Komisi XIII DPR Dorong Penguatan Regulasi dan Koordinasi Penanganan TPPO
loading…
Wakil Ketua Komisi XIII DPR Rinto Subekti dalam RDP bersama Ditjen Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Ditjen Imigrasi, LPSK, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan, Senin (25/5/2026). Foto: Dok DPR
JAKARTA – Wakil Ketua Komisi XIII DPR Rinto Subekti menegaskan pentingnya penguatan regulasi dan koordinasi lintas lembaga Direktorat Jenderal Imigrasi, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, LPSK, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan dalam upaya pencegahan dan penanganan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Hal tersebut disampaikan Rinto dalam kesimpulan Rapar Dengar Pendapat (RDP) Komisi XIII DPR bersama Ditjen Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Ditjen Imigrasi, LPSK, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan di Ruang Rapat Komisi XIII, Gedung Nusantara II DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, penyesuaian regulasi diperlukan agar penanganan TPPO dapat berjalan lebih efektif di tengah meningkatnya praktik perbudakan modern dan eksploitasi manusia yang mencederai hak asasi manusia. “Komisi XIII DPR RI mendesak Direktorat Jenderal Imigrasi, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, LPSK, Komnas HAM, dan Komnas Perempuan untuk terus memperkuat koordinasi dan kerja sama baik lintas Kementerian dan kelembagaan maupun lintas negara dalam penguatan kapasitas aparat, edukasi masyarakat, dan pengawasan simultan terhadap korporasi maupun pihak – pihak penyalur tenaga kerja,” ujar Rinto.
Dalam rapat tersebut, Komisi XIII DPR bersama para mitra kerja juga bersepakat menilai perlunya penyesuaian terhadap Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 terkait Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang Tahun 2020–2024 serta Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2023 terkait Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Indomaret Tutup: Bukan Sekadar Promo Minyak Goreng Hilang, Ini Guncangan Ekonomi dan Kenyamanan Harian
Sedang asik scroll di Threads, saya menemukan kabar kalau sebanyak 6.546 gerai Indomaret tutup pada 31 Mei dan 1 Juni 2026. Usut punya usut, ternyata tutupnya gerai sejuta umat tersebut adalah bentuk protes.
Yang saya maksud adalah bentuk protes terhadap kebijakan kebijakan Indomaret yang tidak memberikan uang lembur di tanggal merah. Sebagai gantinya, karyawan yang masuk di tanggal merah akan mendapat ganti hari libur.
Saya lalu mencoba untuk mengingat-ingat. Kemarin, 31 Mei, Indomaret yang ada di sekitar wilayah tempat tinggal saya masih tetap beroperasi. Berarti, Indomaret di sini tidak termasuk dalam 6.546 gerai yang tutup. Namun, ketika saya menyelam ke Instagram maupun mencari dengan kata kunci “Indomaret tutup”, ternyata memang ada yang tidak beroperasi.
Sebagai orang yang cukup sering ke Indomaret, saya hanya bisa berharap mereka menemukan solusi terbaik. Jangan sampai, dari yang semula ada 6.546 gerai tutup, malah merembet jadi semua gerai ikut tutup karena nggak ketemu titik terangnya.
Nah, loh. Bisa kebayang nggak tuh apa jadinya kalau semua gerai tiba-tiba tutup?
#1 Bingung cari tempat ngadem seperti kursi besi andalan kalau Indomaret tutup
Hal pertama yang terlintas di benak saya andai semua gerai Indomaret tutup adalah kita bakal bingung cari tempat untuk ngadem. Selama ini, mereka memang punya hampir semua hal yang kita butuhkan untuk ngadem. Baik ngadem karena cuaca, ataupun ngadem karena isi kepala.
Ini bukan semata cuma soal AC yang memang mak’nyess itu, ya. Lebih dari itu, ada etalase minuman dingin sebagai tempat untuk pura-pura kuat. Sengaja bengong di depan etalase biar dikira bingung pilih minuman, padahal sedang menenangkan isi kepala yang ruwet.
Jangan lupa juga bahwa Indomaret punya kursi besi andalan untuk ngadem. Kursi besi yang berjasa dalam memberi jeda, dari sebuah hari yang luar biasa. Sungguh, yang demikian itu, proses release yang kelihatan sederhana itu, tak bisa diganti dengan toko retail mana pun.
#2 Susah cari promo minyak goreng private label Indomaret
Dari POV emak-emak, kalau sampai semua Indomaret tutup, alamat bakal susah cari minyak goreng kemasan yang harganya terjangkau. Jujur saja, minyak goreng private label adalah penyelamat dari tingginya harga minyak goreng merek lain. Harganya bisa selisih sampai 5 ribu perak. Eman, dong! Duit 5 ribu bisa buat beli tempe 1 papan.
Ya bisa saja sih cari minyak goreng kemasan di minimarket atau sekalian ke supermarket. Kan biasanya di supermarket juga ada promo minyak goreng.
Tapi, kalau ke supermarket, harus mikir bensin ke sana, perjalanannya, parkirnya, belum harus ganti outfit segala. Ribet. Memang paling cocok beli minyak goreng ya ke Indomaret. Lokasinya dekat dari rumah, jadi bisa sat set. Misal perginya pakai baju kaya mau COD biawak juga nggak masalah.
#3 Anak-anak kehilangan hiburan kalau Indomaret tutup
Sementara itu dari POV anak-anak, mereka akan kehilangan salah satu tempat hiburan kalau Indomaret tutup. Di situlah uniknya.
Judulnya sih memang retail, ya, tempat kita memenuhi kebutuhan harian. Tapi dalam praktiknya? mereka juga jadi tempat hiburan bagi anak-anak. Mata mereka selalu berbinar setiap saya ajak ke sana. Bayangan deretan cemilan-cemilan enak, minuman segar, dan aneka printilan lucu-lucu langsung memenuhi isi kepala mereka.
Dan kecintaan anak-anak dengan Indomaret ini juga menguntungkan orang dewasa. Misal ada anak yang tantrum atau yang mau dikasih reward, tinggal bawa saja ke sana.
Lha kalau Indomaret tutup semua, bagaimana ceritanya coba? Mau dibawa ke tempat wisata atau ke mall? Ongkos yang keluar pasti lebih besar.
Itulah 3 hal yang mungkin terjadi. Susah memang ya, di satu sisi kita berharap Indomaret tetap buka seperti biasa. Tapi di sisi lain, gerai yang saat ini memutuskan untuk tutup itu sedang memperjuangkan haknya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Semua Mantan Presiden dan Wapres Diundang ke Upacara Hari Lahir Pancasila
loading…
Konferensi pers Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tentang persiapan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila. Foto: Dok BPIP
JAKARTA – Semua mantan presiden dan wakil presiden (wapres) diundang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk menghadiri Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Gedung Pancasila, Jakarta Pusat pada 1 Juni 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bakal menjadi Inspektur Upacara.
“Ini bagian dari proses membangun gotong royong bersama, kolaboratif semuanya, semua Presiden maupun Wakil Presiden pastinya kita undang semuanya,” kata Sekretaris Utama BPIP Tonny Agung Arifianto kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Kendati demikian, ia belum menjelaskan secara rinci presiden dan wapres terdahulu siapa yang sudah mengonfirmasi kehadiran pada upacara tersebut. “Nanti tepatnya di hari Sabtu besok kepastian terkait konfirmasi siapa saja yang hadir nanti akan kami sampaikan pada media semuanya ya,” tuturnya.
Registrasi SIM Card Biometrik: Tak Perlu Ribet, Komdigi Ungkap Proses Cepat dan Sederhana
Mulai 1 Juli 2026, registrasi SIM Card wajib biometrik bagi pengguna baru di seluruh Indonesia. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan proses ini hanya butuh kurang dari satu menit. Pengguna dapat melakukan registrasi SIM Card secara sederhana melalui web atau aplikasi operator seluler.
Srawung Nggak Penting, Isinya Cuma Gibah Tetangga dan Mabuk!
Beberapa waktu lalu, ada artikel di Terminal Mojok yang menggugat fenomena kehidupan di kampung. Isinya keresahan penulis melihat hilangnya budaya srawung pada generasi muda di lingkungan kampungnya. Dan ya, tulisan dengan judul “Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Jarang Srawung” itu jujur aja sangat relate. Terutama bagi saya. Jadi, izinkan saya, orang kampung yang kebetulan berkesempatan sekolah tinggi ini menjawab keresahan itu.
Saya sendiri adalah warga di salah satu desa di Kabupaten Semarang yang masih kental sekali dengan budaya srawung. Sebagai orang yang memilih absen dari kegiatan itu, jujur kadang emang ada secuil rasa bersalah. Tapi anehnya, setiap kali penyesalan itu datang, entah kenapa realitas di lapangan justru membuat saya selalu mbatin, “Kalau dulu saya nggak menarik diri, mungkin hidup saya nggak akan sebahagia dan seberkembang ini.”
Sebab, lingkungan kampung selalu aja berhasil membuat saya merasa “sebaiknya nggak usah srawung aja”.
Pos ronda yang beralih fungsi jadi sarang toxic
Mari kita preteli romantisme kata “srawung” yang sering diglorifikasi itu. Srawung sendiri sebenarnya adalah bahasa Jawa dari bersosialisasi. Di bayangan orang kota, srawung diartikan sebagai ruang komunal tempat warga saling membantu, menjaga keamanan, atau minimal ngobrol hangat. Ya, nggak salah juga.
Tapi sayangnya, kenyataanya berbeda. Srawung hari ini telah berubah jadi ajang kumpul-kumpul minim faedah. Isinya kalau nggak ghibah, begadang, main slot, main ML sampai subuh, ya mabuk-mabukan.
Contoh di kampung saya deh, pos ronda yang harusnya berfungsi buat sistem keamanan lingkungan atau sebatas tempat ngobrol malam, kini malah jadi panggung judi kartu dan tempat teler. Bonus utamanya? Gibahin tetangga. Tetangga beli motor baru, langsung dituduh hasil utang bank. Masalah keluarga orang lain pun dikuliti habis-habisan.
Bahkan yang paling menjijikan, obrolannya sering mengarah ke seksualitas tetangga sendiri secara vulgar. Gimana? Masih mau meromantisasi srawung? Mau kalian nimbrung sama lingkungan kayak gitu? Saya sih ogah ya.
Dan benar lo, saya nggak sendirian. Kawan depan rumah saya memilih mundur dari sirkel pergaulan kampung. Kenapa? Ya karena lingkaran pertemanannya mentok jadi pengangguran yang ritme hidupnya gitu-gitu aja. Mabuk, main ML dari malam sampai pagi, habis itu tidur sampai sore. Gitu terus sampai negara api menyerang. Bahkan, bapaknya sampai pernah curhat sama saya lo, katanya pusing melihat anaknya nongkrong nggak jelas kayak gitu.
Sudah beda pola pikir dan frekuensi obrolan pas srawung
Sekolah tinggi, suka atau tidak, emang mengubah seseorang. Dan maaf, perubahan ini bukan sekadar pamer lembar ijazah atau gelar di belakang nama. Saya merasakannya betul. Sekolah tinggi dan merantau ke kota mengubah cara saya melihat dunia, cara berkomunikasi, bahkan sampai selera humor. Selain itu, saat merantau isi kepala saya distimulasi sama diskusi, organisasi, buku, internet, dan interaksi dengan manusia dari berbagai latar belakang. Efeknya, saya jadi terbiasa dengan obrolan yang berbobot, kritis, atau minimal reflektif tentang masa depan.
Sementara itu, lingkungan kampung tampaknya masih nyaman jalan di tempat dengan ritme sosial yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Contoh, ketika saya pulang dari tanah rantau dan mencoba SKSD lagi sama kawan kampung. Ternyata obrolan mereka masih berkutat pada gosip murahan atau candaan seksis lama. Mungkin kalau saya yang versi anak SMA bakal ikutan ketawa ya, tapi sekarang? Aduh, yang ada malah risih dan pengen buru-buru pulang.
Akhirnya saya cuma bisa senyum kecut, bingung harus merespons apa pada obrolan yang udah beda frekuensi itu.
Selain itu, sekolah tinggi membentuk pola pikir saya yang lebih individual dalam artian positif. Saya jadi lebih menghargai privasi dan sadar akan batasan sosial. Sebaliknya, budaya kolektif kampung tuh sering kali kebablasan. Ruang privasi sangat tipis. Semua orang merasa berhak ikut campur dalam hidup orang lain.
Perbedaan jomplang soal pola pikir dan frekuensi inilah yang bikin orang-orang seperti kami emoh untuk srawung lagi.
Lebih takut miskin daripada digibahin
Semakin dewasa, saya sadar bahwa hidup nggak bisa terus dihabiskan buat nongkrong di pos ronda atau hadir di setiap kumpulan warga. Ada kalanya kita harus tau prioritas. Fokus membangun masa depan daripada sibuk menjaga citra “anak kampung yang gampang diajak srawung”. Ironisnya, di kampung saya, sikap realistis begini langsung diganjar cap sombong. Kalau alasan menata masa depan ini dijelaskan, pasti ada aja yang ngga terima lalu nyeletuk “yo mbok kiro kene ra sibuk.” Ya terserah deh.
Buat saya, pendidikan adalah voucher taruhan untuk mengubah nasib keluarga. Orang tua udah banting tulang membiayai sekolah di tengah ekonomi yang serba pas-pasan. Rasanya berdosa banget kalau kesempatan sebesar itu disia-siakan. Apalagi hanya demi menjaga budaya srawung yang isinya bikin lelah mental.
Saya bukannya antisosial ya, tapi terus terang saya gagal menemukan manfaat dari srawung yang ujung-ujungnya cuma menguliti dan mengomentari hidup orang lain.
Adik saya juga demikian. Sejak diterima kuliah Kedokteran di UGM, waktunya habis diperas untuk kegiatan kuliah dan menahan tekanan mental agar nggak ngecewain keluarga. Dia makin jarang keliatan di kampung bukan karena nggak mau srawung, tapi memang energinya udah habis duluan di ruang kuliah.
Saya pun sama. Sebagai anak yang masih harus membantu ekonomi keluarga sekaligus mendukung pendidikan adik, energi saya habis buat kerja, kuliah, dan mikirin masa depan. Waktu luang adalah barang mewah yang nggak bisa dibuang cuma-cuma.
Sayangnya, perjuangan jatuh bangun kami menata masa depan ini jarang mau dilihat warga kampung. Mereka nggak peduli seberapa berdarah-darahnya kita menata karier. Yang dinilai cuma satu, muncul atau nggak muncul. Kalau jarang muncul, langsung dicap sombong, antisosial atau lupa kampung.
Tapi ya sudahlah, kami memilih tau diri aja. Sebab terus terang ya, lebih baik digibahin karena jarang srawung daripada besok-besok digibahin satu desa karena hidup terlilit utang dan gagal mengangkat derajat orang tua.
Mari saling mengerti, jangan hanya salahkan kami yang tak mau srawung
Intinya, keputusan kami untuk nggak srawung tuh bukan tanpa alasan. Jujur ya, kalau emang suasananya mendukung, kami juga pengen banget bisa duduk bareng dan ngobrol santai. Kami juga kangen kehangatan tetangga. Tapi ya tolong ngaca dulu deh. Gimana kami mau datang kalau lingkungan yang kalian tawarkan se-toxic itu?
Kalian sering menuntut kami buat membaur, tapi kalian sendiri gagal menciptakan ruang publik yang sehat untuk semua orang. Obrolan yang dilempar pun cuma bisa dinikmati oleh sirkel itu-itu aja. Lah yang nggak sefrekuensi gimana? Ya milih pergi atau mending tidur aja di rumah lah.
Dan asal tahu aja, fenomena “menarik diri” ini bukan cuma dilakukan kami yang kebetulan beruntung bisa sekolah tinggi lo. Banyak kok kawan-kawan di kampung yang nggak sekolah tinggi, tapi mereka milih nggak srawung. Alasannya sama, mereka nggak dapet lingkungan yang nyaman dan produktif.
Jadi, daripada sibuk menghakimi orang kampung yang sekolah tinggi sebagai sosok yang sombong dan antipati, yuk mari kita saling memahami. Mari kembalikan fungsi pos ronda seperti dulu. Tempat berkumpul yang sehat, aman, dan nyaman, tanpa peduli apa latar belakang pendidikannya.
Kalau lingkungan srawungnya udah sehat, sumpah deh, nggak usah disindir pun kami bakal datang sendiri membawa kopi. Tapi kalau belum bisa berubah, ya mohon maaf, jangan salahkan kalau pintu rumah kami bakal tetap tertutup rapat.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Soal Film Pesta Babi, TNI AD: Kami Tak Antikritik, tapi Kritik Harus Berdasarkan Data dan Fakta
loading…
Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono menyatakan, pihaknya tidak antikritik, tapi kritik harus berdasarkan data dan fakta. Foto/SindoNews
JAKARTA – TNI AD buka suara terkait narasi negatif dalam film dokumenter Pesta Babi. TNI AD menghormati kebebasan berekspresi dan kebebasan berkarya dalam demokrasi. Tetapi, setiap produk informasi juga memiliki tanggung jawab moral
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono menyatakan, pihaknya tidak antikritik. Namun, dia menegaskan pentingnya kritik berdasarkan data dan fakta lapangan.
“Kami tidak anti-kritik, tetapi kritik juga dibangun di atas data, keseimbangan, dan fakta lapangan,” kata Donny, Jumat (29/5/2026).
Donny meminta publik tidak terjebak dalam polemik artistik film dan menekankan pentingnya objektivitas dan keseimbangan informasi dalam film yang dimaksud. Donny kemudian mengutip salah satu pernyataan Kepala Suku di Papua yang mengungkapkan kinerja TNI selama bertugas di daerahnya.
“Logikanya, seorang kepala suku yang bernama Pak Manu pernah diundang podcast bersama Bobon Santoso. Dalam podcast tersebut, kepala suku menyatakan bahwa TNI betul-betul untuk masyarakat selama bertugas di sana,” ujarnya.
“Kami menghormati kebebasan berekspresi dan kebebasan berkarya dalam demokrasi. Tetapi, setiap produk informasi juga memiliki tanggung jawab moral agar tidak membangun stigma kebencian atau pun distorsi terhadap institusi negara,” sambungnya.
Prabowo dan Macron Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Bentuk Forum Bisnis Tingkat Tinggi Indonesia-Prancis
Presiden RI Prabowo Subianto menyambut baik pembentukan France-Indonesia High Level Business Council atau forum bisnis tingkat tinggi, sebagai langkah strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan investasi antara Indonesia dan Prancis. Hal tersebut disampaikan Prabowo usai pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Rabu (28/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Paris, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto menyambut baik pembentukan France-Indonesia High Level Business Council atau forum bisnis tingkat tinggi, sebagai langkah strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan investasi antara Indonesia dan Prancis.
Hal tersebut disampaikan Prabowo usai pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Rabu (28/5).
Prabowo mengatakan Indonesia mengapresiasi dukungan Presiden Macron dalam mendorong percepatan berbagai bentuk kerja sama antara kedua negara, termasuk peningkatan investasi dan hubungan bisnis.
“Kami berterima kasih atas dukungan Presiden Macron untuk mempercepat perkembangan kerja sama ini. Kita ingin meningkatkan kerja sama, termasuk investasi di kedua negara. Saya sangat gembira dan menyambut baik pembentukan France-Indonesia High Level Business Council,” ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, pembentukan forum bisnis tingkat tinggi tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat keterlibatan perusahaan-perusahaan Prancis dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
“Ini saya kira sangat penting, dan kami menyambut gembira partisipasi serta kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis yang terus berkontribusi dalam perekonomian Indonesia,” lanjutnya.
Prabowo juga menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama internasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat dunia semakin terhubung, sehingga konflik dan peperangan tidak lagi membawa manfaat bagi siapa pun.
Karena itu, ia menyambut positif terjalinnya Comprehensive Strategic Partnership antara Indonesia dan Prancis yang diharapkan mampu menghasilkan kerja sama yang lebih konkret dan berdampak.
“Kami sangat gembira karena kini kita telah memiliki Comprehensive Strategic Partnership. Tentunya, ke depan kita ingin melihat kerja sama yang lebih konkret, lebih seimbang, dan lebih berdampak,” jelas Prabowo.
Dalam pertemuan tersebut, kedua kepala negara juga membahas sejumlah isu strategis, mulai dari kerja sama pertahanan, energi bersih, pendidikan, riset, hingga implementasi perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). (her/dav)
TNI Ikut Atasi Begal, DPR: Harus Terukur dan Punya Dasar Hukum yang Jelas
loading…
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menyoroti pelibatan prajurit TNI dalam mengatasi tindak kriminal seperti begal. Foto/Dok SindoNews
JAKARTA – Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menyoroti pelibatan prajurit Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) dalam mengatasi tindak kriminal seperti begal. Dave menegaskan, pelibatan militer itu harus terukur dan punya dasar hukum yang jelas.
Dave mengatakan, keamanan dan rasa aman masyarakat adalah hal yang tidak bisa ditawar. Ia menegaskan, negara memang memiliki kewajiban untuk memastikan setiap warga dapat menjalankan aktivitasnya dengan tenang tanpa rasa takut.
“Dalam konteks pelibatan TNI, tentu perlu dilihat secara proporsional dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Dave dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/5/2026).
Prinsipnya, kata dia, TNI memiliki tugas utama di bidang pertahanan negara, sementara penegakan keamanan dan ketertiban masyarakat berada dalam ranah kepolisian. Untuk itu, ia menilai, penanganan tindak kriminal seperti begal pada dasarnya merupakan kewenangan aparat kepolisian.
Prabowo dan Diaspora Prancis: Menguak Sosok Pejuang Modern yang Tak Gentar
Diaspora Indonesia di Prancis, Ida Digong, menyebut Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai sosok pejuang modern yang memiliki semangat kerja tinggi dan tidak mengenal lelah dalam memperjuangkan kepentingan bangsa. Hal itu dikatakan Ida usai salat Iduladha 1447 H bersama Presiden Prabowo di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Paris, Idola 92.6 FM-Diaspora Indonesia di Prancis, Ida Digong, menyebut Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai sosok pejuang modern yang memiliki semangat kerja tinggi dan tidak mengenal lelah dalam memperjuangkan kepentingan bangsa.
“Sosok Prabowo bagi saya, dia itu keras. Karena harus ada orang yang bisa disiplin, mengarahkan kepada masyarakat,” ujar Ida usai salat Iduladha 1447 H bersama Presiden Prabowo di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5).
Menurutnya, karakter tegas Presiden Prabowo dibutuhkan untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan disiplin.
“Jadi dia memberi contoh. Dia itu kerja keras banget, enggak kenal capek. Padahal perjalanan itu kan enggak gampang kalau ke Eropa,” katanya.
Ida mengaku kagum melihat semangat Presiden Prabowo yang dinilainya tetap penuh energi di tengah padatnya agenda internasional. Ia berharap kepemimpinan Prabowo mampu membawa Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
“Dia itu wajahnya selalu berseri. Memancarkan bahwa dia itu semangat 45. Pejuang yang benar-benar pahlawan modern, Harapan kita Indonesia Jaya 2045 akan tercapai berkat Prabowo,” katanya.
Ida menegaskan dirinya bersama komunitas diaspora Indonesia siap mendukung promosi Indonesia di tingkat internasional, khususnya di sektor pertanian dan kopi nasional.
“Jadi kita Insyaallah dari diaspora di Perancis akan membantu juga. Saya cinta petani di Indonesia ya. Karena petani kita juga canggih sekarang,” ujarnya.
Ida mengungkapkan, dirinya mengelola yayasan pertanian melalui Alko Cafe Blockchain yang membina petani di Indonesia. Ia juga aktif mempromosikan produk pertanian Indonesia di Eropa melalui berbagai pameran internasional.
“Saya punya yayasan pertanian di Indonesia dengan Alko Cafe Blockchain. Insyaallah saya akan keliling Eropa demi petani kopi Indonesia,” ujarnya.
Menurut Ida, kopi Indonesia memiliki kualitas unggul yang layak dikenal dunia internasional. “Karena kopi Indonesia nomor satu di dunia. Terima kasih Pak Prabowo untuk segala hal tentang petani,” katanya.
Ia turut mengapresiasi langkah Presiden Prabowo dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Prancis. Ida menilai kemampuan diplomasi Presiden Prabowo menjadi salah satu kekuatan penting Indonesia di mata dunia.
“Memperkuat kerja sama dengan Prancis. Dia itu pandai sekali berdiplomasi, menjaring relasi internasional,” katanya.
Selain itu, Ida juga menyampaikan apresiasi kepada Didit Hediprasetyo (anak kandung Presiden Prabowo) yang dinilainya berhasil mengharumkan nama Indonesia di dunia fesyen internasional.
“Mas Didit juga saya bangga banget. Dia sebagai desainer internasional yang kerja keras,” ujarnya.
Ida menyampaikan doa dan dukungan diaspora Indonesia di Prancis untuk Presiden Prabowo dan seluruh masyarakat Indonesia.
“Saya sangat bangga dengan Pak Prabowo. Tapi dia harus sehat, saya doakan. Salam diaspora, salam dari seluruh warga Indonesia yang ada di Prancis,” pungkasnya. (her/dav)
Diaspora Harap Prabowo Perkuat Kerja Sama Pendidikan dan Kewirausahaan dengan Prancis
Diaspora Indonesia berharap kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Prancis dapat semakin memperkuat hubungan bilateral kedua negara di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga pendidikan. Salah satu harapan tersebut disampaikan Feliana, Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah bermukim di Prancis selama 17 tahun. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Diaspora Indonesia berharap kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Prancis dapat semakin memperkuat hubungan bilateral kedua negara di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga pendidikan.
Salah satu harapan tersebut disampaikan Feliana, Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah bermukim di Prancis selama 17 tahun.
Ia berharap Prabowo terus membuka ruang kolaborasi bagi diaspora Indonesia untuk berkontribusi dalam pengembangan usaha dan jejaring bisnis di luar negeri.
“Semoga Pak Presiden terus mempererat hubungan Indonesia dan Prancis, khususnya mengikutsertakan semua diaspora Indonesia untuk membangun lebih entrepreneurship dan bisnis di Prancis,” ujar Feliana saat menyambut kedatangan Prabowo di Paris, Selasa (26/5).
Feliana mengatakan diaspora Indonesia di Prancis saat ini aktif membangun wadah kolaborasi bernama Bhinneka guna mempererat hubungan bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan Prancis.
Ia berharap wadah tersebut, bersama dukungan pemerintah Indonesia, dapat menjadi fondasi yang kuat bagi terciptanya kolaborasi ekonomi yang lebih erat antara kedua negara.
“Kami juga mendirikan klub namanya Bhinneka supaya bisa mempererat hubungan kerja sama Prancis Indonesia di bidang bisnis. Supaya bisa bekerja sama lebih banyak dengan Prancis dan Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, diaspora Indonesia lainnya, Amanda, berharap kunjungan Prabowo dapat semakin memperkuat kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Prancis.
Pelajar Indonesia di Prancis tersebut berharap akan semakin banyak program pertukaran pelajar dan kolaborasi pendidikan antara kedua negara.
“Kebetulan saya juga mahasiswa, jadi harapan ke depannya semoga semakin banyak acara-acara atau pertukaran pelajar di Prancis dan Indonesia,” ujarnya.
Oleh karena itu, Amanda juga memanjatkan doa agar kerja sama tersebut dapat terus terjalin dengan baik, sekaligus menyampaikan harapannya bagi kepemimpinan Prabowo.
“Semoga Pak Presiden semakin sukses dan program-programnya juga semakin berjalan dengan lancar,” tutupnya. (her/dav)