6/2026). Baca juga:Kronologi Mahasiswa Geruduk Budiman Sudjatmiko, Sudaryono dan Nusron Wahid saat Diskusi di UGM
Mantan Presiden Mahasiswa Telkom University ini menegaskan perbedaan pendapat merupakan hal yang harus dihargai dalam kehidupan demokrasi, terutama di lingkungan akademik yang menjunjung tinggi nalar kritis dan kebebasan berpikir. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis yang dimiliki mahasiswa akan memberikan kontribusi yang lebih besar apabila diwujudkan melalui kritik yang substantif, berbasis data, serta mampu menguji dan memperkaya perspektif pemerintah dalam merumuskan kebijakan.
Oleh karena itu, Aidil mendukung setiap bentuk kritik yang konstruktif dan berorientasi pada penyelesaian masalah, sekaligus mengecam segala bentuk fitnah, disinformasi, maupun penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. “Tentu kita mendukung segala bentuk kritik yang bersifat substantif, bukan hanya sekedar genit secara diksi atau bahkan menjerumus pada penyebaran sentiment kebencian yang condong pada fitnah saja,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Sultan Rivandi, Presiden Mahasiswa UIN Jakarta tahun 2019 yang merupakan bagian dari Rembuk Pemuda. Sultan menegaskan tidak boleh ada pembatasan dalam upaya demokrasi, semua harus saling terbuka atas segala pendapat.
Ancaman Nyata di Gamping Sleman: Pesimisme Ekonomi Dorong Pemuda ke Jurang Judi Online
Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.
Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.
Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.
Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.
Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.
Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata.
Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit.
Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.
Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang.
Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri.
Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.
Kecemasan anak muda di Gamping Sleman
Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.
Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”
Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal.
Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat.
Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.
Kehidupan yang berubah celaka
Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres.
Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.
Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.
Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut.
Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman
Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu.
Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.
Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman.
Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan.
Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Muktamar XIX Pemuda Muhammadiyah, Affandi Komitmen Tingkatkan Kapasitas Intelektual
loading…
Caketum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Affandi Affan berkomitmen meningkatkan kapasitas intelektualnya dengan menyiapkan diri menempuh Program Doktor (S3). Foto/istimewa
JAKARTA – Calon Ketua Umum (Caketum) Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Affandi Affan berkomitmen meningkatkan kapasitas intelektualnya dengan menyiapkan diri menempuh Program Doktor (S3). Hal itu sebagai langkah strategis menjelang Muktamar XIX Pemuda Muhammadiyah
Affandi Affan yang kini disebut sebagai salah satu figur potensial calon Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah menilai, tantangan kebangsaan dan perubahan global membutuhkan kepemimpinan muda Islam yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga matang secara intelektual, visioner, dan mampu membangun jejaring kolaborasi yang luas.
Langkah akademik tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat kapasitas kepemimpinan dalam menghadirkan Pemuda Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan zaman namun tetap kokoh menjaga nilai dakwah, moralitas, dan semangat keumatan.
“Gagasan tentang pentingnya kualitas intelektual bagi calon Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah merupakan langkah maju untuk memperkuat tradisi keilmuan dan modernitas gerakan. Namun bagi saya, kepemimpinan Pemuda Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada gelar akademik semata,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Sulthoni resmi menjabat Ketua Umum DPP Pemuda LIRA periode 2026-2031. Pengukuhan oleh Presiden LIRA Andi Syafrani di Gedung KNPI, Jakarta Timur. Sekretaris Jenderal Rio Susanto dan Bendahara Umum Idris Rifandi turut dilantik. Ini menandai konsolidasi organisasi Pemuda LIRA nasional, bertujuan mencetak kader unggul dan menjadi mitra strategis.
Outfit Kabupaten: Melawan Stigma, Mengapa Gaya Pemuda Daerah Pantas Dihargai, Bukan Dicemooh Orang Kota.
Istilah “outfit kabupaten” di media sosial memicu perdebatan. Gaya berpakaian ini seringkali serupa dengan tren kota, namun dipersepsikan berbeda karena identitas pemakai dan lingkungan. Akses latar foto estetik serta norma sosial memengaruhi ekspresi fashion anak muda kabupaten. Label ini sering digunakan pemuda kota dengan standar yang belum tentu netral.
Karang Taruna Ungkit Potensi UMKM Pemuda, Targetkan Gempur Pasar Ekspor Global
Pengurus Karang Taruna Kabupaten Semarang 2025-2030 dikukuhkan. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menekankan fokus pada pemberdayaan ekonomi kreatif pemuda dan pendampingan UMKM agar tembus ekspor. Karang Taruna juga didorong melibatkan diri dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi penting untuk wirausaha pemuda, serta sinergi dengan berbagai pihak.