White Paper Industri Event: Langkah Krusial Selamatkan 70% Pekerja Informal
Backstagers Indonesia menyoroti tantangan pekerja informal di industri event. Perubahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) berpotensi mengurangi akurasi data kontribusi sektor ini. Ketua Umum Andro Rohmana Putra menyiapkan white paper, mendesak perubahan kebijakan menjelang sensus ekonomi 2026. Ini penting untuk perlindungan pekerja dan visibilitas industri event nasional.
Pemerintah Kunci Harga Kedelai, Bagaimana Nasib Industri Tahu Tempe?
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan komitmen menjaga stabilitas harga kedelai bagi pengrajin tahu dan tempe. Harga kedelai dipantau ketat agar tetap sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan. Pemerintah akan menindak tegas importir dan distributor yang menaikkan harga melebihi batas, memastikan akses pangan terjangkau.
3 Juta Rumah: Megaproyek Penggerak Ekonomi Nasional, Libatkan 185 Industri dan Buka Jutaan Lapangan Kerja
Pemerintah menyatakan program 3 juta rumah Presiden Prabowo Subianto berikan efek berganda pada perekonomian. Program ini melibatkan 185 industri turunan, dari material dasar hingga furnitur, serta menyerap jutaan tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari sampaikan data ini dalam konferensi pers, Selasa (15/4).
Ahmad Luthfi Amankan Investasi Batang: Polemik HGB Kawasan Industri Jadi Prioritas
Gubernur Jawa Tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pengelola Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) mengenai penerbitan Hak Guna Bangunan (HGB). Langkah ini bertujuan menjaga iklim investasi di KITB tetap lancar. Kewenangan HGB berada pada Kementerian ATR/BPN. Pemprov Jawa Tengah berkomitmen mendukung realisasi investasi, yang pada 2025 mencapai Rp88,5 triliun.
Prabowo Resmikan Pabrik EV Magelang: Gebrakan Baru Industri Otomotif Hijau Indonesia
Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik perakitan kendaraan komersial berbasis listrik di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4). Pabrik PT VKTR Sakti Industries ini mendukung pengembangan industri dan ekosistem kendaraan listrik nasional. Prabowo meninjau langsung fasilitas produksi bus listrik.
Terobosan ITS: Minyak Sawit Kini Jadi Bensin, Efisiensi 83% Menggebrak Industri Energi.
Foto: ITS
Teknologi.id – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali melahirkan inovasi strategis di sektor energi terbarukan. Tim peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS berhasil mengembangkan metode produksi bensin berbahan baku minyak kelapa sawit mentah(Crude Palm Oil/CPO) yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Inovasi yang diberi nama bensin sawit atau “Benwit” ini diproyeksikan menjadi jawaban atas ancaman krisis energi global dan ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil.
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST., MScEng., PhD., menegaskan bahwa inovasi ini hadir di momentum yang tepat, terutama melihat situasi geopolitik dan krisis bahan bakar minyak (BBM) yang tengah melanda kawasan ASEAN akibat konflik di Timur Tengah.
“Ini adalah peluang besar bagi pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif dan mengurangi ketergantungan pada impor energi,” ujarnya pada Selasa (7/4/2026).
Terobosan Katalis Bimetalik: Suhu Turun, Hasil Meningkat
Riset yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini dipimpin oleh Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, ST., MSc. Fokus utama penelitian ini adalah mengonversi minyak sawit mentah yang bersifat padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap pakai dengan residu seminimal mungkin.
Dalam proses produksinya, tim ITS menggunakan metode catalytic cracking, sebuah teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis khusus. Awalnya, riset ini menggunakan katalis berbasis alumina(γ-Al₂O₃) yang berperan sebagai “gunting molekuler” untuk memecah trigliserida dalam CPO menjadi fraksi hidrokarbon ringan. Proses awal ini mampu mengonversi sekitar 60 persen CPO menjadi bensin, namun membutuhkan suhu operasi yang sangat tinggi mencapai 420 derajat Celsius.
Pengembangan lebih lanjut kemudian membawa lompatan besar dengan penggunaan katalis bimetalik nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang. Kombinasi dua oksida logam ini bekerja secara sinergis: NiO berperan memutus rantai karbon secara efektif, sementara CuO membantu menghilangkan kandungan oksigen yang tidak diinginkan. Hasilnya, suhu operasi berhasil ditekan hingga 380 derajat Celsius, sementara rendemen atau hasil bensin nabati meningkat drastis hingga mencapai 83 persen.
Produk Berkualitas Setara Bensin Komersial
Foto: ITS
Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang secara kimiawi sangat identik dengan komponen bensin komersial yang beredar di pasaran. Tidak hanya fokus pada produk utama, riset ini juga mengusung konsep zero emission dengan memanfaatkan seluruh produk sampingan untuk menciptakan sistem sirkular:
Gas Hasil Samping: Digunakan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor produksi guna menekan biaya operasional.
Residu Cair: Memiliki karakteristik mirip oli atau minyak jelantah yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor alternatif bagi masyarakat atau industri kecil.
“Kami merancang sistem ini agar benar-benar minim limbah. Residu cairnya pun memiliki stabilitas tinggi sehingga bisa dimanfaatkan kembali seperti bahan bakar minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga,” jelas Hosta.
Inovasi “Benwit” ini telah mulai diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang memiliki fleksibilitas tinggi terhadap penggunaan bahan bakar alternatif. Pemilihan mesin pertanian sebagai obyek uji coba pertama dikarenakan kemudahan modifikasi sistem pembakarannya. Langkah ini merupakan dedikasi ITS untuk menciptakan kemandirian teknologi bagi petani Indonesia, agar mereka memiliki kendali atas energi mereka sendiri tanpa harus terombang-ambing oleh fluktuasi harga BBM fosil dunia.
Lahirnya kemandirian teknologi dalam produksi bensin lokal ini diharapkan dapat menekan nilai jual energi kepada masyarakat luas. Selama ini, banyak produsen migas nasional masih bergantung pada peralatan dan mesin produksi dari luar negeri, seperti Amerika Serikat. Dengan menggunakan alat dan metode karya anak bangsa, beban biaya teknologi tersebut bisa dipangkas secara signifikan.
Secara filosofis, riset ini sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-7 mengenai energi bersih dan terjangkau, poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin ke-13 terkait penanganan perubahan iklim. Berdasarkan Life Cycle Assessment (LCA), proses produksi biogasoline ini memiliki jejak karbon yang sangat rendah dibandingkan proses pengolahan minyak bumi konvensional.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, ST., PhD., menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI agar inovasi Benwit ini dapat segera masuk ke tahap uji coba proyek nasional. Ke depannya, ITS menargetkan pengembangan kapasitas produksi yang lebih besar agar manfaat bensin sawit ini dapat dirasakan luas oleh masyarakat Indonesia sekaligus mewujudkan kedaulatan energi nasional yang sejati.
Lindungi Industri Penerbangan, Pemerintah Turunkan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat Jadi 0%
Merespons kenaikan harga avtur sebagai bahan bakar pesawat, pemerintah Indonesia memberikan insentif kepada industri penerbangan berupa penurunan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0%. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan biaya operasional maskapai, mengingat sebelumnya bea masuk suku cadang pesawat mencapai sekitar Rp 500 miliar per tahun. Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Merespons kenaikan harga avtur sebagai bahan bakar pesawat, pemerintah Indonesia memberikan insentif kepada industri penerbangan berupa penurunan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0%.
Kebijakan ini diharapkan dapat menekan biaya operasional maskapai, mengingat sebelumnya bea masuk suku cadang pesawat mencapai sekitar Rp 500 miliar per tahun.
“Untuk menjaga dan meningkatkan daya saing ekosistem industri penerbangan, pemerintah memberikan insentif penurunan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0%. Dengan demikian, diharapkan biaya operasional maskapai penerbangan juga dapat ditekan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4).
Menurut Airlangga, kebijakan ini juga berpotensi memperkuat daya saing industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) nasional. Penurunan harga suku cadang akan berdampak langsung pada lebih rendahnya biaya perawatan dan perbaikan pesawat di dalam negeri, sehingga industri MRO lokal menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan luar negeri.
Dengan meningkatnya daya saing tersebut, aktivitas perawatan pesawat di dalam negeri diproyeksikan akan bertambah, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi. Airlangga menyebut kebijakan ini berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi hingga sekitar 700 juta dollar AS per tahun.
“Dan tentunya dapat mendukung output PDB hingga 1,49 miliar dollar AS, serta menciptakan lapangan kerja langsung sekitar seribu orang, dan tidak langsung hingga hampir tiga kali lipatnya,” ujar Airlangga.
Kebijakan ini akan ditindaklanjuti melalui penerbitan regulasi teknis oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Di tengah kenaikan harga avtur akibat dinamika global, pemerintah berupaya menjaga agar harga tiket pesawat domestik tetap terjangkau. Salah satunya dengan menjaga kenaikan harga tiket di kisaran 9–13%.
Selain menghapus bea masuk suku cadang, pemerintah juga memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11% untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik guna menahan lonjakan harga di tengah tekanan biaya operasional maskapai.
Melalui berbagai kebijakan tersebut, pemerintah telah mengalokasikan dukungan fiskal sebesar Rp 1,3 triliun per bulan dan stimulus ini akan diberlakukan selama 2 bulan.
Sementara itu, harga avtur domestik saat ini tercatat sebesar Rp 23.551 per liter, yang masih lebih rendah dibandingkan dengan Thailand dan Filipina yang masing-masing mencapai Rp 29.518 dan Rp 25.326 per liter.
“Kenaikan harga avtur berkontribusi hingga 40% terhadap biaya operasional maskapai. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan langkah mitigasi strategis agar harga tiket tetap terjangkau bagi masyarakat. Fokus utama kami adalah menjaga harga tiket,” imbuh Airlangga.
Pemerintah menegaskan bahwa rangkaian kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri penerbangan nasional, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi yang efisien, produktif, dan berdaya tahan. (her/dav)
Jawa Tengah: KEK dan Industri, Pilar Utama Penggerak Ekonomi Regional
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI) berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. BPS mencatat kontribusi PDRB 1,87% dan industri pengolahan 3,70%. Data ini mendukung target pertumbuhan 5,37% pada 2025. BPS akan rutin mendata KEK/KI serta menyiapkan Sensus Ekonomi 2026 untuk memotret daya saing usaha di Jawa Tengah.
Komisi I DPR mendorong pemerintah perkuat industri pertahanan dalam negeri sebagai strategi kemandirian nasional dan ketahanan negara. Konsistensi UU Nomor 16 Tahun 2012 dan optimalisasi TKDN pengadaan alutsista ditekankan. Roadmap jangka panjang serta transfer teknologi juga menjadi fokus utama penguatan industri.
Mandat Prabowo untuk APINDO: Industri Harus Berpihak ke Rakyat, Bukan Cuma Profit!
Presiden RI Prabowo Subianto menerima audiensi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) di Bogor (9/2). Prabowo menekankan pentingnya sektor industri memberikan manfaat nyata bagi rakyat dan menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya. Ia mendorong kolaborasi pemerintah dan dunia usaha untuk memperkuat ekonomi nasional. APINDO berkomitmen mendukung visi Prabowo dalam pengentasan kemiskinan dan industrialisasi.