Tren Penurunan TPPO Tak Mampu Redam: Kerentanan Tinggi di Kantong Migran Jadi Sorotan
loading…
Dirjen Imigrasi, Hendarsam Marantoko dalam Raker bersama Komisi XIII DPR, pada Senin (25/5/2026) menyatakan, kasus TPPO lintas negara mengalami penurunan. Namun, kerentanan masih sangat tinggi, terutama di daerah pekerja migran. Foto/Achmad Al Fiqri
JAKARTA – Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi, Hendarsam Marantoko menyatakan, kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) lintas negara mengalami penurunan. Namun, ia mengingatkan bahwa tingkat kerentanan masih sangat tinggi, terutama di daerah kantong pekerja migran.
“Berdasarkan data yang dihimpun, secara umum kasus TPPO lintas negara yang tercatat mengalami penurunan signifikan sebesar 65,92% dari tahun 2023 sampai dengan 2025,” ujar Hendarsam dalam Raker bersama Komisi XIII DPR, Senin (25/5/2026).
“Namun demikian, penurunan jumlah kasus ini tidak berarti ancaman telah hilang, karena data juga menunjukkan bahwa tingkat kerentanan masih sangat tinggi, terutama di daerah kantong pekerja migran,” tambahnya.
Superindo Rp15 Ribuan: Penyelamat Kantong Pekerja di Tengah Gempuran Harga Warteg Mahal
Belum lama ini netizen ramai membicarakan soal makanan siap santap yang ada di jaringan supermarket Superindo. Sebenarnya “MBG” Superindo, begitu biasa netizen menyebutnya, bukanlah hal baru. Makanan Superindo sudah ada sejak lama dan kerap jadi pilihan pembeli yang tidak sempat memasak.
Akan tetapi, dalam beberapa waktu terakhir, produk ini menyita perhatian karena kerap dibanding-bandingkan dengan program pemerintahMBG. Sebab, harga makanan siap santap Superindo tidak jauh berbeda dengan budget satu porsi MBG.
Tulisan ini tidak akan ikut membanding-bandingkan MBG dengan makanan siap santap Superindo. Tulisan ini ingin menyoroti makanan Superindo yang bisa jadi alternatif di tengah kondisi ekonomi sekarang ini.
Percayalah, walau Superindo identik dengan tempat belanja kelas menengah ke atas, produk makanan siap santapnya benar-benar ramah di kantong. Bahkan, bisa bersaing dengan makanan warteg kebangaan pekerja atau kaum mendang-mending itu. Ya di mana lagi sih dapat makanan siap santap yang layak dengan harga Rp15.000-an.
“Rupa” makanan yang meyakinkan
Setelah melihat foto-foto makanan Superindo yang beredar di media sosial, saya jadi paham kenapa orang-orang membicarakan hal ini. Secara tampilan, produk ini memang tampak meyakinkan. Kalau kalian pernah menonton film soal makan siang prasmanan di sekolah-sekolah luar negeri, kurang lebih seperti itulah wujudnya.
Salah satu menu yang menyita perhatian adalah chicken steak seharga Rp14.900. Di dalam satu tempat makan yang mirip ompreng MBG (hanya saja berbahan plastik), pembeli mendapatkan chicken steak tepung berukuran cukup besar plus sausnya. Lauk utama itu disertai makanan pendamping salad berupa wortel dan buncis, jagung, kentang, dan saus saset.
Sungguh sangat layak, kelewat layak malah, untuk makanan seharga sekitar Rp15.000. Apalagi, kalau dihitung-hitung, di tempat lain kita belum tentu boleh atau bisa makanan selengkap itu, ada daging, sayur, hingga karbo.
Selain chicken steak, menu lain juga tersedia, seperti chicken katsu, ayam bakar hinggaayam geprek. Walau beragam, tiap menu punya komposisi yang mirip, pasti ada dagingnya, karbo, dan sayur. Dan, menariknya, semua makanan itu harganya terjangkau, tidak ada yang lebih dari Rp20.000.
Di tengah kondisi ekonomi yang lagi mending-mending, makanan Superindo ini amat layak untuk dilirik.
Tidak hanya paket makanan siap santap, di Superindo ada banyak pilihan lain
Selain paket siap santap dalam bentuk paket per porsi, Superindo juga punya banyak pilihan makanan siap santap lain. Misal, lauk ayam bakar hingga ikan goreng atau bakar. Saking populernya, salah satu tulisan Mojok pernah membahasnya dalam10 Rekomendasi Makanan Siap Santap di Superindo.
Mengutip dari akun InstagramBig Alpha, makanan siap santap ini sebenarnya tidak ditujukan untuk cari untung. Makanan Superindo lebih pas disebut sebagai umpan sehingga banyak orang datang ke dalam toko dan memancing mereka berbelanja.
Tidak heran kalau produk-produk ini berada di bagian belakang toko. Orang-orang harus melewati lorong panjang dengan berbagai produk terlebih dahulu sebelum mencapainya. Di sisi lain, Superindo memang punya daya tawar yang kuat terhadap para pemasok sehingga memungkinkan memproduksi makanan siap santap yang ramah di kantong.
Terlepas dari strategi penjualan atau tidak, jujur saja, makanan siap santap Superindo bak angin segar di tengah harga bahan yang rasa-rasanya tambah mahal dari waktu ke waktu.
Kalau tidak percaya, coba saja kalian ke warteg atau tempat makan andalan pekerja lain, duit Rp15.000 itu akan habis dalam sekali makan. Terlebih di kota-kota besar, duit belasan ribu bak tidak ada harganya.
Kini tinggal berharap saja, semoga Superindo tidak menaikkan harga jual makanan siap santapnya secara siginifikan, apalagi setelah produknya viral di media sosial. Semoga makanan ini tetap bisa jadi alternatif bagi kaum mendang-mending yang sehari-hari terhimpit kenaikan harga-harga.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat caraini ya.
Fakta Shopee VIP: Benarkah Justru Bikin Kantong Bolong?
Shopee VIP menawarkan diskon besar, gratis ongkir, dan pengiriman cepat. Namun, status prioritas ini memicu ilusi hemat, mendorong belanja tak perlu. Diskon membentuk siklus pengeluaran berlebihan. Penting mengontrol diri, bertanya “Apakah saya tetap beli tanpa diskon?” agar Shopee VIP benar-benar menguntungkan.
Rental Mobil Lebaran: Gengsi Semu Pulang Kampung, Jebakan yang Kerap Menguras Kantong
Menjelang Lebaran, banyak pemudik sewa mobil rental bukan karena kebutuhan logistik, melainkan gengsi sosial. Mobil sering jadi simbol status. Keputusan ini sering tidak rasional dari segi keuangan, sebab biaya sewa melonjak drastis, belum termasuk bahan bakar dan tol. Tekanan sosial mendorong orang mengabaikan kondisi finansial sebenarnya demi ilusi kesuksesan sementara.
Pekalongan Hadapi Rob & Banjir: Kantong Pasir Jadi Garis Pertahanan Vital
Kota Pekalongan memasang tanggul darurat sandbag di titik rawan Sungai Bremi dan Meduri untuk penanganan banjir serta rob. DPUPR Kota Pekalongan juga mengoptimalkan 14 stasiun pompa air 24 jam. Upaya ini bertujuan mengendalikan luapan air dan mempercepat surutnya genangan di permukiman warga terdampak.