Dolar AS Jebol Rp18.000: Harga HP di Indonesia Terancam Kian Melambung
Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS memicu kenaikan harga smartphone di Indonesia. Produk yang bergantung pada komponen impor seperti iPhone, Samsung, Xiaomi, dan Oppo berpotensi semakin mahal. Konsumen menghadapi penyesuaian harga HP baru akibat biaya impor yang meningkat dan krisis memori global.
Dolar AS Kian Perkasa, Rupiah Tertekan: Membedah Ancaman Global
loading…
Ciplis Gema Qori’ah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Jember. Foto/Dok. SindoNews
Ciplis Gema Qori’ah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Jember
ARUS repatriasi modal meluncur kembali ke asalnya. Gejolak pasar keuangan global mengharuskan pemain keuangan untuk melindungi asetnya (risk-off) yang dibenamkan di emerging market. Artinya greenback – sebutan populer untuk dolar AS kembali menjadi magnet likuiditas keuangan global.
Sementara, tekanan rupiah kembali hadir dalam lanskap berbeda. Data JISDOR BI per 13 Mei 2026 menginfokan rupiah menyentuh 17.535per dolar AS. Yang disebabkan lonjakan harga minyak karena konflik di Timur Tengah dan melentingnya DXY. Ini mengindikasikan bagaimana tekanan greenback masih menimbulkan tekanan kuat. Hal yang perlu diwaspadai ada kemungkinan tergerusnya fondasi makroekonomi domestik.
Volatilitas rupiah kerap membuncahkan ingatan panjang tentang krisis. Bukan lagi sekadar angka di layar perdagangan, melainkan sebagi sinyal kuat atas menurunnya kepercayaan publik, pasar dan dunia usaha. Krisis 1998 mengajarkan bahwa pelemahan nilai tukar bisa berubah menjadi badai sistemik. Hal ini ditandai dengan rapuhnya pondasi perbankan, menggunungnya utang valas dan runtuhnya kredibilitas.
Juga krisis 2008 yang disebabkan oleh guncangan di Wall Street, tetapi ombaknya tetap sampai ke emerging market melalui arus modal, likuiditas dolar dan sentimen risiko. Sedikit berbeda dengan krisis 2020, tatkala mobilitas manusia terhenti karena pandemi, mobilitas modal justru bergerak sangat cepat (frozen mobility-restless capital).
Namun, situasi saat ini tidak identik dengan krisis sebelumnya. Ekonomi Indonesia triwulan I-2026 masih tumbuh 5,61% secara tahunan, inflasi April 2026 berada di 2,42%, dan cadangan devisa akhir April 2026 tercatat USD146,2 miliar atau setara 5,8 bulan impor. Rupiah sedang tertekan, tetapi fondasi makro belum patah.
Ekspor Produk Perikanan RI Meroket, Capai 6,27 Miliar Dolar AS Tahun 2025
Kinerja sektor kelautan dan perikanan Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Nilai ekspor produk perikanan nasional tercatat mencapai 6,27 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan capaian ekspor tahun lalu menjadi tonggak penting bagi industri perikanan nasional. Sebab, angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Hal itu dikatakan Trenggono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa (7/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kinerja sektor kelautan dan perikanan Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Nilai ekspor produk perikanan nasional tercatat mencapai 6,27 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan capaian ekspor tahun lalu menjadi tonggak penting bagi industri perikanan nasional. Sebab, angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
“Nilai ekspor produk perikanan Indonesia meningkat juga, mencapai 6,27 miliar USD di tahun 2025. Juga menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Trenggono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa (7/4).
Sementara itu, kinerja ekspor kelautan dan perikanan di tahun 2026 sejauh ini tercatat sebesar 950 juta dolar AS. Negara tujuan ekspor tertinggi yaitu AS, China, dan ASEAN dengan komoditas terbanyak udang, tongkol/tuna/cakalang, dan cumi/sotong/gurita.
Selanjutnya dari sisi produksi, sektor kelautan dan perikanan Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan yang konsisten. Sepanjang 2025, produksi mencapai 26,25 juta ton atau tumbuh rata-rata sekitar 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Total produksi tersebut terdiri atas 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya. Kenaikan produksi ini menjadi fondasi kuat dalam menjaga daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
“Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, kinerja sektor kelautan dan perikanan nasional hingga saat ini tetap menunjukkan capaian produksi dan ekspor yang terjaga dengan baik,” ujar Trenggono.
Trenggono pun menegaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap berkomitmen memastikan ketersediaan protein hewani bagi masyarakat, khususnya dari sektor perikanan.
Pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah produk perikanan serta diversifikasi pasar ekspor guna menjaga tren pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan kombinasi produksi yang stabil dan akses pasar yang semakin terbuka, sektor ini diproyeksikan tetap menjadi salah satu penopang utama ekspor nasional. (her/dav)