Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo Ardianto
loading…
Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Foto: Instagram Ahmad Syaikhu
JAKARTA – Nama Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso diseret-seret Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/6/2026). BEM Bersatu mengait-ngaitkan Setyo Sularso dengan pimpinan aksi demonstrasi mahasiswa menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tiyo Ardianto.
Aliansi BEM Bersatu mengendus adanya dugaan keterlibatan sosok politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini. BEM Bersatu menduga gerakan penolakan tersebut sudah disusupi agenda politik praktis dan difasilitasi oleh jejaring tokoh tertentu.
Juru Bicara BEM Bersatu Rahmat Djimbula membeberkan dugaan sosok tersebut adalah politikus PDIP Andi Widjajanto yang ikut di tengah massa aksi. Selain itu, kata dia, mobil Fortuner yang digunakan pimpinan aksi penolakan MBG Tiyo Ardianto diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.
“Kami melihat indikasi kuat keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan ini. Dugaan itu Mobil Fortuner yang digunakan Tiyo diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Selain itu, diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan Andi Widjajanto di tengah massa aksi,” kata Rahmat dalam konferesi pers di Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Dia menuturkan, adanya jejaring politik praktis yang diduga ikut menunggangi gerakan penolakan MBG. Menurutnya, Tiyo diketahui menghadiri forum yang sama dengan sang purnawirawan di Bandung baru-baru ini. Jejaring ini dinilai patut dicermati karena mencederai kemurnian pergerakan mahasiswa.
“Keterkaitan dugaan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung (18 Juni 2026) bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa. Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati,” kata Rahmat.
Perpustakaan Itu Butuh Dana Besar, Sesuatu yang Orang Tak Tahu
Ada satu kalimat sakti yang hampir selalu muncul setiap kali Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dikritik, yaitu “anggarannya kecil.” Dan seperti mantra yang sudah terlalu sering dibaca, kalimat itu mulai kehilangan daya magisnya. Orang-orang menguap. Publik mendengus. Ada yang sinis, ada yang skeptis, ada pula yang langsung memvonis bahwa itu semua hanya alasan klasik.
Padahal, anggaran kecil di perpustakaan itu bukan dongeng pengantar tidur. Bukan pula karangan pustakawan. Hal tersebut adalah fakta. Apalagi di tahun 2026 ini Pemerintah Pusat resmi memotong anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dengan besaran hingga 47,6%, sejumlah kolega saya yang ada di sana menyebut angka itu menjadi yang terendah dalam 5 tahun terakhir.
Padahal pemerintah pusat jika tahu, pemotongan anggaran itu tentu akan langsung pada beragam hal fundamental yang ada di Perpusnas. Sebab kalau pemerintah pusat tahu apa saja yang sebenarnya dibiayai dari anggaran itu dan apa saja yang selama ini luput dari kacamata pemangku kebijakan mereka akan tahu jika pemotongan itu akan berimbas pada Perpusnas.
Anggaran perpustakaan itu banyak yang tak kelihatan, faktanya mahal
Kurangnya koleksi memang kekurangan paling kasat mata. Semua orang bisa melihat. Semua orang bisa menunjuk. Tapi ada biaya-biaya krusial lain yang tak kasat mata, jarang dibicarakan, dan sering dianggap tidak penting. Padahal justru menyedot anggaran paling banyak. Salah satunya, sistem otomasi dan server.
Perpustakaan yang baik hari ini bukan cuma yang raknya rapi, tapi yang mudah diakses. Kapan pun. Di mana pun. Zaman sudah berubah. Pemustaka tidak lagi rela datang jauh-jauh hanya untuk mengecek apakah buku tersedia atau tidak. Sekarang cukup buka browser. Tinggal klik. Beres.
Masalahnya, kemudahan itu tidak turun dari langit. Perpustakaan harus punya sistem otomasi katalog online. Sistem itu semua, butuh hosting. Hosting itu bayar. Domain itu bayar. Maintenance server itu bayar. Kalau tidak punya tim IT sendiri? Ya tambah bayar lagi. Sampai sini, bayangkan saja dulu jika pustakawan hanya satu atau 2 orang.
Hosting untuk perpustakaan jelas tidak bisa asal murah. Ini sistem layanan publik. Harus stabil, aman, orang bisa mengaksesnya. Belum lagi biaya perpanjangan tahunan. Belum lagi kalau server error. Lalu belum kalau sistem perlu upgrade.
Tapi coba jujur, berapa banyak pengunjung perpustakaan yang tahu soal ini? Hampir tidak ada.
Niat hati bertransformasi tapi kendala di sana-sini
Sekarang kita naik level menuju harapan perpustakaan digital. Permintaannya tinggi. Semua ingin perpustakaan punya e-book yang bisa dibaca kapan saja, di mana saja. Masalahnya, membangun perpustakaan digital itu bukan perkara klik-klik lalu jadi.
Pertama, perpustakaan harus membangun sistem sendiri atau bekerja sama dengan vendor. Dua-duanya mahal. Sama-sama bersinggungan dengan teknologi. Sama-sama menyedot anggaran. Kedua, soal hak cipta. Publik sering menganggap remeh hal ini. E-book itu bukan file PDF gratisan. Satu copy ebook = satu harga buku. Tinggal dikalikan. Mau punya 100 copy digital? Ya bayar 100 kali. Tidak ada cerita copy–paste demi literasi.
Kalau mau lebih praktis, ya kerja sama dengan vendor besar. Misalnya layanan perpustakaan digital milik penerbit besar. Koleksinya populer, tampilannya menarik, fiturnya lengkap. Tapi jangan tanya soal harga. Langganan tahunan. Belum lagi biaya kustomisasi fitur sesuai kebutuhan perpustakaan. Singkatnya, menuju perpustakaan digital itu mahal. Dan ini bukan keborosan, tapi konsekuensi zaman.
RFID, teknologi mahal yang baru disadari saat buku hilang
Lalu ada satu teknologi yang sering dipuji, tapi jarang dipahami biayanya yaitu Radio Frequency Identification atau RFID. Kalau kamu pernah masuk perpustakaan yang pintunya berbunyi ketika ada buku keluar tanpa izin, itu bukan sihir. Itu RFID. Teknologi ini menjaga koleksi agar tidak lenyap satu per satu dari tangan-tangan iseng.
Masalahnya, RFID itu super duper mahal. RFID tag saja bisa mencapai 15 juta per 1.000 tag. Tinggal kalikan dengan jumlah koleksi. Padahal, butuh RFID reader lebih dari satu. Satu alat bisa menyentuh angka 20 juta. RFID security gate? Bisa tembus 80 juta. Dan itu baru perangkat. Belum instalasi, integrasi sistem, dan perawatan.
Tapi publik baru sadar pentingnya RFID saat koleksi hilang. Saat buku lenyap, yang disalahkan pustakawan. Saat alat pengaman tidak ada, yang disebut pemborosan justru anggarannya. Ironis, kan? Jelas, besty.
Sampai sini, tahu kan sekarang kenapa pemotongan anggaran bikin Perpusnas menderita. Pada akhirnya negara memaksa Perpusnas untuk berhenti bukan karena kurang ide. Melainkan karena terlalu lama dipaksa bertahan hidup dengan logika jalan di tempat dengan paradigma selalu untung.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
loading…
Pesawat tempur Chengdu J-10C akan memperkuat armada tempur TNI AU. Foto/pla af
JAKARTA – Chengdu J-10C kini bukan lagi sekadar pesawat tempur yang sedang dikaji Indonesia. Pemerintah telah mengonfirmasi rencana akuisisi sedikitnya 42 unit jet tempur J-10C buatan China sebagai bagian dari program modernisasi kekuatan udara nasional.
Langkah ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang akan mengoperasikan pesawat tempur tersebut.
Kepastian pengadaan pesawat tempur tersebut disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin pada Oktober 2025. Sjafrie menyatakan pesawat tempur Chengdu J-10 akan segera memperkuat TNI AU. Sejumlah laporan internasional menyebut nilai pengadaan mencapai lebih dari USD9 miliar untuk 42 pesawat.
Keputusan ini menjadi salah satu langkah paling menarik dalam sejarah pengadaan alutsista Indonesia. Selama beberapa dekade, armada tempur TNI AU didominasi pesawat buatan Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa. Kehadiran J-10C menandai semakin beragamnya sumber persenjataan Indonesia di tengah persaingan geopolitik yang semakin kompleks.
Seperti Apa Kekuatan J-10C?
J-10C merupakan jet tempur multiperan generasi 4,5 yang menjadi salah satu tulang punggung Angkatan Udara China. Pesawat ini memiliki panjang sekitar 16,9 meter dengan berat lepas landas maksimum mendekati 19 ton. Tenaganya berasal dari mesin turbofan WS-10B yang memungkinkan pesawat melesat hingga kecepatan sekitar Mach 2.
Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah yang Jadi Sarang Tikus
Kala itu, sebelum berangkat kuliah, saya terkejut dengan penampakan di kos murah yang saya tinggali. Kagetnya bukan kepalang.
Satu bangkai tikus mati mengenaskan dengan pose dramatis tepat di bawah motor saya. Saya berteriak histeris. Pantas saja bau racun tikus akhir-akhir ini tidak pernah absen.
Tinggal di kos murah dengan fasilitas lengkap adalah keajaiban. Bayangkan saja. Kos saya cuma Rp400 ribu per bulan. Fasilitasnya lengkap, meskipun harus rela tinggal bersama para lansia. Namun, saya sangat bersyukur.
Pemilik kos murah ini baik dan ramah, meskipun sudah berumur dan tampaknya tidak begitu peduli dengan orang asing. Hampir dua tahun saya tinggal di kosan ini dan hampir setiap hari pula saya merasakan kekhawatiran.
Saya merasa prihatin karena selama ini pemilik kos tidak terlalu peduli dengan lingkungan rumah. Mungkin sudah terlalu tua dan lelah untuk membersihkan rumah. Hanya tempat-tempat yang sering beliau lewati saja yang terlihat bersih.
Kos murah yang saya tinggali ini bergaya klasik atau lebih tepatnya: tua. Terlihat dari pajangan dinding berisi foto-foto tahun 90-an.
Sebetulnya kosan ini luas. Namun, terlihat sempit karena terlalu banyak perabotan tua. Entah sudah berapa tahun barang-barang bekas itu ada di sana
Sejak saya datang, gelagat pemilik kos murah ini menumpuk barang sudah kelihatan. Dan jujur saja, saya beberapa kali kesulitan mengeluarkan motor hanya karena barang-barang itu menumpuk sampai ke arah jalanan.
Teman kosan saya juga merasa resah. “Kayaknya emang begitu deh, orang sudah tua, suka ngumpulin barang-barang bekas yang nggak berguna,” katanya.
Yah, saya sih berusaha maklum pada akhirnya. Mungkin, bagi si pemilik kos murah ini, barang bekas itu masih punya value.
Masalahnya, tumpukan perabot tua dan barang bekas itu melahirkan masalah. Kosan saya jadi sarang tikurs.
Sarang tikus
Awalnya saya hanya mencium bau menyengat dari lantai bawah. Tepatnya di pojok-pojok barang bekas. Tak jauh dari sumber bau busuk itu, ada meja makan pemilik kos dengan tudung saji berisi makanan.
Saya tidak mengerti bagaimana perasaan pemilik kos. Kok bisa menikmati hidangan dengan bau busuk menyengat. Selain bau busuk, lalat hijau pun perlahan-lahan datang menghinggapi tudung saji.
Sampai beberapa hari berlalu, bau busuk itu tak kunjung reda. Ibu pemilik kos murah ini pernah meminta maaf kepada saya. Namun, setelah minta maaf, kok ya nggak lantas membersihkan. Saya yakin bangkai tikus yang mati karena racun ada lebih dari satu.
Benar saja, esok harinya, pemilik kos menemukan 2 ekor tikus mati. Sayangnya, setelah kejadian itu, bau bangkai tak kunjung mereda.
Bau racun tikus yang sangat mengganggu
Selain bau bangkai, ada juga bau racun tikus. Saya sampai tak tahan, ingin melayangkan protes tapi apalah daya hanya penghuni kos murah ini.
Saya resah mengapa pemilik kos selalu menggunakan racun tikus? Mengapa tidak mencari alternatif lain. Misalnya, dengan membersihkan lingkungan rumah atau membuang barang-barang yang tidak terpakai.
Bukankah lebih baik barang-barang itu diberikan pada para pengepul rongsokan. Kan malah jadi duit. Kebiasaan ini bisa menimbulkan penyakit jika tidak segera berubah.
Kos murah, tikus, dan kecoa
Suatu malam, tetangga kamar mengirim chat. Isinya adalah imbauan selalu menutup kamar. Hari itu, di kos murah yang selalu penuh ini, muncul kecoa. Sebenarnya ya wajar. Kecoa suka tempat kotor.
Ketika waktu menunjukkan tengah malam, selesai mengerjakan tugas, saya keluar dari kamar kos untuk pergi ke toilet. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri satu ekor anak tikus dan kecoa lewat di depan kamar kos menuju tangga. Duh!
Keesokan harinya, saya dan tetangga kamar kos, memberanikan diri untuk memberi saran kepada pemilik kos murah ini. Misalnya dengan membersihkan barang bekas. Bahkan kami siap membantu tenaga. Namun, pemilik kos tidak mau memutuskan.
Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa kami lakukan. Sejak hari itu, saya hanya bisa bersabar dengan bau racun tikus.
Selain itu, ya tinggal menunggu waktu untuk angkat kaki. Buat pembaca, hati-hati dengan iming-iming harga kos murah.
Periksa dulu kondisi rumah. Jika terlalu kotor atau pemilik rumah enggan membersihkan, mending cari kos lain. Ingat, kesehatan itu nomor satu.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Cerita Mereka yang Tetap Beli Pertamax: Ekonomi Jadi Remuk!
Secara tiba-tiba, seakan tanpa adanya aba-aba (meski tanda-tandanya sudah mulai sedikit kelihatan), di sebuah Rabu, pekan kedua bulan Juni, pemerintah secara resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Kenaikan harganya nggak main-main. Dari yang semula seharga Rp12.300 per liter, naik menjadi Rp16.250 per liter. Naiknya hampir Rp4.000, lebih dari 30%. Gila banget.
Naiknya harga BBM Pertamax pada 10 Juni lalu ini sontak bikin warga geram. Kemarahan muncul di berbagai medium. Di sosmed, di tongkrongan komplek, hingga di kampung, semua mangkel dengan naiknya harga Pertamax. Bahkan sempat terjadi demonstrasi di beberapa tempat, memprotes kebijakan ini. Memang nggak banyak diliput media, sih. You know, lah, mengapa.
Saya pribadi memang nggak terdampak secara langsung dengan naiknya harga Pertamax. Saya masih pakai BBM bersubsidi Pertalite, harganya masih tetap Rp10.000. Tapi, bukan berarti saya nggak marah. Saya marah banget.
Selain karena naiknya Pertamax ini bikin Pertalite terancam naik, kenaikan harga Pertamax yang ugal-ugalan ini juga berdampak langsung terhadap perekonomian orang-orang di sekitar saya.
Penjual Pertamax eceran makin nggak laku
Saya memanggilnya dengan panggilan Mbak Lik. Rumah Mbak Lik hanya berjarak satu rumah dari rumah saya. Rumah Mbak Lik berada di ujung paling depan, dan punya toko di depan rumahnya. Seperti toko pada umumnya, toko milik Mbak Lik menjual banyak hal. Mulai dari snack hingga mie instan, juga rokok dan bensin eceran.
Nah, soal bensin eceran, Mbak Lik punya pengalaman menarik. Sebagai toko biasa, bukan toko Madura, Mbak Lik tentunya nggak bisa jualan bensin Pertalite eceran. Mbak Lik hanya bisa menjual bensin nonsubsidi yaitu Pertamax untuk dijual secara eceran. Dan semenjak harga BBM naik, Pertamax eceran di warung Mbak Lik makin nggak laku dalam seminggu terakhir.
“Seminggu ini baru laku 4 botol (liter), Mas,” ujar Mbak Lik kepada saya. “Susah sekarang lakunya. Dulu pas harga Pertamax di pom masih 12 ribuan, masih enak jualannya. Tak jual 14 ribu masih bisa laku. Sekarang, harga di pom sudah 16 ribu, ya mau nggak mau harga ecerannya 18 ribu per botol. Siapa mau beli nek harganya segitu?” lanjut Mbak Lik.
Gara-gara Pertamax naik, Mbak Lik kalau kulakan bensin juga nggak sebanyak dulu. Kalau dulu biasanya kulakan 15-20 liter Pertamax, sekarang paling mentok ya 10-12 liter saja. “Lakunya susah, lapo kulakan akeh-akeh?” kata Mbak Lik.
Pedagang bensin eceran seperti Mbak Lik memang jarang sekali disinggung ketika membahas soal imbas kenaikan BBM. Padahal, orang-orang seperti Mbak Lik ini nggak kalah terdampak. Bahkan nyata banget dampaknya.
Seorang kurir paket yang mau nggak mau harus biaya hariannya
Andai saja Arya bisa menukar motornya dengan motor lain yang bisa diisi Pertalite, mungkin Arya sudah melakukannya. Setahun lalu, Arya ambil motor baru (Vario 125 CBS tahun 2024) untuk menggantikan motornya yang lama (Vario 110). Motor lamanya sudah nggak kuat lagi dipakai untuk kerja. Oh iya, Arya kerjanya sebagai kurir paket. Dia ini juga tetangga saya. Rumahnya agak jauh, sih, tapi masih satu RW, kok.
Arya tahu bahwa motor barunya harus diisi Pertamax. Nggak bisa dan nggak boleh diisi Pertalite. Terlalu besar risikonya. Arya sudah menghitung semuanya. Dengan gajinya yang sekian, bensin sehari sekian, makan dan rokok sekian, sisanya sekian. Hitungan Arya sudah pas. Tapi semua itu buyar ketika harga Pertamax naik cukup signifikan.
“Gara-gara Pertamax naik, hitunganku jadi ambyar kabeh,” sambat Arya. “Pas Pertalite masih 12 ribuan, aku biasa beli 30 ribu, dan bisa tak pakai keliling nganter puluhan paket di Batu Utara minimal dua hari. Tiga hari bisa, tapi sebelum sore ya harus ngisi lagi. Sekarang, kalau beli 30 ribu, nggak genap 2 hari paling ya sudah harus ngisi bensin lagi.” ujar Arya.
Akhirnya, mau nggak mau Arya harus menambah biaya bensinnya. Arya menggenapkannya jadi 50 ribu per sekali beli, yang mana bisa ia pakai untuk sekitar tiga hari atau tiga setengah hari. Jadinya, dalam seminggu Arya minimal keluar biaya 100 ribu untuk bensin. Dengan naiknya biaya bensin, ada biaya yang harus ditekan.
“Paling ya motong uang makan. Maksudnya, biasanya kan makan sehari 15-20 ribu. Ini tetap, tapi nggak tiap hari beli makan. Aku ngakalinnya ya mbontot. Paling dalam seminggu, tiga hari aku bawa bekal sendiri dari rumah. Agak repot, sih, tapi kate yokpo maneh, Mas?” ujar Arya.
Lalu ketika saya tanya soal opsi pakai motor lain atau ganti motor lain, Arya menjawabnya dengan jawaban yang nggak bisa saya bantah. “Di rumah motor cuma satu, cuma ini tok. Terus mau ganti motor juga nggak bisa. Jual motor ini? Motor ini cicilannya belum beres, Mas. Masih 18 bulan lagi. Nggak ada pilihan.” jawab Arya. Saya hanya mengangguk.
Masih banyak yang terdampak Pertamax di luar sana
Namun Arya beruntung sebab ia nggak punya tanggungan lain selain dirinya dan ibunya di rumah. Arya juga beruntung bahwa adiknya juga sudah kerja di sebuah pabrik skala menengah di Surabaya. Jadinya, Arya dan adiknya bisa sama-sama membiayai ibunya dan memenuhi kebutuhan rumah. Arya masih bisa menabung dari penghasilan bulanannya, walau nggak banyak.
“Disyukuri ae, Mas. Kahanan e koyo ngene. Pancen pemerintahan e koyok taek.” ujar Arya. Kami lalu sama-sama tertawa.
Mbak Lik dan Arya tetap membeli Pertamax meski harganya naik bukan karena mereka sangat mampu, melainkan karena nggak ada pilihan lagi. Mbak Lik harus tetap jualan bensin eceran, dan Arya harus tetap mengirim paket ke rumah-rumah.
Mereka berdua, Mbak Lik dan Arya tentunya hanya sedikit orang yang terdampak langsung dari naiknya Pertamax. Di luar sana tentunya ada banyak lagi orang yang lebih terdampak dari kebijakan ini. Dan bagi mereka yang lebih terdampak, perekonomian mereka jelas makin remuk.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Hidup di Desa Murah, yang Mahal Itu Iurannya, Ini Rinciannya!
Dalam hidup ini, kita pasti punya angan-angan. Misalnya, ingin tinggal di lingkungan yang tenang, ayem, jauh dari polusi udara dan kemacetan. Tujuannya, supaya bisa menjalani hidup yang tidak memburu, tidak pula diburu. Dan jawaban dari semua itu adalah hidup di desa. Biasanya yang sudah pensiun atau punya financial freedom nih yang punya keinginan seperti ini.
Selain bisa menepi dari hiruk pikuk dunia, hidup di desa juga tampak menyenangkan karena biaya hidupnya yang murah. Nggak ada ceritanya tuh nasi goreng seharga 45 ribu ataupun es teh seharga 30 ribu di desa. Itu sebabnya, banyak orang ingin menghabiskan masa pensiun mereka di desa. Referensi desa yang enak buat pensiun ataupun slow living, sudah banyak di-spill di Terminal Mojok. Tinggal pilih mana yang cocok.
Meski demikian, ada satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk hidup di desa. Yaitu, soal ongkos sosialnya. Percayalah, ongkos sosial di desa itu pating tritil, alias banyak banget macamnya. Besarannya memang nggak seberapa, tapi, kalau diakumulasikan ternyata lumayan juga.
Daftar iuran wajib di desa
Mari kita breakdown bareng-bareng, apa saja sih yang termasuk dalam ongkos sosial hidup di desa. Tapi, berhubung orang-orang yang saya tanya menyebutkan nominal yang berbeda, saya ambil rata-rata saja.
Kas RT : 5.000
Dansos RT : 5.000
Kas dasawisma : 5.000
Kas RW : 5.000
Snack pengajian : 7.000
Arisan ibu-ibu : 50.000
Arisan bapak-bapak : 25.000
Sampah : 30.000
Jimpitan : 5.000
Iuran kematian : 2.000
Iuran keamanan/ronda: 2.000/hari (60 ribu/bulan)
Dihitung-hitung, ada pengeluaran sebesar 199.000/bulan. Kalau gajimu UMR Jateng, yang berada di kisaran 2,3 juta rupiah, maka iuran wajib hidup di desa ini sudah menghabiskan sekitar 8,5% dari gaji imutmu.
Kelihatannya sih kecil. Tapi, itu baru iuran wajibnya ya, Bolo. Yang ngeri-ngeri sedap adalah iuran lain yang insidental, katanya tidak wajib, tapi kalau nggak ngasih bisa jadi bahan gibah tetangga.
Ongkos sosial lain yang tidak terduga ketika hidup di desa
Ongkos sosial lain ketika kamu hidup di desa misalnya saat harus tilik tetangga sakit, melahirkan, ataupun meninggal. Memang sih, tiap bulannya warga sudah ditarik iuran dansos dan iuran kematian. Tapi, hal tersebut tidak lantas membuat warga bisa lenggang kangkung. Secara pribadi, mereka tetap harus bawa sesuatu, entah uang atau bingkisan agar elok dipandang.
Belum lagi kalau bicara soal hajat tetangga yang macamnya banyak sekali. Yang kecil-kecilan, ada acara anak ulang tahun dan tilik haji. Yang gedean, ada nyunati hingga pesta pernikahan. Dan kalau kamu tinggal di Jawa, rentetan tradisi komunalnya jauh lebih panjang dan lebih memicu ongkos sosial. Untuk prosesi dari masa kehamilan hingga bayi diberi nama saja, kamu bakal diundang ke acara empat bulanan, tujuh bulanan (mitoni), puputan, hingga tradisi tedhak siten saat anak mulai belajar berjalan.
Siklus ini pun masih berlanjut bahkan ketika seseorang sudah tiada. Ada tahlilan 7 hari, peringatan seratus hari (nyatus), hingga haul tahunan (mendak). Jujur, saya sampai bingung ngitung ongkos sosialnya, saking terlalu banyak. Tapi, karena momen-momen tersebut jarang tumplek blek di bulan yang sama, maka, mari kita anggap rata-rata untuk ongkos sosial tak terduga ini sebesar 100 ribu/bulan. Sehingga, totalnya menjadi 299.000/bulan.
Dan itu belum selesai.
Ketika semua dirayakan
Pengeluaran yang disebutkan di atas adalah pengeluaran yang berkaitan dengan hubungan kita dalam bertetangga. Yang lain, ada pula ongkos sosial yang kaitannya dengan posisi kita sebagai bagian dari masyarakat desa.
Contohnya begini. Jika rumah kamu dekat dengan madrasah, maka, bersiapkah dimintai sumbangsih ketika madrasah tersebut punya gawe, perayaan, renovasi atau apa pun itu.
Mendekati Agustus, akan ada iuran perayaan HUT RI bukan hanya dari RT setempat, tapi juga dari RW dan desa.
Kamu protes? Maka sesepuh akan mulai berkoar tentang nasionalisme. Bahwa momen ini hanya setahun sekali dan para pahlawan sudah mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan. Sedangkan kamu? Diminta iuran saja kangelan.
Ada lagi. Masuk bulan Muharram, biasanya ada iuran santunan anak yatim. Di bulan puasa, bersiap untuk nyumbang takjil ke masjid. Nanti halal bil halal, juga ada iuran. Trus kalau besoknya jumat kliwon, akan ada woro-woro untuk sumbangan nasi kotak.
Untuk semua tetek bengek ini, anggaplah kita butuh 150 ribu sebulan. Maka, ongkos sosial per bulannya menjadi 449.000.
Setor iuran iya, setor muka juga iya
Kalau toh kamu tidak masalah dengan iuran sosial yang besarnya mencapai 20% dari UMR Jateng itu, jangan lupa bahwa hidup di desa itu nggak bisa hanya rajin setor iuran. Kamu, juga harus setor muka, keluar rumah dan ikut acara-acara tadi. Kalau kamu tidak pernah menampakkan batang hidung, bersiaplah dijadikan bahan gunjingan warga.
“Si A kemana ya? Kok nggak pernah ikut ngumpul?”
Lalu, akan selalu ada orang yang komentar, “Nggak pernah ngumpul. Dia kira kalau meninggal bakal turun sendiri ke liang lahat apa?”
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Rokok Murah Harga di Bawah 15 Ribu yang Rasanya Enak
Masyarakat Indonesia sedang mumet-mumetnya. Kinerja pemerintahannya tolol, perekonomian ndlosor, yang berakibat harga-harga kebutuhan pada naik semua. Harga sembako naik, harga minyak (mulai dari minyak goreng hingga BBM) juga pada naik. Bahkan harga-harga kebutuhan nonprimer seperti harga rokok pun beberapa juga ikut naik. Ya nggak heran kalau amarah masyarakat tercecer di mana-mana.
Nah, terkait harga rokok yang makin naik ini menarik. Kenaikan harga rokok (yang dipengaruhi oleh naiknya harga cukai) sebenarnya sudah jadi perbincangan setidaknya dalam satu dekade terakhir. Sejak era Sri Mulyani hingga Purbaya, isu kenaikan rokok nggak pernah berhenti dibicarakan. Apalagi di rezim yang sekarang, di mana perkonomian anjlok dan harga kebutuhan pokok pada naik (sementara pendapatan segitu-gitu aja), rokok jadi sesuatu yang kelihatan mahal banget.
Namun, bukan berarti nggak ada rokok yang murah dan terjangkau, ya. In this economy, masih ada, kok, rokok yang harganya murah, terjangkau, dan enak di mulut. Biasanya rokok murah itu nggak enak, kan? Kalau ini jelas beda. Saya akan berikan seenggaknya 7 rekomendasi rokok murah yang harganya di bawah 15 ribu, tapi masih enak dinikmati.
Ini rokok saya dalam seminggu terakhir. Perekonomian pribadi yang anjlok bikin saya nggak mampu beli Galang Baru seperti biasanya. Jalan keluarnya ya Bentoel SJT Kretek 12 ini. Soal kualitas dan rasa dari tembakau milik Bentoel memang nggak perlu dipertanyakan lagi. Tembakaunya berkelas, rasanya jelas enak, tarikannya juga halus, dan nggak ada sensasi nggaruk di tenggorokan. Nggak perlu dijelaskan panjang lebar. Bentoel ini, Bos! Soal harga, Bentoel SJT Kretek ini cuma dibanderol 11 ribuan saja. Murah, kan?
Sehat Tentrem (ST) Matur Suwon
Kalau mendengar merek rokok Sehat Tentrem, mungkin kita akan langsung menganggap ini adalah merek rokok yang harga produknya mahal-mahal. Nggak salah juga, sih, sebab ada produk rokok Sehat Tentrem yang harganya ratusan ribu bahkan sampai jutaan.
Tapi, rokok Sehat Tentrem yang harganya di bawah 15 ribu juga ada, kok. Namanya Sehat Tentrem Matur Suwon, yang dibanderol harga 14 ribuan saja.
Soal rasa, rokok murah ini masih enak, kok. Tarikannya masih cukup halus, meskipun aroma khas Sehat Tentrem-nya nggak begitu tercium. Tapi, untuk ukuran rokok di bawah 15 ribu, Sehat Tentrem Matur Suwon ini oke banget, lah.
Kalau kamu perokok yang budget-nya minim tapi punya paru-paru kokoh, Trubus Alami mungkin bisa jadi pilihan. Secara rasa, rokok ini masih enak, kok. Paduan rasanya masih di taraf oke, nggak terlalu pedas, juga nggak terlalu hambar. Hanya saja, kadang ada sensasi nggaruk di tenggorokan, apalagi buat mereka yang nggak terbiasa merokok kretek. Tapi yang terbiasa kretek, harusnya aman saja.
Oh iya, rokok Trubus Alami yang ada gambar mobilnya ini harganya juga murah banget. Mau itu yang isi 12 atau isi 16 batang, harganya ada di kisaran 10-14 ribuan saja. Silakan dicoba. Siapa tahu cocok.
Camel Kretek
Sebelum masuk soal rasa dan harga, saya mau apresiasi bungkus rokok Camel Kretek ini. Bagus banget. Kemasannya mirip Dji Sam Soe Premium. Apalagi untuk ukuran rokok kretek dengan harga segitu, Camel Kretek ini secara looks bagus banget.
Lalu soal rasa, Camel Kretek ini selain enak, mungkin jadi yang terhalus di antara rokok-rokok di sini. Halus banget, cenderung ringan. Kayaknya, orang yang nggak terbiasa merokok kretek akan oke-oke saja ketika mencoba rokok ini.
Nah, soal harga, sebenarnya ada beberapa tempat yang menjual Camel Kretek ini sedikit di atas 15 ribu. Tapi di Indomaret rokok ini masih dibanderol 15 ribu bulat. Jadi, masih eligible, lah, buat masuk daftar ini, hehe.
Envio Kretek Jambu
Masuk ke segmen rokok rasa-rasa, kali ini ada produk dari merek Envio, yaitu Envio Kretek Jambu. Sebenarnya nggak perlu dijelaskan panjang-lebar ini rokok apa. Dari nama saja sudah bisa dipahami. Intinya, ini adalah rokok kretek rasa jambu. Apakah lebih enak dari Juara Jambu? Buat saja nggak. Tapi, sebagai substitusi ketika harga Juara Jambu sudah di atas 15 ribu ya oke-oke saja. Oh iya, Envio Kretek Jambu ini harganya ada di kisaran 13-14 ribuan saja.
Victory Teh Manis Kretek
Nama rokok ini mungkin asing. Mungkin juga kalian mengira ini adalah rokok ilegal. Tapi kalau kalian sering belanja ke Indomaret dan mengamati sekitar kasir, kalian pasti familiar dengan rokok ini. Rokok Victory Teh Manis ini sering nangkring di rak khusus dekat meja kasir, bukan di belakang kasir. Dan ternyata, merek rokok ini masih punya hubungan dengan PT. Djarum.
Soal rasa, Victory Teh Manis Kretek ini oke-oke aja, lah. Bukan yang enak banget, tapi ya nggak fail. Meskipun kadang kurang konsisten saja rasa dan perpaduan tembakau dan tehnya. Kadang pas, kadang salah satunya terlalu kuat. Tapi, untuk rokok yang harganya 9 ribuan, kita harusnya nggak banyak protes, sih.
Masih dari rak yang sama, ada rokok 117 Mangga Kretek. Seperti namanya, ini adalah rokok kretek rasa mangga dari merek 117. Dari pencarian kilat saya. merek rokok ini asalnya dari Jombang. Lalu secara rasa, rokok ini masih enak, lah. Rasa mangganya cukup oke, walau kadang terasa terlalu artifisial gitu. Ya memang nggak seenak Djarum 76 Mangga, sih. Soal harga, rokok ini murah banget. Harganya 9.500 saja di Indomaret. Murmer!
Sudah, segitu saja, ya. Dan maaf kalau semuanya rokok kretek. Soalnya rokok enak dan harganya murah di bawah 15 ribu makin sedikit. Apalagi yang rokok filter, kayaknya hampir nggak ada, deh.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat caraini ya.
Deodoran Kahf, Deodoran yang Nggak Bau kayak Merek Pesaing
Saya pengguna produk Kahf garis keras. Sunscreen, sabun, parfum, sabun muka bahkan punya dua varian, dan tentu saja, deodoran Kahf. Yang belum saya coba kayaknya cuman produk rambutnya, bukan karena nggak suka, tapi karena produk saya yang lain belum abis aja.
Sudah bertahun-tahun saya pake produk Kahf. Selain karena jualan bundling yang jelas lebih hemat, juga karena saya cocok pake itu. Sabun mukanya cocok, sabun mandinya oke, parfumnya wangi banget, sampai ke titik hanya saya pakai di momen penting saja, juga deodorannya tahan lama. Nah, deodoran Kahf, bagi saya, adalah produk mereka yang paling oke.
Yang saya maksud dengan paling oke adalah, pertama, Kahf itu terhitung pemain baru di dunia deodoran. Kedua, ia tidak terkenal karena deodorannya, tapi kualitasnya amat oke.
Saya nggak main-main perkara kualitas. Begini, saya memang editor, tapi di luar pekerjaan, saya lumayan aktif. Setelah kerja, saya setidaknya menyempatkan untuk olahraga, seperti melakukan variasi push up, angkat beban, serta main sepak bola.
Kita tahu, olahraga itu pasti berkeringat dan deras. Nah, tiap kelar olahraga, badan saya nggak bau. Lebih tepatnya, ketiak saya tidak bau mengerikan.
Oke, olahraga saya lebih sering di dalam ruangan. Keringatnya tidak begitu banyak. Tapi untuk sepak bola, beda cerita. Keringat saya macam sungai, mengalir begitu deras. Tapi meskipun basah kuyup oleh keringat, ketiak saya tidak bau.
Maka dari itu, saya bilang deodoran Kahf itu amat oke.
Bau keringat memang punya banyak faktor. Bisa makanan, bisa kondisi badan, bisa karena bahan baju, bisa juga karena deodoran yang salah. Jangan kira deodoran pasti bisa bikin bau badan hilang. Beberapa malah terkesan mengamplifikasi bau badan. Beneran.
Saya punya keringat yang sebenarnya tidak bisa dibilang bau. Tapi beberapa deodoran murah yang saya coba, ada yang malah bikin bau aneh muncul di badan. Ada merek terkenal yang kena panas malah baunya aneh di ketiak. Bukan bau busuk, tapi, aneh.
Mereknya yang mana? Yang itu tuh, yang lagi disemprot-semprot.
Tapi deodoran Kahf beda. Setelah saya main bola intensif pun, baunya tidak busuk. Nggak wangi juga sih, tapi nggak bau. Padahal saya pakai baselayer, yang otomatis keringat dan panas badan terperangkap. Baselayernya juga nggak jadi bau. Pun, nggak ninggal bekas di baju. Kan ada tuh deodoran yang ninggal “bubur” di baju.
Saya tidak meminta banyak dari deodoran. Pokoknya nggak bau aja. Kalau perkara wangi, ada parfum. Tapi deodoran Kahf malah ngasih lebih-lebih. Nggak bau, tahan lama, bahkan ketika saya lebih aktif ketimbang biasanya.
Sudah gitu, belinya bisa bundling. Biasanya saya beli di TikTok Shop, 135 ribu (bisa kurang malah) sudah dapat sunscreen, sabun muka, sabun mandi, dan deodoran. Itu mungkin nggak murah bagi kalian, tapi buat saya yang nggak mau ribet, beli ginian bisa lebih enak. Toh kadang sebulan lebih baru habis. So, worth every penny.
Gimana dibandingkan dengan merek lain?
Saya sempat pakai merek lain memang, tapi lagi-lagi ya selalu balik lagi ke Kahf. Saya pakai merek lain bukan karena gimana-gimana, karena saya belinya bundle, kadang produk lain masih banyak, sedangkan deodorannya udah abis. Nah, saya paling ganjel dulu pake deodoran lain.
Tapi ya kalau habis barengan, ya pasti beli deodoran Kahf lagi. Nggak kepikiran beli merek lain. Apalagi yang itu tuh. Ninggal bekas di baju, dan susah ilangnya. Hadeh.
Jadi bagi kalian yang nggak mau ribet, beli aja bundle Kahf di TikTok shop, terus pake deodorannya. Percayalah, kalian nggak bakal menyesal. Tapi kalau tetep bau, baiknya aja nih, periksa makanan, periksa hidrasi, dan, coba deh beli kaos yang agak mahalan dikit. Lokalan yang kainnya bagus banyak kok, nggak nyampe 150 ribu juga.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat caraini ya.
Google Resmi Gulirkan Android 17: Cek Daftar HP Pertama yang Pasti Kebagian Update!
Google resmi merilis Android 17 mulai Juni 2026, diawali untuk perangkat Google Pixel. Sistem operasi canggih ini fokus pada produktivitas, multitasking, gaming, dan keamanan perangkat. Fitur baru meliputi Bubbles untuk multitasking, Screen Reactions bagi kreator konten, Foldable Gaming Mode, serta peningkatan keamanan dan kontrol orang tua. Merek lain akan menyusul.
MrBeast Raih Setengah Miliar Subscriber: Rekor Dunia yang Mengguncang Industri YouTube
MrBeast, atau Jimmy Donaldson, kini resmi menjadi YouTuber pertama di dunia yang berhasil menembus 500 juta subscriber. Rekor bersejarah ini tercatat pada 12 Juni 2026. Sebagai kreator konten individu, pencapaian ini menandai tonggak penting dalam sejarah YouTube, mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin platform global.