Di Balik Kemeriahan Festival Jondang Desa Kawak: Mengapa Bola dan Perang Api Jadi Magnet Utama?
Festival Jondang Desa Kawak, Jepara, sukses digelar Selasa (21/4/2026) malam. Tradisi tahunan ke-12 ini menampilkan atraksi bola api dan perang api. Pemerintah Kabupaten Jepara mendukung pelestarian budaya ini sebagai potensi pengembangan pariwisata dan penggerak ekonomi desa. Ini memperkuat identitas lokal.
Di Balik Pujian BPJPH: Pemprov Jateng Mantap Genjot Sertifikasi Halal
BPJPH mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam percepatan sertifikasi halal. Upaya ini memperkuat ekosistem halal di Jawa Tengah. Dengan 576.000 target sertifikat tahun ini, Jawa Tengah optimistis memimpin nasional dalam produk halal, mendukung pariwisata dan ekonomi syariah. Mandatori halal tahap kedua berlaku Oktober 2026.
Gen Z Bernama Sri: Adakah Stigma Usia di Balik Label Bibi Kantin?
Nama saya Sri Molati. Jujur saja, sebagai Gen Z, saya pernah keberatan sekaligus agak sedih dengan nama “Sri”. Bukan maksud tidak bersyukur atas pemberian nama ini. Apalagi Sri itu punya arti yang bagus. Namun, sebagai anak muda yang hidup di tengah gempuran nama keren rasanya jomplang banget.
Di sekitar saya, ada nama-nama kekinian seperti Shareen, Nayla, dan Raline. Lalu, tiba-tiba ada nama Sri yang mengikuti. Kan rasanya jomplang banget.
Kadang saya merasa seperti Roro Jonggrang yang lahir di zaman yang salah. Saya Gen Z, tapi rasanya tua banget.
Pernah suatu kali, saya datang ke sebuah tempat yang perlu antre dan akan dipanggil nama ketika sudah giliran saya. Nah, si petugas memanggil saya begini: “Ibu Sri!”
Dia memanggil pakai “ibu” di teman-teman saya sesama Gen Z. Petugas memanggil nama teman-teman saya pakai tambahan “Kak”. Kalau saya, “Ibu”. Sudah jelas, semua refleks tertawa keras. Malu, pengin banget saya rasanya pergi dari tempat itu.
Masalahnya, rasa malu ini tidak berhenti sampai sana. Setelah kejadian itu, teman-teman saya selalu memanggil nama “Ibu Sri”. Saya nggak bisa apa-apa selain menerima. Mereka hanya bercanda, meski bagi saya rasanya malu banget.
Gen Z dengan nama Sri dikira pembantu
Banyak orang memberi nama sebagus mungkin untuk nama anaknya. Namun, kadang, ada orang tua yang mungkin tidak memperkirakan bahwa kelak, anaknya yang Gen Z, akan menanggung derita tersendiri.
Sebagai Gen Z dengan nama Sri, saya merasakan derita bernama stigma itu. Ini menjadi perjuangan tersendiri, bahkan sebelum saya membuka mulut.
Iya, saya tahu, Sri itu punya makna yang bagus. Ada juga yang mengaitkannya dengan Dewi Sri atau dewi kesuburan. Namun, ada sebuah stigma yang muncul terkait nana Sri. Salah satunya karena tontonan di televisi. Banyak sinetron yang menjadikan nama Sri sebagai pembantu. Seakan-akan ini jadi “seragam wajib”.
Makanya, bagi Gen Z dengan nama Sri, selalu ada keresahan tersendiri ketika harus memperkenalkan diri di lingkungan baru. Saat menyebut nama Sri, saya selalu menemukan ada yang tertawa atau senyum tipis sepersekian detik. Ada juga yang sampai nyeletuk: “Pasti orang Jawa, ya!”
Bagi saya, itu menjadi semacam “kode halus” dari sebuah ejekan yang dibungkus dengan rapi. Pengin banget rasanya nyeletuk balik: “Memang kenapa kalau orang Jawa!”
Candaan bibi kantin
Kadang saya merasa identitas saya sudah ditentukan sebelum orang mengenal siapa sebenarnya saya. Sebagai Gen Z, saya lumayan melek soal personal branding. Menurut saya, ketika nama sudah memiliki ”branding” tertentu, butuh usaha ekstra untuk mengubahnya.
Misalnya saya, dengan nama Sri, kerap mendapat candaan “bibi kantin”. Misalnya, ada yang bilang gini: “Sri, tolong ambilkan minum, dong. Udah cocok banget sama nama kamu.” Mereka tertawa lepas setelah bilang begitu. Seakan-akan saya adalah bibi kantin.
Kalau marah, teman-teman akan menganggap saya gampang baperan. Makanya, saya hanya bisa menahan keresahan ini meski mengikis rasa percaya diri saya.
Tragedi nama Sri berubah jadi Sharly saat memesan kopi
Suatu sore di hari Jumat, saya dan beberapa teman mampir ke sebuah coffee shop viral. Seperti biasa, setelah memilih menu, barista akan menanyakan nama. Saya, dengan jelas menyebut nama Sri.
Selang beberapa menit menunggu, barista kemudian memanggil saya. Dia bilang begini:
Awalnya saya cuek, toh bukan nama saya. Namun, setelah memanggil beberapa kali, kok nggak ada yang maju untuk mengambil pesanan tersebut. Lagi-lagi saya cuek karena bukan nama saya.
Nggak lama, salah seorang karyawan menghampiri saya untuk mengantar pesanan. Dia bilang, “Kak, ini pesanan Kakak.”
Jelas saya bingung karena kaget. Teman saya tiba-tiba tertawa sambil bilang, “Anjay, Kak Sharly lupa nama sendiri.”
Dan di saat itulah saya mengerti. Mungkin, barista coffee shop tersebut malu ada konsumen Gen Z bernama Sri. Merena dengan sengaja mengubah nama saya agar terlihat lebih estetik.
Saya memang malu dengan nama Sri. Namun, saya juga tidak mau durhaka dengan mengubah nama begitu saja.
Saat ini, saya sedang belajar untuk menerima nama Sri sebagai bagian dari dinamika Gen Z. Meski terdengar ndeso, saya bersyukur belum punya pikiran untuk mengubah nama. Mau gimana pun, nama ini jadi doa yang tulus dari orang tua.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Titik Balik Apple: macOS 27 Resmi Cabut Dukungan untuk Mac Intel Lawas
Pengguna Mac berbasis Intel tidak lagi menerima dukungan macOS 27. Apple secara resmi mengakhiri era prosesor Intel, fokus pada chip Apple Silicon. Pembaruan sistem operasi mendatang hanya tersedia untuk perangkat ber-chip M. Mac lama akan kehilangan fitur dan peningkatan performa, meskipun pembaruan keamanan tetap diberikan pasca macOS 26.
Prabowo: Dharma Santi 2026, Titik Balik Eratkan Persaudaraan Bangsa
Presiden Prabowo Subianto mengucapkan selamat kepada umat Hindu di Indonesia atas perayaan Dharma Santi Nasional 2026 dan Tahun Baru Saka 1948. Beliau berharap momentum ini mempererat persaudaraan. Prabowo menyampaikan ucapan ini melalui media sosial, sekaligus memohon maaf tidak dapat hadir langsung.
Misteri Satoshi Nakamoto: Adam Back Kembali Terseret, Benarkah Ia Otak di Balik Bitcoin?
Identitas Satoshi Nakamoto, pencipta Bitcoin, masih misteri. Spekulasi terbaru The New York Times mengaitkan Adam Back, CEO Blockstream, dengan sosok tersebut. Laporan menyoroti kemiripan gaya tulisan dan aktivitas online. Back membantah klaim ini. Bukti kriptografis solid belum ada.
Indonesia & Rusia: Menguak Alasan di Balik Negosiasi Pasokan Energi Strategis
Pemerintah Indonesia mengintensifkan diplomasi energi dengan Rusia untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendampingi Presiden Prabowo Subianto membahas pasokan minyak mentah, LPG, serta investasi energi. Rusia menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan energi Indonesia, termasuk suplai minyak, gas, dan pengembangan energi nuklir melalui skema G2G dan B2B.
Momen Langka Putin Antar Prabowo: Kehangatan Tak Terduga di Balik Layar Rusia
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin bertemu di Istana Kremlin, Moskow, Senin (13/4). Pertemuan bilateral ini memperkuat hubungan Indonesia-Rusia. Kedua pemimpin bertukar cinderamata: Putin memberi samovar; Prabowo memberi vas batik dan miniatur Borobudur. Ini menegaskan komitmen persahabatan serta kerja sama bilateral kedua negara.
Di Balik Dapur MBG, Perjuangan Agus Menghidupi Keluarga dan Melunasi Utang
Di balik dapur MBG, menyimpan kisah perjuangan seorang kepala rumah tangga. Agus Yusuf Widodo (53) pekerja di bagian area dapur SPPG Khusus di Kabupaten Ngawi, menyimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana. Selain bekerja di dapur program MBG, ia juga beternak delapan ekor kambing dan sesekali menjadi tukang pijat keliling untuk menambah penghasilan dan melunasi utangnya. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Ngawi, Idola 92.6 FM-Pagi itu, Agus Yusuf Widodo (53) sudah sibuk membersihkan area dapur SPPG Khusus di Kabupaten Ngawi. Dengan gerakan cekatan, ia menyapu dan merapikan ruang kerja, memastikan area dalam dan luar dapur tetap bersih untuk aktivitas memasak.
Di balik rutinitas itu, Agus menyimpan kisah perjuangan yang tidak sederhana. Selain bekerja di dapur program MBG, ia juga beternak delapan ekor kambing dan sesekali menjadi tukang pijat keliling untuk menambah penghasilan.
“(Penghasilan jadi tukang pijat) tergantung orangnya. Kadang satu orang Rp50 ribu, kadang dua orang Rp100 ribu. Kadang-kadang tidak dapat pelanggan (tidak memijat),” curhatnya, ditulis Minggu (12/4).
Keterbatasan fisik tak menghalangi langkah Agus untuk terus bekerja. Sejak kecil, ia mengalami gangguan pendengaran akibat sakit panas, dan baru lima tahun terakhir menggunakan alat bantu dengar.
“Kalau tidak pakai alat bantu dengar, saya tidak jelas (mendengarnya),” katanya.
Kesempatan bekerja di dapur MBG datang dari informasi seorang teman. Tanpa ragu, Agus mencoba melamar, dan kini sudah lebih dari satu tahun ia menjadi bagian dari program tersebut.
Bagi Agus, lingkungan kerja yang menerima kondisinya menjadi salah satu hal yang membuatnya betah. Ia mengaku senang dan semakin bersemangat menjalani pekerjaan setiap hari.
“Lumayan bagus dan lancar, alhamdulillah. Saya semangat dan senang bekerja (di dapur MBG). Teman-teman juga menerima kondisi saya,” ucapnya.
Menurut Agus, penghasilan dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan di dapur MBG menjadi penopang utama kebutuhan keluarga. Gaji yang diterima setiap dua minggu sekali ia manfaatkan dengan penuh perhitungan.
“Hasilnya (gaji) cair dua minggu sekali. Ini untuk bayar utang bank. Dua minggu berikutnya untuk kebutuhan,” katanya.
Utang yang ia cicil bukan tanpa alasan. Agus menggunakannya untuk membiayai pendidikan anaknya, sebuah prioritas yang ia perjuangkan di tengah keterbatasan.
“Saya mencicil di bank untuk biaya sekolah anak saya,” imbuhnya.
Program MBG pun menjadi titik terang dalam kehidupannya. Dari pekerjaan sederhana di dapur, Agus kini bisa perlahan menata kembali kondisi keuangannya.
Jika diberi kesempatan bertemu Presiden Prabowo Subianto, Agus hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih, Pak Prabowo. Saya bisa bekerja di MBG untuk mencicil utang dan memenuhi kebutuhan lainnya,” tuturnya. (her/dav)
Kebijakan Baru Jateng: Bea Balik Nama Kendaraan Bekas Kini Gratis, Apa Artinya?
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Kedua (BBNKB II) untuk kendaraan bekas. Kebijakan ini berlaku sejak 5 Januari 2025, bertujuan mendorong tertib administrasi dan kepatuhan pajak daerah. Selain pembebasan BBNKB II, Pemprov Jateng juga memberikan diskon 5% Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahun ini.