Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah-DPR Bahas Aturan Baru Ekspor Sumber Daya Alam
Pemerintah bersama DPR RI menggelar rapat koordinasi guna membahas percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA), hingga sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM). Pertemuan tersebut juga menyoroti penguatan kerja sama antara otoritas fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah bersama DPR RI menggelar rapat koordinasi guna membahas percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA), hingga sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM).
Pertemuan tersebut juga menyoroti penguatan kerja sama antara otoritas fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan koordinasi dilakukan untuk memastikan berbagai kebijakan strategis berjalan efektif, termasuk pengelolaan ekspor SDA oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI di bawah Danantara.
“Kami melakukan koordinasi bagaimana mempercepat pertumbuhan ekonomi, sekaligus membicarakan tata kelola ekspor yang akan dilakukan oleh DSI di bawah Danantara maupun tata kelola sektor SDA yang berada di bawah Kementerian ESDM,” ujar Dasco dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6).
Selain itu, DPR dan pemerintah juga membahas langkah-langkah percepatan investasi melalui penyederhanaan regulasi perizinan.
“Kemudian kami juga berdiskusi mengenai bagaimana membuat aturan untuk mempercepat proses perizinan investasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor demi menjaga pertumbuhan ekonomi tetap sesuai target.
“Kita terus bekerja keras untuk meningkatkan koordinasi dalam rangka menjaga ekonomi kita berjalan seperti yang kita harapkan,” kata Prasetyo.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Mempererat dan memperkuat kerja sama antara Bank Indonesia selaku otoritas moneter dan Kementerian Keuangan selaku otoritas fiskal,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, pemerintah turut membahas aspek teknis terkait sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk implementasi regulasi baru mengenai tata kelola ekspor SDA.
“Kita berkoordinasi untuk membahas hal-hal teknis yang berkaitan dengan sektor energi dan sumber daya mineral,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa mulai 1 Juni 2026 pemerintah memberlakukan PP Nomor 24 Tahun 2026 yang mengatur tata kelola ekspor sumber daya alam di bawah DSI.
Prasetyo pun meminta dukungan masyarakat dan pelaku usaha untuk bersama-sama menciptakan iklim investasi yang sehat dan kompetitif.
“Kami meminta dukungan seluruh masyarakat dan pelaku usaha untuk bersama-sama menciptakan iklim usaha yang kompetitif dan terbuka bagi semua pihak, demi kepentingan bangsa dan negara kita,” pungkasnya. (her/dav)
6 Jurus Kelas Menengah Bertahan Saat Ekonomi Bergejolak
Kondisi ekonomi saat ini benar-benar bikin kita sebagai kelas menengah jadi waswas. Ironisnya, kita adalah tulang punggung ekonomi bangsa ini. Lihat aja kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB, mencapai 54,36 persen.
Jadi kalau pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini 5,6 persen, lebih dari separuhnya datang dari kita-kita yang doyan belanja ini.
Ekonomi sulit bertumbuh kalau kita kelas menengah tidak belanja. Persoalannya, kalau belanja terus, nasib kita benar-benar di ujung tanduk. Bahkan, saking sulitnya kondisi ekonomi saat ini, makan di warteg saja perlu strategi. Harus mengorbankan lauk yang mana dulu nih?
Begitulah kelas menengah atau orang bergaji pas-pasan di negeri ini memang dilematis. Terlalu mampu untuk dianggap miskin, tapi masih terlalu jauh untuk disebut kaya.
Kelihatannya sih aman-aman saja karena punya kerjaan dan digaji, tapi ketika satu aja masalah keuangan datang, misal motor rusak atau kontrakan atau kos-kosan naik, pusingnya bisa bikin nggak doyan makan.
Itulah realita yang harus kita hadapi. Kita adalah tulang punggung negeri ini, tapi kita juga yang paling rentan. Maka dari itu, ada beberapa saran soal strategi berhemat yang nggak melulu harus mengurangi jatah lauk di warteg. Mungkin bisa dicoba untuk menjalani kehidupan di negeri yang lagi sakit ini.
#1 Kelas menengah sebaiknya tentukan batas pengeluaran sebelum makan di warteg
Dalam kondisi ingin berhemat, sebaiknya hindari untuk langsung memilih lauk tanpa menghitung ketika di warteg. Ada baiknya kalian tentukan terlebih dahulu batas maksimal biaya yang dikeluarkan untuk sekali makan di warteg.
Misalnya, maksimal kisaran Rp10.000–Rp15.000. Dengan biaya segitu, kalian sudah bisa mendapatkan komposisi makanan berupa nasi, lauk berprotein, satu jenis sayur, dan minuman.
Khusus lauk, saya sendiri lebih memilih mengambil dua tempe goreng balok dan satu telur ketimbang ayam yang harganya per potong bisa Rp7.000-Rp100.000. Yang penting lagi, jangan sungkan untuk bertanya harga dari tiap lauk.
#2 Beli lauk dan sayurnya saja, nasi masak sendiri
Akan sangat membantu bagi mereka yang masih sendiri dan ngekos ketika punya penanak nasi. Sebab, pengeluaran untuk makan bisa dikurangi dengan masak nasinya sendiri. Jadi, ke warteg cukup beli lauknya saja.
Cara ini sangat efektif karena bisa memangkas pengeluaran. Beli tempe 4, telurnya 2, paling habis nggak lebih dari Rp15.000, dan itu bisa dimakan untuk siang dan malam. Saya biasanya menyiasatinya dengan membeli timun untuk tambahan lalapannya. Jadi tetap ada sensasi segarnya.
Di sisi lain, pilihan membeli lauk juga lebih realistis ketimbang memaksakan diri memaksa tiap harinya. Pengeluaran mungkin lebih berkurang ya, tapi kita semua tahu kalau kelas menengah kayak kita nggak punya banyak waktu senggang. Kalau pun ada, lebih banyak digunakan untuk rebahan karena sudah kadung capek.
#3 Kelas menengah sebaiknya mengurangi pesan makanan online
Kalau kerjanya kantoran yang kawasannya macam SCBD, ada baiknya ikutin cara kedua, yaitu masak nasi sendiri, beli lauknya di warteg, dan jadikan bekal. Atau bisa beli lauknya saja di warteg sekitar kantor.
Sebisa mungkin hindari pesan makan melalui aplikasi. Meskipun ada kadang promonya, tapi percayalah, biayanya akan lebih mahal dari pada beli langsung.
Harganya mungkin murah, cuma Rp15.000, tapi ada ongkirnya, biaya layanan, kadang ditambah biaya parkir. Akhirnya bisa jadi malah mengeluarkan biaya dua kali lipat dari estimasi awal.
Lagi pula, cara main pemberlakuan promo di online shop umumnya adalah dengan menaikkan harga dari harga asli kemudian didiskon. Harganya yang diskon tersebut jadinya adalah harga aslinya. Kalau mau pesan makan online, ya setidaknya batasi hanya seminggu sekali. Tidak perlu tiap hari.
#4 Sedia makanan dan minuman penyelamat
Jadi kebiasaan kelas menengah saat pulang kerja dalam keadaan lelah, lapar, dan tidak menemukan sesuatu yang dimakan, maka biasanya akan buru-buru pesan online. Ya kan? Ngaku kalian!
Membuka aplikasi pesan antar memang mudah daripada harus repot-repot mampir ke warung. Tapi, di situlah letak berbahayanya. Sebab, makin lama, itu justru bikin pengeluaran jadi nggak terkendali.
Untuk menyiasati itu, saya biasanya membeli makanan dan minuman penyelamat. Nggak perlu membayangkan makanan atau minuman yang mewah-mewah. Cukup beli saja mulai dari bahan makanan berat seperti telur, tempe, abon, atau mie. Semua masakan itu bisa diolah tanpa ribet.
Kemudian makanan ringan mulai dari biskuit malkist yang murah, kalau mau yang agak rendah gula, beli wafer yang isian selusin. Itu jauh lebih murah ketimbang beli satuan. Selain, itu bisa juga beli kripik-kripikan yang tanpa merk. Sering dijumpai di toko snack kiloan. Oh ya, kalian juga bisa nyetok buah-buahan. Banyak kok buah yang murah. Contohnya pisang atau salak.
Kalau khusus minuman, saya pribadi lebih sering nyetok teh dan milo. Minuman ini bisa diseduh dan diminum sambil nyelesain lemburan dari kantor kan?
Semua ini sangat membantu untuk menekan pengeluaran para kelas menengah. Bayangkan biaya Rp50.000 yang biasa dikeluarkan untuk satu kali beli makan online, setara dengan diantaranya telur 2 kg, 14 bungkus mie instan, kripik Rp10.000-an 5 bungkus, 2 sampai 3 lusin wafer, atau beberapa bungkus biskuit malkist.
Kalau kalian lihat per satuan, berlangganan layanan digital itu kelihatan murah. Sebab masing-masing hanya puluhan ribu. Tapi, coba kalau diakumulasikan mulai dari langganan streaming film, youtube, music, game, aplikasi olahraga, atau layanan digital lainnya, maka hasilnya bisa ratusan ribu.
Itu mengapa, saya sendiri menggunakan strategi langganan yang bergantian. Misalnya, untuk streaming film, saya akan berlangganan satu bulan untuk saja untuk menikmati series yang sedang diincar. Khusus untuk streaming film, saya menyarankan untuk model patungan.
Misalnya, Netflix, berlangganan saja yang Rp120.000, tapi berbarengan 2 orang, berarti Rp60.000 per orang. Enaknya di Netflix yang paket Rp120.000, selain bisa digunakan lebih dari 2 device, videonya juga bisa didownload dan ditonton secara offline, bahkan saat sudah tidak berlangganan. Jadi dengan uang Rp60.000, kalian bisa menikmati Netflix 2 bulan penuh.
Selain layanan streaming film, hal yang sama juga saya berlakukan untuk langganan lain, misalnya antara layanan edit video Capcut dan layanan edit foto Adobe Lightroom. Bulan ini Capcut, bulan selanjutnya Adobe Lightroom.
Jangan lupa juga memeriksa pembayaran otomatis di Google Play, Play Store, dompet digital, dan kartu debit. Ini untuk memastikan tidak ada layanan digital yang nyedot uang kalian secara rutin tanpa sadar.
#6 Kelas menengah bagi uang menjadi anggaran mingguan
Mengatur uang untuk sebulan penuh memang kelihatannya sederhana, tapi praktiknya sulit. Saldo awal bulan biasanya sangat menggoda karena kelihatan banyak. Pokoknya apa saja beli. Diajak nongkrong juga ayok. Tapi, ketika akhir bulan, hidup jadi nelongso.
Nah, cara paling mudah adalah dengan membagi anggaran menjadi empat bagian mingguan. Misalnya, tersedia uang Rp1,6 juta untuk makan, transport, dan kebutuhan harian. Maka pecah anggaran itu untuk 4 minggu, artinya ada sekitar Rp400.000 per minggu sebagai batas pengeluaran.
Ini sering saya lakukan dan sangat membantu dalam berhemat. Bahkan, kalau masih ada sisa uang di akhir minggu dari Rp400.000 itu, ya tinggal dipakai untuk beli makanan yang disukai.
Pada akhirnya, semua strategi di atas memang nggak bisa menjamin kita lepas sepenuhnya dari keruwetan kondisi ekonomi saat ini. Tapi, paling tidak, membuat kita bisa bertahan dan tetap waras. Bukankah itu yang diinginkan pemerintah? Warganya waras, supaya tetap berbelanja, daya beli pun menguat, supaya pertumbuhan ekonomi bisa terus dipamerkan.
Kita yang bekerja, kita yang berhemat, kita yang putar otak biar tetap waras dengan tetap dipajaki. Sementara di sisi lain mereka begitu bangga dengan angka statistik bahwa ekonomi kita baik-baik saja. Semprul!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
loading…
Ketua Umum Relawan Jaringan Nasional (Jarnas) Prabowo-Gibran, Nasarudin, bersama Prabowo Subianto. Foto/Istimewa
JAKARTA – Kebijakan strategis yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari upaya besar negara dalam memerangi mafia ekonomi dan mafia sumber daya alam (SDA) yang selama ini dinilai merugikan kepentingan nasional. Hal itu disampaikan Ketua Umum Relawan Jaringan Nasional (Jarnas) Prabowo-Gibran, Nasarudin.
Menurut Nasarudin, langkah pemerintah memperkuat kemandirian ekonomi nasional tidak terlepas dari berbagai tantangan dan tekanan yang muncul, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Presiden Prabowo sedang memimpin perang besar melawan mafia ekonomi dan mafia sumber daya alam. Ketika negara mulai membenahi tata kelola kekayaan nasional, memperkuat penerimaan negara, dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar, tentu akan muncul berbagai bentuk perlawanan dari pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan dari sistem yang tidak sehat,” ujar Nasarudin dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).
Ia mengapresiasi komitmen pemerintah dalam menjaga kedaulatan ekonomi nasional, termasuk upaya mengurangi ketergantungan terhadap lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Menurutnya, Indonesia perlu mengoptimalkan potensi sumber daya alam serta memperkuat sektor produksi dalam negeri guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
“Kami mendukung kebijakan pemerintah yang tidak menjadikan utang luar negeri sebagai solusi utama pembangunan. Indonesia memiliki sumber daya yang besar dan harus mampu berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri,” katanya.
Jaga Stabilitas Ekonomi, Pemerintah Terus Dorong Program Bidang Pangan hingga Energi
Pemerintah menegaskan komitmen menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui percepatan berbagai program strategis di sektor riil, mulai dari pangan hingga perikanan. Langkah ini penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi makro di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah menegaskan komitmen menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui percepatan berbagai program strategis di sektor riil, mulai dari pangan hingga perikanan. Langkah ini penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi makro di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.
“Mendorong program-program yang dapat meningkatkan pertumbuhan sektor ekonomi riil untuk bisa dipercepat terutama program-program di bidang pangan, program-program di bidang energi, kemudian program-program di bidang perikanan dan termasuk industrialisasi dan hilirisasi,” ujar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6).
Ia menyebut stabilitas ekonomi nasional tidak bisa dijaga oleh satu institusi saja. Karena itu, pemerintah memperkuat koordinasi lintas lembaga agar kebijakan moneter dan fiskal berjalan seiring dan saling mendukung.
“Koordinasi yang intens di antara seluruh pemangku kepentingan ekonomi di dalam rangka tadi, menjaga baik moneter maupun fiskal kita, terus berada di posisi yang kita harapkan,” katanya.
Menurut Prasetyo, kondisi ekonomi global saat ini menuntut adanya kerja sama yang kuat antarpemangku kepentingan. Ia mengatakan seluruh kebijakan yang diambil pemerintah harus mampu saling memperkuat demi menjaga stabilitas nasional.
“Dalam situasi hari ini, menuntut kerja sama di antara kita semua. Kebijakan-kebijakan harus saling mendukung, saling memperkuat satu sama lain,” ucapnya.
Prasetyo juga menyoroti pentingnya sinergi antara kebijakan moneter yang dijalankan Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat.
“Baik dari sisi ekonomi makro di moneter yang dibawa oleh Bank Indonesia, maupun di sisi fiskal yang dikendalikan oleh Menteri Keuangan yang kemarin dilaporkan dari angka-angka indikator menunjukkan bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita memang cukup kuat,” tuturnya.
Bertalian dengan itu, pemerintah juga tetap mewaspadai dinamika ekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, Prasetyo mengajak seluruh pihak untuk tetap optimistis dalam menjalankan tugas masing-masing secara maksimal.
“Kita harus tetap optimis untuk menjalankan tugas dan fungsi kita masing-masing dalam rangka bersama-sama menjaga ekonomi kita tetap kuat, tetap tumbuh dan berkenaan dengan masalah nilai tukar supaya bisa segera kembali seperti yang kita harapkan,” pungkas dia. (her/dav)
Penerimaan Pajak Hingga Mei Tumbuh 22,1 Persen Jadi Rp834 T, Pemerintah: Bukti Perbaikan Ekonomi di Masyarakat
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa penerimaan pajak sepanjang tahun ini tetap solid. Hingga Mei 2026, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal itu dikatakan Purbaya dalam konferensi pers APBNKita, Jumat (5/6). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa penerimaan pajak sepanjang tahun ini tetap solid. Hingga Mei 2026, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Purbaya mengatakan capaian tersebut menjadi sinyal kuat terjadinya perbaikan ekonomi di masyarakat. Selain itu, pertumbuhan tersebut juga didorong oleh perbaikan pengawasan dan peningkatan kepatuhan wajib pajak melalui sistem administrasi Coretax.
“Jadi ini semua menunjukkan bahwa ada perbaikan riil di ekonomi. Data ini menunjukkan bahwa perbaikan yang ada di ekonomi betul-betul sedang terjadi,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBNKita, Jumat (5/6).
Lebih lanjut, Purbaya merinci pertumbuhan dan kontribusi masing-masing kategori pajak yang mencerminkan geliat ekonomi domestik.
Pertama, realisasi penerimaan PPh orang pribadi dan PPh Pasal 21 mencapai Rp123,1 triliun hingga Mei, tumbuh 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kedua, penerimaan PPh badan dan deposit PPh badan hingga Mei 2026 mencapai Rp167,6 triliun, naik 23,9 persen dibandingkan tahun lalu.
Menurut Purbaya, kenaikan penerimaan PPh, baik dari wajib pajak orang pribadi maupun badan, mencerminkan peningkatan penghasilan di masyarakat.
Ketiga, realisasi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) hingga Mei mencapai Rp315,7 triliun, melesat 41,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Purbaya mengatakan realisasi penerimaan pajak tersebut menjadi bukti bahwa permintaan domestik masih kuat dan belum memperlihatkan tanda-tanda perlambatan ekonomi.
“PPN dan PPnBM, sebagai pajak konsumsi, meningkat tinggi sejalan dengan konsumsi dalam negeri yang kuat dan daya beli yang terjaga,” ujarnya.
Berkat pertumbuhan penerimaan pajak yang signifikan, Indonesia juga berhasil menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Adapun hingga Mei 2026, defisit fiskal tercatat sebesar Rp180,4 triliun, atau setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Defisit itu menunjukkan bahwa memang pengelolaan anggaran kita bagus. Defisitnya terjaga, jadi kondisi fisikal amat baik,” pungkas Purbaya. (her/dav)
Ancaman Nyata di Gamping Sleman: Pesimisme Ekonomi Dorong Pemuda ke Jurang Judi Online
Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.
Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.
Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.
Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.
Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.
Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata.
Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit.
Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.
Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang.
Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri.
Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.
Kecemasan anak muda di Gamping Sleman
Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.
Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”
Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal.
Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat.
Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.
Kehidupan yang berubah celaka
Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres.
Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.
Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.
Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut.
Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman
Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu.
Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.
Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman.
Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan.
Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Program MBG Dongkrak Ekonomi Petani Sayur Cipanas, Bantu Modal hingga Penuhi Kebutuhan Keluarga
Program MBG turut mendongkrak ekonomi petani sayur di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Selain itu, juga membantu modal hingga memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu seperti dirasakan Ala Mulyana, salah satu petani di Cipanas. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Cipanas, Idola 92.6 FM-Udara pagi terasa sejuk ketika Ala Mulyana mulai memetik sayuran di kebunnya. Selama 20 tahun menjadi petani, ia sudah merasakan jatuh bangun harga hasil panen.
Ada masa ketika sayuran melimpah, tetapi harga begitu rendah hingga modal pun sulit kembali. Namun belakangan, harapan perlahan tumbuh kembali berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ala menyebut MBG yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto membawa perubahan signifikan bagi para petani sayur di daerahnya. Permintaan hasil panen meningkat, harga sayuran membaik, dan penghasilan petani bisa kembali menghidupi keluarga dengan lebih layak.
“Semenjak ada MBG, Alhamdulillah, bisa kebantu buat nutupin modal,” ujar Ala penuh syukur saat ditemui di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (1/6).
Baginya, hasil panen tak hanya soal angka penjualan di pasar. Sebab, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dari setiap rupiah yang didapat di kebun. “Untuk anak, untuk keluarga, ya,” katanya.
Ia mencontohkan harga pokcoy yang sebelumnya hanya dihargai sekitar Rp3 ribu di tingkat petani. Kini, setelah program MBG berjalan, harga bisa naik hingga Rp6 ribu sampai Rp7 ribu.
“Sayuran itu bisa naik. Misalnya nih, contoh, harga pokcoy Rp3 ribu, kalau semenjak ada MBG bisa naik, bisa Rp6 ribu, bisa Rp7 ribu di kebun, di petani. Jadi istilah bagus,” tuturnya.
Ala menuturkan kenaikan harga itu menjadi angin segar bagi para petani. Setelah bertahun-tahun bekerja tanpa kepastian, mereka mulai merasakan adanya peluang untuk hidup lebih baik.
Hal serupa dirasakan Deden (42), petani yang telah 25 tahun menggantungkan hidup dari hasil bertani. Ia mengatakan, kenaikan harga sayuran dari program MBG membuat kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya terpenuhi lebih baik.
“Buat keluarga, buat anak, buat biaya sekolah anak,” ucap Deden.
Menurut Deden, program MBG menjadi angin segar bagi petani di tengah sulitnya harga hasil panen. Kenaikan harga sayuran yang mulai dirasakan membuat para petani perlahan bisa bangkit.
“Jadi Alhamdulillah, ada MBG membantu. Sekarang sayuran lagi naik. Kemarin-kemarin kan rugi terus,” ungkapnya.
Ia mengatakan program MBG bukan hanya menghadirkan pasar baru bagi hasil panen, melainkan memberi harapan bahwa kerja keras di ladang dapat kembali membawa kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
Di akhir perbincangan, Ala dan Deden sama-sama menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap nasib petani.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, dengan adanya program MBG, petani jadi lebih sejahtera,” ujar Ala.
“Saya berterima kasih kepada Bapak Presiden. Cukup membantu, dalam pertanian Indonesia,” kata Deden. (her/dav)
Prabowo di Hari Lahir Pancasila: Komitmen Kunci Transformasi Ekonomi Nasional
Di tengah peringatan Hari Lahir Pancasila, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang tegas: pembangunan ekonomi Indonesia tidak boleh berhenti di angka pertumbuhan. Ia harus menyentuh keadilan, dan harus dirasakan oleh seluruh rakyat. Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Di tengah peringatan Hari Lahir Pancasila, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang tegas: pembangunan ekonomi Indonesia tidak boleh berhenti di angka pertumbuhan. Ia harus menyentuh keadilan, dan harus dirasakan oleh seluruh rakyat.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6). Bagi Prabowo, Pancasila bukan dokumen sejarah yang dibacakan saat upacara lalu dilupakan. Pancasila adalah kompas.
“Pancasila adalah pedoman untuk mengatur kehidupan berbangsa, kehidupan bermasyarakat, kehidupan bernegara termasuk bagaimana kita membangun sistem ekonomi nasional kita,” ujarnya.
Dan kompas itu, menurut Prabowo, selama ini belum sepenuhnya diikuti. Ekonomi Indonesia memang tumbuh dalam beberapa dekade terakhir—tetapi hasilnya tidak merata. Kekayaan ada, tapi banyak yang mengalir ke tempat yang salah.
“Kita harus mengakui bahwa terlalu lama kekayaan kita tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Terlalu lama sebagian nilai tambah atas sumber daya kita dinikmati di luar negeri. Terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri,” katanya.
Karena itulah, Prabowo menyebut transformasi ekonomi sebagai tugas sejarah pemerintahannya—bukan sekadar agenda kebijakan, melainkan mandat zaman.
“Tugas sejarah saya sebagai Presiden ke-8 RI adalah untuk melakukan transformasi bangsa, terutama transformasi ekonomi nasional kita. Transformasi dari ekonomi yang belum sepenuhnya berlandaskan Pancasila menuju ekonomi yang sungguh-sungguh berdasarkan Pancasila,” jelasnya.
Ekonomi Pancasila yang ia maksud berdiri di atas empat prinsip: religius, kemanusiaan, persatuan nasional, dan keadilan sosial. Dalam kerangka ini, kekayaan alam bukan komoditas yang bebas diperjualbelikan, melainkan amanah yang harus dikelola sebesar-besarnya untuk rakyat dan generasi mendatang. Dampaknya harus terasa konkret: gizi anak terpenuhi, petani mendapat pupuk, nelayan punya akses pasar yang adil, dan pekerja terlindungi.
Soal kedaulatan ekonomi, Prabowo berbicara lebih keras. Sudah terlalu lama, katanya, harga komoditas strategis Indonesia ditentukan pihak lain dan sebagian besar keuntungannya mengalir ke luar negeri.
“Karena itu, pemerintah menentukan ekspor sumber daya alam satu pintu. Kita juga harus melakukan investasi besar di bidang industrialisasi berdasarkan hilirisasi. Kita harus memperkuat pengelolaan devisa hasil ekspor dan memastikan bahwa kekayaan Indonesia memberi manfaat sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia,” terangnya.
Dari hilirisasi, Prabowo lalu berbicara soal akar rumput. Ia menekankan pentingnya memperkuat koperasi, UMKM, dan menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945. Salah satu wujud nyatanya adalah pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang dirancang untuk memangkas peran tengkulak dan memajukan ekonomi daerah. Rakyat, tegasnya, harus menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar objeknya.
“Kita memperkuat hilirisasi sumber daya alam, kita membangun ketahanan pangan nasional, kita memperkuat koperasi dan ekonomi desa, kita terus memberi makan bergizi gratis untuk membangun generasi Indonesia yang sehat dan unggul dan cerdas,” imbuhnya.
Prabowo menutup pidatonya dengan satu tekad: menghentikan kebocoran. Sektor pendidikan dan kesehatan akan terus diperkuat, tata kelola ekonomi akan terus diperbaiki, dan kekayaan negara tidak boleh lagi mengalir ke tempat yang bukan haknya.
“Kita memperbaiki tata kelola agar kekayaan bangsa tidak terus bocor dan tidak terus mengalir ke luar negeri,” pungkasnya. (her/dav)
Analisis: 5 Langkah Krusial Pemerintah Demi Kebangkitan Ekonomi
loading…
Pengamat ekonomi dan kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy (kiri). Foto/Istimewa
JAKARTA – Pengamat ekonomi dan kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy menyarankan lima pendekatan strategis yang bisa dipakai pemerintahan Prabowo Subianto untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika domestik. Kelima pendekatan itu disebut Noorsy pernah ia sampaikan ke tim Presiden Prabowo.
Menurut Noorsy, Presiden Prabowo tahu cara berpikir dirinya. Sebab, dirinya pernah menjadi tim inti pada 2019. Kepada lingkungan Presiden Prabowo, dirinya pun sudah menyerahkan makalah terkait persoalan ekonomi.
Noorsy mengatakan, dirinya memiliki lima pendekatan yang bisa dilakukan pemerintahan Prabowo. Pendekatan pertama adalah memperbaiki pendekatan berbasis sumber daya (resource-based approach).Pendekatan kedua adalah memperbaiki pendekatan produktivitas (productivity-based approach).
“Ini kata kuncinya adalah, kita harus melakukan reindustrialisasi pada sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak,” kata Noorsy dalam podcast EdShareOn, dikutip Kamis (28/5/2026).
Indomaret Tutup: Bukan Sekadar Promo Minyak Goreng Hilang, Ini Guncangan Ekonomi dan Kenyamanan Harian
Sedang asik scroll di Threads, saya menemukan kabar kalau sebanyak 6.546 gerai Indomaret tutup pada 31 Mei dan 1 Juni 2026. Usut punya usut, ternyata tutupnya gerai sejuta umat tersebut adalah bentuk protes.
Yang saya maksud adalah bentuk protes terhadap kebijakan kebijakan Indomaret yang tidak memberikan uang lembur di tanggal merah. Sebagai gantinya, karyawan yang masuk di tanggal merah akan mendapat ganti hari libur.
Saya lalu mencoba untuk mengingat-ingat. Kemarin, 31 Mei, Indomaret yang ada di sekitar wilayah tempat tinggal saya masih tetap beroperasi. Berarti, Indomaret di sini tidak termasuk dalam 6.546 gerai yang tutup. Namun, ketika saya menyelam ke Instagram maupun mencari dengan kata kunci “Indomaret tutup”, ternyata memang ada yang tidak beroperasi.
Sebagai orang yang cukup sering ke Indomaret, saya hanya bisa berharap mereka menemukan solusi terbaik. Jangan sampai, dari yang semula ada 6.546 gerai tutup, malah merembet jadi semua gerai ikut tutup karena nggak ketemu titik terangnya.
Nah, loh. Bisa kebayang nggak tuh apa jadinya kalau semua gerai tiba-tiba tutup?
#1 Bingung cari tempat ngadem seperti kursi besi andalan kalau Indomaret tutup
Hal pertama yang terlintas di benak saya andai semua gerai Indomaret tutup adalah kita bakal bingung cari tempat untuk ngadem. Selama ini, mereka memang punya hampir semua hal yang kita butuhkan untuk ngadem. Baik ngadem karena cuaca, ataupun ngadem karena isi kepala.
Ini bukan semata cuma soal AC yang memang mak’nyess itu, ya. Lebih dari itu, ada etalase minuman dingin sebagai tempat untuk pura-pura kuat. Sengaja bengong di depan etalase biar dikira bingung pilih minuman, padahal sedang menenangkan isi kepala yang ruwet.
Jangan lupa juga bahwa Indomaret punya kursi besi andalan untuk ngadem. Kursi besi yang berjasa dalam memberi jeda, dari sebuah hari yang luar biasa. Sungguh, yang demikian itu, proses release yang kelihatan sederhana itu, tak bisa diganti dengan toko retail mana pun.
#2 Susah cari promo minyak goreng private label Indomaret
Dari POV emak-emak, kalau sampai semua Indomaret tutup, alamat bakal susah cari minyak goreng kemasan yang harganya terjangkau. Jujur saja, minyak goreng private label adalah penyelamat dari tingginya harga minyak goreng merek lain. Harganya bisa selisih sampai 5 ribu perak. Eman, dong! Duit 5 ribu bisa buat beli tempe 1 papan.
Ya bisa saja sih cari minyak goreng kemasan di minimarket atau sekalian ke supermarket. Kan biasanya di supermarket juga ada promo minyak goreng.
Tapi, kalau ke supermarket, harus mikir bensin ke sana, perjalanannya, parkirnya, belum harus ganti outfit segala. Ribet. Memang paling cocok beli minyak goreng ya ke Indomaret. Lokasinya dekat dari rumah, jadi bisa sat set. Misal perginya pakai baju kaya mau COD biawak juga nggak masalah.
#3 Anak-anak kehilangan hiburan kalau Indomaret tutup
Sementara itu dari POV anak-anak, mereka akan kehilangan salah satu tempat hiburan kalau Indomaret tutup. Di situlah uniknya.
Judulnya sih memang retail, ya, tempat kita memenuhi kebutuhan harian. Tapi dalam praktiknya? mereka juga jadi tempat hiburan bagi anak-anak. Mata mereka selalu berbinar setiap saya ajak ke sana. Bayangan deretan cemilan-cemilan enak, minuman segar, dan aneka printilan lucu-lucu langsung memenuhi isi kepala mereka.
Dan kecintaan anak-anak dengan Indomaret ini juga menguntungkan orang dewasa. Misal ada anak yang tantrum atau yang mau dikasih reward, tinggal bawa saja ke sana.
Lha kalau Indomaret tutup semua, bagaimana ceritanya coba? Mau dibawa ke tempat wisata atau ke mall? Ongkos yang keluar pasti lebih besar.
Itulah 3 hal yang mungkin terjadi. Susah memang ya, di satu sisi kita berharap Indomaret tetap buka seperti biasa. Tapi di sisi lain, gerai yang saat ini memutuskan untuk tutup itu sedang memperjuangkan haknya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.