Joko Widodo (Jokowi) saat mendatangi Polda Metro Jaya. Foto/Dok SindoNews
JAKARTA – Eks Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno menyebut seharusnya kasus ijazah mantan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) yang menjerat Roy Suryo Cs selesai. Sebab, sesuai KUHAP baru, Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) itu seharusnya diberlakukan pada semua Terlapor, bukan hanya satu hingga dua Terlapor.
“Dengan terbitnya SP3, baik yang pertama Eggi Sudjana hingga Pak Rismon, kalau kita baca pasal 79 sampai 84 saja, perkara ini sudah ditutup, case close, nggak bisa dibicarakan lagi,” ujarnya dalam program Rakyat Bersuara bertema Eksklusif! Rismon-Roy Adu Bukti Ijazah yang ditayangkan iNews, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, ada perbedaan penyidikan aparat penegak hukum dalam kasus ijazah Jokowi tersebut. Dalam kasus tersebut, disebutkan adanya pemeriksaan labfor, SP2 Lidik, ada berkas dikirim, dan sebagainya.
Namun, kata dia, dalam pandangannya saat melihat perjalanan terakhir kasus itu, sebetulnya laporan polisi itu dari Jokowi, Andi Kurniawan, Lechumanan. Dengan terbitnya SP3, seharusnya laporan kasus itu selesai.
Pakar Hukum Soroti Kompleksitas Kasus Tambang, Dukung Langkah Tegas Kejagung
loading…
Hery Susanto keluar dari Gedung Bundar Jampidsus Kejagung mengenakan rompi tahanan, Kamis (16/4/2026). Foto: Yudistiro Pranoto
JAKARTA – Pakar Hukum dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Fatahillah Akbar menyoroti kompleksitas kasus tambang. Penanganan kasus tambang yang tengah menjadi perhatian publik, termasuk penangkapan Ketua Ombudsman Hery Susanto terkait dugaan suap dalam pembuatan rekomendasi menunjukkan kompleksitas persoalan di sektor tersebut.
Fatahillah Akbar mengakui pertambangan seringkali berkait dengan banyak pihak. Sehingga ketika ada persoalan hukum seringkali banyak pihak yang terkait. “Dalam kasus penangkapan Ketua Obdusman dalam kasus tambang, ini terkait dengan dugaan suap dalam pembuatan rekomendasi,” kata Fatahillah, Selasa (21/4/2026).
Tidak heran jika kasus di nikel Sulawesi Tenggara bisa melibatkan pihak lain. Di tengah kompleksitas tersebut, Kejaksaan Agung (Kejagung) dinilai aktif dalam melakukan penindakan atas kasus-kasus tambang.
Program MBG: Pendapatan Petani Meroket 60%, Jaminan Pasokan Sayuran di Tengah Krisis Kemarau
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak positif bagi petani di Boyolali, Jawa Tengah. Petani mengalami peningkatan permintaan serta stabilitas harga komoditas pertanian. Kondisi ini memperkuat perputaran ekonomi lokal dan mendukung ketahanan pangan. Bantuan pupuk juga diterima petani untuk keberlanjutan produksi sayuran.
Harga Sayur Lebih Stabil Setelah Ada MBG, Petani Boyolali Harap Program Terus Berlanjut
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga mulai berdampak pada petani di daerah. Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, petani mengakui harga sejumlah komoditas sayuran menjadi lebih stabil sejak program MBG bergulir. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Boyolali, Idola 92.6 FM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga mulai berdampak pada petani di daerah. Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, petani mengakui harga sejumlah komoditas sayuran menjadi lebih stabil sejak program MBG bergulir.
Karisudin, petani asal Dusun Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, mengatakan dirinya menanam berbagai jenis komoditas sayur, mulai dari bawang merah hingga cabe. “Sayuran seperti selada, sawi dan kubis. Dan juga yang saya tanam saat ini adalah cabe,” katanya saat ditemui di ladang miliknya, Senin (20/4).
Ia menjelaskan, cabe merupakan komoditas dengan hasil panen cukup besar dalam sekali petik, meski pemasarannya masih mengandalkan pasar tradisional. “Sekitar satu kuintalan. Untuk pemasaran kita masih ke pasar tradisional, seperti pasar sayur di Cepoko dan Bandungan,” ungkap petani sayur-mayur ini.
Menurut Karis, keberadaan program MBG memberikan dampak berbeda pada setiap komoditas. Bawang merah menjadi salah satu yang paling merasakan manfaat karena harganya lebih stabil. “Tapi untuk cabe mungkin karena MBG tidak memerlukan cabe begitu banyak, jadi harganya masih fluktuatif, naik turun seperti itu,” jelasnya.
Dengan adanya pola ini, kata Karis, petani mulai menyesuaikan pola tanam dengan kebutuhan program MBG agar mendapatkan harga yang lebih pasti dan pendapatan yang lebih jelas.
“Untuk peningkatan panen mungkin lebih banyak menanam yang komoditas yang dibutuhkan untuk MBG, karena harganya yang lumayan stabil. Jadi untuk harganya tetap, pasti ada kenaikan dengan komoditas yang semakin banyak,” urainya.
Karis berharap program MBG tetap konsisten menyerap hasil pertanian, khususnya sayuran, agar harga di tingkat petani tidak kembali tertekan.
“Untuk program MBG mungkin ada dampak tersendiri bagi petani, jika tidak membutuhkan sayur mayur dari petani lagi. Mungkin harga akan terhambat lagi. Mungkin (program MBG) dipertahankan aja, apalagi untuk komoditas sayur sayuran dipertahankan diprioritaskan di dapur-dapur MBG,” paparnya.
Karis juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah atas program MBG yang dinilai membantu meningkatkan harga hasil pertanian.
“Terima kasih untuk Pak Prabowo karena program MBG yang dijalankan saat ini membuat harga sayur mayur di petani lebih naik dari biasanya. Semoga ke depannya MBG tetap lancar dan lanjut terus tetapi tetap perhitungkan harga-harga di petani,” ujarnya.
Pengakuan petani ini menjadi gambaran bahwa program MBG tidak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai memberi dampak nyata terhadap stabilitas harga serta kesejahteraan petani di daerah. (her/dav)
Tuntas di Tapanuli Utara! 103 Huntap Siap Dihuni, Relokasi Dimulai Mei
BNPB mempercepat pembangunan 103 hunian tetap (huntap) di Desa Dolok Nauli, Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Tujuh puluh unit pertama ditargetkan rampung Mei mendatang untuk relokasi pengungsi korban banjir bandang dan longsor. Pembangunan huntap ini terus berjalan, dengan 33 unit lainnya dalam proses.
Indonesia Pacu Swasembada 8 Pangan Strategis: Target Ambisius 2026 di Depan Mata
Misi swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto mulai terwujud. Setelah beras surplus akhir 2025, delapan komoditas pangan strategis diproyeksikan swasembada Juni 2026. Data Bapanas menunjukkan ketersediaan nasional melampaui kebutuhan, mencakup jagung, gula, cabai, bawang merah, daging ayam, dan telur ayam. Ini memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Program MBG Jangkau Perbatasan Indonesia–Timor Leste, Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Upaya ini kini diperkuat melalui pembangunan infrastruktur pendukung di kawasan perbatasan negara. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah telah menuntaskan pembangunan dua unit Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Upaya ini kini diperkuat melalui pembangunan infrastruktur pendukung di kawasan perbatasan negara.
Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah telah menuntaskan pembangunan dua unit Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Kedua fasilitas tersebut berlokasi di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini dan PLBN Motamasin, Nusa Tenggara Timur.
Kehadiran dapur MBG di kawasan perbatasan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan akses gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat peran PLBN sebagai pusat pelayanan sekaligus penggerak kesejahteraan warga.
Pembangunan fasilitas difokuskan pada wilayah yang memiliki kebutuhan layanan gizi mendesak, termasuk daerah perbatasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
Dengan rampungnya pembangunan SPPG di PLBN Wini dan Motamasin, fasilitas ini diharapkan mampu mendukung pelaksanaan Program MBG, khususnya bagi anak-anak di wilayah perbatasan. Selain meningkatkan kualitas asupan gizi, keberadaan dapur MBG juga diyakini dapat menggerakkan roda ekonomi lokal.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa program ini memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi.
“Program MBG adalah amanat Presiden Prabowo Subianto untuk mencetak generasi Indonesia yang sehat dan cerdas. Program ini juga mendorong ekonomi lokal dengan melibatkan petani, nelayan, dan UMKM. Dengan demikian, MBG bukan hanya program sosial, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan nasional,” ujarnya, ditulis Senin (20/4).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan wujud nyata kehadiran negara di kawasan perbatasan.
“Ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam memastikan akses gizi yang layak, menjaga stabilitas harga, serta menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat perbatasan,” tambahnya.
Fasilitas SPPG
Secara teknis, kedua SPPG tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang memenuhi standar kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. Mulai dari dapur utama, area pencucian alat dan bahan makanan, gudang kering dan basah, hingga ruang penyimpanan peralatan.
Selain itu, tersedia pula fasilitas parkir, jaringan air bersih, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Tak hanya itu, infrastruktur tambahan seperti ruang panel, tempat pembuangan sampah (TPS), serta penataan lanskap kawasan turut dibangun guna mendukung operasional yang optimal.
SPPG di PLBN Wini berdiri di atas lahan seluas 1.408,63 meter persegi di Kabupaten Timor Tengah Utara, sementara SPPG di PLBN Motamasin dibangun di atas lahan seluas 1.469,12 meter persegi di Kabupaten Malaka.
Dengan kehadiran fasilitas ini, pemerintah berharap program MBG tidak hanya menjangkau masyarakat secara lebih merata, tetapi juga menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah perbatasan yang selama ini membutuhkan perhatian lebih. (her/dav)
Dapur MBG: Bagaimana Santri Yatim Ini Berhasil Topang Ekonomi Keluarga?
Muhammad Zainuddin Alwi, santri yatim dari Purwodadi, merasakan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bekerja di SPPG Klodran, ia kini menopang ekonomi keluarga dan mengembangkan keterampilan baru. Kisah Alwi menunjukkan MBG tidak hanya penuhi gizi, tetapi juga membuka peluang kerja serta memperkuat ekonomi keluarga di daerah.
Transformasi Ekonomi Petani Boyolali: MBG Picu Gelombang Permintaan Sayur
Petani Desa Senden, Boyolali, Jawa Tengah, mengalami peningkatan hasil panen signifikan. Wati, petani sayur, kini memanen hingga 300 kg cabai dan 60 kg kubis per hari. Peningkatan ini terjadi berkat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG mendorong produksi dan kemajuan petani di lereng Gunung Merbabu.
Dampak Ganda yang Mengejutkan: Gizi Anak Sekolah Membaik, Dompet Pekerja Tahu Menebal
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) inisiasi Presiden Prabowo Subianto menjamin gizi anak sekolah, lansia, dan ibu hamil. Program ini juga meningkatkan kesejahteraan pekerja UMKM, seperti pabrik tahu di Ngawi. Produksi tahu UMKM Laris Tahu Jaya meningkat, berdampak pada penghasilan karyawan. MBG mendukung ekonomi lokal.