Wadirut MIND ID: Indonesia harus ‘Naik Kelas’, kejar pertumbuhan ekonomi 8 persen – Lombok Insider
LOMBOK INSIDER – Wakil Direktur Utama (Wadirut) Mining Industry Indonesia (MIND ID), Dany Amrul Ichdan mengatakan Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, sudah saatnya “naik kelas†dengan mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen. Wadirut MIND ID Dany menuturkan, keunggulan komparatif yang dimiliki harus dioptimalkan untuk bisa memberi kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang […]
Perkuat ekosistem PMI dan Diaspora lewat Mandiri Sahabatku 2026, Bank Mandiri dorong ekonomi kerakyatan inklusif – Lombok Insider
LOMBOK INSIDER – Bank Mandiri terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengakselerasi ekonomi kerakyatan berbasis ekosistem Pekerja Migran Indonesia (PMI) serta diaspora. Komitmen terhadap ekonomi kerakyatan ini diwujudkan melalui penyelenggaraan apresiasi dan kick off Program Mandiri Sahabatku 2026 yang digelar di Hong Kong sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan kemandirian ekonomi PMI & […]
Cerita Mereka yang Tetap Beli Pertamax: Ekonomi Jadi Remuk!
Secara tiba-tiba, seakan tanpa adanya aba-aba (meski tanda-tandanya sudah mulai sedikit kelihatan), di sebuah Rabu, pekan kedua bulan Juni, pemerintah secara resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Kenaikan harganya nggak main-main. Dari yang semula seharga Rp12.300 per liter, naik menjadi Rp16.250 per liter. Naiknya hampir Rp4.000, lebih dari 30%. Gila banget.
Naiknya harga BBM Pertamax pada 10 Juni lalu ini sontak bikin warga geram. Kemarahan muncul di berbagai medium. Di sosmed, di tongkrongan komplek, hingga di kampung, semua mangkel dengan naiknya harga Pertamax. Bahkan sempat terjadi demonstrasi di beberapa tempat, memprotes kebijakan ini. Memang nggak banyak diliput media, sih. You know, lah, mengapa.
Saya pribadi memang nggak terdampak secara langsung dengan naiknya harga Pertamax. Saya masih pakai BBM bersubsidi Pertalite, harganya masih tetap Rp10.000. Tapi, bukan berarti saya nggak marah. Saya marah banget.
Selain karena naiknya Pertamax ini bikin Pertalite terancam naik, kenaikan harga Pertamax yang ugal-ugalan ini juga berdampak langsung terhadap perekonomian orang-orang di sekitar saya.
Penjual Pertamax eceran makin nggak laku
Saya memanggilnya dengan panggilan Mbak Lik. Rumah Mbak Lik hanya berjarak satu rumah dari rumah saya. Rumah Mbak Lik berada di ujung paling depan, dan punya toko di depan rumahnya. Seperti toko pada umumnya, toko milik Mbak Lik menjual banyak hal. Mulai dari snack hingga mie instan, juga rokok dan bensin eceran.
Nah, soal bensin eceran, Mbak Lik punya pengalaman menarik. Sebagai toko biasa, bukan toko Madura, Mbak Lik tentunya nggak bisa jualan bensin Pertalite eceran. Mbak Lik hanya bisa menjual bensin nonsubsidi yaitu Pertamax untuk dijual secara eceran. Dan semenjak harga BBM naik, Pertamax eceran di warung Mbak Lik makin nggak laku dalam seminggu terakhir.
“Seminggu ini baru laku 4 botol (liter), Mas,” ujar Mbak Lik kepada saya. “Susah sekarang lakunya. Dulu pas harga Pertamax di pom masih 12 ribuan, masih enak jualannya. Tak jual 14 ribu masih bisa laku. Sekarang, harga di pom sudah 16 ribu, ya mau nggak mau harga ecerannya 18 ribu per botol. Siapa mau beli nek harganya segitu?” lanjut Mbak Lik.
Gara-gara Pertamax naik, Mbak Lik kalau kulakan bensin juga nggak sebanyak dulu. Kalau dulu biasanya kulakan 15-20 liter Pertamax, sekarang paling mentok ya 10-12 liter saja. “Lakunya susah, lapo kulakan akeh-akeh?” kata Mbak Lik.
Pedagang bensin eceran seperti Mbak Lik memang jarang sekali disinggung ketika membahas soal imbas kenaikan BBM. Padahal, orang-orang seperti Mbak Lik ini nggak kalah terdampak. Bahkan nyata banget dampaknya.
Seorang kurir paket yang mau nggak mau harus biaya hariannya
Andai saja Arya bisa menukar motornya dengan motor lain yang bisa diisi Pertalite, mungkin Arya sudah melakukannya. Setahun lalu, Arya ambil motor baru (Vario 125 CBS tahun 2024) untuk menggantikan motornya yang lama (Vario 110). Motor lamanya sudah nggak kuat lagi dipakai untuk kerja. Oh iya, Arya kerjanya sebagai kurir paket. Dia ini juga tetangga saya. Rumahnya agak jauh, sih, tapi masih satu RW, kok.
Arya tahu bahwa motor barunya harus diisi Pertamax. Nggak bisa dan nggak boleh diisi Pertalite. Terlalu besar risikonya. Arya sudah menghitung semuanya. Dengan gajinya yang sekian, bensin sehari sekian, makan dan rokok sekian, sisanya sekian. Hitungan Arya sudah pas. Tapi semua itu buyar ketika harga Pertamax naik cukup signifikan.
“Gara-gara Pertamax naik, hitunganku jadi ambyar kabeh,” sambat Arya. “Pas Pertalite masih 12 ribuan, aku biasa beli 30 ribu, dan bisa tak pakai keliling nganter puluhan paket di Batu Utara minimal dua hari. Tiga hari bisa, tapi sebelum sore ya harus ngisi lagi. Sekarang, kalau beli 30 ribu, nggak genap 2 hari paling ya sudah harus ngisi bensin lagi.” ujar Arya.
Akhirnya, mau nggak mau Arya harus menambah biaya bensinnya. Arya menggenapkannya jadi 50 ribu per sekali beli, yang mana bisa ia pakai untuk sekitar tiga hari atau tiga setengah hari. Jadinya, dalam seminggu Arya minimal keluar biaya 100 ribu untuk bensin. Dengan naiknya biaya bensin, ada biaya yang harus ditekan.
“Paling ya motong uang makan. Maksudnya, biasanya kan makan sehari 15-20 ribu. Ini tetap, tapi nggak tiap hari beli makan. Aku ngakalinnya ya mbontot. Paling dalam seminggu, tiga hari aku bawa bekal sendiri dari rumah. Agak repot, sih, tapi kate yokpo maneh, Mas?” ujar Arya.
Lalu ketika saya tanya soal opsi pakai motor lain atau ganti motor lain, Arya menjawabnya dengan jawaban yang nggak bisa saya bantah. “Di rumah motor cuma satu, cuma ini tok. Terus mau ganti motor juga nggak bisa. Jual motor ini? Motor ini cicilannya belum beres, Mas. Masih 18 bulan lagi. Nggak ada pilihan.” jawab Arya. Saya hanya mengangguk.
Masih banyak yang terdampak Pertamax di luar sana
Namun Arya beruntung sebab ia nggak punya tanggungan lain selain dirinya dan ibunya di rumah. Arya juga beruntung bahwa adiknya juga sudah kerja di sebuah pabrik skala menengah di Surabaya. Jadinya, Arya dan adiknya bisa sama-sama membiayai ibunya dan memenuhi kebutuhan rumah. Arya masih bisa menabung dari penghasilan bulanannya, walau nggak banyak.
“Disyukuri ae, Mas. Kahanan e koyo ngene. Pancen pemerintahan e koyok taek.” ujar Arya. Kami lalu sama-sama tertawa.
Mbak Lik dan Arya tetap membeli Pertamax meski harganya naik bukan karena mereka sangat mampu, melainkan karena nggak ada pilihan lagi. Mbak Lik harus tetap jualan bensin eceran, dan Arya harus tetap mengirim paket ke rumah-rumah.
Mereka berdua, Mbak Lik dan Arya tentunya hanya sedikit orang yang terdampak langsung dari naiknya Pertamax. Di luar sana tentunya ada banyak lagi orang yang lebih terdampak dari kebijakan ini. Dan bagi mereka yang lebih terdampak, perekonomian mereka jelas makin remuk.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
38 Event Pariwisata Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja, Putar Ekonomi Rp86 Miliar
Pemerintah terus mendorong penguatan industri pariwisata nasional melalui penyelenggaraan berbagai event unggulan daerah. Hingga pertengahan Juni 2026, sebanyak 38 event telah digelar dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat serta pelaku usaha di berbagai daerah. Hal itu disampaikan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, M. Qodari, dalam konferensi pers Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) mingguan di Jakarta, Rabu (17/6). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah terus mendorong penguatan industri pariwisata nasional melalui penyelenggaraan berbagai event unggulan daerah. Hingga pertengahan Juni 2026, sebanyak 38 event telah digelar dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat serta pelaku usaha di berbagai daerah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, M. Qodari, dalam konferensi pers Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) mingguan di Jakarta, Rabu (17/6).
“Hingga 15 Juni 2026, sebanyak 38 event telah terselenggara dengan capaian 1,19 juta pengunjung, perputaran ekonomi Rp86,05 miliar, keterlibatan 4.670 pelaku UMKM, serta manfaat bagi 30.873 tenaga kerja, pekerja seni, dan komunitas,” kata Qodari.
Qodari menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata terus mendukung penyelenggaraan event daerah melalui program Karisma Event Nusantara (KEN) untuk mendorong pertumbuhan industri pariwisata Indonesia sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
Pada 2025, program tersebut berhasil menyelenggarakan 98 event yang menarik 10,80 juta pengunjung dan menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp17,01 triliun.
Selain itu, kegiatan tersebut melibatkan 15.400 pelaku UMKM serta memberikan manfaat bagi 219.100 tenaga kerja, pekerja seni, dan komunitas.
Qodari menegaskan pemerintah akan terus menjaga momentum tersebut pada 2026 dengan target penyelenggaraan 125 event di 38 provinsi sepanjang tahun.
Pemerintah mencatat sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan kinerja yang positif dan resilien, sehingga semakin memperkuat perannya sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah juga menegaskan bahwa sektor pariwisata bukan hanya berperan sebagai sumber devisa, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan yang inklusif dan merata.
“Pariwisata merupakan salah satu pilar yang secara langsung menyentuh kehidupan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi desa, dan memperkuat identitas budaya bangsa. Karena itulah, sektor ini menjadi salah satu prioritas yang secara eksplisit tercantum dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” ujar Qodari.
Sejalan dengan Asta Cita ke-6 pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya pembangunan dari desa dan penguatan ekonomi kerakyatan, sektor pariwisata diharapkan mampu menghidupkan dan mengembangkan desa-desa serta kampung wisata sebagai tulang punggung ekonomi berbasis komunitas. (her/dav)
Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi, Qodari Beberkan Sederet Stimulus Tarif Transportasi di Semester II
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan pemerintah menyiapkan serangkaian stimulus tarif transportasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada Semester II 2026. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan pemerintah menyiapkan serangkaian stimulus tarif transportasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada Semester II 2026.
Menurutnya, paket insentif tersebut difokuskan pada dua momen strategis, yakni libur panjang sekolah pada Juni–Juli dan periode Natal serta Tahun Baru (Nataru).
Pemerintah ingin memanfaatkan kedua momentum tersebut untuk meningkatkan mobilitas masyarakat. Dengan demikian, konsumsi domestik dan sektor pariwisata diharapkan dapat tumbuh lebih kuat pada paruh kedua tahun ini.
“Memasuki semester II 2026, pemerintah menyiapkan paket stimulus yang diarahkan untuk mendorong pergerakan ekonomi di dua momen strategis yaitu libur panjang sekolah Juni-Juli dan Natal serta Tahun Baru di penghujung tahun,” ujar Qodari dalam konferensi pers, Rabu (17/6).
Lebih lanjut, Qodari memaparkan rincian paket stimulus tersebut. Untuk periode libur sekolah pada Juni–Juli 2026, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp190,5 miliar untuk memberikan diskon tarif transportasi darat dan laut dengan target penerima manfaat mencapai 3,07 juta orang.
Melalui anggaran tersebut, pemerintah akan memberikan diskon sebesar 30 persen untuk transportasi kereta api dan kapal laut, serta diskon 100 persen atas tarif jasa kepelabuhanan pada layanan penyeberangan feri.
Pada periode yang sama, pemerintah juga menyiapkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen bagi tiket pesawat domestik kelas ekonomi. Anggaran yang disiapkan mencapai Rp472,7 miliar dengan target penerima manfaat sekitar 2,3 juta penumpang.
Sementara itu, pada periode Nataru, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp61,4 miliar untuk stimulus tarif transportasi nonudara dengan target sekitar 2,87 juta pengguna.
Di periode yang sama, pemerintah juga akan menyiapkan anggaran sebesar Rp722 miliar dalam bentuk insentif PPN DTP bagi transportasi udara yang ditargetkan menjangkau sekitar 3,7 juta penumpang.
Menurut Qodari, stimulus tersebut dirancang melalui kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh industri transportasi dan pariwisata.
“Kolaborasi pemerintah dan swasta ini dirancang bukan hanya untuk menggerakkan sektor pariwisata, tetapi juga untuk mendorong konsumsi domestik secara lebih luas: memperkuat ritel, memberdayakan pelaku UMKM, dan memperluas pengalaman wisata keluarga di dalam negeri,” pungkasnya. (her/dav)
Jawab Tuntutan Demo, Qodari: Prabowo Sedang Lakukan Reformasi Struktur Ekonomi dan Tertibkan Elite
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) Muhammad Qodari menegaskan Presiden Prabowo Subianto tengah menjalankan reformasi besar terhadap struktur ekonomi Indonesia, di tengah munculnya berbagai tuntutan dalam aksi demonstrasi mahasiswa pada Jumat (12/6) kemarin. (Foto Dok. Istimewa)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) Muhammad Qodari menegaskan Presiden Prabowo Subianto tengah menjalankan reformasi besar terhadap struktur ekonomi Indonesia, di tengah munculnya berbagai tuntutan dalam aksi demonstrasi mahasiswa pada Jumat (12/6) kemarin.
Qodari mengatakan langkah-langkah yang dilakukan Prabowo saat ini justru berfokus pada pembenahan sistem ekonomi yang selama bertahun-tahun dinilai hanya menguntungkan kelompok elite tertentu.
“Pak Prabowo itu adalah pemimpin reformasi jilid dua karena yang dilakukan oleh Pak Prabowo sekarang, beliau sedang melakukan reformasi terhadap struktur ekonomi Indonesia. Struktur yang selama ini menguntungkan elite saja, struktur yang selama ini memungkinkan elite-elite tertentu itu untuk membawa lari uang negara. Itu dikoreksi oleh Pak Prabowo,” ujar Qodari.
Ia menilai sejumlah kebijakan yang ditempuh pemerintahan Prabowo menunjukkan keberanian untuk menyentuh persoalan-persoalan yang sebelumnya dianggap sulit disentuh. Salah satu contohnya adalah penegakan hukum dalam tata niaga minyak.
Qodari menyinggung kasus yang menjerat pengusaha minyak Mohammad Riza Chalid yang selama bertahun-tahun dianggap tidak tersentuh proses hukum.
“Bagaimana tata niaga minyak, ya kan kita sudah tahu yang namanya Riza Chalid selama ini dianggap untouchable. Oleh Pak Prabowo kan tersangka, anaknya diburu di luar negeri. Anaknya sekarang sedang menjalani proses hukum,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti langkah pemerintah melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang telah menindak jutaan hektare kebun sawit ilegal. Penertiban tersebut merupakan bagian dari reformasi tata kelola sumber daya alam yang belum pernah dilakukan secara masif oleh pemerintahan sebelumnya.
“Adanya penegakan sawit, kebun sawit ilegal lewat Satgas PKH, sudah 6 juta hektare. Siapa yang melakukan reformasi terhadap tata kelola sawit kita kecuali Pak Prabowo. Tidak pernah ada sebelumnya,” imbuhnya.
Qodari menegaskan perubahan yang dilakukan Prabowo tidak hanya menyasar kelompok elite, tetapi juga diarahkan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat lapisan bawah. Ia menyebut Presiden berulang kali mengkritik kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai belum merata karena manfaatnya lebih banyak dinikmati kelompok berpenghasilan tinggi, sementara kelas menengah justru mengalami penyusutan.
“Pak Prabowo itu kan mengatakan berulang kali bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5 persen itu semu karena yang kaya berlipat dua sampai tiga kali lipat, sementara kelas menengah mengalami penurunan. Berarti beliau mengatakan ada sesuatu yang salah,” tegasnya.
Menurut Qodari, salah satu pembenahan yang dilakukan pemerintah adalah mendorong penyaluran kredit perbankan agar tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok usaha besar, tetapi juga menjangkau lebih banyak pelaku ekonomi produktif.
Di sektor pertanian, Qodari mengatakan pemerintah telah memperbaiki nilai tukar petani melalui kebijakan harga pembelian gabah yang lebih menguntungkan petani.
Sementara untuk nelayan, pemerintah disebut memperkuat fasilitas produksi melalui pembangunan kampung nelayan, penambahan armada, pembangunan pabrik es, hingga penyediaan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage).
Qodari menegaskan berbagai kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperbaiki struktur ekonomi nasional agar lebih sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945.
“Pak Prabowo ini justru paling depan dalam upaya memperbaiki kesejahteraan masyarakat Indonesia dan membuat struktur ekonomi menjadi lebih berimbang,” pungkasnya. (her/dav)
Apel Luar Biasa Salatiga Resmikan Sensus Ekonomi 2026: Tonggak Penting Perekonomian Daerah
SALATIGA – Menandai pelaksanaan Sensus Ekonomi Kota Salatiga Tahun 2026, Pemerintah Kota Salatiga menggelar Apel Luar Biasa, di halaman Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Senin (15/6/2026). Apel dipimpin Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, serta diikuti Wakil Wali Kota, Forkopimda, jajaran perangkat daerah dan unsur terkait.
Dalam arahannya, wali kota menegaskan, Sensus Ekonomi 2026 merupakan program strategis nasional yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan menghasilkan data yang akurat.
“Pendataan ini akan berlangsung pada pertengahan Juni hingga Agustus mendatang. Kegiatan ini akan menjadi data penting untuk memotret perkembangan dunia usaha, UMKM, perdagangan, jasa hingga ekonomi digital di Kota Salatiga,” ujar Robby.
Data yang diperoleh melalui sensus tersebut, diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi yang tepat sasaran, sekaligus mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, wali kota mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menyukseskan Sensus Ekonomi 2026, dengan memberikan informasi yang benar dan mendukung para petugas pendataan di lapangan.
“Ini merupakan salah satu program strategis nasional. Mari kita sukseskan bersama demi tersedianya data ekonomi yang berkualitas, untuk pembangunan Kota Salatiga yang lebih baik,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kota Salatiga juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) Kota Salatiga 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas semangat inovasi yang terus tumbuh, di kalangan pelajar maupun masyarakat umum.
Pada kategori pelajar, SMK Negeri 2 Salatiga berhasil memborong tiga posisi juara melalui berbagai inovasi yang dihasilkan para siswanya. Yakni, Juara 1 dengan inovasi Helm Pendeteksi Fokus Pengendara (Siagaride), Juara II melalui karya Celengan Digital Pintar dengan Deteksi Uang Masuk, Penjumlahan Otomatis dan Pemantauan via Telegram (Smart Financial), dan Juara III dengan inovasi Sarung Tangan Penerjemah Bahasa Isyarat untuk Komunikasi yang Lebih Inklusif (Sign Language Glove).
Sementara, pada kategori umum, Juara I Tadris IPA FTIK UIN Salatiga, mengusung inovasi Sumber Energi Listrik Ramah Lingkungan “Bioreaktor Mikroalga”. Juara II Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW Salatiga menampilkan Horizontal Dekomposer Contraflow. Juara III FKIP UKSW Salatiga, melakui inovasi Salatiga Learning Through Traditional Play Arena “Saltopia”.
Wali kota menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menghadirkan berbagai gagasan kreatif dan inovatif, yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Terima kasih telah menghadirkan ide dan inovasi, yang membuktikan bahwa semangat berkarya di Salatiga terus tumbuh. Teruslah berinovasi, teruslah mencipta, dan teruslah menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di sekitar kita,” pungkas Robby.
Melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan apresiasi terhadap inovasi masyarakat melalui Krenova, Pemerintah Kota Salatiga berharap dapat mendorong lahirnya kebijakan berbasis data sekaligus menumbuhkan budaya inovasi sebagai bagian dari upaya mewujudkan Salatiga yang maju, kreatif, dan berdaya saing.
Ekonomi Bikin Waswas, Menyesal Tidak Rajin Menabung dari Dulu
Ada satu petuah dari orang tua yang dari dahulu hingga sekarang masih menempel di kepala, yakni berhemat dan rajin menabung. Ketika saya dapat rezeki berupa uang, berapapun jumlahnya, orang tua saya selalu bilang, “Duite dihemat, ojo lali ditabung.”
Petuah atau imbauan orang tua saya untuk berhemat dan rajin menabung tentunya bukan tanpa alasan. Kita tahu bahwa berhemat dan menabung itu adalah semacam survival skillyang harus dimiliki oleh setiap manusia.
Orang yang punya kemampuan untuk berhemat dan menabung tentunya akan bisa bertahan lebih lama ketimbang orang yang nggak punya keduanya. Orang tua saya tentunya pengin anaknya punya kemampuan itu.
Alasan selanjutnya, saya dan orang tua saya bukan berasal dari keluarga yang berada. Ayah saya berasal dari keluarga petani, dan ibu saya berasal dari keluarga pensiunan ABRI dengan pangkat menengah. Nggak ada yang dari keluarga kaya berlebihan. Lalu ayah saya kerjanya jadi hanya jadi pegawai hotel, dan ibu saya jadi ibu rumah tangga.
Jadi, berhemat dan menabung benar-benar jadi kunci hidup keluarga saya.
Dari sekian banyak petuah orang tua, berhemat dan rajin menabung ini boleh jadi petuah pertama dari orang tua yang bisa saya ingat. Boleh jadi pula petuah ini jadi yang pertama yang diberikan kepada saya. Sebab, sedari saya kecil, saya kayak nggak pernah absen mendengar petuah ini dari orang tua saya.
Ketika dulu saya masih dapat “salam tempel” Lebaran, atau ketika saya masih disangoni sama kakek-nenek, om-tante, atau teman kerja ayah, kalimat pertama yang keluar dari orang tua saya adalah uangnya dihemat. Jangan lupa ditabung.
Boleh dipakai jajan atau dipakai buat beli mainan, tapi jangan semuanya. Harus ada yang ditabung. Biar nanti kalau pengin beli apa-apa, nggak bingung uangnya dari mana.
Petuah untuk berhemat dan menabung ini ternyata nggak hanya muncul ketika saya masih kecil. Ketika saya sudah dewasa, sudah bisa cari uang sendiri, petuah untuk berhemat dan menabung masih saja keluar dari mulut orang tua saya. Tiap dapat uang dari fee menulis atau proyekan lain, orang tua saya selalu mengimbau agar uangnya ditabung.
Petuah rajin menabung yang dulu kerap saya sepelekan
Sayangnya, petuah untuk berhemat dan rajin menabung ini kerap saya sepelekan. Apalagi waktu saya masih kecil, khususnya saat SD, petuah dari orang tua nyaris nggak pernah saya gubris.
Pokoknya ketika saya dapat uang, ya harus dipakai buat jajan, main ke rental PS, atau buat beli mainan. Persetan dengan berhemat, persetan dengan menabung.
Waktu kecil saya memang malas menabung. Orang tua saya pernah membelikan saya celengan buat saya nabung. Saya hanya beberapa kali mengisinya, lalu nggak pernah saya isi lagi.
Bahkan, ketika teman-teman SD saya pada nabung di sekolah (yang pakai buku tabungan itu), saya nggak ikut nabung. Sudah malas menabung, saya dulu juga boros pula. Pokoknya kalau dapat uang, pikiran saya langsung, “Buat beli apa, ya?” Nggak ada sama sekali pikiran buat menghemat uangnya, atau menabung uangnya.
Maka nggak heran kalau saya sering kena omel orang tua karena kelakuan saya yang boros dan malas menabung. Tapi, saya selalu beralasan, “kan ada ayah, kalau butuh apa-apa tinggal minta ayah.”
Benar-benar anak nggak tahu diri memang. Sudah tahu keluarganya jauh dari kata kaya, malah boros dan malas menabung, ngomong kayak gitu pula.
Semuanya berubah ketika ayah meninggal dan perekonomian keluarga anjlok
Waktu berlalu dan saya jadi orang yang nggak terbiasa untuk menabung, meskipun sudah nggak terlalu boros lagi. Namun, tetap saja, kalau ada apa-apa, tinggal minta ayah. Kalaupun ayah belum punya uang buat membelikan sesuatu, ya tinggal tunggu ayah punya uangnya.
Lalu, semua itu berubah ketika saya kelas 3 SMP, ayah meninggal dunia. Hancur, runtuh semua dunia saya. Pun dengan dunia keluarga saya. Tembok kokoh yang selama ini saya pakai untuk bersandar, tiba-tiba hancur tak bersisa. Setelahnya, ekonomi keluarga anjlok, dan nggak ada lagi yang bisa saya jagakan. Nggak mungkin saya minta apa-apa ke ibu.
Akibat peristiwa itu, saya mau nggak mau harus mengubah kebiasaan saya. Dan, kebiasaan yang sudah harus berubah adalah kebiasaan malas menabung. Saya harus mulai menabung, bahkan harus rajin menabung. Tentu saja nggak mudah, sebab sebelumnya saya nggak terbiasa dengan menabung. Tapi, mau nggak mau kebiasaan itu harus dimulai.
Menyesal mengapa nggak rajin menabung dan berhemat sejak dulu
Ternyata berhemat dan menabung itu nggak mudah. Godaannya banyak banget. Pengin beli ini, pengin beli itu. Belum lagi harga-harga kebutuhan makin naik, pendapatan malah nggak naik-naik. Tantangannya makin banyak. Makanya, sejak kelas 3 SMP sampai sekarang, saya masih kesusahan untuk rajin menabung. Bisa menabung, tapi makin hari makin susah aja rasanya.
Apalagi di masa sekarang, di bawah rezim busuk dan laknat yang perekonomiannya makin remuk ini, hidup jadi susah, nabung pun jadi makin susah. Apa yang mau ditabung?
Lha wong gaji cuma lewat saja. Sudah keburu habis buat beli kebutuhan dan bayar tagihan. Orang yang dari kecil punya kebiasaan nabung aja mengaku kalau sekarang makin susah, apalagi saya yang baru mulai budaya nabung di tengah jalan. Ya dobel susahnya.
Saya jadi sadar bahwa hidup hemat dan rajin menabung itu krusial banget. Melihat gimana berantakan dan freestyle-nya hidup saya sekarang, saya jadi ada perasaan menyesal mengapa nggak membiasakan hidup hemat dan rajin menabung dari dulu.
Mengapa saya nggak manutsama petuah orang tua saya dulu. Hidup hemat dan rajin menabung itu berguna banget, apalagi di situasi hidup yang sekarang ini.
Andai saja saya dulu manutsama petuah orang tua saya untuk hidup hemat dan rajin menabung, mungkin hidup saya sekarang bakal lebih tertata. Mungkin akan tetap susah karena sekarang kita hidup di bawah rezim busuk dan laknat, tapi saya akan lebih paham gimana cara mengatur keuangan dan cara bertahan hidup lebih lama. Gitulah, pokoknya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Dewan Energi Nasional: Fundamental Masih Kokoh, Ekonomi Indonesia Masih Jauh dari Krisis
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih kokoh meski berada di tengah gejolak geopolitik global. Oleh karena itu, DEN menilai perekonomian Indonesia masih jauh dari kondisi krisis. Hal itu disampaikan anggota DEN Mochammad Firman Hidayat, usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (9/6). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih kokoh meski berada di tengah gejolak geopolitik global. Oleh karena itu, DEN menilai perekonomian Indonesia masih jauh dari kondisi krisis.
Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat mengatakan hal tersebut didukung oleh indikator fundamental makroekonomi Indonesia yang masih sangat solid. Pandangan tersebut, lanjutnya, telah disampaikan DEN dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (9/6).
“Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap solid dan berada jauh dari potensi krisis,” ujar Firman kepada awak media.
Lebih lanjut, Firman merinci sejumlah indikator yang mencerminkan kokohnya fundamental ekonomi domestik.
Ia mengatakan bahwa Indonesia masih membukukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yakni mencapai 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Selain itu, Firman juga menyoroti inflasi Indonesia yang relatif stabil, yakni sebesar 3,08 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Namun, selain indikator makroekonomi dasar, ia juga menggarisbawahi kondisi neraca korporasi Indonesia yang masih sehat sebagai cerminan bahwa Indonesia tidak sedang memasuki fase krisis. Hal tersebut, lanjut Firman, tercermin dari utang perusahaan dalam denominasi dolar AS yang jauh lebih rendah dibandingkan saat krisis 1998.
Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis Bank Indonesia (BI) juga mengonfirmasi penurunan utang luar negeri korporasi. Pada triwulan I 2026, posisi utang luar negeri swasta tercatat sebesar USD 191,4 miliar atau turun 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Firman mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah cukup baik dalam memitigasi risiko eksternal, terutama yang berasal dari fluktuasi nilai tukar.
“Jadi di tengah ketidakpastian yang terjadi, mereka (perusahaan) mestinya cukup bisa mitigasi,” lanjutnya.
Kendati demikian, Firman menegaskan bahwa Indonesia tetap perlu mewaspadai ketidakpastian global mengingat gejolak geopolitik berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan DEN.
Menurutnya, salah satu dampak gejolak global yang paling krusial dan perlu diantisipasi adalah kenaikan harga energi dunia, yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi.
“Dan ini perlu diantisipasi nanti di semester kedua, tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya. Kemudian di tengah ketidakpastian global ini saya kira confidence harus kita terus perkuat,” pungkas dia. (her/dav)
Bonus Demografi Kedua Indonesia: Lansia Bukan Beban, Tapi Kekuatan Ekonomi Baru!
Indonesia kini menghadapi fase ageing population dengan 11,97% penduduk lansia atau 34 juta jiwa, menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Persentase ini terus meningkat dari 7,59% pada 2010. Dinamika penuaan penduduk bervariasi antarwilayah; DI Yogyakarta mencatat persentase tertinggi. Tantangan kewilayahan menuntut kebijakan jaring pengaman lansia yang adaptif.