Pemkab Temanggung Gelar Lomba Bertutur: Jurus Jitu Asah Komunikasi, Lestarikan Budaya Lokal
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Temanggung sukses menggelar Lomba Bertutur tingkat SD/MI pada 22-23 April 2026. Acara di Sasana Bhakti Pustaka ini diikuti 37 peserta dari SD/MI se-Kabupaten Temanggung. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan literasi dini dan memperkenalkan sejarah lokal. Muhammad Furqan A. dari SD Muhammadiyah Temanggung meraih juara pertama.
Prabowo Dorong Pesilat Muda: Lestarikan Budaya, Taklukkan Dunia dengan Pencak Silat
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan inspiratif di Munas IPSI. Pesan pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya bangsa mengesankan pesilat muda Fiqih Bagus Pratama. Fiqih berharap pencak silat masuk Olimpiade dan dikenal dunia sebagai bela diri kuat serta bermoral. Generasi muda didorong mempersiapkan diri, berlatih keras.
Prabowo Tekankan Pentingnya Lestarikan Pencak Silat: Bagian Penting Budaya Indonesia
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pentingnya melestarikan pencak silat sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia. Hal itu disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Sabtu (11/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pentingnya melestarikan pencak silat sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.
Menurutnya, pencak silat merupakan cerminan identitas, karakter, dan kepribadian bangsa yang telah ada sejak lama dan tetap bertahan hingga kini, meski sempat mengalami pelarangan pada masa penjajahan.
“Kenapa pencak silat harus kita jaga? Pencak silat harus kita lestarikan? Pencak silat harus kita bina? Karena pencak silat adalah bagian dari budaya kita,” ujar Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Sabtu (11/4).
IIa melanjutkan, sejak dahulu pencak silat tidak hanya digunakan untuk membela diri, tetapi juga untuk melindungi keluarga dan desa. Dengan kata lain, pencak silat merupakan ilmu ksatria dan pertahanan yang lahir dari determinasi bangsa Indonesia untuk menjaga komunitasnya.
Semangat tersebut, lanjutnya, tidak muncul tanpa alasan. Ia berkisah bahwa pada masa lalu, banyak bangsa asing datang ke Indonesia karena kekayaan alamnya. Sebagai bangsa yang ramah, masyarakat Indonesia menyambut mereka dengan baik dan mempersilakan untuk beraktivitas.
Namun, bangsa-bangsa tersebut kemudian memanfaatkan keramahan bangsa Indonesia. Mereka enggan kembali ke negaranya dan justru mengeksploitasi sumber daya Indonesia, sehingga bangsa Indonesia harus mencari cara untuk melawan dan mengusir mereka.
“(Bangsa-bangsa) yang datang itu melihat, ‘kok bangsa ini (Indonesia) baik banget, ya?’. (Mereka) enggak mau pulang-pulang. Terpaksa kita harus usir, harus lawan mereka,” jelas dia.
Prabowo melanjutkan, pelatihan pencak silat pun kemudian sempat dilarang di era penjajahan. Kondisi ini sempat membuat mereka yang tertarik dengan pencak silat untuk berlatih diam-diam dan pada malam hari di tempat terpencil, seperti gunung dan desa-desa.
Namun, tantangan tersebut tak lantas membuat pencak silat punah. Justru, pelestariannya masih berlanjut sampai sekarang.
Atas dasar itu, Prabowo menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga, tetapi juga mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Oleh karenanya, pencak silat harus terus dijaga dan dilestarikan.
“Pencak silat adalah seni bela diri adalah benar. Tapi lebih dari itu, pencak silat mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, ilmu leluhur kita yang kita pegang teguh,” tambahnya. (her/dav)
Prabowo Ungkap Kunci Kebesaran Bangsa: Bukan Hanya Ekonomi, Tapi Akar Budaya
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budayanya. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak merasa rendah diri dalam memandang bangsanya sendiri, terlebih Indonesia memiliki warisan budaya yang melimpah. Prabowo menyampaikan pesan tersebut saat membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Sabtu (11/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budayanya. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak merasa rendah diri dalam memandang bangsanya sendiri, terlebih Indonesia memiliki warisan budaya yang melimpah.
Prabowo menyampaikan pesan tersebut saat membuka Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Sabtu (11/4).
Prabowo menilai masyarakat Indonesia perlu menghormati budayanya sendiri karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kekuatan jiwa dan semangat bangsa. Menurut pengamatannya, bangsa-bangsa yang maju dan makmur umumnya memiliki semangat yang mencerminkan penghormatan terhadap budaya mereka.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budaya sendiri. Bangsa yang besar menghormati orang tuanya, leluhurnya,” ujar Prabowo.
Seruan tersebut bukan digaungkan tanpa alasan, melainkan berkaca dari sejarah Indonesia. Ia berkisah bahwa pada masa lalu, golongan terdidik di Indonesia sempat terkesima dengan hal-hal yang berasal dari luar negeri. Seiring waktu, sikap tersebut berkembang menjadi pola psikologis yang dikenal sebagai inferiority complex, yakni perasaan rendah diri dan merasa tidak sebanding dengan bangsa lain.
Padahal menurutnya, banyak aspek dari Indonesia yang sangat layak dibanggakan, terutama hasil kebudayaan yang bersifat unik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk tetap bangga dan menghormati warisan budaya yang telah diwariskan sejak dahulu.
“Kita bangga pakai teluk belanga. Kita bangga pakai kopiah. Kita bangga pakai sarung. Kita bangga pakai songket. Ini budaya kita,” jelas Prabowo.
Namun demikian, hal tersebut bukan berarti masyarakat harus bersikap tertutup terhadap budaya luar. Menurutnya, Indonesia tetap menghormati negara lain, tetapi tidak boleh melupakan jati diri bangsa.
“Kita bangga dengan budaya kita sendiri. Kita hormat sama semua negara, tapi kita tidak boleh lupa bangsa kita sendiri,” pungkas dia. (her/dav)
Hemat Energi Bukan Sekadar Slogan: Ini Wajah Baru Budaya Kerja ASN Pemprov Jateng
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerapkan transformasi budaya kerja ASN untuk hemat energi. Kebijakan ini, berdasarkan Surat Edaran 1 April 2026, mencakup Work From Home (WFH) setiap Jumat, pembatasan perjalanan dinas, serta prioritas rapat hybrid. Tujuannya meningkatkan efisiensi, mengurangi emisi karbon, dan mendorong transportasi berkelanjutan di lingkungan kerja.
Jateng Perkuat Identitas Budaya: Pemprov Dukung Penuh Cap Go Meh Tingkat Provinsi
Perayaan Cap Go Meh 2026 tingkat provinsi akan diselenggarakan di Manyaran, Kota Semarang, 15 Maret. DPD Gema Sadhana Jawa Tengah menginisiasi acara ini sebagai simbol persatuan dan harmoni kebudayaan. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendukung kegiatan ini. Kelenteng Welahan Jepara juga diusulkan menjadi cagar budaya.
Membongkar Krisis Komunikasi SEAblings vs KNetz: Identitas Digital dalam Pusaran Konflik Budaya
Fenomena SEAblings vs KNetz adalah krisis komunikasi digital lintas budaya yang viral. Peneliti BRIN Fitria Ayuningtyas membahas konflik netizen Korea Selatan dan Asia Tenggara ini. Isu penting ini memengaruhi persepsi global serta hubungan Indonesia-Korea Selatan. Konflik dipicu insiden konser dan komentar merendahkan, lalu membentuk solidaritas SEAblings sebagai respons kolektif.
Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang
Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya, Mr Ye Su, merayakan Imlek 2026 di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang. Acara “Imlek Vaganza Harmoni Nusantara” ini menunjukkan toleransi beragama dan potensi hubungan bilateral. Konjen China turut menulis Huruf Fu, simbol keberuntungan, untuk dibagikan kepada pengunjung.
Imlek Semawis 2026: Semarang Kembali Unjuk Harmoni Budaya dan Toleransi Sejati
Pasar Imlek Semawis 2026 Semarang dimulai 7 Februari dengan Tradisi Ketuk Pintu di Klenteng Tay Kak Sie. Acara utama 13–15 Februari di Pecinan Semarang bertema “Kuda Datang, Sukses Menjelang” Shio Kuda Api. Wali Kota Semarang menegaskan kegiatan ini merefleksikan toleransi dan keberagaman budaya, serta menggerakkan ekonomi masyarakat melalui atraksi.
Sorotan Nasional! Pemkot Semarang Genjot Pengakuan Dugderan sebagai Warisan Budaya
Pemerintah Kota Semarang membuka Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 di Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman), 7-16 Februari. Festival budaya tahunan ini bertema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi,” menampilkan kesenian lokal, mainan tradisional, dan melibatkan UMKM. Pemkot Semarang berupaya menjadikan Dugderan warisan budaya Indonesia.