Kala Prabowo Dengarkan Cita-Cita Pelajar SMP 111 Jakarta Barat: Jadi Presiden hingga Bawa Indonesia ke Piala Dunia
Kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke SMP Negeri 111 Palmerah, Jakarta Barat, untuk meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan momen hangat dan penuh inspirasi bersama para pelajar. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke SMP Negeri 111 Palmerah, Jakarta Barat, untuk meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan momen hangat dan penuh inspirasi bersama para pelajar.
Di sela-sela peninjauan, Prabowo juga berinteraksi dengan para siswa dan menanyakan cita-cita mereka.
Pertanyaan sederhana tersebut langsung disambut antusias oleh para pelajar yang berebut menyampaikan impian mereka kepada Prabowo.
Di tengah kerumunan siswa di ruang kelas, seorang pelajar laki-laki dengan penuh semangat mengangkat suara dan menyampaikan cita-citanya.
“Pak, saya mau jadi Bapak (Presiden),” ujarnya lantang di hadapan Prabowo, Selasa (2/6).
Mendengar jawaban tersebut, Prabowo langsung menoleh ke arah sang siswa. Dengan senyum hangat, ia menatap pelajar tersebut dan memberikan pesan singkat yang sarat makna.
“Belajar ya,” ucap Prabowo sembari memberikan semangat dan motivasi.
Jawaban itu pun disambut riuh dan senyum para siswa yang menyaksikan momen tersebut.
Bagi mereka, kesempatan menyampaikan cita-cita secara langsung kepada Prabowo tentu menjadi pengalaman berkesan.
Tak lama kemudian, sejumlah siswa lainnya juga menyampaikan impian mereka untuk menjadi pemain sepak bola.
Mendengar hal itu, Prabowo tampak gembira dan memberikan dorongan agar mereka terus berlatih serta mengejar prestasi setinggi mungkin.
“Bawa Indonesia ke Piala Dunia,” seru Prabowo yang langsung disambut sorak antusias para pelajar.
Suasana akrab dan penuh kehangatan mewarnai dialog singkat tersebut. Melalui interaksi sederhana itu, Prabowo menunjukkan dukungannya kepada para pelajar di SMP Negeri 111 Palmerah, Jakarta Barat, untuk berani bermimpi besar serta terus belajar dan bekerja keras demi meraih cita-cita mereka. (her/dav)
Prabowo Sorot: Pancasila, Jangkar Kokoh Indonesia di Pusaran Konflik Global
Presiden Prabowo Subianto memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Jakarta, 1 Juni. Beliau menegaskan Pancasila sebagai sandaran utama bangsa Indonesia. Pancasila menjadi fondasi menghadapi ketidakpastian global, persaingan geopolitik, dan transformasi ekonomi nasional. Ini penting untuk menjaga persatuan serta pemerataan pembangunan di Indonesia.
Prabowo: Perubahan Besar Tidak Mudah, Kita Harus Berani Lakukan Transformasi Demi Indonesia
Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan pemerintah tengah menjalankan strategi transformasi besar untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap perubahan besar pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan perlawanan. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan pemerintah tengah menjalankan strategi transformasi besar untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap perubahan besar pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan perlawanan.
Menurut Prabowo, pemerintah saat ini tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan dalam pengertian konvensional, tapi menjalankan agenda transformasi nasional yang lebih berani dan menyeluruh.
“Pemerintah saat ini melakukan berbagai langkah transformasi. Kita tidak hanya bicara pembangunan, kita sekarang punya cita-cita yang lebih berani. Kita sedang dan akan menjalankan terus strategi transformasi bangsa,” ujar Prabowo dalam pidatonya pada Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 di Gedung Pancasila, Taman Pejambon, Jakarta Pusat, Senin (1/6).
Ia menjelaskan arah transformasi ini selaras dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu menempatkan kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa sebagai tujuan utama pembangunan nasional.
Prabowo menyebut sejumlah program strategis yang menjadi bagian dari transformasi tersebut mulai dari hilirisasi sumber daya alam, penguatan ketahanan pangan, pengembangan koperasi dan ekonomi desa, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan kualitas generasi masa depan.
“Strategi kita sejatinya adalah transformasi menjadi haluan yang sejalan dengan Pancasila. Kita memperkuat hilirisasi sumber daya alam, kita membangun ketahanan pangan nasional, kita memperkuat koperasi dan ekonomi desa, kita terus memberi makan bergizi gratis untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan cerdas,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat sektor pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sumber daya manusia, serta melakukan pembenahan tata kelola pemerintahan agar kekayaan nasional dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.
Waspadai Perlawanan Koruptor
Meski demikian, Prabowo mengakui bahwa perubahan besar tidak akan berjalan mudah. Menurutnya, pemerintah harus siap menghadapi berbagai hambatan, termasuk perlawanan dari pihak-pihak yang selama ini diuntungkan oleh praktik-praktik yang merugikan negara.
“Suatu transformasi, suatu perubahan yang besar tidak mudah. Kita akan menghadapi rintangan, kita akan menghadapi tantangan, mungkin juga kita akan menghadapi perlawanan dari kelompok-kelompok yang suka dengan korupsi, suka dengan penyelundupan, suka dengan tindakan-tindakan ekonomi yang ilegal,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan adanya kemungkinan perlawanan dari pihak-pihak yang tidak memiliki komitmen terhadap kepentingan nasional dan berupaya melemahkan Indonesia.
“Kita akan mungkin menghadapi perlawanan dari mereka-mereka yang tidak cinta tanah air, bahkan berusaha terus untuk memperlemah NKRI. Tapi bangsa yang besar harus berani. Kita harus berani ambil keputusan yang benar walaupun sulit. Kita harus berani membela rakyat kita,” tegas Prabowo.
Prabowo pun menekankan pemerintah tidak boleh hanya mengejar kenyamanan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan generasi mendatang. Ia berpandangan setiap kebijakan harus diarahkan untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi anak dan cucu bangsa.
“Kita tidak boleh mewariskan kemudahan jangka pendek, tapi mengorbankan masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita,” ucapnya. (her/dav)
Karyawan Indomaret: Pekerja Paling Underrated di Indonesia
Saya baru sadar bahwa selama ini saya memperlakukan karyawan Indomaret sebatas karakter pendukung. Datang, ambil barang, bayar, pulang. Begitu terus. Bertahun-tahun.
Saya hafal letak mie instan favorit, minuman dingin, suara mesin kasir, dan suara otomatis yang menyambut pelanggan. Namun anehnya, saya hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan orang-orang yang bekerja di sana. Padahal, kalau saya pikir lagi, saya lebih sering bertemu karyawan Indomaret daripada ketua RT.
Sebagai orang yang lahir dan besar di Gamping, Sleman, saya termasuk pelanggan setia minimarket. Entah untuk membeli kopi sachet tengah malam, air mineral setelah bersepeda, atau sekadar mencari camilan ketika ide tulisan macet di kepala.
Selama beberapa waktu terakhir, saya menyadari ada satu hal yang menarik dari para karyawan Indomaret. Mereka selalu terlihat sibuk.
Awalnya saya mengira itu hal biasa. Namanya juga bekerja. Namun, setelah beberapa kali memperhatikan lebih saksama, saya mulai merasa bahwa pekerjaan mereka jauh lebih rumit daripada yang selama ini saya bayangkan.
Kita sering menyebut mereka “kasir”. Padahal, menyebut karyawan Indomaret sebagai kasir rasanya seperti menyebut seorang pemain sepak bola hanya sebagai tukang lari. Terlalu menyederhanakan kenyataan.
Suatu sore di sebuah Indomaret kawasan Gamping, saya melihat seorang karyawan Indomaret melayani antrean pembayaran listrik. Lima belas menit kemudian, orang yang sama sedang menata rak makanan ringan.
Tidak lama setelah itu, dia membantu seorang ibu mencari susu anak yang entah mereknya apa. Beberapa menit kemudian lagi, si karyawan Indomaret kembali ke kasir karena antrean mulai memanjang.
Besoknya, saya datang lagi. Orang yang sama sedang mengangkat kardus-kardus besar dari mobil pengiriman. Saya mulai bertanya-tanya. Sebenarnya pekerjaan mereka ini apa?
Sepertinya, hampir semua urusan masyarakat modern sekarang bisa berakhir di Indomaret. Mau beli sabun? Bayar listrik? Top up e-wallet? Transfer uang? Ambil paket? Bayar BPJS? Beli kopi? Bahkan ketika hujan deras dan kita butuh tempat berteduh, yang kita cari ya Indomaret.
Beratnya pekerjaan mereka
Masalahnya, semua layanan itu tidak berjalan sendiri. Di balik kemudahan yang kita nikmati, ada orang-orang yang harus melayani seluruh kebutuhan tersebut dengan wajah tetap ramah. Meskipun mungkin mereka sudah berdiri berjam-jam sejak pagi.
Saya pernah berada di belakang seorang pelanggan yang marah karena transaksi pembayaran gagal. Padahal masalahnya ternyata berasal dari sistem yang sedang gangguan. Yang menerima omelan tetap pegawai Indomaret.
Saya juga pernah melihat pelanggan yang bertanya panjang lebar tentang promo. Yang menjelaskan dengan sabar tetap pegawai Indomaret. Bahkan pernah ada pelanggan yang datang hanya untuk menanyakan arah jalan. Yang menjawab dengan ramah, ya karyawan Indomaret. Mereka seperti pusat informasi berjalan mengenakan seragam merah, biru, dan kuning.
Kita sering lupa kalau karyawan Indomaret juga manusia
Lucunya, karena terlalu sering melihat karyawan Indomaret, kita justru lupa bahwa mereka adalah manusia biasa. Mungkin inilah nasib pekerjaan yang benar-benar underrated.
Bukan karena tidak penting, tetapi karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanya, keberadaannya kita pandang biasa saja. Saya jadi teringat bagaimana banyak orang bisa dengan mudah menyebut pekerjaan impian mereka.
Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, arsitek, atau pengusaha. Namun saya hampir tidak pernah mendengar anak kecil bercita-cita menjadi karyawan Indomaret. Padahal, kalau melihat kompleksitas pekerjaannya, profesi ini jauh lebih berat daripada yang sering kamu bayangkan.
Yang lebih menarik lagi, karyawan Indomaret harus menghadapi berbagai macam karakter manusia setiap hari. Di Jogja, terutama kawasan yang dekat kampus, satu toko bisa didatangi mahasiswa rantau, warga kampung, pekerja kantoran, wisatawan, pengemudi ojek online, pesepeda, hingga rombongan pelancong yang kebingungan mencari arah.
Masing-masing datang dengan kebutuhan dan suasana hati yang berbeda. Dan semuanya mengharapkan pelayanan terbaik dari karyawan Indomaret.
Saya membayangkan betapa melelahkannya menghadapi puluhan, bahkan ratusan orang setiap hari, sambil tetap menjaga sikap profesional. Belum lagi ada ekspektasi yang sering tidak masuk akal dari pelanggan.
Barang habis, salah pegawai. Sistem error, pegawai kena marah. Harga berubah, karyawan Indomaret lagi yang kena. Mesin pembayaran bermasalah, yang kena semprot pegawai. Padahal mereka tidak memiliki kendali atas semua itu.
Ada satu hal yang menurut saya cukup ironis. Semakin modern Indonesia, semakin banyak pekerjaan yang ditumpuk ke satu orang. Dulu, urusan masyarakat tersebar di banyak tempat. Sekarang semuanya terpusat dalam satu minimarket yang buka hampir sepanjang hari.
Sebagai pelanggan, kita menikmati efisiensinya. Namun jarang terpikir bahwa efisiensi itu tidak muncul begitu saja. Ada karyawan Indomaret yang harus berpindah dari kasir ke gudang, dari gudang ke rak, dari rak ke pelanggan, lalu kembali lagi ke kasir dalam waktu yang sama.
Mungkin karena itulah saya mulai memandang minimarket dengan cara yang berbeda. Sekarang, ketika masuk Indomaret, perhatian saya tidak lagi hanya tertuju pada rak makanan atau kulkas minuman dingin.
Saya justru sering memperhatikan para pegawainya bekerja. Dan jujur saja, saya tidak yakin bisa melakukan hal yang sama setiap hari.
Mungkin saya berlebihan ketika menyebut karyawan Indomaret sebagai pekerja paling underrated di Indonesia. Saya tahu masih banyak profesi lain yang juga bekerja keras dan kurang mendapat apresiasi.
Namun setidaknya, saya yakin pada satu hal. Mereka adalah salah satu kelompok pekerja yang paling sering kita jumpai, tetapi paling jarang kita sadari perannya. Kita mengenal logo Indomaret. Fafal tata letak tokonya. Kita tahu promo-promonya. Tetapi sering lupa mengingat bahwa ada orang-orang yang membuat seluruh sistem itu berjalan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Fenomena Krisis Merayap dan Kelas Menengah Indonesia
loading…
Umar Idris, Alumnus Pasca Sarjana FEB UI, pengamat kebijakan publik, dan pegiat media di Indonesian Institute of Journalism. Foto: Istimewa
Umar Idris Alumnus Pasca Sarjana FEB UI, pengamat kebijakan publik, dan pegiat media di Indonesian Institute of Journalism
SEBUAH paradoks ekonomi sedang menguji nalar publik Indonesia hari-hari ini. Di atas kertas statistik resmi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tampak gagah di atas 5 persen dan inflasi makro diklaim terkendali. Namun di dunia nyata, nilai tukar Rupiah terseok-seok menembus level psikologis Rp17.796 per Dolar AS, Kamis kemarin (28/5), menuju ambang Rp18.000.
Selain itu, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus terjadi di sektor manufaktur menjadi hiasan wajib di lini masa media sosial. Namun mengapa riuhnya kritik di media sosial dan pemburukan rupiah akhir-akhir ini tidak bermuara pada gerakan politik seperti tahun 1998 silam?
Jawabannya terletak pada sifat fenomena ekonomi hari ini. Indonesia hari ini tidak sedang dihantam oleh krisis mendadak (sudden crisis) yang meruntuhkan sistem dalam semalam. Kita sedang terjebak dalam kondisi krisis merayap (creeping crisis), mengutip Arjen Boin dan Magnus Ekengren dalam buku The Governing of Creeping Crises (2022).
Sebuah ancaman yang bergerak perlahan, bertahap, bersembunyi di balik normalitas harian, namun secara sistemik sedang meruntuhkan daya tahan ekonomi-politik Indonesia melalui fenomena democratic backsliding (kemunduran demokrasi) dan pelemahan kelas menengah.
Arjen Boin dan Magnus Ekengren adalah dua ilmuwan politik dan pakar manajemen krisis terkemuka asal Eropa. Arjen Boin merupakan Profesor Tata Kelola Pemerintahan di Universitas Leiden, Belanda, sementara Magnus Ekengren adalah Profesor Ilmu Politik di Universitas Pertahanan Swedia (Swedish Defence University). Keduanya dikenal secara global melalui riset-riset mereka yang berfokus pada bagaimana institusi publik dan para pemimpin politik merespons ancaman kontemporer, manajemen krisis transnasional, serta dinamika keamanan institusional.
Dalam buku The Governing of Creeping Crises (2022), Boin dan Ekengren mendefinisikan creeping crisis (krisis merayap) sebagai ancaman yang bergerak secara perlahan, bertahap, dan sering kali tersembunyi di balik normalitas harian sebelum akhirnya mencapai titik kritis yang merusak.
Berbeda dengan krisis mendadak (sudden crisis) seperti ledakan bom atau gempa bumi yang langsung memicu respons cepat, krisis merayap bertumpu pada akumulasi inkremental dari pemburukan sistemik yang diabaikan oleh pembuat kebijakan.
Krisis jenis ini sangat berbahaya karena sifatnya yang samar membuat publik maupun pemerintah cenderung beradaptasi dan menoleransi pemburukan tersebut secara sadar, hingga tanpa disadari seluruh fondasi institusional atau ekonomi telah keropos dari dalam.
Krisis merayap menurut penulis sedang terjadi di Indonesia saat ini. Fenomena pelemahan daya tahan ekonomi kelas menengah dan kemunduran kualitas demokrasi (democratic backsliding) salah satu indikatornya. Begitu pula nilai tukar rupiah saat ini yang perlahan terus melemah menuju level psikologis baru Rp 18.000 per dollar AS.
Secara kasat mata, roda ekonomi Indonesia tampak tetap berputar dan toko-toko ritel dan pusat belanja tetap buka. Namun di bawah permukaan, sedang terjadi pemburukan sistemik yang merayap: penyusutan jumlah kelas menengah hingga 9,48 juta orang, tren “makan tabungan” akibat deindustrialisasi dini, serta lonjakan jeratan utang informal privat (pinjol/paylater).
Melalui kacamata Boin dan Ekengren, pengabaian struktural terhadap kelompok kelas menengah yang merupakan tulang punggung ekonomi ini—ditambah dengan matinya fungsi checks and balances akibat politik kartel oleh partai politik— adalah bentuk konkret dari krisis merayap tersebut, yang jika terus dibiarkan akan bermuara pada implosi sosial-ekonomi akut yang sulit dimitigasi.
Kata “implosi” (implosion) secara bahasa adalah kebalikan dari ekspos/ledakan ke luar (explosion). Jika ekspos adalah ledakan yang memuntahkan material ke arah luar, maka implosi adalah ledakan hebat ke arah dalam akibat runtuhnya tekanan internal suatu bangunan atau sistem sosial-ekonomi dan politik.
Dalam konteks sosiologi dan ekonomi-politik, implosi sosial-ekonomi berarti suatu kondisi di mana sebuah negara atau masyarakat mengalami keruntuhan tatanan secara mendadak dan masif, bukan karena diserang oleh musuh dari luar (seperti perang) atau bencana alam besar, melainkan karena fondasi internalnya sendiri yang sudah keropos lalu roboh dari dalam.
Fenomena implosi ini pernah terjadi pada Krisis Moneter 1998 di Indonesia dan Revolusi Arab Spring 2011 di Tunisia. Negara tampak tenang dan stabil di permukaannya, namun di dalam sistemnya terjadi pembusukan yang merayap (creeping crisis) selama bertahun-tahun (korupsi, kesenjangan, utang). Ketika menyentuh satu titik picu kecil saja, seluruh sistem sosial dan ekonomi langsung roboh ke dalam dalam hitungan hari, menciptakan kekacauan sipil yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah.
Kasus Hungaria
Dalam studi politik global, pola krisis merayap ini menyerupai cetak biru erosi demokrasi yang terjadi di Hungaria di bawah Viktor Orbán sejak 2010. Orbán tidak menggunakan tank di jalanan atau membubaran parlemen secara paksa. Ia menggunakan mekanisme yang disebut “Autokratisasi Legal”—melemahkan esensi demokrasi dari dalam menggunakan instrumen hukum yang sah. Ia mengubah undang-undang pemilu (gerrymandering), menempatkan loyalis di Mahkamah Konstitusi, dan mengonsolidasikan media arus utama di bawah kendali konglomerat sekutunya. Bagi masyarakat awam Hungaria, selama pemilu masih ada dan toko-toko masih buka, mereka merasa demokrasi baik-baik saja, padahal substansinya telah mati.
Di Indonesia, skenario serupa perlahan sedang terjadi. Politik kartel yang merangkul hampir semua faksi ke dalam koalisi besar pemerintahan, secara de facto telah mematikan fungsi oposisi di parlemen. Ketika sebagian besar partai politik “makan dari meja yang sama”, fungsi checks and balances lumpuh.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu di Istana Elysee, Paris, Rabu (28/5/2026). Mereka menegaskan komitmen Indonesia-Prancis perkuat kemitraan strategis di tengah ketidakpastian global, mendorong peran positif dan perdamaian dunia.
Prabowo di Eropa: Strategi Kunci Perkuat Geopolitik Indonesia
loading…
Presiden Prabowo Subianto tiba di Istana Elysee, Paris, Prancis. Foto/Tangkapan layar YouTube Setpres
JAKARTA – Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso mengatakan bahwa kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri adalah strategi Kepala Negara dalam memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dengan negara sahabat. Misalnya, dalam mengonversi keunggulan komoditas nikel hingga posisi geopolitik Indonesia di kancah internasional.
“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” kata Sugiat dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (28/5/2026).
Wakil Ketua Komisi XIII DPR ini menuturkan, paradigma politik luar negeri bebas-aktif Presiden Prabowo adalah diplomasi ofensif, yaitu sebuah strategi membangun hubungan luar negeri yang proaktif dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Dikatakannya, diplomasi ofensif dijalankan dalam merespons serta mengantisipasi krisis.
Dia melanjutkan, artinya Presiden Prabowo mengambil inisiatif untuk menetapkan agenda, membangun aliansi, dan memberikan tekanan strategis agar negosiasi berjalan sesuai tujuannya. “Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur,” jelasnya.
Dia membeberkan ada 3 negara Eropa yang dikunjungi oleh Presiden Prabowo di Akhir Mei 2026 ini, yaitu Prancis, Austria, dan Hungaria. Ketiga negara ini memiliki posisi strategis yang dibutuhkan Indonesia.
Bertemu Macron, Prabowo: Indonesia Jadi Negara Asia Pertama yang Ikut Defile di Eropa
loading…
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Indonesia menjadi negara Asia pertama yang ikut parade defile di Eropa. Foto/SindoNews
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Indonesia menjadi negara Asia pertama yang ikut parade defile di Eropa. Menurut Prabowo, hal tersebut menjadi suatu kehormatan yang diberikan pemerintah Prancis.
Hal itu disampaikan Prabowo saat Joint Press Statement bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, Kamis (28/5/2026). Mulanya, Prabowo mengapresiasi atas sambutan Prancis saat kehadirannya itu.
“Pertama-tama, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya, penghargaan yang setinggi-tingginya atas penerimaan yang begitu besar, yang begitu baik, penuh kehormatan untuk saya dan delegasi saya,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Kemudian, Prabowo mengungkapkan, Indonesia menjadi negara Asia pertama yang ikut parade defile di Eropa. Menurutnya, hal tersebut menjadi suatu kehormatan yang diberikan pemerintah Prancis.
“Tahun lalu, Indonesia mendapat kehormatan besar diundang bisa ikut dalam defile 14 Juli, hari kebangsaan bagi Republik Perancis. Ini saya kira kehormatan sangat besar. Mungkin kita negara Asia pertama yang Defile di benua Eropa,” ujarnya.
Di sisi lain, hubungan bilateral Indonesia dengan Prancis selama ini memang tergolong baik. Prabowo mengaku, di tahun ini saja, ia sudah 3 kali berkunjung ke negara ini. “Hubungan Indonesia dan Perancis berada di tingkat menurut saya yang terbaik selama ini,” ujar dia.
Paris Jadi Saksi: Prabowo Salat Idul Adha Bersama Diaspora Indonesia
Presiden RI Prabowo Subianto melaksanakan salat Iduladha 1447 Hijriah bersama warga negara Indonesia dan diaspora di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Paris, Idola 92.6 FM-Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melaksanakan salat Iduladha 1447 Hijriah bersama warga negara Indonesia dan diaspora di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, Rabu (27/5).
Ketibaan Prabowo di Wisma Indonesia Paris dinantikan oleh warga Indonesia dan diaspora yang telah rapi memenuhi saf salat masing-masing.
Diiringi kumandang takbir dan tahmid, Prabowo tiba di Wisma Indonesia sekitar pukul 08:40 waktu setempat dan langsung bergabung dengan para jemaah di saf untuk mengikuti pelaksanaan salat Iduladha yang berlangsung khidmat.
Pelaksanaan salat Iduladha dipimpin oleh imam dan khatib Fakhruddin Arrozi, lulusan program magister Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan, yang kini berkiprah sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Lamongan.
Adapun, setelah pelaksanaan salat Iduladha, tak lupa Prabowo saling bersilaturahmi dan ramah tamah bersalaman dengan para jemaah yang terdiri dari Warga Negara Indonesia dan Diaspora di Paris.
Turut mendampingi Prabowo dalam salat Iduladha di Wisma Indonesia Paris, di antaranya anak semata wayangnya Ragowo Hediprasetyo, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P Roeslani dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. (her/dav)
Prabowo Disambut Hangat Pelajar Indonesia di Prancis: Ini Pengalaman Berharga untuk Kami
Para pelajar Indonesia di Prancis menyambut hangat kedatangan Presiden RI Prabowo Subianto di Paris, Selasa (26/5). Mereka mengaku senang dapat bertemu dan berinteraksi langsung dengan Prabowo, sebuah momen yang mereka nilai cukup langka dan berkesan. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Paris, Idola 92.6 FM-Para pelajar Indonesia di Prancis menyambut hangat kedatangan Presiden RI Prabowo Subianto di Paris, Selasa (26/5). Mereka mengaku senang dapat bertemu dan berinteraksi langsung dengan Prabowo, sebuah momen yang mereka nilai cukup langka dan berkesan.
Para pelajar terlihat antusias menyambut Prabowo di depan hotel tempatnya bermalam di Paris. Sebagian di antaranya tampak mengibarkan bendera Merah Putih sambil mengenakan pakaian batik.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyapa dan menyalami para pelajar yang hadir. Para pelajar mengaku bangga dapat bertemu langsung dengan Prabowo dan menilai sikap tersebut mencerminkan perhatiannya terhadap pelajar Indonesia di luar negeri.
Salah satu pelajar Indonesia di Prancis, Evelyn, mengatakan Prabowo bahkan menyempatkan diri berdiskusi dengan para mahasiswa dalam suasana yang hangat dan akrab.
“Terima kasih untuk Bapak Presiden sudah menyempatkan waktu untuk berdiskusi sama kami. Meskipun kita cuma student, itu bukan opportunity yang bisa kita dapat setiap hari,” ujar Evelyn ketika ditemui.
Ungkapan serupa juga disampaikan Refal, pelajar Indonesia lainnya di Prancis.
Ia mengaku tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Prabowo dan menyebut pengalaman tersebut sebagai salah satu momen paling berharga selama menempuh studi di luar negeri.
“Perasaannya sangat bangga dan sangat senang bisa bertemu dengan Bapak Presiden secara langsung. Apalagi kami, sebagai student di Prancis, ini merupakan suatu opportunity yang tidak semua orang bisa. Jadi kami sangat senang sekali,” jelas Refal.
Kehangatan Prabowo juga dirasakan Cheryl, mahasiswa Indonesia lainnya, yang mengaku terkesan karena Prabowo menyempatkan diri mendengarkan cerita mengenai aktivitas dan rencana studi para mahasiswa Indonesia di Prancis.
“Kita ditanya jurusan kita apa, jenjang kita apa, dan juga Bapak memberikan kita apresiasi juga dukungan untuk mahasiswa Indonesia di Prancis,” ujar Cheryl.
Ia menilai hubungan baik Indonesia dan Prancis memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di negara tersebut. Karena itu, Cheryl menyampaikan apresiasi kepada Prabowo atas upayanya menjaga hubungan bilateral yang erat dengan Prancis.
“Saya terima kasih untuk Bapak Presiden sudah menjalin hubungan yang sangat baik dengan Prancis. Sebagai mahasiswa, kita merasakan sekali benefit-nya di sini,” ujarnya.
Prabowo tiba di Bandara Orly, Paris, pada Selasa (26/5) pukul 10.00 waktu setempat atau 15.00 WIB setelah menempuh perjalanan udara selama sekitar 16 jam.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo disambut langsung oleh Menteri Tenaga Kerja dan Solidaritas Prancis Jean-Pierre Farandou serta pasukan jajar kehormatan.
Kunjungan kenegaraan tersebut merupakan bagian dari agenda diplomasi antara Indonesia dan Prancis yang telah dipersiapkan sejak tahun lalu. (her/dav)