Outfit Kabupaten: Melawan Stigma, Mengapa Gaya Pemuda Daerah Pantas Dihargai, Bukan Dicemooh Orang Kota.
Istilah “outfit kabupaten” di media sosial memicu perdebatan. Gaya berpakaian ini seringkali serupa dengan tren kota, namun dipersepsikan berbeda karena identitas pemakai dan lingkungan. Akses latar foto estetik serta norma sosial memengaruhi ekspresi fashion anak muda kabupaten. Label ini sering digunakan pemuda kota dengan standar yang belum tentu netral.
Pengeluaran setelah Menikah Bikin Pusing dan Hampir Berutang
Salah satu keuntungan jadi seorang single, tapi punya banyak teman yang sudah menikah adalah kita bisa belajar soal banyak hal dari mereka. Pelajaran tersebut bisa datang dari celotehan dan sambatan ketika nongkrong bersama. Apa yang mereka sambatkan bisa menjadi bekal untuk orang single seperti saya.
“Oh jadi menikah itu begini. Oh harus siap menghadapi situasi seperti ini.”
Intinya, apa yang mereka ceritakan adalah peta untuk saya supaya lebih siap menghadapi pernikahan. Pengetahuan dari pengalaman orang lain itu mahal bukan? Persoalan nikahnya kapan, urusan belakangan.
Dari sekian banyak sambatan soal pernikahan, ada satu jenis persoalan yang disambatkan oleh salah satu teman saya. Dan, menurut saya sambatan ini penting untuk dijadikan panduan, yaitu tentang pengeluaran-pengeluaran tak terduga selama awal pernikahan.
Jadi teman saya ini mengeluh kalau dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun pernikahannya, banyak muncul pengeluaran tak terduga yang bikin dia pening dan hampir saja berutang. Pengeluaran itu bukan karena dia dan istrinya boros atau gak punya dana darurat. Tapi, memang ada saja yang harus dibayarkan. Padahal, setahu saya nih, istri teman saya ini lulusan dari jurusan keuangan dan paham betul soal perencanaan keuangan.
Pengeluaran-pengeluaran kecil setelah menikah lama-lama terasa besar
Pertama, peralatan rumah tangga kecil yang ternyata tidak ada habisnya. Ini terjadi ketika awal-awal pernikahan. Awalnya teman saya mengira setelah menikah, kebutuhan rumah ya hanya seputar kasur, lemari, kompor, kulkas, mesin cuci, sama piring. Sudah. Ternyata tidak. Ketika istri ngasih list apa saja yang dibutuhkan, teman saya baru sadar kalau rumah tangga itu butuh banyak barang kecil yang sebelumnya nggak kepikiran.
Yah barang receh kayak ember, gayung, keset, gantungan baju, tempat sampah, lap, rak piring, wadah beras, penjepit jemuran, stopkontak, sikat kamar mandi, gunting dapur, pisau, parang, dan lain sebagainya. Seluruh barang-barang tersebut pada akhirnya mengurangi jatah biaya mereka untuk bulan madu.
Belum lagi biaya kebutuhan dapur yang kadang sudah dibelanjakan tiap awal bulan ketika gajian, tetap saja kurang.
Kebersihan dan perawatan tempat tinggal ternyata menguras budget
Kedua, kebersihan dan perawatan tempat tinggal. Jadi kebetulan teman saya ngontrak di kawasan perumahan. Dan, ketika awal menikah, teman saya agak menyepelekan soal pengeluaran untuk angkut sampah tiap rumah yang biasanya biayanya bisa mencapai ratusan ribu. Teman saya sudah diinfokan soal itu biaya angkut sampahnya, tapi salahnya, dia nggak memastikan berapa nominalnya.
Ketika datang tagihan kebersihan sampah, ternyata biayanya mencapai Rp160.000. Tentu saja angka ratusan ribu yang ditagihkan saat belum gajian rasanya seperti ditampar pake kayu triplek. Sakit sekali rasanya. Uang yang awalnya direncanakan untuk malam mingguan dengan istri di luar rumah, akhirnya digunakan untuk membayar iuran sampah itu. Sudah begitu, dia disemprot sama istrinya karena nggak memastikan soal nominalnya ditambah mereka yang nggak jadi pacaran di luar.
Selain itu, biaya yang lain terkait dengan tempat tinggal adalah perbaikan. Misalnya memperbaiki genteng yang bocor, saluran air yang mampet, keran air yang bermasalah, dan lain sebagainya. Sebetulnya semua itu bisa diperbaiki sendiri, tapi adakalanya itu terjadi secara mendadak sementara posisi teman saya sedang bekerja, akhirnya harus bayar jasa tukang untuk memperbaikinya.
Biaya keamanan yang tak pernah terbayang setelah menikah
Ketiga, biaya keamanan dan kenyamanan. Jadi pengeluaran soal ini nggak melulu hanya soal kunci tambahan, gembok, CCTV kecil, atau lampu penerangan. Tapi mencakup biaya iuran keamanan yang harus ditanggung teman saya setiap bulannya. Belum lagi kalau soal kenyamanan, ada biaya seperti beli obat anti rayap, semprotan serangga, jasa fogging, dan kasa nyamuk.
Saat masih bujang, banyak aspek keamanan dan kenyamanan itu hadir ala kadarnya. Setelah menikah, semua komponen biaya di atas harus dipertimbangkan dan teman saya nggak memperhitungkan biaya tersebut ketika awal menikah.
Biaya sosial sebagai pasangan ikut meningkat
Keempat, biaya sosial sebagai pasangan. Di sini maksudnya adalah pengeluaran yang terjadi karena adanya acara di kerabat atau teman. Misalnya ketika menikah, ya amplop bisa diisi seadanya dan sepantasnya. Nah kalau sudah menikah, datangnya kan bisa jadi sering berdua nih. Tentu amplopnya juga jadi beda. Mosok pasangan suami istri isi amplop cuma Rp100.000. Jangan dong. Kita jaga marwah pasangan di hadapan teman atau saudara.
Belum lagi kalau acara keluarga seperti takziah, syukuran atau selamatan, aqiqah, atau ulang tahun keponakan. Masak ya nggak mau ikut urunan atau merayakan dengan bantu ini itu. Sekali lagi, jangan dong. Kita harus jaga marwah pasangan di hadapan keluarga.
Nah biaya sosial ini, menurut teman saya adalah yang paling gak terkontrol karena datang dari luar. Awalnya, biaya ini menggerogoti pos dana darurat mereka. Tapi, akhirnya mereka langsung menyiasati dengan menganggarkannya ketika menerima gaji. Dia menyebutnya anggaran sedulur. Pokoknya sisihkan untuk kebutuhan yang sifatnya untuk sosial dan keluarga.
Konflik-konflik kecil setelah menikah ternyata menyita kantong
Kelima adalah pengeluaran terhadap biaya konflik kecil. Dalam rumah tangga, memang kehidupan di awalnya terasa manis, tapi hanya bertahan beberapa bulan, setelahnya akan muncul konflik-konflik yang bikin bertengkar dan ujung-ujungnya canggung.
Cara mencairkan kondisi tersebut ya biasanya dengan membeli makanan atau ngajak keluar pasangan. Nah saat seperti ini, tentu harus mengeluarkan biaya. Dan biaya ini masuk kategori pengeluaran yang tidak terprediksi. Makanya teman saya selalu mengupayakan semaksimal mungkin untuk menjaga mood pasangannya. Berusaha agar mood pasangan tidak berubah segarang macan yang lapar. Sebab kalau mood jelek, maka harus berkorban biaya.
Tinggal pilih mau rumah hawanya panas kayak neraka terus tapi uang aman atau rumah hawanya jadi sejuk tapi uang ludes? Nah menentukan seperti ini butuh kebijaksanaan.
Melihat segala kisah pengeluaran tak kasat mata dari teman saya membuat saya sedikit bersyukur dengan status single. Sebab, ketika uang saya habis, saya tahu pelakunya saya sendiri. Sementara kalau sudah menikah, gaji bisa menghilang dengan cara yang tak terduga dan menyakitkan.
Bisa jadi menikah memang membuka pintu rezeki, tapi dari kisah teman saya, saya tahu bahwa pintu pengeluarannya juga banyak yang ikutan terbuka. Bahkan lebih lebar, lebih sering, dan acapkali bikin kepala pening.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat caraini ya.
Akumulasi buku Yasin dari acara tahlilan menjadi sorotan. Banyak buku Yasin tidak nyaman dibaca atau hanya berakhir sebagai pajangan. Praktik cetak buku Yasin dinilai membebani dan kurang efisien. Dana lebih baik dialokasikan untuk urusan mendiang seperti utang atau donasi yatim piatu. Kebiasaan ini dianggap tradisi tanpa manfaat optimal bagi almarhum.
Harga Plastik Naik Bikin Bawa Wadah Sendiri Terlihat Keren
Kenaikan harga plastik signifikan mendorong kebiasaan membawa wadah sendiri saat belanja di pasar tradisional. Ini mengurangi ketergantungan pada kantong plastik, meskipun respons awal pedagang dan pembeli lain beragam. Fenomena ini menjadi momentum efektif untuk upaya pengurangan sampah plastik di tengah kenaikan biaya dan kelangkaan pasokan.
Gen Z Bernama Sri: Adakah Stigma Usia di Balik Label Bibi Kantin?
Nama saya Sri Molati. Jujur saja, sebagai Gen Z, saya pernah keberatan sekaligus agak sedih dengan nama “Sri”. Bukan maksud tidak bersyukur atas pemberian nama ini. Apalagi Sri itu punya arti yang bagus. Namun, sebagai anak muda yang hidup di tengah gempuran nama keren rasanya jomplang banget.
Di sekitar saya, ada nama-nama kekinian seperti Shareen, Nayla, dan Raline. Lalu, tiba-tiba ada nama Sri yang mengikuti. Kan rasanya jomplang banget.
Kadang saya merasa seperti Roro Jonggrang yang lahir di zaman yang salah. Saya Gen Z, tapi rasanya tua banget.
Pernah suatu kali, saya datang ke sebuah tempat yang perlu antre dan akan dipanggil nama ketika sudah giliran saya. Nah, si petugas memanggil saya begini: “Ibu Sri!”
Dia memanggil pakai “ibu” di teman-teman saya sesama Gen Z. Petugas memanggil nama teman-teman saya pakai tambahan “Kak”. Kalau saya, “Ibu”. Sudah jelas, semua refleks tertawa keras. Malu, pengin banget saya rasanya pergi dari tempat itu.
Masalahnya, rasa malu ini tidak berhenti sampai sana. Setelah kejadian itu, teman-teman saya selalu memanggil nama “Ibu Sri”. Saya nggak bisa apa-apa selain menerima. Mereka hanya bercanda, meski bagi saya rasanya malu banget.
Gen Z dengan nama Sri dikira pembantu
Banyak orang memberi nama sebagus mungkin untuk nama anaknya. Namun, kadang, ada orang tua yang mungkin tidak memperkirakan bahwa kelak, anaknya yang Gen Z, akan menanggung derita tersendiri.
Sebagai Gen Z dengan nama Sri, saya merasakan derita bernama stigma itu. Ini menjadi perjuangan tersendiri, bahkan sebelum saya membuka mulut.
Iya, saya tahu, Sri itu punya makna yang bagus. Ada juga yang mengaitkannya dengan Dewi Sri atau dewi kesuburan. Namun, ada sebuah stigma yang muncul terkait nana Sri. Salah satunya karena tontonan di televisi. Banyak sinetron yang menjadikan nama Sri sebagai pembantu. Seakan-akan ini jadi “seragam wajib”.
Makanya, bagi Gen Z dengan nama Sri, selalu ada keresahan tersendiri ketika harus memperkenalkan diri di lingkungan baru. Saat menyebut nama Sri, saya selalu menemukan ada yang tertawa atau senyum tipis sepersekian detik. Ada juga yang sampai nyeletuk: “Pasti orang Jawa, ya!”
Bagi saya, itu menjadi semacam “kode halus” dari sebuah ejekan yang dibungkus dengan rapi. Pengin banget rasanya nyeletuk balik: “Memang kenapa kalau orang Jawa!”
Candaan bibi kantin
Kadang saya merasa identitas saya sudah ditentukan sebelum orang mengenal siapa sebenarnya saya. Sebagai Gen Z, saya lumayan melek soal personal branding. Menurut saya, ketika nama sudah memiliki ”branding” tertentu, butuh usaha ekstra untuk mengubahnya.
Misalnya saya, dengan nama Sri, kerap mendapat candaan “bibi kantin”. Misalnya, ada yang bilang gini: “Sri, tolong ambilkan minum, dong. Udah cocok banget sama nama kamu.” Mereka tertawa lepas setelah bilang begitu. Seakan-akan saya adalah bibi kantin.
Kalau marah, teman-teman akan menganggap saya gampang baperan. Makanya, saya hanya bisa menahan keresahan ini meski mengikis rasa percaya diri saya.
Tragedi nama Sri berubah jadi Sharly saat memesan kopi
Suatu sore di hari Jumat, saya dan beberapa teman mampir ke sebuah coffee shop viral. Seperti biasa, setelah memilih menu, barista akan menanyakan nama. Saya, dengan jelas menyebut nama Sri.
Selang beberapa menit menunggu, barista kemudian memanggil saya. Dia bilang begini:
Awalnya saya cuek, toh bukan nama saya. Namun, setelah memanggil beberapa kali, kok nggak ada yang maju untuk mengambil pesanan tersebut. Lagi-lagi saya cuek karena bukan nama saya.
Nggak lama, salah seorang karyawan menghampiri saya untuk mengantar pesanan. Dia bilang, “Kak, ini pesanan Kakak.”
Jelas saya bingung karena kaget. Teman saya tiba-tiba tertawa sambil bilang, “Anjay, Kak Sharly lupa nama sendiri.”
Dan di saat itulah saya mengerti. Mungkin, barista coffee shop tersebut malu ada konsumen Gen Z bernama Sri. Merena dengan sengaja mengubah nama saya agar terlihat lebih estetik.
Saya memang malu dengan nama Sri. Namun, saya juga tidak mau durhaka dengan mengubah nama begitu saja.
Saat ini, saya sedang belajar untuk menerima nama Sri sebagai bagian dari dinamika Gen Z. Meski terdengar ndeso, saya bersyukur belum punya pikiran untuk mengubah nama. Mau gimana pun, nama ini jadi doa yang tulus dari orang tua.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Plastik Indomaret Makin Tipis, Belanjaan Gampang Jebol!
Sudahkah kalian ke Indomaret hari ini?
Pertanyaan tersebut terasa wajar mengingat sekarang ini Indomaret sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan cuma tempat beli kebutuhan saja, tapi juga jadi tempat singgah, ngadem, ngopi, dsb. Ya wajar kalau akhirnya Indomaret sering jadi pilihan.
Saya juga termasuk orang yang cukup sering belanja di Indomaret. Saking seringnya keIndomaret, saya tahu apa saja yang ada di Indomaret tapi tidak disadari oleh pembeli lain. Saya juga tahu merek minumanmatcha apa saja yang dijual di Indomaret, yang rasanya nggak kayak rumput. Sampai-sampai, saya pernah membayangkan, “Inisistem yang ada di Indomaret kalau diterapkan di dunia pendidikan, kayaknya bakal lebih tertib, deh.”
Iya, segitunya saya sama Indomaret. Makanya saya kadang mikir, ini Indomaret kok belum juga ngendorse saya, ya? Wkwkwk.
Bukti lain saya sering ke Indomaret adalah saya jadi peka dengan perubahan yang ada di sana. Termasuk, perubahan yang belakangan ini cukup mengganggu. Yaitu, soal plastik Indomaret yang sekarang makin tipis.
Plastik berbayar
Berbicara soal plastik, kita semua pasti sudah tahu kalau plastik di Indomaret ini sekarang berbayar. Aturan plastik berbayar ini berlaku sejak Januari 2023. Jauh banget sebelum isu plastik mahal gara-gara masalah perang ini terjadi.
Harapannya, dengan plastik berbayar ini, konsumen makin sadar dan beralih bawa tote bag sendiri dari rumah. Atau, misal kelupaan ya beli tas belanja yang disediakan di rak Indomaret.
Tapi ya namanya juga manusia. Ujung-ujungnya tetap saja pilih pakai plastik. Maklum, kadang belanjanya kan dadakan, tanpa rencana, tau-tau belok aja ke Indomaret. Jadi, nggak ada persiapan bawa tote bag. Sering juga males kalau harus sengaja bawa tas belanja. Ndilalah, mau beli tas belanja di Indomaret juga mikir-mikir soal harga. Akhirnya, nggak papa deh kalau harus bayar plastik. Toh cuma 300 perak ini~
Meski harapan untuk mengurangi konsumsi plastik tidak terwujud, tapi setidaknya, kantong plastik di Indomaret ada logo ramah lingkungannya. Lumayan lah ya jadi ngurang-ngurangin rasa bersalah.
Berdasarkan penelusuran, kantong plastik Indomaret ramah lingkungan karena terbuat dari bahan oxo-degradable (oxium) yang mudah terurai. Sehingga, kantong plastik ini akan hancur dalam 2 tahun. BTW, kantong plastik oxo-degradable ini sudah dimulai sejak tahun 2009, ygy.
Dalam perjalakannya, saya ingat betul bagaimana kondisi plastik Indomaret sebelum setipis sekarang ini. Plastiknya tebal, tidak gampang robek, dan aman dicantolkan ke stang motor meski jalan bergelombang.
Tapi sekarang?
Alamak, tipis nian lah si plastik ini! Setipis harapan kita kepada pemerintah. Bayangkan, masa beberapa kali belanjaan saya nyeprol di jalan gara-gara plastiknya robek? Kan kesel.
Plastik Indomaret tidak bisa lagi disimpan
Nah, gara-gara plastik yang semakin tipis ini, saya jadi tidak bisa menyimpan si plastik untuk digunakan di lain waktu. Padahal biasanya, plastik Indomaret biasa saya pakai untuk kantong sampah di rumah, media untuk ater-ater (kirim) jajan ke tetangga, dan bungkus yang lain-lain. Lumayan, saya jadi tidak perlu sengaja beli kantong plastik baru (yang tentu saja bahannya bukan oxium), karena ada plastik yang bisa disimpan untuk digunakan ulang. Hey, itu bentuk meminimalisir sampah plastik juga kan?
Tapi sekarang? Plastik setipis itu? Pikir ulang banget kalau mau disimpan untuk digunakan ulang. Pertama, sudah kadung sobek sejak pertama kali dipakai. Kedua, misal tidak sobek pun, ngeri ih kalau tiba-tiba dipakai buat kantong sampah, trus sampahnya nyeprol di dalam rumah pas mau diangkut ke depan. Capek, Bro, bersihinnya.
Jujur, ini bikin dilema. Niatnya ramah lingkungan, tapi kalau plastiknya makin tipis dan gampang rusak, akhirnya malah jadi sampah plastik baru yang nggak bisa dipakai lagi nggak, sih?
Plastik Indomaret pernah setebal itu
Maksud saya begini loh, Domar. Plastikmu itu, sudah dari 2009 pakai bahan yang bikin si plastik jadi ramah lingkungan. Hancur dalam dua tahun kan, ya?
Nah, dari 2009 itu, plastik kamu pernah setebal itu, loh. Kuat. Beneran deh nggak boong. Lha kok sekarang jadi tipis bingit itu bagaimana ceritanya, dah? Nyeprol belanjaanku, Domar. Nyeprol~
Kalau ini cara kamu untuk membuat kami beralih dari plastik ke kantong belanja, plis, ini nggak lucu. Ini malah terlihat seperti kamu sedang melakukan efisiensi anggaran kantong plastik. Kantong plastik yang semula tebal, diubah jadi tipis demi menekan biaya produksi.
Please, balikin aja lah kantong plastik Indomaret yang ramah lingkungan tapi tetap tebal itu. Biar kami bisa pulang dengan tenang tanpa waswas barang belanjaan bakal nyeprol di jalan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Bukan Konten Remeh! Tutorial Naik Pesawat Ini Esensial untuk Mayoritas Rakyat Indonesia
Konten tutorial naik pesawat milik Kak Desy Umbara sedang ramai di medsos. Tentu saja kalian bisa tebak kenapa ramai. Ada yang bilang norak, ada yang bilang amat helpful, dan ada yang bilang hidup Jokowi. Tentu saja yang terakhir saya bercanda. Jelas. Masak ya saya kudu klarifikasi sih.
Terus terang, menurut saya, konten tutorial Kak Desy itu nggak norak. Justru malah banyak sekali manfaatnya untuk umum. Terlebih konten tutorial naik pesawat ini.
Begini. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang sebenarnya kita butuh, tapi kita nggak tahu caranya dan malu kalau mau tanya. Misal, cara pesen Starbucks. Atau, cara beli tiket KRL. Lho, buat orang yang daerahnya nggak ada KRL ini penting. Atau, cara memahami kenapa kawan kita ngomong proyek setinggi langit, tapi minta rokok.
Nah, makanya, saya bilang, sebenarnya, konten tutorial naik pesawat ini bagus banget.
Datang di tempat keberangkatan lebih awal
Perlu diketahui, proses naik pesawat jelas lebih lama ketimbang moda transportasi lain. Kalau moda transportasi lain tinggal beli tiket, kemudian menunggu sebelum jam keberangkatan. Kurang lebih hanya sesimpel itu saja. Kereta, bus, kapal, ya gitu-gitu aja.
Nah, proses naik pesawat itu beda. Check in-nya saja paling lambat sekitar 45-60 menit sebelum keberangkatan. Selain itu gate bandara biasanya tutup sekitar 10-30 menit sebelum keberangkatan.
Makanya, kalau saya pribadi ketika naik pesawat datang 2 jam sebelumnya. Mengingat biasanya saya bawa bagasi. Ditambah saya khawatir juga kalau jadwal keberangkatan dimajukan. Coba kalau naik bus/kereta, penumpang masih aman saja kalau tiba di tempat keberangkatan 15 menit sebelumnya.
Nah, tutorial naik pesawat jadi penting kan hanya dari memahami keberangkatan?
Peraturan naik pesawat lebih ketat daripada moda transportasi lain, makanya tutorial naik pesawat jadi penting
Peraturan naik pesawat jelas lebih ketat daripada naik moda transportasi lain. Ada banyak peraturan sederhana yang belum tentu orang banyak tahu. Bahkan untuk orang yang biasa naik pesawat sekalipun.
Salah satu peraturan naik pesawat yang kadang nggak diketahui atau lupa yaitu nggak boleh bawa korek gas, senjata tajam, dan korek elektrik ke kabin. Wajar sih kalau kadang penumpang lupa perkara ini. Soalnya, korek gas itu kan kecil, kadang kita saja lupa mengantongi barang itu di saku celana.
Peraturan macam ini sepertinya nggak ada di moda transportasi lain. Di transportasi lain malah lebih longgar lagi. Sampai-sampai di bus masih ada lho yang belum melarang penumpangnya merokok dalam perjalanan. Malah ada smoking room juga sih di bus.
Bandara itu luas banget
“Pangkalan” pesawat itu beda dari yang lain. Terutama dalam urusan luasnya. Rata-rata bandara internasional itu jauh lebih luas dari terminal maupun stasiun. Kalau kamu nggak biasa pasti akan bingung.
Lha gimana, wong di Bandara Soekarno-Hatta saja ada tiga terminal utama. Setiap terminal melayani rute dan maskapai yang berbeda-beda. Misal terminal 1 hanya melayani penerbangan domestik saja, sementara terminal 2 dan 3 melayani penerbangan domestik dan internasional.
Belum lagi kita berbicara gate di sana. Ada lebih dari 80 gate di pintu gerbang dunia internasional tersebut. Terdiri dari 21 gate di terminal 1, 21 gate di terminal 2 dan 38 gate di terminal 3. Jadi wajar banget kan kalau orang awam bingung naik pesawat? kita aja kadang bingung kok waktu naik bus di terminal besar.
Nggak semua orang punya kesempatan naik pesawat
Tiket pesawat itu mahal. Sekarang mahal banget malah. Lantaran harga tiketnya yang nggak murah, membuat nggak semua orang punya kesempatan naik moda transportasi ini. Orang yang punya budget pas-pasan tentu lebih memilih moda transportasi lain yang tiketnya lebih terjangkau. Macam bus, kereta atau kapal laut.
Malahan orang biasa kadang pertama kali naik pesawat ketika bertolak ke Tanah Suci. Untungnya pada momen ini mereka nggak sendiri. Ada pemandu dan teman rombongan yang menemani.
Terus terang, saya mendukung segala konten yang dibuat Kak Desy Umbara. Walaupun kontennya sederhana tapi sangat bermanfaat buat orang awam. Agar bisa menghindari dikatain ndeso oleh orang lain kalau nggak tahu berbagai hal yang dianggap sederhana.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Fakta Properti: Bukan Horor Hantu, Rumah Dekat Kuburan Dihantui Sulit Laku dan Harga Anjlok
Rumah dekat kuburan sering diidentikkan dengan horor. Padahal, tantangan utamanya justru rasa sepi, sulit bersosialisasi, dan ketidaknyamanan mengadakan acara. Nilai jual properti dekat pemakaman juga cenderung rendah serta sulit laku. Faktor-faktor rasional ini lebih dominan daripada kesan mistis semata.
Pertamina Turbo & DEX Melambung: Kelas Menengah Terjerat Krisis, Nyawa Taruhannya?
Pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp19.500 dan Pertamina DEX menjadi Rp23.900 per 18 April 2026. Kenaikan harga BBM ini memicu kekhawatiran dampak signifikan pada kelas menengah. Berpotensi menaikkan biaya produksi dan harga barang, mendorong peralihan ke BBM subsidi, serta memengaruhi ekonomi masyarakat luas.
Bukan Manja, Anak Bungsu: Dilema Pahit Antara Meraih Cita
Ada yang bilang anak bungsu itu selalu dimanja, sehingga hidupnya tak seberat kakak-kakak mereka. Usia mereka pun paling muda jadi mereka paling disayang oleh orang tuanya. Mau sebesar apapun fisik anak bungsu, orang tua akan tetap menganggap mereka anak paling kecil. Jadinya, saudara yang lain selalu diminta untuk mengalah pada mereka.
Terdengar istimewa, tapi sebetulnya di dalam hatinya penuh perasaan dilema.
Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, saya mengamini narasi di atas. Saya kerap merasa dianggap anak kecil oleh orang tua saya. Tapi, hal itu bukan berarti hidup kami, para anak bungsu ini, penuh bahagia tanpa depresi. Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita. Apalagi di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja.
Ditinggal saudara dan dituntut membahagiakan orang tua
Saat anak bungsu masuk usia 25 tahun hal yang paling mungkin terjadi yakni saudara mereka telah berkeluarga. Bukan hanya punya pasangan, tapi masing-masing dari mereka sudah punya anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Maka, hal demikian sudah maklum kalau perhatian mereka akan terpecah. Hidup tak bisa lagi sepenuhnya untuk orang tua, apalagi adiknya. Tentu, kasih sayang yang paling utama adalah untuk anaknya sendiri.
Kita tak perlu memungkiri hal ini, setiap orang pasti punya prioritas masing-masing.
Nah, dari kondisi tersebut siapa lagi yang bisa diharapkan harus selalu ada untuk orang tua selain anak bungsu. Anak bungsu adalah komposisi paling ideal untuk menemani orang tua. Katanya, masih muda, jalannya masih panjang, hanya buang-buang waktu kalau cuma buat senang-senang di luar. Lebih baik menemani orang tua saja di rumah!
Ya, hal tersebut memang betul. Tapi, ketika kakak-kakak kita sudah pindah, pastilah rumah terasa sangat berubah. Terasa sepi dan sunyi!
Ingin berkontribusi, tapi belum jadi apa-apa
Anak bungsu bukan tidak mau membantu dan membahagiakan orang tua, tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia berusia 25 tahun. Di usia itu, anak bungsu baru saja meniti karir. Gajinya nggak seberapa, bahkan banyak yang masih jauh dari UMR. Berbeda kalau sudah menyentuh usia 30an, mungkin finansial mereka sudah agak stabil dan mapan.
Saya sebut mungkin ya karena sebetulnya sulit juga untuk mencapainya!
Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, “apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?” Di sisi lain, memang hanya anak bungsu yang jadi harapan terakhir orang tua. Sebab sekali lagi, kakak-kakak mereka sudah berkeluarga semua.
Anak bungsu harus menggeser dulu cita-cita
Konon katanya, manusia itu akan terus hidup jika punya harapan dan cita-cita. Dengan cita-cita, kita akan memiliki rencana yang harus dilakukan, mana yang perlu dikejar, dan jalan mana yang akan kita lewatkan. Intinya, akan lebih tersusun. Tapi, bagi anak bungsu, harapan dan cita-cita itu kadang harus digeser dulu. Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya.
Hal ini bukan karena anak bungsu itu santai, malas, atau manja, tetapi karena cita-cita mereka berada pada orang tuanya. Yang paling utama adalah bagaimana orang tua mereka bahagia. Sebab, melihat usia orang tua yang semakin senja seperti tidak ada waktu lain untuk mengejar cita-cita. Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing!
Nah maka dari itu, mewakili para anak bungsu di dunia, saya ingin berpesan kepada kakak-kakak sekalian sebelum tulisan ini ditutup. Tengoklah sejenak adik dan orang tua kalian. Pasti mereka merasa sepi. Terkadang kasih sayang bukan cuma tentang uang kok, tapi juga kehadiran yang tulus dari orang-orang tersayang!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.