Peringatan Keras DPR: Hantavirus Andes Mengintai, Pemerintah Wajib Siaga!
loading…
Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto meminta pemerintah mewaspadai penyebaran Hantavirus atau Virus Hanta jenis Andes. Foto: Economic Times
JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto mengingatkan berbahayanya Hantavirus atau Virus Hanta jenis Andes karena bisa menular antarmanusia. Untuk itu, ia meminta pemerintah melakukan penanganan, serius dalam mengantisipasi ancaman penyebaran Virus Hanta jenis Andes yang belakangan menjadi perhatian dunia kesehatan.
Edy menilai, menjadi alarm kewaspadaan nasional, terlebih angka kematian akibat infeksi virus tersebut tergolong tinggi. Selain itu, hingga kini vaksin maupun obat khusus untuk Virus Hanta jenis Andes juga belum ditemukan, sehingga penanganan masih bersifat suportif untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
“Ini penyakit yang serius, karena jenis yang ditemukan di kapal ini tidak hanya menular antara hewan pengerat tikus dan manusia, tapi juga bisa melebar antarmanusia. Itu yang pertama. Yang kedua, angka kematiannya tinggi, 35 persen sampai 50 persen,” ujar Edy dikutip, Rabu (13/5/2026).
Hantavirus Mengancam? Kemenkes Laporkan 23 Kasus, Ini Gejala Krusial yang Wajib Anda Pahami Segera!
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi 23 kasus hantavirus di Indonesia periode 2024-2026. Dari jumlah tersebut, 20 pasien sembuh dan 3 meninggal. Varian hantavirus di Indonesia adalah Seoul Virus, penyebab tipe HFRS, berbeda dengan Andes Virus di kasus kapal pesiar MV Hondius. Waspadai gejala.
Hantavirus: Kupas Tuntas Fakta Krusial yang Tak Boleh Anda Abaikan
Kalian sudah dengar? Lagi ramai berita soal Hantavirus yang menyebabkan 3 orang di kapal pesiar MV Hondius meninggal dunia. Kapal tersebut sempat ditolak beberapa negara untuk pemeriksaan dan karantina karena ada kekhawatiran penularan. Ngeri, ya?
Kalau kalian ketinggalan beritanya, biar saya ceritakan sedikit. Jadi, ada suami istri naik kapal pesiar, singgah di pulau-pulau terpencil, termasuk South Georgia dan Nightingale Island.
Ndilalah, di dua pulau ini, ada banyak banget satwa liar. Nah, ada kemungkinan, pasutri ini terkena Hantavirus pas lagi di sana. Meski, ada kemungkinan juga sudah kena sejak sebelum boarding. Soalnya, masa inkubasi virus ini cukup lama. Rata-rata 2-4 minggu, bahkan sampai 8 minggu.
Yang jelas, menurut kabar yang beredar, gejala awal infeksi Hantavirus pada pasutri ini sudah mulai terlihat 5 hari setelah kapal berangkat dari dari Ushuaia, Argentina, pada tanggal 1 April. Kemudian, pada tanggal 11 April, sang suami meninggal dan istrinya menyusul beberapa hari setelahnya.
Yang membuat keadaan semakin chaos adalah, ada penumpang lain yang terkonfirmasi tertular. Sampai saat ini di kapal pesiar tersebut, dengan 147 penumpang yang ada, dikabarkan ada 8 kasus Hantavirus.
Dan muncullah ketakutan itu. Ketakutan akan penularan antar manusia di kapal pesiar. Dalam skala yang lebih besar, ketakutan akan adanya pandemi jilid dua.
Apa sebenarnya Hantavirus?
Sebenarnya, Hantavirus bukan virus baru. Virus ini pertama kali ditemukan ketika Perang Korea tahun 1950-an. Setelah berbagai penelitian, barulah diketahui bahwa virus tersebut berasal dari tikus.
Kalau kalian pikir Hantavirus ini sama dengan Leptospirosis karena sama-sama disebabkan oleh tikus, nggak, ya. Keduanya berbeda.
Kalau Leptospirosis, disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Bakteri ini hidup di dalam ginjal hewan yang terinfeksi (seperti tikus, anjing, sapi, atau babi) dan dikeluarkan melalui urine mereka ke lingkungan. Gejala khas dari Leptospirosis ini adalah nyeri otot yang parah, terutama pada bagian betis dan punggung bawah.
Sedangkan Hantavirus disebabkan oleh virus dari genus Orthohantavirus. Penularan Hantavirus bisa lewat kotoran, urine atau air liur tikus yang terinveksi. Gejalanya mulai dari demam tinggi, mual, lalu bisa cepat jadi sesak napas parah, hingga komplikasi pada ginjal. Pokoknya, perkembangan gejala dari awal ke kritis ini bisa sangat cepat.
Risiko global Hantavirus kabarnya masih rendah
Karena perkembangan gejala yang sangat cepat inilah, publik jadi resah dan gelisah. Mereka khawatir akan terjadi penularan ketika para penumpang sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Ya, saat ini WHO memang memberikan instruksi agar para penumpang kapal pesiar tersebut diisolasi selama 45 hari untuk dipantau perkembangannya.
Namun, apakah itu artinya Hantavirus ini tinggal menunggu waktu saja untuk menjadi pandemi? Semoga tidak. Pasalnya, sejauh ini, kemungkinan Hantavirus menjadi pandemi masih tergolong kecil. Hal ini disebabkan oleh jendela penularan yang sempit, masa awal gejala yang singkat, serta perburukan kondisi ke gagal napas (ARDS) yang terjadi sangat cepat.
Sederhananya, seperti yang sudah saya jelaskan di awal, virus ini bekerja cepat, bahkan terlalu cepat. Sehingga, penderitanya bisa langsung tumbang sebelum sempat jalan-jalan dan menularkan ke banyak orang. Umumnya, pasien Hantavirus biasanya sudah harus masuk rumah sakit atau menjalani isolasi karena kondisinya yang drop seketika.
Ibarat kata, Covid-19 itu seperti bara api dalam sekam yang asapnya tidak kelihatan tapi tau-tau sudah membakar seisi pasar. Sedangkan Hantavirus itu seperti ledakan petasan yang suaranya sangat keras dan dampaknya langsung terlihat. Itu sebabnya, WHO menilai risiko global dari event ini adalah rendah.
Tetap tenang, jangan panik
Nah, karena WHO sudah menilai bahwa risiko global dari event ini adalah rendah, maka, please, jangan panik. Ingat, dolar sudah nembus 17ribu. Kalau terjadi kepanikan, tentu tidak menguntungkan dari sisi ekonomi karena bisa menimbulkan panic buying.
Takutnya, situasi ekonomi jadi semakin sulit, dolar makin melejit. Jangan sampai ketakutan kolektif malah mengundang kebijakan ekstrem seperti lockdown jilid dua, yang akhirnya bikin tagar #dirumahsaja jadi kembali ramai. Duh, amit-amit. Nggak kebayang kalau setiap hari harus diisi lagi dengan mengaduk Dalgona.
Langkah terbaik saat ini adalah tetap tenang sambil terus memantau informasi tentang Hantavirus. Yang lebih penting, menjaga kebersihan diri, kebersihan rumah, dan tentu saja lingkungan sekitar agar tidak menjadi sarang tikus.
Jika menemukan ada kotoran atau air kencing tikus di rumah, sebaiknya jangan langsung kamu sapu dalam keadaan kering. Siram terlebih dahulu dengan disinfektan dan selalu gunakan masker saat bersih-bersih untuk mencegah terhirupnya partikel berbahaya.
Terakhir, jangan lupa untuk selalu berdoa supaya kita dihindarkan dari segala marabahaya. Stay safe, ya, Guys!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Kapal Pesiar MV Hondius Dihantam Wabah Hantavirus, 7 Kasus Terdeteksi
Foto: Qasem Elhato via AP
Teknologi.id– Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) masih menyelidiki penyebaran wabah hantavirus di kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius. Penyelidikan dilakukan setelah muncul dugaan penularan virus antarmanusia selama pelayaran.
Direktur Epidemi dan Kesiapan Pandemi WHO, Maria van Kerkhove, mengatakan pihaknya tengah mendalami sumber penyebaran wabah tersebut. MV Hondius diketahui berlayar dari Argentina menuju Antartika dan sejumlah kepulauan di Atlantik Selatan.
Hingga Rabu (6/5/2026), kapal itu masih berada di lepas pantai Praia, Tanjung Verde. Ratusan penumpang dilaporkan masih menjalani isolasi di dalam kapal sambil menunggu keputusan dari pihak berwenang.
WHO menyebut hantavirus umumnya menular melalui hewan pengerat. Namun, tidak ditemukan tikus di dalam kapal saat wabah terjadi. Temuan tersebut memperkuat dugaan adanya penularan antarmanusia selama pelayaran berlangsung.
Maria van Kerkhove juga menyatakan virus kemungkinan berasal dari seseorang yang sudah terinfeksi sebelum naik kapal di Argentina.
Pemerintah Argentina dilaporkan telah melakukan pelacakan terkait kasus tersebut. Sebelumnya, negara itu sempat mengalami wabah hantavirus yang menewaskan 28 orang pada 2025.
Otoritas Argentina menyatakan tidak ada penumpang yang menunjukkan gejala ketika MV Hondius memulai perjalanan. Meski begitu, gejala penyakit akibat hantavirus disebut dapat muncul hingga delapan pekan setelah penularan.
Per Selasa (5/5/2026), WHO mencatat terdapat tujuh kasus hantavirus di MV Hondius. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara satu jenazah masih berada di dalam kapal.
WHO juga menyebut satu penumpang berada dalam kondisi kritis dan kini dirawat secara terisolasi di rumah sakit di Afrika Selatan. Sementara itu, tiga penumpang lain dilaporkan mengalami gejala ringan.
Salah satu penumpang, Qasem Elhato, mengatakan para penumpang berusaha menjalani aktivitas seperti biasa sembari menunggu proses evakuasi.
“Hari-hari kami seperti normal, sekadar menunggu otoritas untuk menemukan solusi,” kata Elhato, dikutip Associated Press.
“Namun, semangat kami tinggi dan kami menyibukkan diri dengan membaca, menonton film, minum minuman panas, dan hal-hal lain.”