Refleksi 109 Tahun: Mengapa Gagasan Soemitro Krusial Ditelaah Generasi Muda Hari Ini?
loading…
Generasi muda diminta telaah gagasan besar Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Foto/istimewa
JAKARTA – Generasi muda bangsa diminta menelaah kembali gagasan-gagasan besar bangsa. Sebab banyak gagasan dari para tokoh bangsa yang masih relevan dengan kondisi saat ini.
Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk “Relevansi Pemikiran dalam Arah Pembangunan Indonesia” dalam rangka memperingati 109 tahun Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo yang digelar The Kertanegara Institute. Forum ini menjadi ruang refleksi intelektual untuk menelaah kembali warisan pemikiran Prof. Soemitro serta relevansinya terhadap tantangan pembangunan Indonesia hari ini.
Forum ini diselenggarakan sebagai momentum refleksi atas pemikiran Prof. Soemitro sekaligus ajakan bagi generasi muda untuk menelaah kembali gagasan-gagasan besar bangsa di tengah perubahan zaman yang terus berkembang.
Founder and Chairman The Kertanegara Institute Raga Awandayu Prakasa V. G menyampaikan pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mengenang sekaligus merefleksikan kembali warisan pemikiran Prof. Soemitro, terutama dalam melihat bagaimana gagasan-gagasan besar tersebut tetap relevan bagi generasi muda hari ini.
”Prof. Soemitro menghadirkan teladan tentang pentingnya keberanian untuk berpikir jauh ke depan, melihat lebih dalam, dan menyiapkan sesuatu yang manfaatnya mungkin baru dirasakan oleh generasi setelahnya,” katanya, Jumat (29/5/2026).
Generasi Sandwich Bajingan Bikin Saya Tak Lagi Cinta Keluarga
Sebagai bagian dari Generasi Sandwich, saya kuliah sambil bekerja full time. Saya melakukan itu sejak semester satu dan baru di tahun ketiga ini, berani resign.
Saya memberanikan diri mengambil keputusan heroik sekaligus paling naif. Motivasinya mulia: ingin punya waktu lebih banyak untuk belajar, berorganisasi, dan yang paling klise, ingin memahami diri sendiri.
Saya pikir, dengan beralih ngojol, saya bisa mengatur waktu. Pagi narik sampai jam kuliah, sore lanjut sampai malam. Fleksibel.
Namun, setelah menjalaninya, ternyata tidak ada yang benar-benar berubah. Hidup tetap terasa seperti milik orang lain. Bahkan, ada sesuatu yang hilang. Dan hilangnya itu justru membuat saya bingung.
Dua tahun sebelumnya, saya bekerja dengan bahan bakar yang meluap-luap, dendam masa lalu dan ambisi gila untuk kaya. Saya ingin berteriak pada diri sendiri di masa lalu bahwa saya bisa memperbaiki kemiskinan dengan kerja keras.
Setiap rupiah yang saya tabung adalah simbol perlawanan terhadap nasib menjadi bagian dari Generasi Sandwich. Tapi sekarang? Semuanya menguap. Kebencian, pemicu, bahkan ambisi untuk jadi “orang kaya” itu juga ikut hilang. Saya benar-benar lupa semuanya.
Menjadi bapak-bapak Generasi Sandwich di tubuh mahasiswa
Secara administratif, saya adalah mahasiswa tahun ketiga. Seharusnya, saya sedang pusing memikirkan teori ekonomi pembangunan, magang, karier, atau sibuk ikut lomba esai. Tapi secara mental, saya seperti bapak-bapak Generasi Sandwich berusia 45 tahun yang resah karena memikirkan tiga anak.
Setiap kali aplikasi ojol saya berbunyi atau saldo tambahan masuk, pikiran saya tidak pernah lari ke “Bulan ini beli buku apa ya? ” atau “Ada event dengan guest star bagus, datang ah.”
Pikiran saya langsung tersedot ke lubang logistik yang tidak ada dasarnya bagi anggota Generasi Sandwich. Mulai dari adik sebentar lagi kuliah, membayar kos, memikirkan tiket, sampai dana emergency keluarga di kampung.
Aneh rasanya. Ketika teman-teman sebaya sedang sibuk mencari jati diri, saya justru kehilangan karena harus menjadi salah satu pilar hidup orang lain.
Eh, keluarga itu bisa disebut orang lain nggak ya? Melompat terlalu jauh itu nggak enak. Dilempar terlalu jauh lebih tepatnya. Menjadi anggota Generasi Sandwich itu rasanya seperti melewati masa muda dan langsung mendarat di fase pengabdian tanpa batas.
Kebaikan yang mekanis
Banyak orang bilang Generasi Sandwich yang bertahan itu karena landasan cinta dan kepedulian yang kuat pada keluarga. No ya adik-adik. BIG NO. Saya mengiyakan itu agar terlihat seperti anak berbakti, tapi jujur saja itu bohong.
Saya tetap mengusahakan keluarga, memastikan adik-adik bisa sekolah dengan layak, dan tetap membantu orang tua bukan karena dorongan cinta yang hangat. Saya melakukannya karena sudah lupa cara menjadi egois.
Merasa itu sudah jadi SOP tetap dalam hidup. Seperti robot yang diprogram untuk mengisi daya baterai perangkat lain sementara baterainya sendiri bocor.
Dulu, saya benci dan kesal setengah mati. Setiap pulang kerja tengah malam motoran sambil teriak-teriak nggak jelas di sepanjang jalan Ringroad. Bodo amat. Jalan sepi nggak ada orang juga.
Apa itu motivasi kerja keras dan kesuksesan buat Generasi Sandwich? Bullshit. Stop bicara takdir itu adil. Yang saya tahu hanya kuliah-kerja-tidur.
Tapi sekarang, semua luapan itu sudah hilang. Saking lelahnya fisik dan pikiran, saya sampai tidak punya energi lagi untuk merasa benci atau dendam. Saya sudah terlalu lelah untuk marah.
Hidup untuk apa?
Pertanyaan “Hidup sebenarnya untuk apa?” biasanya muncul di kelas filsafat atau saat sedang melamun. Bagi saya, pertanyaan itu muncul setiap kali melihat saldo rekening yang cuma mampir hitungan menit sebelum hilang untuk memenuhi takdir sebagai Generasi Sandwich yang kelelahan.
Saya kehilangan ambisi bukan karena sudah merasa cukup, tapi karena tujuan hidup sudah lama tertutup oleh pikiran-pikiran “keluarga nanti gimana”. Saya tidak lagi tahu apa yang saya inginkan.
Jika besok semua tanggungan ini hilang, saya rasa hanya akan berdiri mematung. Mungkin saya akan kebingungan ingin melangkah ke mana karena kedua kaki sudah terlalu lama berjalan untuk arah orang lain.
Mungkin ini adalah level tertinggi dari sebuah keletihan Generasi Sandwich. Ketika kita tidak lagi merasa menderita, tapi juga sudah tidak tahu caranya merasa bahagia. Saya tetap menjadi “anak baik” dan “kakak hebat”, bukan karena saya berbakti, tapi karena sudah terlalu lupa bagaimana rasanya hidup untuk diri sendiri.
“Banyak anak banyak rezeki” adalah penipuan logika, jebakan Generasi Sandwich
Sekarang, setiap mendengar kalimat banyak anak banyak rezeki dari pengajian di kampung, rasanya ingin diam-diam pergi ke belakang lalu mematikan saklar biar bubar. Mending kita jujur dan jadi truth bitter.
Narasi “banyak anak banyak rezeki” adalah scam terbesar bangsa ini. Karena ada redaksi hadisnya? Sori, Pak. Dulu ketika zaman perang, populasi itu kekuatan. Lah sekarang? Ekonomi sulit.
Rezeki itu memang ada jalannya. Tapi kalian lupa bilang kalau jalan itu seringnya harus dilewati oleh anak-anak yang lahir duluan dan badannya remuk redam menjadi anggota Generasi Sandwich.
Orang tua kita mungkin benar bahwa untuk sekadar makan, Tuhan pasti kasih jalan. Tapi mereka cuma itu doang. Mereka nggak menghitung variabel lain.
Misalnya, biaya pendidikan naik lebih cepat dari inflasi, biaya berobat yang mahal, biaya sosial di kampung, hingga dana darurat yang seringnya memaksa. Orang tua yang punya anak banyak tanpa kesiapan finansial, bukan sedang menjemput rezeki, itu mah outsourcing tanggungan pada Generasi Sandwich.
Saya teramat sangat benci narasi tersebut karena menjadi korban dari optimisme buta. Saya jadi punya beban pikiran untuk membiayai “rezeki-rezeki” yang lain sementara saya sendiri tidak punya waktu untuk mengurus rezeki diri sendiri.
Nyari uang itu capek, kawan. Sangat capek. Mengatakan rezeki sudah ada yang ngatur sambil terus meminta gendongan di punggung anak-anak Generasi Sandwich dan baru belajar jalan di dunia professional, adalah sebuah kezaliman yang dibungkus nasihat agama.
Memutus rantai derita Generasi Sandwich, bukan menyambung penderitaan
Untuk yang sudah menjadi bapak-bapak secara psikologis, bukan secara umur, yang hari ini merasa punggungnya hampir patah karena memikul beban dua generasi sekaligus, kamu tidak sendirian. Mari kita berani untuk jadi yang terakhir.
Kita perlu berhenti menelan mentah-mentah romantisme “bakti tanpa batas” korban Generasi Sandwich. Apalagi jika itu hanya jadi kedok untuk menormalisasi kegagalan finansial generasi sebelum kita.
Memutus rantai kemiskinan bukan sekadar soal bekerja lebih keras, tapi keberanian untuk berkata “cukup”. Khususnya kepada pola pikir boomer yang menjadikan anak sebagai investasi masa tua.
Kita rapatkan barisan untuk tidak mewariskan trauma finansial ini. Kita harus menjadi generasi yang lebih logis daripada sekadar optimistis.
Punya anak bukan untuk menjemput rezeki yang tidak pasti, tapi untuk memastikan manusia baru itu, punya hidup yang lebih merdeka dari kita. Jika hari ini kita dipaksa menjadi martir, setidaknya jadilah martir yang menutup pintu menuju kondisi bajingan ini rapat-rapat.
Biar Generasi Sandwich kita saja yang babak belur, generasi di bawah kita tak perlu lagi mengenal apa itu hidup yang terasa milik orang lain. Biarkan penderitaan ini berhenti di kita. Semata supaya anak-anak kita nanti bisa benar-benar mengenal arti “hidup”, tanpa harus lebih dulu lupa caranya bernapas untuk diri sendiri. Kita adalah tembok terakhir.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Menkum Dorong Afirmasi Pendidikan Kedinasan bagi Generasi Muda Papua
loading…
Menkum RI Supratman Andi Agtas menegaskan komitmennya membuka ruang afirmasi bagi generasi muda Papua untuk mengakses pendidikan kedinasan dan peluang menjadi ASN. Foto/istimewa
JAKARTA – Menteri Hukum (Menkum) RI Supratman Andi Agtas menegaskan komitmen Kementerian Hukum dalam membuka ruang afirmasi bagi generasi muda Papua untuk mengakses pendidikan kedinasan dan peluang menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Hal tersebut disampaikan Supratman Andi Agtas saat meresmikan Pos Bantuan Hukum (Posbankum) Kampung dan Kelurahan Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya di Sorong, Senin, 18 Mei 2026.
Supratman mengapresiasi penampilan para pelajar dan mahasiswa asal Papua Barat yang menampilkan paduan gerak, musik, dan suara yang harmonis pada kegiatan tersebut. Menurutnya, penampilan tersebut menunjukkan potensi, semangat, dan kedisiplinan generasi muda dari tanah Papua yang perlu didukung melalui kebijakan afirmasi.
“Kementerian Hukum ingin memberikan ruang afirmasi bagi putra-putri Papua agar memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses pendidikan kedinasan dan menjadi bagian dari ASN di lingkungan Kementerian Hukum,” ujarnya, dikutip Selasa (19/5/2026).
Supratman menawarkan kesempatan kepada sejumlah pelajar dan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Politeknik Pengayoman Indonesia, sekolah kedinasan di Kementerian Hukum. Bagi mahasiswa yang berminat, pendidikan akan dimulai kembali dari semester awal dengan kesempatan menjadi ASN setelah menyelesaikan pendidikan.
Selain itu, Supratman juga memberikan pilihan kepada mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan tinggi untuk tetap melanjutkan kuliah di perguruan tinggi masing-masing. Supratman menegaskan, Kementerian Hukum akan terus mendorong kebijakan afirmasi dalam penerimaan ASN bagi putra-putri Papua.
Visi Masa Depan Daerah: Generasi Muda Desak DPD Perkuat Pengaruh
Diskusi media “Optimalisasi DPD” oleh IPC, SPD, dan Perkumpulan Warga Muda di Jakarta menyoroti urgensi penguatan DPD RI. DPD diharapkan menjadi kanal aspirasi daerah dan jembatan kebijakan inklusif. Akademisi menyoroti desain bikameral tidak seimbang; representasi daerah minim daya dorong kebijakan nasional.
Hardiknas 2026: Seskab Teddy Soroti Generasi Muda, Penentu Arah Indonesia Maju
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei. Melalui Instagram Sekretariat Kabinet, ia mengajak generasi muda mengasah potensi demi kemajuan pendidikan Indonesia. Unggahan itu disertai ilustrasi beragam siswa.
Sabang Merauke 2026: Generasi Muda Seluruh Indonesia Jadi Ujung Tombak Persiapan
Pagelaran Sabang Merauke 2026 oleh iForte melibatkan generasi muda seluruh Indonesia. Rangkaian Road to Pagelaran Sabang Merauke berlangsung 25-26 April 2026. Acara ini mencakup Grand Final iForte National Dance Competition dan The Audition, membuka partisipasi talenta budaya dari 227 kota/kabupaten.
Pesta Siaga Sragen 2026: Ajang Ratusan Pramuka Mengukir Bakat, Menuju Generasi Emas
SRAGEN — Sebanyak 460 Pramuka Siaga dari seluruh Kwartir Ranting (Kwarran) se-Kabupaten Sragen mengikuti Pesta Siaga Kwartir Cabang (Kwarcab) Sragen Tahun 2026. Kegiatan yang dipusatkan di SMP Negeri 1 Gesi, Kamis (16/4/2026), menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengasah keterampilan, keberanian, dan jiwa sosial sejak dini.
Dalam kegiatan ini, para peserta mengikuti beragam aktivitas edukatif yang dikemas dalam bentuk permainan di berbagai “taman kegiatan”. Materi yang diberikan meliputi nilai ketakwaan, keterampilan kepramukaan, hingga kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, hadir dan membuka kegiatan secara resmi. Dalam amanatnya, ia mengajak seluruh Pramuka Siaga mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan kegembiraan.
Ia juga mengingatkan pentingnya penerapan nilai-nilai Dwi Dharma dalam kehidupan sehari-hari, seperti patuh kepada orang tua serta berani dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, bupati menegaska, kegiatan kepramukaan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tangguh, memiliki solidaritas, empati sosial, serta kecintaan terhadap budaya.
“Saya berharap kegiatan ini menjadi sarana belajar yang positif, tempat anak-anak mengembangkan potensi diri melalui permainan yang edukatif. Kepada para pembina dan pemangku kebijakan, mari kita terus dorong kegiatan Pramuka agar semakin inovatif dan menyenangkan,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Gesi yang juga Kamabiran, Dion Henry Wibowo, menyampaikan, Pesta Siaga merupakan wadah penting untuk mempererat persaudaraan sekaligus menumbuhkan karakter generasi muda yang tangguh dan berakhlak.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar, tetapi juga saling mengenal, menambah pengalaman, serta memupuk semangat kebersamaan. Ini juga menjadi ajang seleksi untuk mewakili Kabupaten Sragen di Pesta Siaga tingkat provinsi,” ujarnya.
Krisis Senyap Generasi: Mikroplastik dan Timbal Ancam Masa Depan Indonesia
Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina menyatakan paparan mikroplastik dan logam berat seperti timbal pada anak Indonesia darurat. Mikroplastik ditemukan di mekonium bayi, bukti transfer ibu. Kondisi ini ancaman serius kesehatan anak. Dampaknya meliputi penurunan kecerdasan dan gangguan tumbuh kembang permanen.
Nawal Yasin: Gerakan Literasi, Senjata Ampuh Cetak Generasi Muda Berpikir Kritis
Bunda Literasi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menekankan pentingnya gerakan literasi untuk mencetak generasi muda cerdas dan kritis. Dalam pembekalan lomba resensi buku di Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah (9/4/2026), ia menyoroti tantangan literasi berdasarkan data BPS. Kegiatan ini bertujuan mengasah kemampuan berpikir kritis siswa SMP/SMA.
MBG: Teropong Pemerintah Bentuk Generasi Emas Masa Depan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai positif menyiapkan masa depan generasi Indonesia. Mahasiswa S3 Steve Marra menyatakan program ini memberikan jaminan nutrisi bagi pelajar, balita, dan ibu hamil. Pemenuhan gizi krusial bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, guna bersaing di kancah global.