Terlalu Yakin, Warung Madura Berpotensi Digeser Pesaing Kapan Saja?
Populer karena buka 24 jam, harga Warung Madura kini mendekati minimarket akibat biaya operasional tinggi. Warung tetangga dengan biaya lebih rendah menawarkan harga lebih murah, menarik konsumen sensitif. Ini membuktikan kekuatan harga dalam persaingan bisnis ritel lokal.
Fenomena Pimpinan Lupa Diri: Mengapa Jabatan Kerap Dibawa Sampai Rumah?
Fenomena individu berjabatan tinggi yang sulit kembali menjadi warga biasa di kampung. Lingkungan kampung bersifat egaliter, status sosial lebih ditentukan oleh kontribusi dan perilaku baik, bukan posisi kerja. Relasi sosial di kampung dibangun atas kesetaraan, bukan struktur komando kantor.
Waktu Luang WNI Tak Berarti? Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Ini Ironinya
Pada suatu momen, saya menyadari satu hal penting bahwa layanan publik yang tetap tersedia di luar waktu kerja amat sangat membantu. Kesadaran itu saya dapatkan ketika mengurus surat kehilangan di kantor polsek. Kita semua tahu, layanan surat kehilangan bisa diakses kapan pun.
Hal itu membuat saya merasa ada banyak jenis pelayanan publik yang seharusnya tidak bisa diliburkan saat akhir pekan. Sebab, kita semua sepakat, kebutuhan kita untuk mengakses pelayanan publik tidak selalu bisa dipenuhi hanya di hari Senin hingga Jumat saja.
Jadi kalau surat kehilangan saja bisa kita dapat layanannya kapan saja, mengapa banyak layanan publik lain yang nggak kalah penting masih dibatasi hanya di hari kerja?
Apabila ditinjau lebih jauh, mengurus sesuatu yang sifatnya layanan publik di hari kerja menimbulkan konsekuensi yang multidimensi. Mulai dari konsekuensi ekonomi, sosial, bahkan psikologis. Sebab, satu-satunya jalan untuk mengurusi berkas macam KK, KTP, SIM, pajak kendaraan, izin usaha, paspor, atau dokumen penting lainnya, kita harus izin kerja terlebih dahulu. Bukankah itu menimbulkan biaya tersendiri bagi kita?
Mungkin bagi karyawan tetap, pegawai BUMN, atau PNS, mengambil cuti sehari masih bisa ditoleransi. Namun, bagaimana dengan pekerja harian, buruh lepas, pekerja toko, atau pekerja informal lainnya yang pendapatannya bergantung pada jam dan hari aktif kerja? Saat mereka ambil cuti, seperti yang saya bilang, ada biaya yang harus ditanggung oleh mereka.
Dalam situasi begitu, pelayanan publik yang hanya menerima layanan pada hari kerja secara nggak langsung menciptakan beban baru dari sisi ekonomi. Itu mengapa, pelayanan publik seharusnya memang nggak hanya dipandang sebagai aktivitas birokrasi yang kaku, tapi juga dipandang sebagai infrastruktur ekonomi.
Normalisasi pelayanan publik buka di akhir pekan
Oleh karena itu, saya merasa pelayanan publik seharusnya tidak libur di akhir pekan. Bukan berarti semua kantor pemerintahan harus buka penuh setiap hari tanpa jeda ya. Fokus perhatiannya lebih pada sistem layanan yang adaptif, mulai dari pemberlakuan shift, rotasi petugas, loket terbatas, antrean secara online (bisa melalui layanan seperti JKN), layanan prioritas, khusus untuk hari Sabtu dan Minggu.
Pemberlakuan seperti ini memberikan ruang yang akomodatif terhadap hak warga untuk mendapatkan layanan publik. Di sisi lain, hak petugas untuk punya waktu jeda pun tetap terpenuhi.
Sekali lagi, tidak semua layanan publik harus buka tiap hari. Saya rasa hanya layanan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan dasar warga saja yang mesti beradaptasi. Administrasi kependudukan mulai dari KTP, KK, akta kelahiran, akta kematian, pindah domisili, dan perubahan data seharusnya lebih mudah diakses dan bisa diberikan layanan tiap hari. Sebab, mayoritas dari dokumen itu sering menjadi dasar untuk mengurus layanan lainnya.
Kemudian, layanan lain seperti BPJS, kepolisian (SKCK), layanan sosial, pengaduan, pajak kendaraan, SIM, hingga soal perizinan usaha idealnya juga bisa diakses saat akhir pekan. Yah, setidaknya bisa dibuka setengah hari. Pemberlakuan dari layanan publik yang dibuka setiap hari pada akhirnya akan punya dampak sosial.
Pertama, hal itu akan mengurangi ketimpangan akses. Soalnya selama ini orang dengan waktu fleksibel lebih mudah mengurus layanan publik dibanding mereka yang waktu kerjanya ketat. Apalagi yang masuk kerjanya penuh 6 hari dalam seminggu.
Kedua, layanan pada akhir pekan juga dapat mengurangi antrean pada hari kerja karena layanan terpecah hingga akhir pekan.
Ketiga, mengurangi praktik percaloan. Banyak orang pake jasa calo karena gak bisa mengakses layanan publik saat hari kerja kan?
Pelayanan publik di akhir pekan itu lumrah dan mungkin dilakukan
Saya kemudian mencari tahu, apakah membuka layanan publik pada akhir pekan adalah hal lumrah?
Ternyata lumrah, Gaes. Di Australia misalnya, Service NSW melalui Haymarket Service Centre tetap membuka layanan terpadu pemerintah negara bagian pada hari Sabtu, tentu dengan waktu yang terbatas. Sementara di Inggris, beberapa layanan administrasi negara juga dapat diakses melaluiPost Office. Di situ warganya dapat mengurus paspor melalui layanan Check & Send pada akhir pekan.
Sementara itu, Jepang membuat sebuah model layanan publik melaluiMy Number Card. Layanan ini membantu warga agar dapat mencetak dokumen resmi seperti resident record, seal registration certificate, dan beberapa dokumen pajak melalui mesin di convenience store. Layanan ini bahkan tersedia pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, dari pagi hingga malam.
Jadi pada intinya, tuntutan warga agar pelayanan publik dibuka saat akhir pekan adalah hal yang lumrah. Ini jadi manifestasi dari harapan warga negara untuk memperoleh akses layanan yang mudah, fleksibel, dan adil.
Namanya pelayanan publik, yang gaji petugasnya saja berasal dari pajak, seharusnya mengikuti ritme dari warganya kan? Bukan malah terbalik dengan memaksa warga yang harus selalu menyesuaikan ritme birokrasi. Apa-apaan, kantor pelayanan publik kok baru dibuka jam 9 dan jam 2 sudah tutup? Gila kali!!! Masak kalah sama warung Madura!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Beberapa waktu lalu seorang kolega saya di Surabaya bercerita menjadi korban penipuan jual beli di media sosial Facebook Marketplace. Meski sudah memiliki pondasi mengenai beragam literasi yang selalu dipelajari sehari-hari, tetap saja praktik penipuan ini terus menjamur dan bertransformasi dengan berbagai modus operandi.
Ceritanya begini. Kolega saya ini senang berburu buku bekas asli, dan tergiur dengan salah satu penawaran yang muncul di Facebook Marketplace. Dia menemukan Tetralogi Buru dari Pram dijual di Facebook karena pemilik akan pulang ke kampung halaman.
Sayangnya, alih-alih melakukan verifikasi berlapis, kawan saya terbutakan karena harga yang rendah serta keinginan yang kelewat membuncah. Takut keduluan peminat yang lain, tanpa pikir panjang dia transfer uang yang diminta.
Nahas, setelah transfer, pelaku berdalih uang belum masuk ke rekening dengan mengirimkan screenshot saldo rekening yang masih nol rupiah. Saat diminta mengirim tangkapan layar mutasi rekening, pelaku mengabaikan dan memblokir kontak kolega saya. Barulah ia sadar telah menjadi korban penipuan.
Fenomena penipuan di marketplace online sudah ada sejak bertahun-tahun. Sejak era Kaskus dan Tokobagus (sebelum berubah nama jadi OLX), fenomena ini sudah marak. Polanya nyaris sama: tawarkan harga murah, uang didapat, pelaku minggat.
Korbannya pun kena dengan cara yang sama juga: tergiur harga murah, mengirimkan uang, lalu stres saat pelaku minggat. Dan kini justru makin mudah tertipu, karena mudahnya transaksi. Dulu mungkin orang masih punya waktu kontemplasi waktu berjalan dari rumah menuju ATM. Tapi kini berbeda: tinggal buka hape, satu menit kemudian, transaksi terjadi.
Saya sepakat bahwa Facebook Marketplace bak dua sisi mata pisau yang bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Marketplace ini kerap dianggap surga yang underrated untuk barang unik. Sebab saya sendiri mengakui jika beberapa kali menemukan barang yang sangat bermanfaat dan tetap bisa digunakan. Tapi kembali lagi saya memang tidak pernah mau ambil risiko besar. Jika bisa untuk ketemu pembeli, saya akan memilih COD sehingga bisa meminimalisir tindakan penipuan.
Seandainya tidak bisa ketemu langsung dan sudah terlanjur senang dengan barang yang ada di Facebook Marketplace, lebih baik saya menggunakan rekening bersama. Ini jadi salah satu jaring pengaman utama agar barang yang dikirim penjual bisa sampai tujuan tanpa drama panjang.
FYI, rekening bersama merupakan penyedia layanan dari pihak ketiga yang akan menampung sementara uang pembeli. Nantinya uang akan diserahkan penjual jika pembeli sudah menerima barang dan sepakat dengan barang yang dikirimkan sesuai dengan yang dipasang di Facebook Marketplace. Banyak penyedia layanan rekening bersama, saya sendiri sering menggunakan Shopee atau TokoPedia.
Pengalaman jadi guru yang paling berharga
Setelah diskusi panjang mengenai penipuan oleh kolega saya di Facebook Marketplace, membuatnya lebih bijak dan waspada. Kini penawaran apa pun akan ia kroscek sedetail mungkin untuk mereduksi kembali jadi korban penipuan.
Ada beberapa hal yang bisa kita cek sebelum melakukan transaksi di Facebook Marketplace. Cara pertama, cek umur akun. Rata-rata akun yang menjalankan penipuan ini usianya masih muda. Rerata akun FB yang digunakan baru dibuat di kisaran tahun 2020-an keatas.
Selain itu, mereka menyebar produk yang sama dengan berbagai akun. Misal kalian cari motor Mio Sporty generasi pertama. Pasti kalian akan menemukan satu motor yang sama, tapi angle fotonya saja yang berbeda. Ketika kalian berminat, kalian akan diminta DP dulu, baru motor dikirim. Dan semuanya sama: transfer dulu.
Jika kalian menemukan penjual semacam ini, alangkah baiknya di-skip saja dan jangan dilanjutkan transaksinya. Daripada bernasib seperti kolega saya, tidak ada salahnya curiga ketimbang menderita.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Aturan Tidak Tertulis Belanja di Facebook Marketplace supaya Tidak Kena Tipu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Aturan Kost Paling Absurd: Menguak Logika Pemilik yang Tak Terjangkau Nalar
Dulu, salah satu alasan kenapa saya pengin kuliah di luar kota adalah saya pengin banget merasakan jadi anak kos. Kayaknya seru aja gitu. Tinggal sendiri, makan sendiri, ngatur hidup sendiri, dsb. Pengin juga merasakan sensasi deg-degan kalau kiriman dari orang tua belum sampai. Tapi, hingga detik ini, saya belum pernah merasakan yang namanya nge-kos itu seperti apa.
Warna-warni cerita anak kos hanya bisa saya bayangkan lewat cerita teman-teman ataupun lewat curhatan netizen di media sosial. Baru-baru ini, misalnya. Saya baca diThreads ada yang curhat tentang betapa nggak ngotaknya peraturam di kos dia. Salah satunya, aturan dapur bersama hanya bisa dipakai jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Lewat dari itu, kompor akan dikunci gembok.
Duh. Mau heran, tapi ternyata, peraturan kos yang nggak umum memang nyata adanya. Berikut adalah kompilasi aturan tidak masuk akal di kosan yang pernah ada.
Peraturan kos paling aneh pertama, semua paket ditujukan ke pemilik kos
Jika Aldi Taher bilang bahwa semua burger milik Allah, maka ada kosan yang punya aturan bahwa tiap paket adalah milik pemilik kosan. Jadi, semua penghuni yang mau check out belanjaan di online store, mereka wajib mengatasnamakan pesanan tersebut kepada pemilik kos, baru nama si penghuni ditulis nebeng di sampingnya. Pokoknya, setiap paket yang datang harus lewat tangan pemilik kos terlebih dahulu.
Kepo?
Ternyata bukan. Katanya sih, aturan ini dibuat semata-mata untuk keamanan kosan. Si pemilik kos rupanya takut kalau-kalau ada anak kosnya yang check out barang berbahaya atau barang illegal yang bisa bikin kosannya digerebeg polisi. Masuk akal, sih. Ta-tapi kan… kalau mau check out daleman jadi agak gimanaaa gitu.
Ada pula kosan yang terang-terangan tidak mau menerima penghuni dari suku tertentu. Umumnya, orang timur, seperti Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Aturan yang terkesan diskriminatif ini lahir bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan trauma. Soalnya, banyak kasus yang bikin pemilik kos kecewa. Misalnya, yang sewa 1 orang tapi yang menempati bisa 4-5 orang. Belum lagi atmosfer keseharian yang selalu ramai dan tidak kenal waktu. Entah ngobrol dan ketawa-ketawa sampai dini hari, nyetel musik, bahkan mabuk-mabukan yang berakhir dengan keributan. Parahnya lagi, sering pula kejadian mereka berhutang di warung sekitar dengan membawa nama rumah kos.
Nah, daripada kepala dibikin ngelu karenanya, para pemilik kosan ini memilih untuk melarang orang timur ngekos di tempat mereka. Ya memang sih tidak semua orang timur punya kelakukan minus seperti itu. Tapi, sepertinya para pemilik kos lebih memilih untuk cari jalan yang aman-aman saja.
Tidak menerima tamu lawan jenis, meski keluarga
Aturan tidak masuk akal di kosan selanjutnya adalah larangan menerima tamu dari lawan jenis, termasuk anggota keluarga.
Aneh, tapi kosan yang seperti ini memang benar-benar ada loh. Jangankan untuk menginap barang sebentar karena kemalaman, anggota keluarga yang berlawanan jenis mau sekadar nengok ke area dalam pun, tidak boleh. Biasanya, aturan ketat ini berlaku di kosan perempuan.
Awalnya sih saya pikir aturan ini mengada-ada, ya. Masak bapaknya sendiri mau melihat kosan putrinya nggak boleh? Cuma, setelah saya pikir-pikir lagi, aturan ini ada benarnya juga. Dari POV penghuni kosan yang lain, keberadaan laki-laki asing di sekitar kos pasti bakal bikin syok. Terutama, penghuni kos yang sukanya cuma kaos dalaman saja di area kos.
Wajib foto meteran listrik dan air
Nah, ada lagi nih. Saya juga pernah baca di tautanini aturan ngekos yang nggak masuk akal. Bayangkan, di kosan pembuat utas, ada aturan setiap penghuni wajib mengirimkan foto meteran listrik dan air kepada pemilik kos. Kirim fotonya pun nggak sebulan atau seminggu sekali, ya. Tapi, dua kali sehari, setiap pagi dan malam. Wow, ini sih lebih rajin daripada petugas PLN yang datangnya hanya sebulan sekali.
Agak-agaknya, si pemilik kos ini ingin memantau berapa rata-rata konsumsi listrik dan air semua penghuni kosan. Dengan perhitungan tersebut, bisa ketahuan deh siapa penghuni yang boros pemakaiannya. Cerdas!
Peraturan kos paling horor, tidak boleh masuk ke ruangan tertentu
Terakhir, peraturan kos ini selain tidak masuk akal juga bikin merinding. Yaitu, aturan tidak boleh mendekati, apalagi masuk ke ruangan tertentu di area kos. Pernah ada yang cerita kalau di kosan dia, ada satu ruangan yang kondisinya selalu terkunci gembok. Dan kalau pemilik kos ditanya itu ruangan apa, jawabannya standar banget: “Gudang”.
Cuma, dari POV penghuni kos yang saban hari melewati ruangan itu kan agak serem, ya. Terutama kalau lewatnya malam-malam, pas kebelet pipis atau pengin bikin mie di dapur. Kebayang kan gimana horornya? Seketika, memori utas kosan horor viral di X langsung terbayang-bayang di kepala. Auto susah tidur, deh.
Itulah peraturan kos yang tidak masuk akal tapi benar-benar ada. Di antara aturan di atas, kosan-mu punya aturan yang mana saja, nih? Atau, kosan-mu tipikal kos yang bebas aturan sing penting bayar? Wow.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Ancaman Nyata di Gamping Sleman: Pesimisme Ekonomi Dorong Pemuda ke Jurang Judi Online
Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.
Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.
Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.
Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.
Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.
Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata.
Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit.
Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.
Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang.
Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri.
Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.
Kecemasan anak muda di Gamping Sleman
Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.
Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”
Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal.
Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat.
Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.
Kehidupan yang berubah celaka
Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres.
Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.
Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.
Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut.
Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman
Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu.
Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.
Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman.
Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan.
Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Ancaman Nyata Coffee Shop: Saat Pendekar Kopi Menguji Barista, Rojali Menggerogoti Laba Owner
Barista menghadapi ‘pendekar kopi’ yang detail terkait minuman, namun sering minim pembelian. Pemilik coffee shop resah oleh ‘rojali’ (rombongan jarang beli) yang memenuhi tempat tanpa transaksi berarti. Kedua tipe pelanggan ini menimbulkan tantangan operasional serta memengaruhi profitabilitas bisnis. Dinamika ini krusial dalam industri kopi.
Karyawan Indomaret: Pekerja Paling Underrated di Indonesia
Saya baru sadar bahwa selama ini saya memperlakukan karyawan Indomaret sebatas karakter pendukung. Datang, ambil barang, bayar, pulang. Begitu terus. Bertahun-tahun.
Saya hafal letak mie instan favorit, minuman dingin, suara mesin kasir, dan suara otomatis yang menyambut pelanggan. Namun anehnya, saya hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan orang-orang yang bekerja di sana. Padahal, kalau saya pikir lagi, saya lebih sering bertemu karyawan Indomaret daripada ketua RT.
Sebagai orang yang lahir dan besar di Gamping, Sleman, saya termasuk pelanggan setia minimarket. Entah untuk membeli kopi sachet tengah malam, air mineral setelah bersepeda, atau sekadar mencari camilan ketika ide tulisan macet di kepala.
Selama beberapa waktu terakhir, saya menyadari ada satu hal yang menarik dari para karyawan Indomaret. Mereka selalu terlihat sibuk.
Awalnya saya mengira itu hal biasa. Namanya juga bekerja. Namun, setelah beberapa kali memperhatikan lebih saksama, saya mulai merasa bahwa pekerjaan mereka jauh lebih rumit daripada yang selama ini saya bayangkan.
Kita sering menyebut mereka “kasir”. Padahal, menyebut karyawan Indomaret sebagai kasir rasanya seperti menyebut seorang pemain sepak bola hanya sebagai tukang lari. Terlalu menyederhanakan kenyataan.
Suatu sore di sebuah Indomaret kawasan Gamping, saya melihat seorang karyawan Indomaret melayani antrean pembayaran listrik. Lima belas menit kemudian, orang yang sama sedang menata rak makanan ringan.
Tidak lama setelah itu, dia membantu seorang ibu mencari susu anak yang entah mereknya apa. Beberapa menit kemudian lagi, si karyawan Indomaret kembali ke kasir karena antrean mulai memanjang.
Besoknya, saya datang lagi. Orang yang sama sedang mengangkat kardus-kardus besar dari mobil pengiriman. Saya mulai bertanya-tanya. Sebenarnya pekerjaan mereka ini apa?
Sepertinya, hampir semua urusan masyarakat modern sekarang bisa berakhir di Indomaret. Mau beli sabun? Bayar listrik? Top up e-wallet? Transfer uang? Ambil paket? Bayar BPJS? Beli kopi? Bahkan ketika hujan deras dan kita butuh tempat berteduh, yang kita cari ya Indomaret.
Beratnya pekerjaan mereka
Masalahnya, semua layanan itu tidak berjalan sendiri. Di balik kemudahan yang kita nikmati, ada orang-orang yang harus melayani seluruh kebutuhan tersebut dengan wajah tetap ramah. Meskipun mungkin mereka sudah berdiri berjam-jam sejak pagi.
Saya pernah berada di belakang seorang pelanggan yang marah karena transaksi pembayaran gagal. Padahal masalahnya ternyata berasal dari sistem yang sedang gangguan. Yang menerima omelan tetap pegawai Indomaret.
Saya juga pernah melihat pelanggan yang bertanya panjang lebar tentang promo. Yang menjelaskan dengan sabar tetap pegawai Indomaret. Bahkan pernah ada pelanggan yang datang hanya untuk menanyakan arah jalan. Yang menjawab dengan ramah, ya karyawan Indomaret. Mereka seperti pusat informasi berjalan mengenakan seragam merah, biru, dan kuning.
Kita sering lupa kalau karyawan Indomaret juga manusia
Lucunya, karena terlalu sering melihat karyawan Indomaret, kita justru lupa bahwa mereka adalah manusia biasa. Mungkin inilah nasib pekerjaan yang benar-benar underrated.
Bukan karena tidak penting, tetapi karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanya, keberadaannya kita pandang biasa saja. Saya jadi teringat bagaimana banyak orang bisa dengan mudah menyebut pekerjaan impian mereka.
Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, arsitek, atau pengusaha. Namun saya hampir tidak pernah mendengar anak kecil bercita-cita menjadi karyawan Indomaret. Padahal, kalau melihat kompleksitas pekerjaannya, profesi ini jauh lebih berat daripada yang sering kamu bayangkan.
Yang lebih menarik lagi, karyawan Indomaret harus menghadapi berbagai macam karakter manusia setiap hari. Di Jogja, terutama kawasan yang dekat kampus, satu toko bisa didatangi mahasiswa rantau, warga kampung, pekerja kantoran, wisatawan, pengemudi ojek online, pesepeda, hingga rombongan pelancong yang kebingungan mencari arah.
Masing-masing datang dengan kebutuhan dan suasana hati yang berbeda. Dan semuanya mengharapkan pelayanan terbaik dari karyawan Indomaret.
Saya membayangkan betapa melelahkannya menghadapi puluhan, bahkan ratusan orang setiap hari, sambil tetap menjaga sikap profesional. Belum lagi ada ekspektasi yang sering tidak masuk akal dari pelanggan.
Barang habis, salah pegawai. Sistem error, pegawai kena marah. Harga berubah, karyawan Indomaret lagi yang kena. Mesin pembayaran bermasalah, yang kena semprot pegawai. Padahal mereka tidak memiliki kendali atas semua itu.
Ada satu hal yang menurut saya cukup ironis. Semakin modern Indonesia, semakin banyak pekerjaan yang ditumpuk ke satu orang. Dulu, urusan masyarakat tersebar di banyak tempat. Sekarang semuanya terpusat dalam satu minimarket yang buka hampir sepanjang hari.
Sebagai pelanggan, kita menikmati efisiensinya. Namun jarang terpikir bahwa efisiensi itu tidak muncul begitu saja. Ada karyawan Indomaret yang harus berpindah dari kasir ke gudang, dari gudang ke rak, dari rak ke pelanggan, lalu kembali lagi ke kasir dalam waktu yang sama.
Mungkin karena itulah saya mulai memandang minimarket dengan cara yang berbeda. Sekarang, ketika masuk Indomaret, perhatian saya tidak lagi hanya tertuju pada rak makanan atau kulkas minuman dingin.
Saya justru sering memperhatikan para pegawainya bekerja. Dan jujur saja, saya tidak yakin bisa melakukan hal yang sama setiap hari.
Mungkin saya berlebihan ketika menyebut karyawan Indomaret sebagai pekerja paling underrated di Indonesia. Saya tahu masih banyak profesi lain yang juga bekerja keras dan kurang mendapat apresiasi.
Namun setidaknya, saya yakin pada satu hal. Mereka adalah salah satu kelompok pekerja yang paling sering kita jumpai, tetapi paling jarang kita sadari perannya. Kita mengenal logo Indomaret. Fafal tata letak tokonya. Kita tahu promo-promonya. Tetapi sering lupa mengingat bahwa ada orang-orang yang membuat seluruh sistem itu berjalan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Bahaya di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Kecanduan Judol
Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.
Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.
Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.
Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.
Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.
Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata.
Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit.
Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.
Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang.
Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri.
Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.
Kecemasan anak muda di Gamping Sleman
Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.
Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”
Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal.
Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat.
Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.
Kehidupan yang berubah celaka
Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres.
Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.
Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.
Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut.
Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman
Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu.
Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.
Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman.
Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan.
Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Indomaret Tutup: Bukan Sekadar Promo Minyak Goreng Hilang, Ini Guncangan Ekonomi dan Kenyamanan Harian
Sedang asik scroll di Threads, saya menemukan kabar kalau sebanyak 6.546 gerai Indomaret tutup pada 31 Mei dan 1 Juni 2026. Usut punya usut, ternyata tutupnya gerai sejuta umat tersebut adalah bentuk protes.
Yang saya maksud adalah bentuk protes terhadap kebijakan kebijakan Indomaret yang tidak memberikan uang lembur di tanggal merah. Sebagai gantinya, karyawan yang masuk di tanggal merah akan mendapat ganti hari libur.
Saya lalu mencoba untuk mengingat-ingat. Kemarin, 31 Mei, Indomaret yang ada di sekitar wilayah tempat tinggal saya masih tetap beroperasi. Berarti, Indomaret di sini tidak termasuk dalam 6.546 gerai yang tutup. Namun, ketika saya menyelam ke Instagram maupun mencari dengan kata kunci “Indomaret tutup”, ternyata memang ada yang tidak beroperasi.
Sebagai orang yang cukup sering ke Indomaret, saya hanya bisa berharap mereka menemukan solusi terbaik. Jangan sampai, dari yang semula ada 6.546 gerai tutup, malah merembet jadi semua gerai ikut tutup karena nggak ketemu titik terangnya.
Nah, loh. Bisa kebayang nggak tuh apa jadinya kalau semua gerai tiba-tiba tutup?
#1 Bingung cari tempat ngadem seperti kursi besi andalan kalau Indomaret tutup
Hal pertama yang terlintas di benak saya andai semua gerai Indomaret tutup adalah kita bakal bingung cari tempat untuk ngadem. Selama ini, mereka memang punya hampir semua hal yang kita butuhkan untuk ngadem. Baik ngadem karena cuaca, ataupun ngadem karena isi kepala.
Ini bukan semata cuma soal AC yang memang mak’nyess itu, ya. Lebih dari itu, ada etalase minuman dingin sebagai tempat untuk pura-pura kuat. Sengaja bengong di depan etalase biar dikira bingung pilih minuman, padahal sedang menenangkan isi kepala yang ruwet.
Jangan lupa juga bahwa Indomaret punya kursi besi andalan untuk ngadem. Kursi besi yang berjasa dalam memberi jeda, dari sebuah hari yang luar biasa. Sungguh, yang demikian itu, proses release yang kelihatan sederhana itu, tak bisa diganti dengan toko retail mana pun.
#2 Susah cari promo minyak goreng private label Indomaret
Dari POV emak-emak, kalau sampai semua Indomaret tutup, alamat bakal susah cari minyak goreng kemasan yang harganya terjangkau. Jujur saja, minyak goreng private label adalah penyelamat dari tingginya harga minyak goreng merek lain. Harganya bisa selisih sampai 5 ribu perak. Eman, dong! Duit 5 ribu bisa buat beli tempe 1 papan.
Ya bisa saja sih cari minyak goreng kemasan di minimarket atau sekalian ke supermarket. Kan biasanya di supermarket juga ada promo minyak goreng.
Tapi, kalau ke supermarket, harus mikir bensin ke sana, perjalanannya, parkirnya, belum harus ganti outfit segala. Ribet. Memang paling cocok beli minyak goreng ya ke Indomaret. Lokasinya dekat dari rumah, jadi bisa sat set. Misal perginya pakai baju kaya mau COD biawak juga nggak masalah.
#3 Anak-anak kehilangan hiburan kalau Indomaret tutup
Sementara itu dari POV anak-anak, mereka akan kehilangan salah satu tempat hiburan kalau Indomaret tutup. Di situlah uniknya.
Judulnya sih memang retail, ya, tempat kita memenuhi kebutuhan harian. Tapi dalam praktiknya? mereka juga jadi tempat hiburan bagi anak-anak. Mata mereka selalu berbinar setiap saya ajak ke sana. Bayangan deretan cemilan-cemilan enak, minuman segar, dan aneka printilan lucu-lucu langsung memenuhi isi kepala mereka.
Dan kecintaan anak-anak dengan Indomaret ini juga menguntungkan orang dewasa. Misal ada anak yang tantrum atau yang mau dikasih reward, tinggal bawa saja ke sana.
Lha kalau Indomaret tutup semua, bagaimana ceritanya coba? Mau dibawa ke tempat wisata atau ke mall? Ongkos yang keluar pasti lebih besar.
Itulah 3 hal yang mungkin terjadi. Susah memang ya, di satu sisi kita berharap Indomaret tetap buka seperti biasa. Tapi di sisi lain, gerai yang saat ini memutuskan untuk tutup itu sedang memperjuangkan haknya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.