Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
loading…
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute. Foto: Istimewa
Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute
ANGKA-angka itu berbicara dalam satu bahasa yang sama. Dalam kurun lima bulan pertama 2026, rupiah melemah sekitar tujuh persen terhadap dolar AS dan kini bertengger di kisaran Rp 17.800–Rp 17.900. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hampir 30 persen dari posisi awal tahun yang berada di level 8.748 — menjadi salah satu koreksi terburuk dalam satu dekade terakhir.
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih hampir Rp54 triliun di pasar saham sepanjang tahun ini. Dua instrumen yang berbeda, satu sinyal yang sama: pasar sedang meragukan sesuatu.
Apa yang tepatnya diragukan pasar?
Di permukaan, jawabannya terlihat jelas. Konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak melampaui US$105 per barel. Gangguan di Selat Hormuz memperparah tekanan pada negara pengimpor energi seperti Indonesia.
The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, membuat dolar menjadi lebih menarik daripada aset-aset emerging market. Penjelasan ini benar. Tapi ia tidak lengkap, dan justru ketidaklengkapannya itulah yang perlu kita bicarakan.
Karena fakta lain juga benar: pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama 2026 mencapai 5,61 persen, angka tertinggi untuk periode yang sama dalam 13 tahun. Konsumsi rumah tangga masih solid.
Program pemerintah berjalan. Kalau fundamental ekonominya sekuat yang dinarasikan, mengapa pasar modal dan pasar valas merespons seakan-akan sedang membaca cerita yang berbeda?