Modul Bijak Keuangan resmi diluncurkan untuk tingkatkan pemahaman finansial generasi muda – Lombok Insider
LOMBOK INSIDER – Di tengah kemudahan akses layanan keuangan digital, generasi muda Indonesia dari kalangan Gen Z dan Milenial menghadapi tantangan baru dalam mengelola keuangan secara sehat. Banyak anak muda mulai mengambil keputusan finansial, namun tanpa panduan yang memadai. Akibatnya, gaji atau uang jajan kerap habis lebih cepat dari rencana, utang diambil tanpa perhitungan, dan […]
Organisasi Kemasyarakatan Muhammadiyah menegaskan dukungannya terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah. Direktur Badan Pelayan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) M. Nurul Yamin dalam keterangannya, baru-baru ini. (Foto Dok. Istimewa: PP Muhammadiyah)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Muhammadiyah menegaskan dukungannya terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.
Organisasi Islam di Indonesia itu menilai program tersebut memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi muda yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing di masa depan.
Direktur Badan Pelayan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) M. Nurul Yamin mengatakan pemenuhan gizi bagi masyarakat, khususnya kelompok prasejahtera, merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa diabaikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Program makan bergizi merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing tinggi,” kata Direktur Badan Pelayan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) M. Nurul Yamin dalam keterangannya, Kamis (18/6).
Menurut Yamin, program MBG tidak boleh dipandang hanya sebagai upaya penyediaan makanan bagi masyarakat.
Lebih dari itu, program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas SDM Indonesia di masa mendatang.
Ia menilai pemenuhan gizi bagi kelompok prasejahtera menjadi prasyarat penting untuk menciptakan masyarakat yang produktif dan mampu berkontribusi terhadap pembangunan nasional.
Karena itu, Muhammadiyah mendukung agar pelaksanaan MBG tetap berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan pemerintah.
Meski demikian, Yamin mengakui masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperbaiki dalam implementasinya.
Menurut dia, berbagai masukan dan kritik yang muncul terhadap program tersebut seharusnya tidak dilihat sebagai hambatan, melainkan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pelaksanaan MBG di lapangan.
“Berbagai kritik harus dijadikan momentum berbenah untuk memperkuat sistem pengelolaan,” kata Nurul Yamin.
Muhammadiyah juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas program melalui tiga pilar utama, yakni keamanan pangan yang memenuhi aspek halal, tayib, dan aman, tata kelola yang profesional, serta pembangunan ekosistem yang berkelanjutan.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Muhammadiyah menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan program tersebut.
Dukungan itu akan dilakukan melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang bergerak di sektor pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
“Keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas sistem yang dibangun. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pengelola, pengawasan berkala, dan transparansi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan program,” pungkas Nurul Yamin. (her/dav)
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
loading…
Founder Rembuk Pemuda, Aidil Afdan Pananrang mengatakan, perbedaan pendapat merupakan hal yang harus dihargai dalam kehidupan demokrasi. Terutama di lingkungan akademik yang menjunjung tinggi nalar kritis dan kebebasan berpikir. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA – Founder Rembuk Pemuda, Aidil Afdan Pananrang menyayangkan aksi penggerudukan dan pembubaran acara diskusi yang menghadirkan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) , Senin (15/6/2026). Aidil menilai peristiwa tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak semata-mata dari satu sudut pandang.
Rembuk Pemuda tidak membenarkan aksi apapun yang bertujuan untuk menghalangi hak orang untuk berpendapat, terutama di ruang akademik kampus. ”Kalaupun kita tidak setuju dengan acara atau narasumber yang dihadirkan, menghentikan dialog lalu saling memaksakan kehendak juga tidak elok. Tetapi, di sisi lain pemerintah juga harus menangkap sinyal kegelisahan dan tantangan yang dihadapi para mahasiswa,” katanya, Rabu (17/6/2026). Baca juga:Kronologi Mahasiswa Geruduk Budiman Sudjatmiko, Sudaryono dan Nusron Wahid saat Diskusi di UGM
Mantan Presiden Mahasiswa Telkom University ini menegaskan perbedaan pendapat merupakan hal yang harus dihargai dalam kehidupan demokrasi, terutama di lingkungan akademik yang menjunjung tinggi nalar kritis dan kebebasan berpikir. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis yang dimiliki mahasiswa akan memberikan kontribusi yang lebih besar apabila diwujudkan melalui kritik yang substantif, berbasis data, serta mampu menguji dan memperkaya perspektif pemerintah dalam merumuskan kebijakan.
Oleh karena itu, Aidil mendukung setiap bentuk kritik yang konstruktif dan berorientasi pada penyelesaian masalah, sekaligus mengecam segala bentuk fitnah, disinformasi, maupun penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. “Tentu kita mendukung segala bentuk kritik yang bersifat substantif, bukan hanya sekedar genit secara diksi atau bahkan menjerumus pada penyebaran sentiment kebencian yang condong pada fitnah saja,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Sultan Rivandi, Presiden Mahasiswa UIN Jakarta tahun 2019 yang merupakan bagian dari Rembuk Pemuda. Sultan menegaskan tidak boleh ada pembatasan dalam upaya demokrasi, semua harus saling terbuka atas segala pendapat.
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
loading…
Yusuf Sugiyarto, Ketua Bidang Penelitian Kebijakan Strategis PB HMI. Foto: Ist
Yusuf Sugiyarto Ketua Bidang Penelitian Kebijakan Strategis PB HMI
TERIAKAN “Turunkan Soeharto!” yang menggema pada 1998 lahir dari keyakinan bahwa demokrasi akan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih adil. Generasi aktivis Reformasi memperjuangkan kebebasan politik karena mereka percaya bahwa rakyat harus memiliki ruang untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, demokrasi itu masih berdiri. Pemilu berlangsung rutin, kekuasaan berganti secara damai, dan ruang kebebasan sipil jauh lebih terbuka dibanding masa lalu. Namun, bagi Generasi milenial dan Generasi Z memiliki hubungan yang berbeda dengan demokrasi. Mereka tidak mengalami represi politik Orde Baru, tetapi mereka menghadapi tantangan lain yang tidak kalah nyata: mahalnya biaya hidup, semakin sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, dan menyempitnya jalur mobilitas sosial.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Februari 2025 jumlah pengangguran di Indonesia masih mencapai sekitar 7,28 juta orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, sekitar 59,4 persen tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor informal yang umumnya memiliki perlindungan kerja terbatas, dan tingkat kepastian pendapatan yang rentan.
Di banyak kota, kita menyaksikan fenomena yang semakin lazim: lulusan perguruan tinggi bekerja pada pekerjaan yang tidak sepenuhnya membutuhkan kompetensi yang mereka pelajari, sementara sebagian lainnya harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memperoleh pekerjaan pertama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama demokrasi Indonesia tidak lagi hanya berkaitan dengan distribusi kekuasaan, tetapi juga distribusi kesempatan.
Demokrasi yang sehat semestinya mampu menciptakan ruang bagi setiap warga untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Karakter generasi muda saat ini juga berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah arus informasi yang nyaris tanpa batas. Akibatnya, mereka lebih mudah mengenali jarak antara narasi dan realitas. Mereka tidak terlalu terpesona oleh pencitraan politik yang megah, slogan yang bombastis, atau klaim keberhasilan yang tidak mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi 109 Tahun: Mengapa Gagasan Soemitro Krusial Ditelaah Generasi Muda Hari Ini?
loading…
Generasi muda diminta telaah gagasan besar Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Foto/istimewa
JAKARTA – Generasi muda bangsa diminta menelaah kembali gagasan-gagasan besar bangsa. Sebab banyak gagasan dari para tokoh bangsa yang masih relevan dengan kondisi saat ini.
Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk “Relevansi Pemikiran dalam Arah Pembangunan Indonesia” dalam rangka memperingati 109 tahun Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang digelar The Kertanegara Institute. Forum ini menjadi ruang refleksi intelektual untuk menelaah kembali warisan pemikiran Prof. Soemitro serta relevansinya terhadap tantangan pembangunan Indonesia hari ini.
Forum ini diselenggarakan sebagai momentum refleksi atas pemikiran Prof. Soemitro sekaligus ajakan bagi generasi muda untuk menelaah kembali gagasan-gagasan besar bangsa di tengah perubahan zaman yang terus berkembang.
Founder and Chairman The Kertanegara Institute Raga Awandayu Prakasa V. G menyampaikan pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mengenang sekaligus merefleksikan kembali warisan pemikiran Prof. Soemitro, terutama dalam melihat bagaimana gagasan-gagasan besar tersebut tetap relevan bagi generasi muda hari ini.
”Prof. Soemitro menghadirkan teladan tentang pentingnya keberanian untuk berpikir jauh ke depan, melihat lebih dalam, dan menyiapkan sesuatu yang manfaatnya mungkin baru dirasakan oleh generasi setelahnya,” katanya, Jumat (29/5/2026).
Generasi Sandwich Bajingan Bikin Saya Tak Lagi Cinta Keluarga
Sebagai bagian dari Generasi Sandwich, saya kuliah sambil bekerja full time. Saya melakukan itu sejak semester satu dan baru di tahun ketiga ini, berani resign.
Saya memberanikan diri mengambil keputusan heroik sekaligus paling naif. Motivasinya mulia: ingin punya waktu lebih banyak untuk belajar, berorganisasi, dan yang paling klise, ingin memahami diri sendiri.
Saya pikir, dengan beralih ngojol, saya bisa mengatur waktu. Pagi narik sampai jam kuliah, sore lanjut sampai malam. Fleksibel.
Namun, setelah menjalaninya, ternyata tidak ada yang benar-benar berubah. Hidup tetap terasa seperti milik orang lain. Bahkan, ada sesuatu yang hilang. Dan hilangnya itu justru membuat saya bingung.
Dua tahun sebelumnya, saya bekerja dengan bahan bakar yang meluap-luap, dendam masa lalu dan ambisi gila untuk kaya. Saya ingin berteriak pada diri sendiri di masa lalu bahwa saya bisa memperbaiki kemiskinan dengan kerja keras.
Setiap rupiah yang saya tabung adalah simbol perlawanan terhadap nasib menjadi bagian dari Generasi Sandwich. Tapi sekarang? Semuanya menguap. Kebencian, pemicu, bahkan ambisi untuk jadi “orang kaya” itu juga ikut hilang. Saya benar-benar lupa semuanya.
Menjadi bapak-bapak Generasi Sandwich di tubuh mahasiswa
Secara administratif, saya adalah mahasiswa tahun ketiga. Seharusnya, saya sedang pusing memikirkan teori ekonomi pembangunan, magang, karier, atau sibuk ikut lomba esai. Tapi secara mental, saya seperti bapak-bapak Generasi Sandwich berusia 45 tahun yang resah karena memikirkan tiga anak.
Setiap kali aplikasi ojol saya berbunyi atau saldo tambahan masuk, pikiran saya tidak pernah lari ke “Bulan ini beli buku apa ya? ” atau “Ada event dengan guest star bagus, datang ah.”
Pikiran saya langsung tersedot ke lubang logistik yang tidak ada dasarnya bagi anggota Generasi Sandwich. Mulai dari adik sebentar lagi kuliah, membayar kos, memikirkan tiket, sampai dana emergency keluarga di kampung.
Aneh rasanya. Ketika teman-teman sebaya sedang sibuk mencari jati diri, saya justru kehilangan karena harus menjadi salah satu pilar hidup orang lain.
Eh, keluarga itu bisa disebut orang lain nggak ya? Melompat terlalu jauh itu nggak enak. Dilempar terlalu jauh lebih tepatnya. Menjadi anggota Generasi Sandwich itu rasanya seperti melewati masa muda dan langsung mendarat di fase pengabdian tanpa batas.
Kebaikan yang mekanis
Banyak orang bilang Generasi Sandwich yang bertahan itu karena landasan cinta dan kepedulian yang kuat pada keluarga. No ya adik-adik. BIG NO. Saya mengiyakan itu agar terlihat seperti anak berbakti, tapi jujur saja itu bohong.
Saya tetap mengusahakan keluarga, memastikan adik-adik bisa sekolah dengan layak, dan tetap membantu orang tua bukan karena dorongan cinta yang hangat. Saya melakukannya karena sudah lupa cara menjadi egois.
Merasa itu sudah jadi SOP tetap dalam hidup. Seperti robot yang diprogram untuk mengisi daya baterai perangkat lain sementara baterainya sendiri bocor.
Dulu, saya benci dan kesal setengah mati. Setiap pulang kerja tengah malam motoran sambil teriak-teriak nggak jelas di sepanjang jalan Ringroad. Bodo amat. Jalan sepi nggak ada orang juga.
Apa itu motivasi kerja keras dan kesuksesan buat Generasi Sandwich? Bullshit. Stop bicara takdir itu adil. Yang saya tahu hanya kuliah-kerja-tidur.
Tapi sekarang, semua luapan itu sudah hilang. Saking lelahnya fisik dan pikiran, saya sampai tidak punya energi lagi untuk merasa benci atau dendam. Saya sudah terlalu lelah untuk marah.
Hidup untuk apa?
Pertanyaan “Hidup sebenarnya untuk apa?” biasanya muncul di kelas filsafat atau saat sedang melamun. Bagi saya, pertanyaan itu muncul setiap kali melihat saldo rekening yang cuma mampir hitungan menit sebelum hilang untuk memenuhi takdir sebagai Generasi Sandwich yang kelelahan.
Saya kehilangan ambisi bukan karena sudah merasa cukup, tapi karena tujuan hidup sudah lama tertutup oleh pikiran-pikiran “keluarga nanti gimana”. Saya tidak lagi tahu apa yang saya inginkan.
Jika besok semua tanggungan ini hilang, saya rasa hanya akan berdiri mematung. Mungkin saya akan kebingungan ingin melangkah ke mana karena kedua kaki sudah terlalu lama berjalan untuk arah orang lain.
Mungkin ini adalah level tertinggi dari sebuah keletihan Generasi Sandwich. Ketika kita tidak lagi merasa menderita, tapi juga sudah tidak tahu caranya merasa bahagia. Saya tetap menjadi “anak baik” dan “kakak hebat”, bukan karena saya berbakti, tapi karena sudah terlalu lupa bagaimana rasanya hidup untuk diri sendiri.
“Banyak anak banyak rezeki” adalah penipuan logika, jebakan Generasi Sandwich
Sekarang, setiap mendengar kalimat banyak anak banyak rezeki dari pengajian di kampung, rasanya ingin diam-diam pergi ke belakang lalu mematikan saklar biar bubar. Mending kita jujur dan jadi truth bitter.
Narasi “banyak anak banyak rezeki” adalah scam terbesar bangsa ini. Karena ada redaksi hadisnya? Sori, Pak. Dulu ketika zaman perang, populasi itu kekuatan. Lah sekarang? Ekonomi sulit.
Rezeki itu memang ada jalannya. Tapi kalian lupa bilang kalau jalan itu seringnya harus dilewati oleh anak-anak yang lahir duluan dan badannya remuk redam menjadi anggota Generasi Sandwich.
Orang tua kita mungkin benar bahwa untuk sekadar makan, Tuhan pasti kasih jalan. Tapi mereka cuma itu doang. Mereka nggak menghitung variabel lain.
Misalnya, biaya pendidikan naik lebih cepat dari inflasi, biaya berobat yang mahal, biaya sosial di kampung, hingga dana darurat yang seringnya memaksa. Orang tua yang punya anak banyak tanpa kesiapan finansial, bukan sedang menjemput rezeki, itu mah outsourcing tanggungan pada Generasi Sandwich.
Saya teramat sangat benci narasi tersebut karena menjadi korban dari optimisme buta. Saya jadi punya beban pikiran untuk membiayai “rezeki-rezeki” yang lain sementara saya sendiri tidak punya waktu untuk mengurus rezeki diri sendiri.
Nyari uang itu capek, kawan. Sangat capek. Mengatakan rezeki sudah ada yang ngatur sambil terus meminta gendongan di punggung anak-anak Generasi Sandwich dan baru belajar jalan di dunia professional, adalah sebuah kezaliman yang dibungkus nasihat agama.
Memutus rantai derita Generasi Sandwich, bukan menyambung penderitaan
Untuk yang sudah menjadi bapak-bapak secara psikologis, bukan secara umur, yang hari ini merasa punggungnya hampir patah karena memikul beban dua generasi sekaligus, kamu tidak sendirian. Mari kita berani untuk jadi yang terakhir.
Kita perlu berhenti menelan mentah-mentah romantisme “bakti tanpa batas” korban Generasi Sandwich. Apalagi jika itu hanya jadi kedok untuk menormalisasi kegagalan finansial generasi sebelum kita.
Memutus rantai kemiskinan bukan sekadar soal bekerja lebih keras, tapi keberanian untuk berkata “cukup”. Khususnya kepada pola pikir boomer yang menjadikan anak sebagai investasi masa tua.
Kita rapatkan barisan untuk tidak mewariskan trauma finansial ini. Kita harus menjadi generasi yang lebih logis daripada sekadar optimistis.
Punya anak bukan untuk menjemput rezeki yang tidak pasti, tapi untuk memastikan manusia baru itu, punya hidup yang lebih merdeka dari kita. Jika hari ini kita dipaksa menjadi martir, setidaknya jadilah martir yang menutup pintu menuju kondisi bajingan ini rapat-rapat.
Biar Generasi Sandwich kita saja yang babak belur, generasi di bawah kita tak perlu lagi mengenal apa itu hidup yang terasa milik orang lain. Biarkan penderitaan ini berhenti di kita. Semata supaya anak-anak kita nanti bisa benar-benar mengenal arti “hidup”, tanpa harus lebih dulu lupa caranya bernapas untuk diri sendiri. Kita adalah tembok terakhir.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Menkum Dorong Afirmasi Pendidikan Kedinasan bagi Generasi Muda Papua
loading…
Menkum RI Supratman Andi Agtas menegaskan komitmennya membuka ruang afirmasi bagi generasi muda Papua untuk mengakses pendidikan kedinasan dan peluang menjadi ASN. Foto/istimewa
JAKARTA – Menteri Hukum (Menkum) RI Supratman Andi Agtas menegaskan komitmen Kementerian Hukum dalam membuka ruang afirmasi bagi generasi muda Papua untuk mengakses pendidikan kedinasan dan peluang menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Hal tersebut disampaikan Supratman Andi Agtas saat meresmikan Pos Bantuan Hukum (Posbankum) Kampung dan Kelurahan Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya di Sorong, Senin, 18 Mei 2026.
Supratman mengapresiasi penampilan para pelajar dan mahasiswa asal Papua Barat yang menampilkan paduan gerak, musik, dan suara yang harmonis pada kegiatan tersebut. Menurutnya, penampilan tersebut menunjukkan potensi, semangat, dan kedisiplinan generasi muda dari tanah Papua yang perlu didukung melalui kebijakan afirmasi.
“Kementerian Hukum ingin memberikan ruang afirmasi bagi putra-putri Papua agar memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses pendidikan kedinasan dan menjadi bagian dari ASN di lingkungan Kementerian Hukum,” ujarnya, dikutip Selasa (19/5/2026).
Supratman menawarkan kesempatan kepada sejumlah pelajar dan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Politeknik Pengayoman Indonesia, sekolah kedinasan di Kementerian Hukum. Bagi mahasiswa yang berminat, pendidikan akan dimulai kembali dari semester awal dengan kesempatan menjadi ASN setelah menyelesaikan pendidikan.
Selain itu, Supratman juga memberikan pilihan kepada mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan tinggi untuk tetap melanjutkan kuliah di perguruan tinggi masing-masing. Supratman menegaskan, Kementerian Hukum akan terus mendorong kebijakan afirmasi dalam penerimaan ASN bagi putra-putri Papua.
Visi Masa Depan Daerah: Generasi Muda Desak DPD Perkuat Pengaruh
Diskusi media “Optimalisasi DPD” oleh IPC, SPD, dan Perkumpulan Warga Muda di Jakarta menyoroti urgensi penguatan DPD RI. DPD diharapkan menjadi kanal aspirasi daerah dan jembatan kebijakan inklusif. Akademisi menyoroti desain bikameral tidak seimbang; representasi daerah minim daya dorong kebijakan nasional.
Hardiknas 2026: Seskab Teddy Soroti Generasi Muda, Penentu Arah Indonesia Maju
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei. Melalui Instagram Sekretariat Kabinet, ia mengajak generasi muda mengasah potensi demi kemajuan pendidikan Indonesia. Unggahan itu disertai ilustrasi beragam siswa.
Sabang Merauke 2026: Generasi Muda Seluruh Indonesia Jadi Ujung Tombak Persiapan
Pagelaran Sabang Merauke 2026 oleh iForte melibatkan generasi muda seluruh Indonesia. Rangkaian Road to Pagelaran Sabang Merauke berlangsung 25-26 April 2026. Acara ini mencakup Grand Final iForte National Dance Competition dan The Audition, membuka partisipasi talenta budaya dari 227 kota/kabupaten.