Bareskrim Tangkap Buronan Penipuan Internasional, Penasihat Ahli Kapolri: Bukti Kerja Sama yang Baik
loading…
Bareskrim Polri menangkap LCS, buronan Interpol kasus penipuan online lintas negara. Penangkapan ini bukti kerja sama Polri dan kepolisian luar negeri sangat baik terutama dalam pemberantasan kejahatan siber. Foto: Ilustrasi/Dok Sindonews
JAKARTA – Bareskrim Polri menangkap buronan Interpol kasus penipuan online lintas negara. Pelaku berinisial LCS dibekuk Bareskrim saat berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Pelaku diamankan setelah Bareskrim Polri bekerja sama dengan kepolisian lintas negara. “Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kerja sama kepolisian Indonesia dan luar negeri sangat baik terutama dalam pemberantasan kejahatan siber, khususnya penipuan online yang banyak meresahkan masyrakat di berbagai negara,” ujar Penasihat Ahli Kapolri Edi Hasibuan, Kamis (7/5/2026).
Menurut Edi, penjahat internasional ini diketahui banyak melakukan penipuan online dengan korban di berbagai negara. Cara penipuan sindikat nyaris sama. Jaringan penipuan online ini bermarkas di Kamboja.
“Seluruh jaringan pelaku juga tersebar di berbagai negara di dunia. Kita apresiasi kinerja Kabareskrim Polri Komjen Pol Syahardiantono bersama stafnya yang sudah berhasil mengamankan buronan Interpol,” kata anggota Kompolnas periode 2012-2016 ini.
Sebelumnya, Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Himawan Bayu Aji mengatakan, LCS ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu, 3 Mei 2026. LCS sebelumnya telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.
“Kasus ini tercatat memiliki 23 Laporan Polisi (LP) dari berbagai wilayah di Indonesia. Ini bentuk keseriusan kami dalam menindak pelaku kejahatan siber, khususnya penipuan online yang merugikan masyarakat luas,” tegasnya.
IHEX 2026 di Tangerang Dorong Sertifikasi Rumah Sakit Syariah yang Inklusif
loading…
MUKISI ke-6 International Islamic Healthcare & Expo (IHEX) 2026 yang digelar di Tangerang, Rabu (6/5/2026), menegaskan komitmen dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis nilai syariah yang inklusif. Foto: Ist
TANGERANG – MUKISI ke-6 International Islamic Healthcare & Expo (IHEX) 2026 yang digelar di Ballroom Novotel Tangerang, Rabu (6/5/2026), menegaskan komitmen dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis nilai syariah yang inklusif dan dapat diterapkan di berbagai jenis rumah sakit baik pemerintah maupun swasta.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menuturkan pendekatan religius dalam pelayanan kesehatan selaras dengan nilai dasar bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Setiap sendi kehidupan bernegara, termasuk pelayanan kesehatan tidak boleh terlepas dari nilai religius. Karena itu, kami menyambut baik upaya sertifikasi rumah sakit syariah yang dilakukan MUKISI bersama MUI,” ujarnya.
Sertifikasi rumah sakit syariah bukanlah konsep eksklusif untuk rumah sakit berbasis Islam semata, melainkan terbuka bagi semua. Prinsip halalan thoyyiban dalam layanan kesehatan dinilai mampu meningkatkan kualitas pelayanan secara menyeluruh.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga terus mendorong penguatan ekosistem halal, termasuk melalui sertifikasi produk farmasi. Saat ini, sekitar 24 ribu produk farmasi telah tersertifikasi halal dan jumlah tersebut akan terus bertambah.
Ketua Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) Masyhudi mengungkapkan saat ini terdapat 40 rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah, termasuk empat di antaranya milik pemerintah. Selain itu, sekitar 77 rumah sakit lainnya tengah dalam proses sertifikasi.
Tes Ishihara, Tes Konyol yang Membunuh Mimpi Banyak Manusia
Tes Ishihara tidak ada ubahnya membunuh mimpi manusia dengan cara yang paling konyol
Selama ini saya kira buta warna itu cuma soal tidak bisa membedakan merah dan hijau. Hal yang terasa sepele, bahkan sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari. Sampai akhirnya saya melihat sendiri bagaimana satu kondisi itu cukup untuk menutup satu pilihan. Adik saya gagal masuk jurusan kelistrikan karena dinyatakan mengalami buta warna parsial. Cerita ini sebenarnya sederhana, bahkan terlalu sering terjadi untuk dianggap luar biasa. Tapi justru dari situ, ada satu hal yang terasa janggal: keputusan sebesar itu ditentukan oleh sesuatu yang sangat kecil.
Semua drama ini bermuara pada satu musuh besar: Tes Ishihara. Tes yang isinya kumpulan titik warna yang menyembunyikan angka. Kalau mata kamu bisa menangkap angka di balik titik-titik itu, kamu dianggap “layak” jadi manusia produktif. Kalau tidak? Ya sudah, game over. Di situlah semuanya ditentukan—lulus atau tidak, layak atau tidak, boleh atau tidak. Padahal, bagi kami yang spektrum matanya sedikit berbeda, tes ini bukan sekadar tes kesehatan, tapi algojo yang siap memenggal cita-cita dalam hitungan detik.
Pertanyaannya sederhana: apa hubungannya kemampuan seseorang dengan profesi yang dia pilih, dengan kemampuannya membaca angka samar di antara titik-titik warna?
Apa relevansinya?
Kalau ini soal pekerjaan yang benar-benar bergantung pada warna secara presisi, argumennya masih bisa diterima. Tapi apakah semua yang masuk jurusan tersebut akan berakhir di posisi itu? Apakah seluruh proses belajar di sana sepenuhnya bergantung pada kemampuan melihat warna dalam format seperti itu? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang memakai satu alat ukur yang sama untuk semua orang, tanpa benar-benar peduli apakah alat itu relevan atau tidak?
Masalahnya bukan pada tesnya, tapi pada cara sistem kita memperlakukannya. Tes seperti Ishihara awalnya dibuat untuk mendeteksi kondisi penglihatan, bukan untuk menjadi penentu mutlak masa depan seseorang. Tapi dalam praktiknya, tes ini sering dipakai seperti gerbang mutlak: sekali gagal, selesai. Seakan tidak ada ruang untuk penerimaan lagi.
Bayangkan, adik saya yang mungkin sudah khatam soal arus AC/DC dan paham skema rangkaian listrik, harus pulang dengan tangan hampa cuma karena matanya gagal mengenali angka “74” di balik tumpukan warna yang mirip tumpahan sambal kacang. Apakah kabel listrik di lapangan dibuat dalam bentuk titik-titik samar seperti tes itu? Tentu tidak. Kabel itu nyata, punya label, punya tekstur, dan punya posisi. Tapi birokrasi pendidikan kita tampaknya terlalu malas untuk membuat penilaian yang lebih kontekstual dan manusiawi.
Dan yang lebih aneh, kita jarang mempertanyakan itu. Padahal ini bukan cuma soal kelistrikan. Banyak bidang lain yang menerapkan hal yang sama, bahkan yang tidak selalu membutuhkan ketepatan warna seperti yang dibayangkan. Semua diminta ikut tes Ishihara, padahal jurusannya nggak ada urusannya dengan warna. Maksudnya, untuk apa anak Sastra diminta ikut tes seperti itu?
Dari sini dampaknya mulai terasa. Banyak orang bukan benar-benar gagal karena bodoh, mereka hanya dipaksa berbelok karena matanya nggak cocok sama “standar” yang kaku. Banyak mimpi yang gagal karena tes Ishihara, yang mungkin tak relevan, atau bahkan tak logis digunakan.
Di titik ini, rasanya wajar kalau muncul pertanyaan: apakah memang tidak ada cara lain? Apakah kemampuan seseorang harus selalu diukur dari pola titik-titik warna seperti itu?
Mimpi terkubur karena tes Ishihara
Sebenarnya, opsinya bukan tidak ada. Penilaian bisa dibuat lebih kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan bidangnya. Bisa lewat simulasi langsung, bisa dengan alat bantu digital yang sudah sangat masif di tahun 2026 ini, atau setidaknya ada tahap lanjutan sebelum keputusan benar-benar ditutup.
Karena yang dibutuhkan dunia kerja sebenarnya bukan sekadar kemampuan melihat warna, tapi kemampuan bekerja, memahami risiko, dan beradaptasi. Dan itu semua tidak selalu bisa diwakili oleh satu lembar gambar berisi titik-titik peninggalan zaman dulu.
Masalahnya, sistem kita sering memilih cara paling mudah: menyederhanakan sesuatu yang kompleks menjadi hitam-putih. Lulus atau tidak, boleh atau tidak. Padahal manusia tidak pernah sesederhana itu. Banyak orang mungkin tidak lolos bukan karena tidak mampu secara intelegensi, tapi karena tidak cocok dengan cara sistem mengukurnya. Dan itu dua hal yang berbeda, tapi sering diperlakukan sama oleh para pengambil kebijakan yang kurang piknik soal isu inklusivitas.
Yang hilang bukan cuma satu pilihan bagi adik saya, tapi banyak rencana anak bangsa yang akhirnya disesuaikan, bukan diwujudkan. Selama tes Ishihara ini masih dianggap cukup untuk menentukan segalanya tanpa ada ruang debat, maka cerita seperti ini akan terus berulang. Kita kehilangan banyak talenta hanya karena kita malas menggunakan sesuatu yang lebih terukur, dan memilih menyederhanakan semuanya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Prabowo Disambut Saranghae Siswa Jabar di Istana: Ungkapan Emosional yang Mencuri Perhatian
Ratusan pelajar yang tergabung dalam Forum OSIS Jawa Barat (FOJB) bersemangat saat menemui Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto langsung di tempat kerjanya. Para pelajar ini mendapat kesempatan mengikuti Istana Tour ke Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Ratusan pelajar yang tergabung dalam Forum OSIS Jawa Barat (FOJB) bersemangat saat menemui Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto langsung di tempat kerjanya. Para pelajar ini mendapat kesempatan mengikuti Istana Tour ke Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/5).
Suasana hangat langsung terasa saat para pelajar bersalaman dengan Prabowo. Usai bersalaman, para siswa langsung menyampaikan ekspresi kekaguman dan kecintaan mereka secara spontan.
“Bapak, saranghae!” seru seorang pelajar. Kontan suasana ini semakin menambah akrab dan penuh kehangatan.
Belum turun kekagetan Prabowo diaduk oleh ucapan tersebut, para pelajar melanjutkan dengan ucapan yang hangat, “Bapak, rakyatmu mencintaimu, Pak!” ucap siswa lainnya, menambah haru momen kebersamaan tersebut.
Prabowo pun dengan riang gembira menyambut mereka dan menyalami mereka satu per satu dan sedikit berbincang dengan mereka. Momen kebersamaan itu juga diabadikan dalam foto bersama sebagai kenang-kenangan bagi para pelajar.
Istana Tour merupakan bagian dari program pemerintah berupa kunjungan edukatif ke lingkungan Istana Kepresidenan. Program ini ditujukan bagi para pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.
Melalui program ini, para pelajar mendapat kesempatan melihat langsung bagaimana pusat pemerintahan sekaligus memahami peran Presiden dan nilai-nilai kebangsaan secara lebih nyata. (her/dav)
Ini 6 Rekomendasi Komisi Reformasi Polri yang Diserahkan ke Prabowo, Apa Saja?
loading…
Presiden Prabowo Subianto menerima 6 rekomendasi dari Komisi Percepatan Reformasi Polri yang diserahkan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Foto/BPMI Setpres
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto telah menerima 6 rekomendasi dari Komisi Percepatan Reformasi Polri di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Sebanyak 6 rekomendasi yang disampaikan kepada Presiden Prabowo tersebut termuat dalam laporan setebal 3.000 halaman.
“Kami sebenarnya tadi telah menyerahkan ada 7 jilid buku kepada Pak Presiden, mungkin sekitar 3.000 halaman ya. Ada yang ringkasannya, ada yang 13 halaman, dan ada yang hanya 3 halaman. Dan tadi sudah diserahkan kepada Bapak Presiden dan beliau sudah baca yang kesimpulannya adalah bahwa ada enam poin dari kesimpulan yang dicapai oleh Komite Percepatan Reformasi Polri,” kata Yusril Ihza Mahendra kepada awak media usai pertemuan.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) itu mengatakan bahwa rekomendasi dari Komisi Percepatan Reformasi Polri telah dilaporan dan diterima oleh Presiden Prabowo.
Amien Rais: Pengamat Bongkar Bahaya Politik Fitnah yang Ancam Demokrasi
Pernyataan Amien Rais yang menuding Seskab Teddy Indra Wijaya memicu polemik. Tuduhan ini dinilai tidak berdasar serta berpotensi merusak kualitas demokrasi. Direktur Nalar Bangsa Institute, Bin Bin Firman Tresnadi, menekankan kritik harus ditopang data, bukan spekulasi politik. Tuduhan tanpa data memperkeruh ruang publik di tengah kebutuhan stabilitas dan konsolidasi nasional.
Di Balik Gemerlap Apartemen: 4 Kekurangan Tersembunyi yang Tak Dicantumkan dalam Iklan.
Dari berbagai bentuk hunian, bisa kita bilang bahwa apartemen selalu dibayangkan sebagai hunian yang paling mewah sekaligus praktis. Apartemen ibarat tempat tinggal di gedung tinggi yang dilengkapi dengan segala fasilitas yang luks. Memang ada pula apartemen yang dirancang untuk bersaing di pasar dengan harga yang lebih murah, tapi bayangan kita akan tempat tinggal satu ini masih saja tentang kemewahan, kan?
Apartemen belakangan ini juga jadi pilihan orang-orang yang tinggal dan bekerja di kota besar. Kedua fenomena ini nggak cuma terjadi di Indonesia saja, melainkan juga di negara lain, salah duanya yang saya ketahui adalah Korea Selatan dan Turki.
Tahun 2022 lalu, artikel serupa pernah ditulis dengan judul 4 Kekurangan Tinggal di Apartemen yang Perlu Dipertimbangkan. Nah, empat tahun setelahnya, saya mau menambahkan beberapa kekurangan tinggal di apartemen yang nggak akan kita temukan di brosur.
#1 Tinggal di apartemen bikin ketergantungan pada segala hal
Menurut pengakuan banyak penghuni, tinggal di apartemen akan membuat kita super-mandiri karena kita berada di lingkungan yang individualis. Kebanyakan penghuni nggak kenal dengan tetangganya sendiri, bahkan yang berada di lantai yang sama.
Akan tetapi, jangan dikira tinggal di apartemen bisa benar-benar membuat kita mandiri. Iya, “mandiri” dalam hal hubungan dan interaksi sosial. Padahal yang sebenarnya terjadi, penghuni itu ketergantungan pada segala hal. Mereka over-dependence pada sistem.
Di apartemen, air dan listrik itu sudah termasuk dalam fasilitas bulanan. Bayangkan kalau air dan listrik itu mati, bahkan beberapa jam saja. Pasti suasana di dalamnya sudah chaos. Kalau tinggal di rumah, mungkin kita masih bisa numpang di rumah tetangga untuk mandi atau menyalakan lilin.
Akan tetapi, di apartemen, mana bisa ketok-ketok pintu tetangga dan numpang mandi. Semua penghuni akan merasakan kekacauan yang sama. Apalagi kalau listrik mati, otomatis lift juga ikut nggak berfungsi. Langsung bingung kan penghuni yang menempati lantai atas.
#2 Tinggal di apartemen justru nggak bebas sama sekali
Memilih tinggal di apartemen artinya siap menaati semua peraturan, sebesar dan sekecil apapun itu, dari awal hingga akhir masa tinggal. Mulai dari jam tamu, aturan parkir, sampai larangan dari A sampai Z, semuanya pasti bisa kita temukan di apartemen.
Memang, peraturan tersebut dibentuk untuk menciptakan kenyamanan antara setiap penghuni. Tapi, buat orang yang berjiwa bebas, tinggal di apartemen malah terasa seperti mengekang. Aturan sekecil apapun bisa dengan mudah bikin stres.
Ya, ibaratnya tinggal di apartemen itu kayak hidup di dalam daftar peraturan yang nggak kita buat lah.
#3 Sepi sekaligus hampa jadi teman sehari-hari
Interaksi sosial di apartemen memang cenderung individualis dengan para penghuninya mengurus urusan masing-masing. Kalau nggak kepepet banget, hampir nggak ada gotong royong atau saling membantu antarpenghuni di sana. Buat para introvert atau yang baterai sosialnya lemah, tinggal di hunian macam ini bisa menjadi pilihan terbaik karena nggak perlu berinteraksi dengan orang lain.
Akan tetap, kalau kita lihat dari perspektif yang lebih luas, sebenarnya sepinya apartemen itu bukan sekadar sepi. Di sana, hampir nggak ada suara kehidupan dari aktivitas organik.
Bayangin deh, kalau tinggal di kampung kita masih bisa mendengar suara masyarakat saling berinteraksi, mulai dari ibu-ibu ngobrol sambil beli sayur, bapak-bapak kerja bakti di Minggu pagi, sampai anak-anak yang heboh jajan cilok sepulang sekolah. Tanpa kita sadari, suara-suara ini yang membuat hidup kita berwarna.
Sebaliknya, di apartemen semua suara itu “dikontrol”. Kebisingan itu dilarang di hampir semua apartemen dengan alasan kenyamanan. Introvert mentok pun kadang masih butuh suara dan interaksi nggak sih? Tapi, di apartemen, kehampaan ini membuat kehidupan jadi nggak hidup lagi.
#4 Makin tinggi lantai, makin jauh penghuninya dari bumi
Tinggal di apartemen artinya tinggal di gedung berlantai tinggi dengan keterbatasan ruang. Seluas-luasnya hunian ini, tetap kalah dengan rumah di desa sekalipun, khususnya dalam hal hubungan dengan alam.
Di artikel terdahulu sudah dibahas keterbatasan ruang di apartemen seperti soal susahnya mengadakan acara besar, memelihara hewan peliharaan, dan mencuci kendaraan. Ada hal lain nih yang belum disebut dari segi alam.
Di apartemen, nggak ada tanah dan halaman yang bisa membuat kita terkoneksi dengan alam. Coba bayangkan kalau kita tinggal di lantai 10, misalnya. Letak tempat tinggal kita saja sudah jauh dari pucuk tertinggi pohon. Kita mungkin nggak akan pernah mendengar lagi cuitan burung di pagi hari, apalagi dengar ayam jantan berkokok.
Selain itu, nggak adanya halaman membuat kita nggak bisa leluasa menjemur pakaian. Alhasil, ketergantungan dengan mesin pengering atau laundry. Kita juga nggak bisa menanam tanaman secara bebas maupun memegang rumput, sebagaimana yang dikatakan netizen, “Touch some grass!”.
Tinggal di apartemen memang tampak mewah dan berkelas. Namun, banyak juga sisi kekurangannya yang harus dipikirkan ulang, terutama jika kamu adalah seseorang yang bebas, nggak suka dikekang aturan, dan suka ruang yang luas.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk: Simbol Perjuangan Buruh yang Tak Lekang Waktu
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya mendukung perjuangan buruh. Ia berencana meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, dalam waktu dekat. Pada Hari Buruh Internasional di Monas, Prabowo juga meneken Perpres perlindungan pekerja transportasi online dan meratifikasi Konvensi ILO 188 untuk awak kapal.
Prabowo Rangkul Buruh: Momen Buka Baju, Peluk, dan Salami yang Jadi Sorotan
Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 di Monas, Jakarta. Usai berpidato, Prabowo mendekati ribuan buruh secara akrab, bahkan bertukar pakaian. Ia menegaskan komitmen membela kepentingan rakyat dan pekerja, serta menyoroti pentingnya dukungan mereka.
Jelang May Day 2026, Seskab dan Kapolri Turun ke Monas Temui Buruh: Ini yang Dibahas
Seskab Teddy Indra Wijaya dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo menemui perwakilan federasi buruh di Monas, Jakarta, Kamis (30/4/2026) malam. Dialog ini berlangsung jelang Hari Buruh 1 Mei. Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea turut hadir dalam pertemuan tersebut.