Buku Presiden Solusi Catat 108 Kebijakan, Qodari: Prabowo Menyasar Akar Persoalan Bangsa
loading…
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari. Foto: Istimewa
JAKARTA – Sebanyak 108 kebijakan dan terobosan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama sekitar 18 bulan pertama masa kepemimpinan didokumentasikan dalam buku Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto. Buku tersebut diluncurkan di University Club, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).
Buku yang ditulis Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari bersama Asisten Khusus Presiden RI Dirgayuza Setiawan dan Agung Gumilar Saputra itu berupaya memetakan berbagai solusi yang telah dihadirkan pemerintah dalam menjawab persoalan masyarakat di berbagai sektor, mulai dari pangan, energi, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, industrialisasi hingga digitalisasi.
Peluncuran buku diawali dengan penandatanganan buku oleh ketiga penulis dan dilanjutkan dengan diskusi publik yang dimoderatori Budi Adiputro dan Arie Putra. Dalam sambutannya, Qodari menilai berbagai kebijakan yang dijalankan Presiden Prabowo menunjukkan karakter kepemimpinan yang berorientasi pada penyelesaian masalah dan transformasi nasional.
“Saya ingin katakan bahwa Pak Prabowo ini adalah bapak transformasi bangsa, dari gelap menuju terang ya, dari masalah menjadi solusi. Kalau di sebelah sana ada tadi mungkin diskusi ‘Presiden Masalah’, ya kita jawab bahwa sebetulnya ini ‘Presiden Solusi’ yang menyelesaikan banyak masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia,” ujar Qodari.
Catat fundamental keuangan solid di 2025, Bank Mandiri perkuat intermediasi dan peran sebagai mitra strategis pemerintah – Lombok Insider
LOMBOK INSIDER – Perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap berada pada jalur pertumbuhan yang solid dengan dukungan kinerja sektor eksternal dan aktivitas domestik yang terjaga. Demikian dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan, mencerminkan daya tahan perekonomian Indonesia di tengah tantangan global di dukung kebijakan pemerintah […]
Indonesia Catat Surplus Neraca Perdagangan USD 89,1 Juta pada April, Berlanjut 72 Bulan Berturut-turut
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 89,1 juta pada April 2026. Dengan demikian, Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. (Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 89,1 juta pada April 2026. Dengan demikian, Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Sementara itu, secara kumulatif pada Januari-April 2026, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 5,64 miliar.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan bahwa Indonesia berhasil mencatat surplus pada April setelah nilai ekspor melebihi nilai impor. Pada bulan tersebut, Indonesia mencatat ekspor sebesar USD 25,3 miliar, lebih tinggi dibandingkan nilai impor sebesar USD 25,21 miliar.
“Setelah melihat perkembangan ekspor dan impor, maka neraca perdagangan barang untuk April 2026 mencatat surplus sebesar USD 89,1 juta. Neraca perdagangan Indonesia dengan demikian telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Pudji dalam rilis Berita Resmi Statistik, Selasa (2/6).
Dari sisi ekspor, Pudji menambahkan bahwa nilai ekspor Indonesia sebesar USD 25,32 miliar mencerminkan pertumbuhan 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini, lanjutnya, didorong oleh pertumbuhan signifikan ekspor nonmigas yang nilainya pada April mencapai USD 24,15 miliar atau tumbuh 23,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tajam ini, imbuh Pudji, terutama disumbang oleh ekspor lemak dan minyak hewani/nabati yang tumbuh 66,59 persen secara tahunan, nikel dan barang daripadanya sebesar 75,52 persen, serta mesin dan peralatan mekanis sebesar 57,90 persen.
Pudji menjabarkan bahwa pertumbuhan ekspor nonmigas pada April didorong oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sebesar 15,45 persen secara tahunan menjadi USD 1.148 per metrik ton, serta kenaikan harga komoditas mineral dan energi secara umum.
Selain itu, kenaikan ekspor juga didorong oleh ekspansi sektor manufaktur di negara-negara mitra dagang utama Indonesia, yang tercermin dari indeks PMI manufaktur mereka yang berada di zona ekspansif.
Ketika suatu negara memiliki sektor manufaktur yang ekspansif, negara tersebut cenderung meningkatkan impor bahan baku dan barang setengah jadi dari negara lain untuk menunjang proses produksinya.
“Pada April, PMI Manufaktur negara mitra dagang utama seperti India, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok berada pada zona ekspansif, di mana PMI India adalah 54,7, kemudian Amerika Serikat 54,5, Jepang 55,1, dan Tiongkok 52.2,” tambahnya.
Sementara itu, dari sisi impor, nilai impor Indonesia yang mencapai USD 25,21 miliar pada April atau tumbuh 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, meski pertumbuhan impor pada April lebih tinggi dibandingkan ekspor, sebagian besar peningkatan tersebut disumbang oleh impor bahan baku dan barang penolong.
Menurut Pudji, impor kelompok barang tersebut pada April mencapai USD 18,65 miliar atau tumbuh 24,56 persen dari USD 14,97 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini justru mencerminkan bergeliatnya industri manufaktur domestik.
“Jadi secara rinci, nilai impor migas pada April sebesar USD 4,60 miliar, atau meningkat 82,52 persen secara tahunan, sedangkan nilai impor nonmigas adalah senilai USD 20,6 miliar atau mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 14,11 persen,” pungkas dia. (her/dav)