Di Seskoau, Sjafrie: Kepemimpinan Adaptif Penting Hadapi Tantangan Pertahanan Masa Depan
loading…
Menhan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menyebut pembangunan pemimpin militer yang profesional, adaptif, dan berkarakter menjadi salah satu kunci hadapi tantangan pertahanan masa depan. Foto/istimewa
JAKARTA – Menteri Pertahanan (Menhan) Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menyebut pembangunan pemimpin militer yang profesional, adaptif, dan berkarakter menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlanjutan kekuatan pertahanan nasional. Hal itu penting di tengah perubahan lingkungan strategis yang semakin cepat dan kompleks.
Pernyataan itu disampaikan Sjafrie saat memberikan pembekalan kepada 100 Perwira Siswa (Pasis) Seskoau Angkatan ke-64 Tahun Pendidikan 2026 di Gedung Widya Mandala I Seskoau, Lembang, Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan tersebut dihadiri KSAU Marsekal TNI M Tonny Harjono.
Dalam arahannya, Sjafrie menegaskan sejarah perjuangan bangsa tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi dalam membangun karakter kepemimpinan dan memperkuat daya juang generasi penerus TNI. Nilai patriotisme, nasionalisme, dan profesionalisme dinilai tetap relevan sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan pertahanan yang terus berkembang.
“Pembentukan pemimpin masa depan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pengalaman penugasan, dan pengembangan kapasitas diri. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi untuk membangun pemimpin yang visioner, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta siap mengambil keputusan dalam lingkungan strategis yang dinamis,” ujarnya, dikutip Kamis (18/6/2026).
Apel Luar Biasa Salatiga Resmikan Sensus Ekonomi 2026: Tonggak Penting Perekonomian Daerah
SALATIGA – Menandai pelaksanaan Sensus Ekonomi Kota Salatiga Tahun 2026, Pemerintah Kota Salatiga menggelar Apel Luar Biasa, di halaman Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Senin (15/6/2026). Apel dipimpin Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, serta diikuti Wakil Wali Kota, Forkopimda, jajaran perangkat daerah dan unsur terkait.
Dalam arahannya, wali kota menegaskan, Sensus Ekonomi 2026 merupakan program strategis nasional yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan menghasilkan data yang akurat.
“Pendataan ini akan berlangsung pada pertengahan Juni hingga Agustus mendatang. Kegiatan ini akan menjadi data penting untuk memotret perkembangan dunia usaha, UMKM, perdagangan, jasa hingga ekonomi digital di Kota Salatiga,” ujar Robby.
Data yang diperoleh melalui sensus tersebut, diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi yang tepat sasaran, sekaligus mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, wali kota mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menyukseskan Sensus Ekonomi 2026, dengan memberikan informasi yang benar dan mendukung para petugas pendataan di lapangan.
“Ini merupakan salah satu program strategis nasional. Mari kita sukseskan bersama demi tersedianya data ekonomi yang berkualitas, untuk pembangunan Kota Salatiga yang lebih baik,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kota Salatiga juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) Kota Salatiga 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas semangat inovasi yang terus tumbuh, di kalangan pelajar maupun masyarakat umum.
Pada kategori pelajar, SMK Negeri 2 Salatiga berhasil memborong tiga posisi juara melalui berbagai inovasi yang dihasilkan para siswanya. Yakni, Juara 1 dengan inovasi Helm Pendeteksi Fokus Pengendara (Siagaride), Juara II melalui karya Celengan Digital Pintar dengan Deteksi Uang Masuk, Penjumlahan Otomatis dan Pemantauan via Telegram (Smart Financial), dan Juara III dengan inovasi Sarung Tangan Penerjemah Bahasa Isyarat untuk Komunikasi yang Lebih Inklusif (Sign Language Glove).
Sementara, pada kategori umum, Juara I Tadris IPA FTIK UIN Salatiga, mengusung inovasi Sumber Energi Listrik Ramah Lingkungan “Bioreaktor Mikroalga”. Juara II Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW Salatiga menampilkan Horizontal Dekomposer Contraflow. Juara III FKIP UKSW Salatiga, melakui inovasi Salatiga Learning Through Traditional Play Arena “Saltopia”.
Wali kota menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menghadirkan berbagai gagasan kreatif dan inovatif, yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Terima kasih telah menghadirkan ide dan inovasi, yang membuktikan bahwa semangat berkarya di Salatiga terus tumbuh. Teruslah berinovasi, teruslah mencipta, dan teruslah menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di sekitar kita,” pungkas Robby.
Melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan apresiasi terhadap inovasi masyarakat melalui Krenova, Pemerintah Kota Salatiga berharap dapat mendorong lahirnya kebijakan berbasis data sekaligus menumbuhkan budaya inovasi sebagai bagian dari upaya mewujudkan Salatiga yang maju, kreatif, dan berdaya saing.
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
loading…
Eks Penyidik KPK Yudi Purnomo Harahap menilai, opini WTP dari BPK merupakan penilaian penting bagi Pemda. Foto/SindoNews
JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Muara Enim Edison sebagai tersangka kasus dugaan suap pengondisian audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Edison melakukan praktik suap agar daerah yang dipimpinnya meraih gelar opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK.
Eks Penyidik KPK Yudi Purnomo Harahap menilai, opini WTP dari BPK merupakan penilaian penting bagi Pemerintah Daerah (Pemda). Namun hal tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan dengan merekayasa hasil audit.
“Bagi saya, temuan BPK sehingga tidak bisa WTP adalah mimpi buruk bagi pemda. Inilah yang dimanfaatkan oleh auditor nakal, sehinggal alih-alih temuan sangat penting untuk menyelamatkan uang negara, malah jadi ajang negoisasi untuk mendapatkan uang,” kata Yudi saat dihubungi Sabtu (13/6/2026).
Akan hal itu, Yudi mendesak adanya perbaikan diinternal BPK. Sebab kasus tersebut telah mencoreng nama baik BPK di mata publik. “Itulah sebabnya maka pimpinan BPK harus bersih-bersih dari auditor seperti itu, dikhawatirkan tim yang memeriksa semua terlibat. Sebab, tanpa persetujuan semua auditor sulit mereka bisa bermain,” ujarnya.
Sebelumnya, Plt Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein mengatakan, BPK menemukan nilai melebihi batas materialitas di dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) keuangan Pemkab Muara Enim dalam pengadaan smart TV. Temuan tersebut dinilai dapat mengganggu opini WTP yang sebelumnya diperoleh Pemkab Muara Enim pada 2025.
“Jadi tahun sebelumnya kalau tidak salah, Kabupaten Muara Enim itu opininya WTP. Jadi jangan sampai ini tidak WTP, gitu,” kata Taufik saat konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Kamis, 11 Juni 2026.
4 Kesepakatan Penting Hasil Lawatan Prabowo ke Prancis: Kilang Hijau hingga Radar ‘Made in Indonesia’
Presiden RI Prabowo Subianto membawa sejumlah hasil konkret dari lawatannya ke Prancis sejak Senin (25/5) malam. Prabowo tiba kembali di Tanah Air pada Sabtu (30/5). Sejumlah capaian tersebut diwujudkan melalui berbagai kesepakatan kerja sama, mulai dari sektor energi hingga pertahanan, dengan total nilai mencapai USD 3,5 miliar atau Rp 61,25 triliun (asumsi kurs Rp 17.500/USD). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden Prabowo Subianto membawa sejumlah hasil konkret dari lawatannya ke Prancis sejak Senin (25/5) malam. Prabowo tiba kembali di Tanah Air pada Sabtu (30/5).
Sejumlah capaian tersebut diwujudkan melalui berbagai kesepakatan kerja sama, mulai dari sektor energi hingga pertahanan, dengan total nilai mencapai USD 3,5 miliar atau Rp 61,25 triliun (asumsi kurs Rp 17.500/USD).
Kesepakatan itu dicapai dalam Forum CEO Indonesia–Prancis yang sekaligus meluncurkan France-Indonesia High Level Business Council (FI-HLBC), sebuah forum bisnis tingkat tinggi yang disaksikan langsung oleh Prabowo dan Presiden Republik Prancis Emmanuel Macron untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
“Ini saya kira sangat penting, dan kami menyambut gembira partisipasi serta kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis yang terus berkontribusi dalam perekonomian Indonesia,” ujar Prabowo ditulis Sabtu (30/5).
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, yang turut mendampingi Prabowo dalam lawatan tersebut, mengatakan FI-HLBC merupakan langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Prancis.
Menurut Rosan, forum bisnis tersebut mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dari kedua negara dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai USD 1,3 triliun.
“Forum ini tidak hanya menjadi wadah dialog antara pelaku usaha, tetapi juga menjadi mesin penggerak untuk mendorong investasi, perdagangan, dan kerja sama strategis yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara,” ujar Rosan.
Rosan menegaskan bahwa capaian kerja sama baru senilai USD 3,5 miliar tersebut menjadi bukti kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia masih sangat besar dan terus meningkat.
“Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif,” kata Rosan.
Daftar Kerja Sama Baru Indonesia–Prancis
Kadin dan MEDEF International
Kadin Indonesia dan MEDEF International resmi meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council melalui penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU).
Forum bisnis ini akan menjadi wadah dialog tingkat tinggi antara pelaku usaha kedua negara guna mengawal berbagai komitmen investasi dan perdagangan.
Kedua organisasi juga sepakat menggelar forum bisnis tahunan secara bergantian di Jakarta dan Paris, serta mengadakan rapat koordinasi tingkat wakil setiap kuartal.
Melalui forum tersebut, Indonesia dan Prancis menargetkan perdagangan bilateral meningkat tiga kali lipat pada 2035, dari USD 2,6 miliar saat ini.
Pertamina dan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara
Pertamina menandatangani kerja sama dengan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara untuk pengembangan teknologi migas dan energi bersih.
Kolaborasi ini mencakup penerapan teknologi skala besar di aset-aset Pertamina, mulai dari enhanced oil recovery (EOR), pengembangan sumber daya migas nonkonvensional, digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI), hingga optimalisasi biaya produksi.
Kerja sama tersebut juga meliputi program pengurangan emisi karbon melalui efisiensi energi, carbon capture and storage (CCS), minimisasi flare, serta pengembangan energi panas bumi.
Pertamina dan TotalEnergies
Pertamina juga meneken kesepakatan dengan perusahaan energi asal Prancis, TotalEnergies, guna memperluas kerja sama di sektor energi yang sebelumnya telah terjalin.
Kerja sama mencakup sektor hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, hingga bisnis rendah karbon.
Kedua perusahaan akan menjajaki studi bersama, tender proyek, farm-in, migas nonkonvensional, CCS/CCUS, serta pengembangan kilang hijau dan energi terbarukan.
Danantara dan Thales
Danantara melalui PT Len Industri memvalidasi Letter of Intent (LoI) dengan perusahaan pertahanan Prancis, Thales, untuk melanjutkan proyek industri pertahanan.
Kerja sama tersebut mencakup rencana pembangunan pabrik radar ‘Made in Indonesia’, pengembangan tactical data link, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, serta pelatihan radar.
Kolaborasi ini menjadi kelanjutan kemitraan strategis PT Len dan Thales yang sebelumnya telah mencakup radar pertahanan udara, kerja sama antariksa, dan sistem tempur TNI AL. (her/dav)
Srawung Nggak Penting, Isinya Cuma Gibah Tetangga dan Mabuk!
Beberapa waktu lalu, ada artikel di Terminal Mojok yang menggugat fenomena kehidupan di kampung. Isinya keresahan penulis melihat hilangnya budaya srawung pada generasi muda di lingkungan kampungnya. Dan ya, tulisan dengan judul “Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Jarang Srawung” itu jujur aja sangat relate. Terutama bagi saya. Jadi, izinkan saya, orang kampung yang kebetulan berkesempatan sekolah tinggi ini menjawab keresahan itu.
Saya sendiri adalah warga di salah satu desa di Kabupaten Semarang yang masih kental sekali dengan budaya srawung. Sebagai orang yang memilih absen dari kegiatan itu, jujur kadang emang ada secuil rasa bersalah. Tapi anehnya, setiap kali penyesalan itu datang, entah kenapa realitas di lapangan justru membuat saya selalu mbatin, “Kalau dulu saya nggak menarik diri, mungkin hidup saya nggak akan sebahagia dan seberkembang ini.”
Sebab, lingkungan kampung selalu aja berhasil membuat saya merasa “sebaiknya nggak usah srawung aja”.
Pos ronda yang beralih fungsi jadi sarang toxic
Mari kita preteli romantisme kata “srawung” yang sering diglorifikasi itu. Srawung sendiri sebenarnya adalah bahasa Jawa dari bersosialisasi. Di bayangan orang kota, srawung diartikan sebagai ruang komunal tempat warga saling membantu, menjaga keamanan, atau minimal ngobrol hangat. Ya, nggak salah juga.
Tapi sayangnya, kenyataanya berbeda. Srawung hari ini telah berubah jadi ajang kumpul-kumpul minim faedah. Isinya kalau nggak ghibah, begadang, main slot, main ML sampai subuh, ya mabuk-mabukan.
Contoh di kampung saya deh, pos ronda yang harusnya berfungsi buat sistem keamanan lingkungan atau sebatas tempat ngobrol malam, kini malah jadi panggung judi kartu dan tempat teler. Bonus utamanya? Gibahin tetangga. Tetangga beli motor baru, langsung dituduh hasil utang bank. Masalah keluarga orang lain pun dikuliti habis-habisan.
Bahkan yang paling menjijikan, obrolannya sering mengarah ke seksualitas tetangga sendiri secara vulgar. Gimana? Masih mau meromantisasi srawung? Mau kalian nimbrung sama lingkungan kayak gitu? Saya sih ogah ya.
Dan benar lo, saya nggak sendirian. Kawan depan rumah saya memilih mundur dari sirkel pergaulan kampung. Kenapa? Ya karena lingkaran pertemanannya mentok jadi pengangguran yang ritme hidupnya gitu-gitu aja. Mabuk, main ML dari malam sampai pagi, habis itu tidur sampai sore. Gitu terus sampai negara api menyerang. Bahkan, bapaknya sampai pernah curhat sama saya lo, katanya pusing melihat anaknya nongkrong nggak jelas kayak gitu.
Sudah beda pola pikir dan frekuensi obrolan pas srawung
Sekolah tinggi, suka atau tidak, emang mengubah seseorang. Dan maaf, perubahan ini bukan sekadar pamer lembar ijazah atau gelar di belakang nama. Saya merasakannya betul. Sekolah tinggi dan merantau ke kota mengubah cara saya melihat dunia, cara berkomunikasi, bahkan sampai selera humor. Selain itu, saat merantau isi kepala saya distimulasi sama diskusi, organisasi, buku, internet, dan interaksi dengan manusia dari berbagai latar belakang. Efeknya, saya jadi terbiasa dengan obrolan yang berbobot, kritis, atau minimal reflektif tentang masa depan.
Sementara itu, lingkungan kampung tampaknya masih nyaman jalan di tempat dengan ritme sosial yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Contoh, ketika saya pulang dari tanah rantau dan mencoba SKSD lagi sama kawan kampung. Ternyata obrolan mereka masih berkutat pada gosip murahan atau candaan seksis lama. Mungkin kalau saya yang versi anak SMA bakal ikutan ketawa ya, tapi sekarang? Aduh, yang ada malah risih dan pengen buru-buru pulang.
Akhirnya saya cuma bisa senyum kecut, bingung harus merespons apa pada obrolan yang udah beda frekuensi itu.
Selain itu, sekolah tinggi membentuk pola pikir saya yang lebih individual dalam artian positif. Saya jadi lebih menghargai privasi dan sadar akan batasan sosial. Sebaliknya, budaya kolektif kampung tuh sering kali kebablasan. Ruang privasi sangat tipis. Semua orang merasa berhak ikut campur dalam hidup orang lain.
Perbedaan jomplang soal pola pikir dan frekuensi inilah yang bikin orang-orang seperti kami emoh untuk srawung lagi.
Lebih takut miskin daripada digibahin
Semakin dewasa, saya sadar bahwa hidup nggak bisa terus dihabiskan buat nongkrong di pos ronda atau hadir di setiap kumpulan warga. Ada kalanya kita harus tau prioritas. Fokus membangun masa depan daripada sibuk menjaga citra “anak kampung yang gampang diajak srawung”. Ironisnya, di kampung saya, sikap realistis begini langsung diganjar cap sombong. Kalau alasan menata masa depan ini dijelaskan, pasti ada aja yang ngga terima lalu nyeletuk “yo mbok kiro kene ra sibuk.” Ya terserah deh.
Buat saya, pendidikan adalah voucher taruhan untuk mengubah nasib keluarga. Orang tua udah banting tulang membiayai sekolah di tengah ekonomi yang serba pas-pasan. Rasanya berdosa banget kalau kesempatan sebesar itu disia-siakan. Apalagi hanya demi menjaga budaya srawung yang isinya bikin lelah mental.
Saya bukannya antisosial ya, tapi terus terang saya gagal menemukan manfaat dari srawung yang ujung-ujungnya cuma menguliti dan mengomentari hidup orang lain.
Adik saya juga demikian. Sejak diterima kuliah Kedokteran di UGM, waktunya habis diperas untuk kegiatan kuliah dan menahan tekanan mental agar nggak ngecewain keluarga. Dia makin jarang keliatan di kampung bukan karena nggak mau srawung, tapi memang energinya udah habis duluan di ruang kuliah.
Saya pun sama. Sebagai anak yang masih harus membantu ekonomi keluarga sekaligus mendukung pendidikan adik, energi saya habis buat kerja, kuliah, dan mikirin masa depan. Waktu luang adalah barang mewah yang nggak bisa dibuang cuma-cuma.
Sayangnya, perjuangan jatuh bangun kami menata masa depan ini jarang mau dilihat warga kampung. Mereka nggak peduli seberapa berdarah-darahnya kita menata karier. Yang dinilai cuma satu, muncul atau nggak muncul. Kalau jarang muncul, langsung dicap sombong, antisosial atau lupa kampung.
Tapi ya sudahlah, kami memilih tau diri aja. Sebab terus terang ya, lebih baik digibahin karena jarang srawung daripada besok-besok digibahin satu desa karena hidup terlilit utang dan gagal mengangkat derajat orang tua.
Mari saling mengerti, jangan hanya salahkan kami yang tak mau srawung
Intinya, keputusan kami untuk nggak srawung tuh bukan tanpa alasan. Jujur ya, kalau emang suasananya mendukung, kami juga pengen banget bisa duduk bareng dan ngobrol santai. Kami juga kangen kehangatan tetangga. Tapi ya tolong ngaca dulu deh. Gimana kami mau datang kalau lingkungan yang kalian tawarkan se-toxic itu?
Kalian sering menuntut kami buat membaur, tapi kalian sendiri gagal menciptakan ruang publik yang sehat untuk semua orang. Obrolan yang dilempar pun cuma bisa dinikmati oleh sirkel itu-itu aja. Lah yang nggak sefrekuensi gimana? Ya milih pergi atau mending tidur aja di rumah lah.
Dan asal tahu aja, fenomena “menarik diri” ini bukan cuma dilakukan kami yang kebetulan beruntung bisa sekolah tinggi lo. Banyak kok kawan-kawan di kampung yang nggak sekolah tinggi, tapi mereka milih nggak srawung. Alasannya sama, mereka nggak dapet lingkungan yang nyaman dan produktif.
Jadi, daripada sibuk menghakimi orang kampung yang sekolah tinggi sebagai sosok yang sombong dan antipati, yuk mari kita saling memahami. Mari kembalikan fungsi pos ronda seperti dulu. Tempat berkumpul yang sehat, aman, dan nyaman, tanpa peduli apa latar belakang pendidikannya.
Kalau lingkungan srawungnya udah sehat, sumpah deh, nggak usah disindir pun kami bakal datang sendiri membawa kopi. Tapi kalau belum bisa berubah, ya mohon maaf, jangan salahkan kalau pintu rumah kami bakal tetap tertutup rapat.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
DPR Genjot RUU Satu Data Indonesia Tuntas Tahun Ini, Kunci Penting Integrasi Data Nasional
loading…
Baleg DPR menargetkan RUU Tentang Satu Data Indonesia dapat disahkan menjadi undang-undang pada tahun ini. Foto/SindoNews
JAKARTA – Badan Legislasi (Baleg) DPR menargetkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Tentang Satu Data Indonesia dapat disahkan menjadi undang-undang pada tahun ini. Pembahasan RUU Satu Data Indonesia saat ini masih berada pada tahap penyusunan.
Wakil Ketua Baleg DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengatakan, pembahasan RUU Satu Data Indonesia saat ini masih berada pada tahap penyusunan. Namun, Baleg DPR optimistis proses tersebut dapat dirampungkan pada masa sidang DPR yang sedang berjalan.
“Kami merencanakan karena ini memang sudah masuk masa sidang yang ketiga, mudah-mudahan dan masa sidang ini relatif cukup panjang sekitar dua bulan setengah. Kami menargetkan mudah-mudahan Undang-Undang ini bisa selesai di masa sidang ini, paling lama awal Juli,” kata Doli dikutip Minggu (24/5/2026).
Legislator Golkar itu menjelaskan, apabila penyusunan di DPR selesai, RUU tersebut akan ditetapkan sebagai usul inisiatif DPR RI. Setelah itu, diajukan kepada pemerintah untuk penerbitan Surat Presiden (Surpres) guna memulai pembahasan bersama pemerintah.
“Kalau nanti kemudian ini selesai, ini menjadi Undang-Undang inisiatif DPR. Dan kemudian nanti diajukan ke Pemerintah untuk bisa segera diterbitkan surpresnya, kemudian kita bahas. Mudah-mudahan tahun ini bisa selesai Rancangan Undang-Undang ini menjadi undang-undang,” ujarnya.
Prabowo Turun Langsung Beri Arahan Penting 1.000 Perwira Siswa TNI
loading…
Suasana jelang Taklimat Presiden Prabowo Subianto kepada 1.000 perwira siswa dari berbagai lembaga pendidikan pengembangan TNI dan Polri di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), Bandung, Jawa Barat, Senin (25/5/2026). Foto/Tangkapan layar Sek
BANDUNG – Presiden Prabowo Subianto memberikan taklimat kepada 1.000 perwira siswa dari berbagai lembaga pendidikan pengembangan TNI dan Polri di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat ( Seskoad ), Bandung, Jawa Barat, pada Senin (25/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga meresmikan Perpustakaan dan Museum Seskoad.
Para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut terdiri atas perwira siswa Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko) TNI, Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri, Sesko Angkatan Darat, Sesko Angkatan Laut, Sesko Angkatan Udara, serta Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimmen) Polri.
“Presiden Prabowo memberi taklimat kepada 1.000 perwira siswa Sesko TNI dan Sespimti Polri, perwira siswa Sesko AD, AL, AU dan Sesmpimmen Polri sekaligus meresmikan Perpustakaan dan Museum di Seskoad, Bandung Jawa Barat,” demikian keterangan yang diterima dari Sekretariat Presiden.
Diketahui, kehadiran Prabowo di Seskoad tidak hanya ketika menjabat sebagai Presiden. Saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), Prabowo juga pernah memberikan pembekalan pada Perwira Siswa Pendidikan Reguler LXII Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Pasis Dikreg LXII Seskoad) Integritas TA 2022.
Dikutip dari laman Kementerian Pertahanan (Kemhan), Prabowo kala itu menyampaikan bahwa dirinya merasa terhormat dapat memberikan pembekalan kepada calon-calon pemimpin. Ia pun mengutip ajaran Sun Tzu bahwa seorang panglima atau pemimpin harus punya sifat wisdom (kebijaksanaan), kecerdasan, sungguh-sungguh, punya kebaikan dan ketegasan.
“Seorang panglima harus ada kesungguhan. Jangan hanya main di peta, jangan hanya main di radio. Harus tenang menghadapi krisis, tidak boleh sembrono, harus berhati-hati, harus kuat mentalnya, dan fleksibel menghadapi perubahan,” ujarnya.
Prabowo pun menekankan bahwa seorang pemimpin hanya akan berhasil dengan dukungan anak buahnya. “Kita sebagai komandan, sebagai pemimpin, hanya bisa berhasil kalau anak buah kita mendukung kita,” tegas Prabowo.
Kondangan Jangan Sampai Bikin Melarat, Hadiri yang Penting Saja
Musim kondangan adalah anomali sosiologis yang menuntut ketahanan mental sekaligus manajemen finansial yang handal. Saya nggak bercanda perkara ini.
Bagi sebagian orang, rentetan undangan pernikahan yang datang bertubi-tubi di akhir pekan bukanlah sekadar simbol perayaan cinta, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas arus kas bulanan.
Menghadiri hajatan, yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi, sering kali berubah menjadi beban psikologis jika kita tidak memiliki siasat yang tepat untuk selamat dari ancaman kebangkrutan yang sistematis.
Berikut adalah beberapa langkah taktis agar kita tetap bisa menjaga harga diri di depan pelaminan tanpa harus mengorbankan jatah makan siang di akhir bulan.
Jangan semua undangan kondangan harus dihadiri
Langkah pertama dalam menghadapi gelombang undangan adalah melakukan audit sosial. Mari jujur, tidak semua undangan memiliki derajat urgensi yang sama. Kita harus berani memilah mana hajatan yang wajib dihadiri, mana yang cukup diwakili dengan ucapan Sakinah Mawaddah Warahmah via WhatsApp, dan mana yang bisa kita lepaskan dengan sopan.
Kelompokkan undangan ke dalam tiga kategori: lingkaran inti seperti keluarga dan sahabat karib, rekan kerja atau kenalan formal, dan kenalan jauh yang cuma pernah chat sekali dua kali waktu zaman kuliah. Untuk kategori terakhir, mengirimkan doa melalui pesan singkat sudah lebih dari cukup.
Ingat, kehadiran fisik bukan satu-satunya bentuk penghormatan. Dengan membatasi daftar hadir, secara otomatis menekan pengeluaran untuk biaya transportasi, sewa ojek online, hingga biaya dandan yang harganya sering kali tidak masuk akal.
Masalah utama di musim kondangan adalah tekanan sosial untuk memberikan nominal tertentu yang sering kali tidak realistis. Terjebak dalam kompetisi nominal amplop hanya akan membawa kerugian jangka panjang. Siasat terbaik adalah menetapkan anggaran tetap untuk setiap kategori undangan.
Alih-alih merasa minder karena nominal amplop yang terasa kecil, fokuslah pada nilai kehadiran. Pernikahan adalah tentang dukungan, bukan tentang seberapa tebal amplop yang diselipkan di kotak sumbangan. Jika memang memiliki kedekatan emosional, kehadiran dan bantuan tenaga sering kali jauh lebih berkesan bagi pengantin daripada sekadar angka.
Bersikap jujur pada kapasitas diri adalah bentuk kedewasaan finansial yang paling hakiki, daripada harus berutang hanya demi terlihat dermawan di depan tamu lainnya. Atau, lebih parah lagi, demi menutupi rasa minder yang diciptakan oleh diri sendiri.
Jangan memaksa outfit baru
Banyak orang menghabiskan dana yang cukup besar hanya untuk urusan tampilan saat kondangan, seperti membeli baju baru atau bahkan jasa rias. Padahal, siasat paling efisien adalah memaksimalkan apa yang sudah ada di lemari.
Menggunakan kemeja yang itu-itu saja bukan berarti terlihat miskin, itu berarti kita penganut prinsip efisiensi yang pragmatis. Toh, tamu lain juga sibuk dengan piring prasmanannya sendiri, bukan sedang meneliti outfit yang dipakai.
Selain itu, pertimbangkan efisiensi transportasi. Jika memiliki teman dengan rute yang searah, tidak ada salahnya nebeng. Berbagi biaya transportasi dengan teman lainnya adalah langkah cerdas untuk menekan pengeluaran.
Dengan mengurangi biaya operasional, kita dapat mengalihkan anggaran tersebut untuk hal yang jauh lebih krusial. Seperti membayar tagihan listrik atau sekadar membeli kopi enak untuk diri sendiri di akhir bulan yang getir.
Musim kondangan, pada akhirnya hanyalah fase yang akan berlalu. Kuncinya adalah tidak membiarkan diri kita terjebak dalam arus gaya hidup yang dipaksakan.
Dengan manajemen yang terukur dan keberanian untuk memilah, kita tetap bisa merayakan kebahagiaan orang lain tanpa harus memadamkan kebahagiaan diri sendiri. Menyambung silaturahmi itu perlu, tapi kesehatan dompet itu juga nggak boleh diabaikan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Ancaman Aset Negara Mengemuka: Gugatan PLK di PTUN Jakarta Jadi Ujian Penting
loading…
Fitra Kadarina, S.H., M.H., selaku Ketua Tim Advokasi Direktorat Badan Usaha Ditjen AHU Kementerian Hukum RI, usai persidangan yang digelar pada Rabu (20/5/2026).
JAKARTA – Gugatan yang diajukan Perkumpulan Lyceum Kristen (PLK) terhadap Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum RI di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta dinilai berpotensi menjadi ancaman serius bagi kepemilikan aset negara yang sah.
Hal tersebut disampaikan oleh Fitra Kadarina, S.H., M.H., selaku Ketua Tim Advokasi Direktorat Badan Usaha Ditjen AHU Kementerian Hukum RI, usai persidangan yang digelar pada Rabu (20/5/2026). Dalam sidang tersebut, pihak penggugat menghadirkan Adrian Rompis, dosen Hukum Administrasi Negara dari Universitas Padjadjaran, sebagai saksi ahli.
Menurut Fitra, gugatan yang diajukan PLK tidak bisa dipandang sebagai perkara biasa karena berpotensi berdampak langsung terhadap pengamanan aset negara.
“Menurut saya, ini merupakan ancaman terhadap aset negara. Apalagi saat ini Presiden sedang gencar melakukan upaya pengamanan aset negara,” ujar Fitra kepada awak media usai sidang.
Fitra juga menyoroti keterangan saksi ahli dari pihak penggugat yang dinilainya tidak independen dan tidak sepenuhnya merujuk pada dasar hukum yang berlaku.
“Banyak keterangannya tidak merujuk pada peraturan perundang-undangan. Keahliannya perlu dipertanyakan, apakah benar didasarkan pada hukum yang berlaku atau tidak,” katanya.
5,37 Juta Ton! Cadangan Beras Pemerintah Cetak Rekor Tertinggi, Mengapa Ini Penting?
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan bahwa cadangan beras pemerintah telah mencapai 5,37 juta ton per 18 Mei 2026. Oleh karena itu, ia menyebut posisi stok beras pemerintah saat ini merupakan level tertinggi yang pernah diraih Indonesia sejauh ini. Hal itu dikatakan Sudaryono dalam Rapat Kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (19/8). (Foto Ilustrasi Data Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan bahwa cadangan beras pemerintah telah mencapai 5,37 juta ton per 18 Mei 2026.
Oleh karena itu, ia menyebut posisi stok beras pemerintah saat ini merupakan level tertinggi yang pernah diraih Indonesia sejauh ini.
“Cadangan beras sampai dengan 18 Mei mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” jelas Sudaryono dalam Rapat Kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (19/8).
Menurut Sudaryono, capaian tersebut tidak terlepas dari peran aktif Perum Bulog dalam menyerap beras dan setara beras sepanjang tahun ini.
Sejak awal tahun hingga 18 Mei 2026, ia menyebut Bulog telah merealisasikan pengadaan sebesar 2,8 juta ton, atau sekitar 70 persen dari target penyerapan tahun ini sebesar 4 juta ton.
Berdasarkan capaian tersebut, ia memproyeksikan penyerapan beras dan setara beras Bulog hingga akhir semester I 2026 dapat mencapai 3,3 juta ton, atau sekitar 82 persen dari target tahunan.
“Angka ini (proyeksi semester I) naik 25,54 persen dari realisasi tahun sebelumnya, yaitu 2,65 juta ton,” tambahnya.
Dengan demikian, Sudaryono optimistis target penyerapan beras tahun ini dapat tercapai mengingat Indonesia masih memiliki potensi panen yang cukup tinggi.
Sebagai gambaran, ia mengatakan bahwa potensi luas panen di Mei bisa mencapai 929 ribu hektare (ha) sementara potensi luas panen di Juni diproyeksikan menyentuh 841 ribu ha.
Oleh karena itu, ia meyakini penyerapan beras pada semester II akan membantu pemerintah mencapai target pengadaan sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.
“Pada Juli hingga Desember, target pengadaan sebesar 670 ribu ton, atau naik 24,16 persen dari tahun sebelumnya,” pungkas dia. (her/dav)