Harga Plastik Naik Bikin Bawa Wadah Sendiri Terlihat Keren
Kenaikan harga plastik signifikan mendorong kebiasaan membawa wadah sendiri saat belanja di pasar tradisional. Ini mengurangi ketergantungan pada kantong plastik, meskipun respons awal pedagang dan pembeli lain beragam. Fenomena ini menjadi momentum efektif untuk upaya pengurangan sampah plastik di tengah kenaikan biaya dan kelangkaan pasokan.
Gen Z Bernama Sri: Adakah Stigma Usia di Balik Label Bibi Kantin?
Nama saya Sri Molati. Jujur saja, sebagai Gen Z, saya pernah keberatan sekaligus agak sedih dengan nama “Sri”. Bukan maksud tidak bersyukur atas pemberian nama ini. Apalagi Sri itu punya arti yang bagus. Namun, sebagai anak muda yang hidup di tengah gempuran nama keren rasanya jomplang banget.
Di sekitar saya, ada nama-nama kekinian seperti Shareen, Nayla, dan Raline. Lalu, tiba-tiba ada nama Sri yang mengikuti. Kan rasanya jomplang banget.
Kadang saya merasa seperti Roro Jonggrang yang lahir di zaman yang salah. Saya Gen Z, tapi rasanya tua banget.
Pernah suatu kali, saya datang ke sebuah tempat yang perlu antre dan akan dipanggil nama ketika sudah giliran saya. Nah, si petugas memanggil saya begini: “Ibu Sri!”
Dia memanggil pakai “ibu” di teman-teman saya sesama Gen Z. Petugas memanggil nama teman-teman saya pakai tambahan “Kak”. Kalau saya, “Ibu”. Sudah jelas, semua refleks tertawa keras. Malu, pengin banget saya rasanya pergi dari tempat itu.
Masalahnya, rasa malu ini tidak berhenti sampai sana. Setelah kejadian itu, teman-teman saya selalu memanggil nama “Ibu Sri”. Saya nggak bisa apa-apa selain menerima. Mereka hanya bercanda, meski bagi saya rasanya malu banget.
Gen Z dengan nama Sri dikira pembantu
Banyak orang memberi nama sebagus mungkin untuk nama anaknya. Namun, kadang, ada orang tua yang mungkin tidak memperkirakan bahwa kelak, anaknya yang Gen Z, akan menanggung derita tersendiri.
Sebagai Gen Z dengan nama Sri, saya merasakan derita bernama stigma itu. Ini menjadi perjuangan tersendiri, bahkan sebelum saya membuka mulut.
Iya, saya tahu, Sri itu punya makna yang bagus. Ada juga yang mengaitkannya dengan Dewi Sri atau dewi kesuburan. Namun, ada sebuah stigma yang muncul terkait nana Sri. Salah satunya karena tontonan di televisi. Banyak sinetron yang menjadikan nama Sri sebagai pembantu. Seakan-akan ini jadi “seragam wajib”.
Makanya, bagi Gen Z dengan nama Sri, selalu ada keresahan tersendiri ketika harus memperkenalkan diri di lingkungan baru. Saat menyebut nama Sri, saya selalu menemukan ada yang tertawa atau senyum tipis sepersekian detik. Ada juga yang sampai nyeletuk: “Pasti orang Jawa, ya!”
Bagi saya, itu menjadi semacam “kode halus” dari sebuah ejekan yang dibungkus dengan rapi. Pengin banget rasanya nyeletuk balik: “Memang kenapa kalau orang Jawa!”
Candaan bibi kantin
Kadang saya merasa identitas saya sudah ditentukan sebelum orang mengenal siapa sebenarnya saya. Sebagai Gen Z, saya lumayan melek soal personal branding. Menurut saya, ketika nama sudah memiliki ”branding” tertentu, butuh usaha ekstra untuk mengubahnya.
Misalnya saya, dengan nama Sri, kerap mendapat candaan “bibi kantin”. Misalnya, ada yang bilang gini: “Sri, tolong ambilkan minum, dong. Udah cocok banget sama nama kamu.” Mereka tertawa lepas setelah bilang begitu. Seakan-akan saya adalah bibi kantin.
Kalau marah, teman-teman akan menganggap saya gampang baperan. Makanya, saya hanya bisa menahan keresahan ini meski mengikis rasa percaya diri saya.
Tragedi nama Sri berubah jadi Sharly saat memesan kopi
Suatu sore di hari Jumat, saya dan beberapa teman mampir ke sebuah coffee shop viral. Seperti biasa, setelah memilih menu, barista akan menanyakan nama. Saya, dengan jelas menyebut nama Sri.
Selang beberapa menit menunggu, barista kemudian memanggil saya. Dia bilang begini:
Awalnya saya cuek, toh bukan nama saya. Namun, setelah memanggil beberapa kali, kok nggak ada yang maju untuk mengambil pesanan tersebut. Lagi-lagi saya cuek karena bukan nama saya.
Nggak lama, salah seorang karyawan menghampiri saya untuk mengantar pesanan. Dia bilang, “Kak, ini pesanan Kakak.”
Jelas saya bingung karena kaget. Teman saya tiba-tiba tertawa sambil bilang, “Anjay, Kak Sharly lupa nama sendiri.”
Dan di saat itulah saya mengerti. Mungkin, barista coffee shop tersebut malu ada konsumen Gen Z bernama Sri. Merena dengan sengaja mengubah nama saya agar terlihat lebih estetik.
Saya memang malu dengan nama Sri. Namun, saya juga tidak mau durhaka dengan mengubah nama begitu saja.
Saat ini, saya sedang belajar untuk menerima nama Sri sebagai bagian dari dinamika Gen Z. Meski terdengar ndeso, saya bersyukur belum punya pikiran untuk mengubah nama. Mau gimana pun, nama ini jadi doa yang tulus dari orang tua.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Plastik Indomaret Makin Tipis, Belanjaan Gampang Jebol!
Sudahkah kalian ke Indomaret hari ini?
Pertanyaan tersebut terasa wajar mengingat sekarang ini Indomaret sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan cuma tempat beli kebutuhan saja, tapi juga jadi tempat singgah, ngadem, ngopi, dsb. Ya wajar kalau akhirnya Indomaret sering jadi pilihan.
Saya juga termasuk orang yang cukup sering belanja di Indomaret. Saking seringnya keIndomaret, saya tahu apa saja yang ada di Indomaret tapi tidak disadari oleh pembeli lain. Saya juga tahu merek minumanmatcha apa saja yang dijual di Indomaret, yang rasanya nggak kayak rumput. Sampai-sampai, saya pernah membayangkan, “Inisistem yang ada di Indomaret kalau diterapkan di dunia pendidikan, kayaknya bakal lebih tertib, deh.”
Iya, segitunya saya sama Indomaret. Makanya saya kadang mikir, ini Indomaret kok belum juga ngendorse saya, ya? Wkwkwk.
Bukti lain saya sering ke Indomaret adalah saya jadi peka dengan perubahan yang ada di sana. Termasuk, perubahan yang belakangan ini cukup mengganggu. Yaitu, soal plastik Indomaret yang sekarang makin tipis.
Plastik berbayar
Berbicara soal plastik, kita semua pasti sudah tahu kalau plastik di Indomaret ini sekarang berbayar. Aturan plastik berbayar ini berlaku sejak Januari 2023. Jauh banget sebelum isu plastik mahal gara-gara masalah perang ini terjadi.
Harapannya, dengan plastik berbayar ini, konsumen makin sadar dan beralih bawa tote bag sendiri dari rumah. Atau, misal kelupaan ya beli tas belanja yang disediakan di rak Indomaret.
Tapi ya namanya juga manusia. Ujung-ujungnya tetap saja pilih pakai plastik. Maklum, kadang belanjanya kan dadakan, tanpa rencana, tau-tau belok aja ke Indomaret. Jadi, nggak ada persiapan bawa tote bag. Sering juga males kalau harus sengaja bawa tas belanja. Ndilalah, mau beli tas belanja di Indomaret juga mikir-mikir soal harga. Akhirnya, nggak papa deh kalau harus bayar plastik. Toh cuma 300 perak ini~
Meski harapan untuk mengurangi konsumsi plastik tidak terwujud, tapi setidaknya, kantong plastik di Indomaret ada logo ramah lingkungannya. Lumayan lah ya jadi ngurang-ngurangin rasa bersalah.
Berdasarkan penelusuran, kantong plastik Indomaret ramah lingkungan karena terbuat dari bahan oxo-degradable (oxium) yang mudah terurai. Sehingga, kantong plastik ini akan hancur dalam 2 tahun. BTW, kantong plastik oxo-degradable ini sudah dimulai sejak tahun 2009, ygy.
Dalam perjalakannya, saya ingat betul bagaimana kondisi plastik Indomaret sebelum setipis sekarang ini. Plastiknya tebal, tidak gampang robek, dan aman dicantolkan ke stang motor meski jalan bergelombang.
Tapi sekarang?
Alamak, tipis nian lah si plastik ini! Setipis harapan kita kepada pemerintah. Bayangkan, masa beberapa kali belanjaan saya nyeprol di jalan gara-gara plastiknya robek? Kan kesel.
Plastik Indomaret tidak bisa lagi disimpan
Nah, gara-gara plastik yang semakin tipis ini, saya jadi tidak bisa menyimpan si plastik untuk digunakan di lain waktu. Padahal biasanya, plastik Indomaret biasa saya pakai untuk kantong sampah di rumah, media untuk ater-ater (kirim) jajan ke tetangga, dan bungkus yang lain-lain. Lumayan, saya jadi tidak perlu sengaja beli kantong plastik baru (yang tentu saja bahannya bukan oxium), karena ada plastik yang bisa disimpan untuk digunakan ulang. Hey, itu bentuk meminimalisir sampah plastik juga kan?
Tapi sekarang? Plastik setipis itu? Pikir ulang banget kalau mau disimpan untuk digunakan ulang. Pertama, sudah kadung sobek sejak pertama kali dipakai. Kedua, misal tidak sobek pun, ngeri ih kalau tiba-tiba dipakai buat kantong sampah, trus sampahnya nyeprol di dalam rumah pas mau diangkut ke depan. Capek, Bro, bersihinnya.
Jujur, ini bikin dilema. Niatnya ramah lingkungan, tapi kalau plastiknya makin tipis dan gampang rusak, akhirnya malah jadi sampah plastik baru yang nggak bisa dipakai lagi nggak, sih?
Plastik Indomaret pernah setebal itu
Maksud saya begini loh, Domar. Plastikmu itu, sudah dari 2009 pakai bahan yang bikin si plastik jadi ramah lingkungan. Hancur dalam dua tahun kan, ya?
Nah, dari 2009 itu, plastik kamu pernah setebal itu, loh. Kuat. Beneran deh nggak boong. Lha kok sekarang jadi tipis bingit itu bagaimana ceritanya, dah? Nyeprol belanjaanku, Domar. Nyeprol~
Kalau ini cara kamu untuk membuat kami beralih dari plastik ke kantong belanja, plis, ini nggak lucu. Ini malah terlihat seperti kamu sedang melakukan efisiensi anggaran kantong plastik. Kantong plastik yang semula tebal, diubah jadi tipis demi menekan biaya produksi.
Please, balikin aja lah kantong plastik Indomaret yang ramah lingkungan tapi tetap tebal itu. Biar kami bisa pulang dengan tenang tanpa waswas barang belanjaan bakal nyeprol di jalan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Bukan Konten Remeh! Tutorial Naik Pesawat Ini Esensial untuk Mayoritas Rakyat Indonesia
Konten tutorial naik pesawat milik Kak Desy Umbara sedang ramai di medsos. Tentu saja kalian bisa tebak kenapa ramai. Ada yang bilang norak, ada yang bilang amat helpful, dan ada yang bilang hidup Jokowi. Tentu saja yang terakhir saya bercanda. Jelas. Masak ya saya kudu klarifikasi sih.
Terus terang, menurut saya, konten tutorial Kak Desy itu nggak norak. Justru malah banyak sekali manfaatnya untuk umum. Terlebih konten tutorial naik pesawat ini.
Begini. Sebenarnya, banyak hal dalam hidup yang sebenarnya kita butuh, tapi kita nggak tahu caranya dan malu kalau mau tanya. Misal, cara pesen Starbucks. Atau, cara beli tiket KRL. Lho, buat orang yang daerahnya nggak ada KRL ini penting. Atau, cara memahami kenapa kawan kita ngomong proyek setinggi langit, tapi minta rokok.
Nah, makanya, saya bilang, sebenarnya, konten tutorial naik pesawat ini bagus banget.
Datang di tempat keberangkatan lebih awal
Perlu diketahui, proses naik pesawat jelas lebih lama ketimbang moda transportasi lain. Kalau moda transportasi lain tinggal beli tiket, kemudian menunggu sebelum jam keberangkatan. Kurang lebih hanya sesimpel itu saja. Kereta, bus, kapal, ya gitu-gitu aja.
Nah, proses naik pesawat itu beda. Check in-nya saja paling lambat sekitar 45-60 menit sebelum keberangkatan. Selain itu gate bandara biasanya tutup sekitar 10-30 menit sebelum keberangkatan.
Makanya, kalau saya pribadi ketika naik pesawat datang 2 jam sebelumnya. Mengingat biasanya saya bawa bagasi. Ditambah saya khawatir juga kalau jadwal keberangkatan dimajukan. Coba kalau naik bus/kereta, penumpang masih aman saja kalau tiba di tempat keberangkatan 15 menit sebelumnya.
Nah, tutorial naik pesawat jadi penting kan hanya dari memahami keberangkatan?
Peraturan naik pesawat lebih ketat daripada moda transportasi lain, makanya tutorial naik pesawat jadi penting
Peraturan naik pesawat jelas lebih ketat daripada naik moda transportasi lain. Ada banyak peraturan sederhana yang belum tentu orang banyak tahu. Bahkan untuk orang yang biasa naik pesawat sekalipun.
Salah satu peraturan naik pesawat yang kadang nggak diketahui atau lupa yaitu nggak boleh bawa korek gas, senjata tajam, dan korek elektrik ke kabin. Wajar sih kalau kadang penumpang lupa perkara ini. Soalnya, korek gas itu kan kecil, kadang kita saja lupa mengantongi barang itu di saku celana.
Peraturan macam ini sepertinya nggak ada di moda transportasi lain. Di transportasi lain malah lebih longgar lagi. Sampai-sampai di bus masih ada lho yang belum melarang penumpangnya merokok dalam perjalanan. Malah ada smoking room juga sih di bus.
Bandara itu luas banget
“Pangkalan” pesawat itu beda dari yang lain. Terutama dalam urusan luasnya. Rata-rata bandara internasional itu jauh lebih luas dari terminal maupun stasiun. Kalau kamu nggak biasa pasti akan bingung.
Lha gimana, wong di Bandara Soekarno-Hatta saja ada tiga terminal utama. Setiap terminal melayani rute dan maskapai yang berbeda-beda. Misal terminal 1 hanya melayani penerbangan domestik saja, sementara terminal 2 dan 3 melayani penerbangan domestik dan internasional.
Belum lagi kita berbicara gate di sana. Ada lebih dari 80 gate di pintu gerbang dunia internasional tersebut. Terdiri dari 21 gate di terminal 1, 21 gate di terminal 2 dan 38 gate di terminal 3. Jadi wajar banget kan kalau orang awam bingung naik pesawat? kita aja kadang bingung kok waktu naik bus di terminal besar.
Nggak semua orang punya kesempatan naik pesawat
Tiket pesawat itu mahal. Sekarang mahal banget malah. Lantaran harga tiketnya yang nggak murah, membuat nggak semua orang punya kesempatan naik moda transportasi ini. Orang yang punya budget pas-pasan tentu lebih memilih moda transportasi lain yang tiketnya lebih terjangkau. Macam bus, kereta atau kapal laut.
Malahan orang biasa kadang pertama kali naik pesawat ketika bertolak ke Tanah Suci. Untungnya pada momen ini mereka nggak sendiri. Ada pemandu dan teman rombongan yang menemani.
Terus terang, saya mendukung segala konten yang dibuat Kak Desy Umbara. Walaupun kontennya sederhana tapi sangat bermanfaat buat orang awam. Agar bisa menghindari dikatain ndeso oleh orang lain kalau nggak tahu berbagai hal yang dianggap sederhana.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Fakta Properti: Bukan Horor Hantu, Rumah Dekat Kuburan Dihantui Sulit Laku dan Harga Anjlok
Rumah dekat kuburan sering diidentikkan dengan horor. Padahal, tantangan utamanya justru rasa sepi, sulit bersosialisasi, dan ketidaknyamanan mengadakan acara. Nilai jual properti dekat pemakaman juga cenderung rendah serta sulit laku. Faktor-faktor rasional ini lebih dominan daripada kesan mistis semata.
Pertamina Turbo & DEX Melambung: Kelas Menengah Terjerat Krisis, Nyawa Taruhannya?
Pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax Turbo menjadi Rp19.500 dan Pertamina DEX menjadi Rp23.900 per 18 April 2026. Kenaikan harga BBM ini memicu kekhawatiran dampak signifikan pada kelas menengah. Berpotensi menaikkan biaya produksi dan harga barang, mendorong peralihan ke BBM subsidi, serta memengaruhi ekonomi masyarakat luas.
Bukan Manja, Anak Bungsu: Dilema Pahit Antara Meraih Cita
Ada yang bilang anak bungsu itu selalu dimanja, sehingga hidupnya tak seberat kakak-kakak mereka. Usia mereka pun paling muda jadi mereka paling disayang oleh orang tuanya. Mau sebesar apapun fisik anak bungsu, orang tua akan tetap menganggap mereka anak paling kecil. Jadinya, saudara yang lain selalu diminta untuk mengalah pada mereka.
Terdengar istimewa, tapi sebetulnya di dalam hatinya penuh perasaan dilema.
Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, saya mengamini narasi di atas. Saya kerap merasa dianggap anak kecil oleh orang tua saya. Tapi, hal itu bukan berarti hidup kami, para anak bungsu ini, penuh bahagia tanpa depresi. Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita. Apalagi di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja.
Ditinggal saudara dan dituntut membahagiakan orang tua
Saat anak bungsu masuk usia 25 tahun hal yang paling mungkin terjadi yakni saudara mereka telah berkeluarga. Bukan hanya punya pasangan, tapi masing-masing dari mereka sudah punya anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Maka, hal demikian sudah maklum kalau perhatian mereka akan terpecah. Hidup tak bisa lagi sepenuhnya untuk orang tua, apalagi adiknya. Tentu, kasih sayang yang paling utama adalah untuk anaknya sendiri.
Kita tak perlu memungkiri hal ini, setiap orang pasti punya prioritas masing-masing.
Nah, dari kondisi tersebut siapa lagi yang bisa diharapkan harus selalu ada untuk orang tua selain anak bungsu. Anak bungsu adalah komposisi paling ideal untuk menemani orang tua. Katanya, masih muda, jalannya masih panjang, hanya buang-buang waktu kalau cuma buat senang-senang di luar. Lebih baik menemani orang tua saja di rumah!
Ya, hal tersebut memang betul. Tapi, ketika kakak-kakak kita sudah pindah, pastilah rumah terasa sangat berubah. Terasa sepi dan sunyi!
Ingin berkontribusi, tapi belum jadi apa-apa
Anak bungsu bukan tidak mau membantu dan membahagiakan orang tua, tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia berusia 25 tahun. Di usia itu, anak bungsu baru saja meniti karir. Gajinya nggak seberapa, bahkan banyak yang masih jauh dari UMR. Berbeda kalau sudah menyentuh usia 30an, mungkin finansial mereka sudah agak stabil dan mapan.
Saya sebut mungkin ya karena sebetulnya sulit juga untuk mencapainya!
Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, “apakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?” Di sisi lain, memang hanya anak bungsu yang jadi harapan terakhir orang tua. Sebab sekali lagi, kakak-kakak mereka sudah berkeluarga semua.
Anak bungsu harus menggeser dulu cita-cita
Konon katanya, manusia itu akan terus hidup jika punya harapan dan cita-cita. Dengan cita-cita, kita akan memiliki rencana yang harus dilakukan, mana yang perlu dikejar, dan jalan mana yang akan kita lewatkan. Intinya, akan lebih tersusun. Tapi, bagi anak bungsu, harapan dan cita-cita itu kadang harus digeser dulu. Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya.
Hal ini bukan karena anak bungsu itu santai, malas, atau manja, tetapi karena cita-cita mereka berada pada orang tuanya. Yang paling utama adalah bagaimana orang tua mereka bahagia. Sebab, melihat usia orang tua yang semakin senja seperti tidak ada waktu lain untuk mengejar cita-cita. Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing!
Nah maka dari itu, mewakili para anak bungsu di dunia, saya ingin berpesan kepada kakak-kakak sekalian sebelum tulisan ini ditutup. Tengoklah sejenak adik dan orang tua kalian. Pasti mereka merasa sepi. Terkadang kasih sayang bukan cuma tentang uang kok, tapi juga kehadiran yang tulus dari orang-orang tersayang!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Fakta Shopee VIP: Benarkah Justru Bikin Kantong Bolong?
Shopee VIP menawarkan diskon besar, gratis ongkir, dan pengiriman cepat. Namun, status prioritas ini memicu ilusi hemat, mendorong belanja tak perlu. Diskon membentuk siklus pengeluaran berlebihan. Penting mengontrol diri, bertanya “Apakah saya tetap beli tanpa diskon?” agar Shopee VIP benar-benar menguntungkan.
Paradoks Stafaband: Situs Haram Paling Berjasa yang Masih Beroperasi di Tengah Gempuran Legal
Stafaband adalah situs unduh lagu ilegal populer di kalangan remaja tahun 90-an dan 2000-an. Situs ini menawarkan akses musik gratis saat pilihan terbatas dan mahal. Meskipun sempat diblokir pemerintah pada 2015, Stafaband masih eksis. Fungsinya kini banyak digantikan platform streaming musik legal seperti Spotify, namun masih dicari.
Tas ASUS: Benarkah Paling Awet? Ulasan Mendalam Menguak Faktanya.
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, membawa buku dan laptop menjadi sebuah kewajiban. Guna menampungnya, maka dibutuhkan tas ransel. Tas yang dipakai di punggung, dengan dua bahu. Dari pengalaman saya memakai macam-macam tas ransel, saya merasa bahwa tas ASUS adalah yang terbaik. Terbaik yang saya maksud dalam hal fungsi dan kualitas. Tahan banting. Dan tidak mudah rusak.
Sejak kecil hingga lulus sekolah, saya telah menggunakan banyak merek tas ransel. Dan rata-rata tas yang dipakai saat itu hanya bertahan satu sampai dua tahun saja. Walhasil setiap satu tahu sekali saya harus membeli tas baru.
Namun setelah menggunakan tas ransel ASUS, saya jadi jarang membeli tas. Karena walau sudah lama dipakai tas ASUS, saya masih nyaman digunakan.
Berawal dari membeli laptop dan mendapat tas ASUS
Setelah lulus dari sekolah, hal yang saya butuhkan tentu adalah laptop. Agar digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
Cerita bermula saat saya singgah di sebuah pusat perbelanjaan elektronik di Jogja. Namanya Jogjatronik. Kala itu pilihan saya jatuh pada laptop bermerek ASUS. Jujur waktu itu saya tidak paham spesifikasi dan merek laptop. Saya hanya butuh laptop untuk mengerjakan tugas. Itu saja.
Setelah saya menyelesaikan transaksi, ternyata saya mendapatkan bonus tas ransel, yang juga bermerek ASUS. Saya sendiri tidak terlalu paham apakah setiap membeli laptop ASUS pasti mendapatkan tas ransel atau tidak. Yang pasti tas ransel itu saya gunakan untuk kuliah sekalian. Sebab kebetulan saya juga belum punya tas ransel.
Tas yang saya dapatkan adalah tas ASUS yang umum digunakan banyak orang. Warnanya hitam. Desainnya simpel dan elegan. Kalau lagi pakai tas ini saya terlihat seperti mahasiswa yang rajin ke perpus, gemar baca buku, dan sering bertanya ke dosen. Menurut saya, tas ini sering dipakai oleh orang-orang yang rajin dan pandai. Sedangkan saya tidak.
Sebetulnya tas ini diperuntukkan untuk membawa laptop. Makannya desainnya tidak dibuat neko-neko. Alias sederhana dan rapi.
Orang yang membawa laptop di tas umumnya akan terasa pegal di bagian punggung. Namun tidak demikian jika menggunakan tas ASUS. Sebab, tas ini punya bantalan punggung yang nyaman. Tali bahu ranselnya juga empuk. Saya yakin anda tidak akan cepat pegal saat memuat beban berat dengan tas ASUS.
Tas paling awet yang pernah saya pakai
Dari awal dibeli (tahun 2018) sampai sekarang, tas ASUS masih saya gunakan. Kalau dulu saya gunakan untuk kuliah, sekarang untuk kerja. Beban yang dibawa juga tidak jauh-jauh dari laptop dan buku. Selain untuk kerja, tas ini juga saya fungsikan untuk mengemas pakaian saat akan pergi ke luar kota.
Dengan waktu yang kurang lebih mencapai 7 tahun, jelas tas ASUS termasuk kategori awet. Sampai sekarang tas ASUS saya masih berfungsi dengan baik. Tidak ada kerusakan dan sobekan sama sekali. Hanya saja pudar di bagian label bertuliskan “ASUS”. Juga di bagian kancing. Bagi saya keduanya bukanlah masalah yang serius sebab tas ini masih bisa difungsikan dengan baik.
Bukankah barang yang umurnya mencapai 7 tahun itu termasuk awet? Lagi pula ia dipakai untuk kegiatan sehari-hari.
Selain berdasar pengalaman saya sendiri, saya melihat banyak orang lain juga memakai tas ASUS saat beraktivitas. Bahkan, suatu ketika tas saya hampir tertukar dengan tas orang lain. Maka menjadi jelas bahwa tas ini dipakai banyak orang karena kualitasnya yang berbicara.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.