Terbitkan Sprindik Baru, KPK Kembangkan Kasus DJKA Sumatera
loading…
Jubir KPK Budi Prasetyo mengatakan, KPK mengembangkan kasus dugaan korupsi pengadaan jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) di wilayah Sumatera. Foto/SindoNews
JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengembangkan kasus dugaan korupsi pengadaan jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) di wilayah Sumatera. Hal itu dengan menerbitkan surat perintah penyidikan (sprindik) baru.
“Di mana KPK kemudian menerbitkan Sprindik baru per Mei 2026,” kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, Rabu (3/6/2026).
KPK belum menetapkan tersangka dalam sprindik baru ini. Sejalan dengan itu, tim penyidik Lembaga Antirasuah mulai menjadwalkan pemanggilan saksi.
Pada Selasa, 2 Juni 2026, KPK menjadwalkan pemeriksaan dua orang saksi, yakni Farah Dina Eka Syamriati selaku PNS BTP Kelas II Wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Anisah selaku Direktur Utama PT Surya Annisa Kencana.
WhatsApp Kembangkan Burn After Reading: Pesan Terhapus Setelah Dibaca Penerima
Foto: WABetaInfo
Teknologi.id – WhatsApp dilaporkan tengah mengembangkan fitur privasi baru yang memungkinkan pesan terhapus secara otomatis segera setelah dibaca oleh penerima. Fitur yang dijuluki oleh banyak pengamat sebagai sistem “burn after reading” ini disebut sedang diuji coba pada perangkat iOS maupun Android, serta berpotensi menjadi salah satu pembaruan terbesar WhatsApp dalam urusan kontrol privasi percakapan.
Informasi mengenai pembaruan ini pertama kali muncul melalui laporan WABetaInfo, situs yang kerap membocorkan fitur-fitur baru WhatsApp sebelum dirilis secara resmi. Dalam pengujian terbaru pada versi beta WhatsApp di platform TestFlight untuk iOS serta versi Android beta, pengguna nantinya dapat mengatur pesan agar hilang setelah penerima membacanya, bukan hanya berdasarkan hitungan waktu tertentu seperti sistem disappearing messages saat ini.
Pergeseran dari Timer Tetap ke Opsi “After Reading”
Selama ini, fitur disappearing messages di WhatsApp bekerja menggunakan basis timer yang tetap. Pengguna bisa memilih agar pesan hilang dalam rentang waktu 24 jam, 7 hari, atau 90 hari. Namun, sistem tersebut dinilai kurang fleksibel karena pesan tetap akan terhapus dari ruang obrolan meskipun penerima belum sempat membuka atau membaca isi chat tersebut.
Lewat pembaruan baru ini, WhatsApp mencoba mengubah pendekatan tersebut untuk memberikan proteksi lebih. Penghapusan pesan kini akan dipicu setelah chat dibuka dan dibaca oleh penerima. Dengan begitu, pihak pengirim mendapat kepastian bahwa pesan sudah dilihat sebelum akhirnya lenyap dari riwayat percakapan.
Fitur tersebut akan hadir melalui opsi baru bernama “after reading” di menu pengaturan durasi pesan default (Default message timer). Setelah pesan dibaca, pengguna dapat menentukan kembali berapa lama pesan tersebut bertahan sebelum otomatis terhapus, dengan pilihan mulai dari 5 menit, 1 jam, hingga 12 jam.
Mekanisme Penghitungan Mundur dan Batas Durasi
Menariknya, sistem timer antara pengirim dan penerima tidak berjalan secara sinkron. Jika pengirim memilih timer 5 menit, pesan akan hilang dari perangkat pengirim setelah 5 menit berlalu sejak dikirim. Namun, apabila penerima belum membuka chat tersebut selama beberapa jam, pesan tetap tersedia di perangkat mereka. Timer baru akan aktif bergerak setelah pesan benar-benar dibuka dan dibaca oleh penerima.
Kendati demikian, WhatsApp juga tetap mempertahankan batas maksimum untuk pesan yang tidak dibuka dalam waktu lama. Jika penerima sama sekali tidak membaca pesan dalam kurun waktu 24 jam, sistem secara otomatis akan menghapus pesan tersebut tanpa menunggu lebih lama lagi. Selain berfungsi menambah lapisan keamanan untuk informasi sensitif atau dokumen sementara, WhatsApp menjelaskan bahwa fitur pesan sementara ini juga berguna sebagai solusi untuk menghemat ruang penyimpanan (storage) pada perangkat.
Kehadiran fitur ini memperlihatkan bagaimana persaingan aplikasi pesan instan saat ini semakin bergeser ke arah privasi ekstrem. Dalam beberapa tahun terakhir, platform pesaing seperti Signal dan Telegram terus mendorong fitur keamanan dan pesan temporer sebagai nilai jual utama mereka. WhatsApp sendiri selama ini memang memiliki fitur enkripsi end-to-end, tetapi masih dianggap lebih konservatif dibanding rivalnya dalam urusan kontrol privasi percakapan. Langkah terbaru ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pengguna soal keamanan data digital dan jejak percakapan online.
Meski demikian, seperti fitur disappearing messages lainnya, sistem ini tetap memiliki celah keamanan. Pengguna lain masih bisa mengambil tangkapan layar (screenshot), merekam layar, atau memfoto chatmenggunakan perangkat lain sebelum pesan menghilang. Dengan kata lain, fitur ini lebih berfungsi mengurangi jejak digital kasual ketimbang menjadi sistem keamanan absolut.
Menurut laporan yang beredar, pengujian fitur ini pertama kali muncul di Android pada April 2026 sebelum akhirnya diperluas ke iOS. Fakta bahwa pengembangannya kini berjalan di dua sistem operasi besar sekaligus menjadi sinyal bahwa peluncuran global kemungkinan sudah semakin dekat. Saat ini, fitur tersebut sudah tersedia untuk beberapa penguji beta (beta testers), dan sejumlah kecil pengguna biasa juga dilaporkan sudah bisa mengujinya melalui versi yang tersedia di App Store. Hingga saat ini, Meta maupun WhatsApp belum memberikan tanggal resmi perilisan global fitur tersebut.
Ilmuwan Kembangkan AI yang Bisa Mendeteksi Kanker Pankreas Sebelum Tumor Terlihat
Foto: Mayo Clinic
Teknologi.id – Sebuah terobosan besar dalam dunia onkologi baru saja diumumkan oleh tim peneliti dari Mayo Clinic. Mereka berhasil mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) canggih yang mampu mengenali tanda-tanda awal kanker pankreas bahkan sebelum massa tumor terlihat secara visual pada hasil pemindaian CT konvensional. Teknologi ini diklaim memiliki kemampuan luar biasa untuk mendeteksi kelainan pada organ tersebut hingga tiga tahun sebelum pasien mendapatkan diagnosis klinis secara resmi.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal medis Gut ini menandai tonggak sejarah baru dalam upaya memerangi salah satu jenis kanker paling mematikan. Penemuan ini menawarkan secercah harapan bagi dunia medis untuk mengubah nasib pasien yang selama ini kerap terdiagnosis di fase yang sudah terlambat.
Menembus “Benteng” Kanker Paling Sulit Dideteksi
Selama ini, kanker pankreas dikenal sebagai salah satu penyakit yang paling sulit dikenali pada tahap awal. Letak organ pankreas yang berada jauh di dalam rongga perut, tepatnya di belakang lambung, membuat gejalanya sering kali tidak muncul secara spesifik sampai penyakit memasuki stadium lanjut.
Data penelitian mencatat bahwa sekitar 80 hingga 85 persen pasien baru terdiagnosis setelah kanker berkembang cukup jauh atau bahkan telah menyebar ke organ lain. Kondisi memprihatinkan ini menyebabkan peluang pengobatan menjadi sangat terbatas, dengan tingkat ketahanan hidup lima tahun pasien berada di bawah 15 persen secara global.
“Hambatan terbesar untuk menyelamatkan nyawa dari kanker pankreas adalah ketidakmampuan kita melihat penyakit ini saat masih bisa disembuhkan,” ujar Dr. Ajit Goenka, radiolog senior dari Mayo Clinic. Menurutnya, secara biologi penyakit ini tidak datang mendadak, namun sinyalnya sangat halus sehingga sulit ditangkap metode konvensional.
Keunggulan Model REDMOD: Tiga Kali Lebih Akurat dari Manusia
Foto: Mayo Clinic
Model AI yang dinamakan Radiomics-based Early Detection Model (REDMOD) ini dilatih menggunakan hampir 2.000 hasil CT scan pasien yang awalnya dianggap normal oleh mata manusia. Tim peneliti kemudian membandingkan kemampuan AI ini dengan penilaian dokter spesialis radiologi dalam membaca hasil pemindaian yang sama.
Hasil validasi menunjukkan keunggulan yang signifikan:
Akurasi Tinggi: REDMOD berhasil mengidentifikasi 73% kanker pra-diagnosis dengan rata-rata waktu 16 bulan sebelum diagnosis klinis ditegakkan.
Deteksi Dini: Pada pemindaian yang dilakukan lebih dari dua tahun sebelum diagnosis, AI ini mampu mendeteksi tanda kanker hampir tiga kali lebih baik dibandingkan penilaian pakar radiologi tanpa bantuan AI.
Analisis Tekstur Jaringan: AI bekerja dengan mengukur ratusan fitur pencitraan kuantitatif yang menggambarkan tekstur dan struktur mikro jaringan pankreas.
Stabilitas Prediksi: Hasil prediksi AI terbukti tetap konsisten dan stabil meskipun dilakukan pada interval waktu yang berbeda di berbagai institusi kesehatan.
Radiolog dari Moffitt Cancer Center, Daniel Jeong, menambahkan bahwa dokter manusia umumnya mencari massa tumor yang sudah cukup besar agar dapat terlihat jelas dalam pencitraan. Namun, AI mampu menangkap perubahan biologis samar pada sel-sel abnormal yang sering kali luput dari pengamatan mata manusia yang paling teliti sekalipun.
Harapan Baru bagi Kelompok Berisiko Tinggi
Teknologi REDMOD diproyeksikan akan sangat bermanfaat bagi kelompok berisiko tinggi. Ini mencakup individu dengan riwayat keluarga kanker pankreas atau pasien diabetes tipe baru yang belum menunjukkan gejala kanker secara fisik. Sistem ini dirancang untuk menganalisis CT scan yang sebenarnya diambil untuk keperluan medis lain, sehingga berfungsi sebagai sistem peringatan dini otomatis.
Jika AI menemukan tanda mencurigakan, dokter dapat segera melakukan tindak lanjut berupa tes darah dan pencitraan tambahan yang lebih spesifik. Langkah cepat ini diharapkan dapat membuka peluang terapi bedah atau kemoterapi lebih awal sebelum sel kanker menyebar luas, yang secara teori akan meningkatkan angka harapan hidup pasien secara signifikan.
Di tengah temuan ini, riset kanker pankreas juga menunjukkan perkembangan positif lainnya, seperti uji klinis vaksin mRNA dan obat eksperimental daraxonrasib. Kombinasi antara deteksi dini berbasis AI dan terapi inovatif diprediksi akan menjadi standar baru dalam penanganan kanker di masa depan.
Meskipun hasil penelitian awal ini sangat menjanjikan, teknologi REDMOD masih harus melalui fase uji klinis lanjutan melalui program AI-PACED (Artificial Intelligence for Pancreatic Cancer Early Detection). Studi prospektif ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana dokter dapat mengintegrasikan deteksi panduan AI ke dalam perawatan rutin pasien secara aman.
Peneliti memperkirakan dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima tahun lagi sebelum teknologi ini benar-benar siap digunakan secara luas di berbagai layanan kesehatan masyarakat. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa penggunaan AI tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga memberikan hasil klinis yang lebih baik bagi pasien.
Tamas Gonda dari NYU Langone Perlmutter Cancer Center menilai arah penelitian ini memberi harapan besar.
“Kami sedang membuat kemajuan besar. Memang belum membalikkan keadaan sepenuhnya, tetapi arahnya semakin menjanjikan,” tutupnya.
Google Kembangkan COSMO, Asisten AI Baru yang Disebut Lebih Cerdas dari Gemini
Foto: Android Headlines
Teknologi.id –Google dikabarkan tengah mengembangkan sebuah asisten kecerdasan buatan (AI) baru bernama COSMO yang disebut-sebut memiliki kemampuan lebih proaktif dibandingkan Gemini. Teknologi ini muncul secara diam-diam melalui aplikasi eksperimental Android dan langsung menarik perhatian para pengamat teknologi karena membawa pendekatan AI yang berbeda dari asisten virtual pada umumnya.
Jika Gemini selama ini dikenal sebagai AI yang bekerja berdasarkan perintah pengguna, COSMO justru dirancang untuk memahami konteks dan mengantisipasi kebutuhan pengguna sebelum diminta. Kehadiran teknologi ini memperlihatkan arah baru Google dalam mengembangkan pengalaman AI yang lebih personal dan terintegrasi dengan perangkat Android.
Menurut laporan yang beredar, COSMO dikembangkan oleh tim Google Research dengan sistem hybrid yang menggabungkan pemrosesan lokal di perangkat dan komputasi cloud. Pendekatan ini memungkinkan AI tetap bekerja cepat tanpa selalu membutuhkan koneksi internet.
Ukuran aplikasi COSMO yang mencapai sekitar 1,13 GB menunjukkan bahwa teknologi yang dibawanya cukup kompleks.
Banyak pihak menduga Google memanfaatkan Gemini Nano sebagai otak pemrosesan on-device untuk mendukung berbagai tugas AI secara efisien langsung dari smartphone pengguna.
Dengan pemrosesan lokal, COSMO diyakini mampu memberikan respons lebih cepat sekaligus menjaga privasi data pengguna. Sementara itu, dukungan cloud dipakai untuk menangani tugas yang membutuhkan komputasi lebih berat dan analisis mendalam.
Dirancang Lebih Proaktif dari Asisten AI Biasa
Salah satu hal yang membuat COSMO menarik adalah konsep asisten AI proaktif. Berbeda dengan chatbot atau asisten virtual tradisional yang hanya merespons instruksi, COSMO dikembangkan untuk memahami kebiasaan dan konteks aktivitas pengguna.
AI ini dikabarkan dapat membantu mengatur aktivitas sehari-hari secara otomatis, mulai dari menyusun daftar tugas, membuat dokumen, hingga mengelola jadwal kalender tanpa perlu banyak perintah manual.
Kemampuan tersebut membuat COSMO lebih mirip asisten pribadi digital yang aktif membantu pengguna bekerja dan beraktivitas, bukan sekadar chatbot pencari jawaban.
Punya Fitur Recall dan AgenPeramban
COSMO juga dibekali sejumlah fitur produktivitas yang cukup canggih. Salah satunya adalah Recall, fitur yang memungkinkan AI mengingat aktivitas atau informasi yang pernah diakses pengguna untuk membantu pencarian konteks di kemudian hari.
Selain itu, terdapat pula fitur List Tracker yang berguna untuk memantau daftar pekerjaan dan aktivitas harian secara otomatis. Ada juga Document Writer yang memungkinkan AI membantu menyusun dokumen secara instan.
Fitur lain yang paling menarik perhatian adalah Agen Peramban atau browser agent.
Teknologi ini memungkinkan COSMO menjalankan tugas berbasis web secara mandiri tanpa campur tangan pengguna secara langsung.
Sebagai contoh, AI bisa membuka situs tertentu, mencari informasi, mengisi formulir, hingga menjalankan tugas online lain secara otomatis. Jika benar-benar diwujudkan secara penuh, fitur ini berpotensi mengubah cara pengguna berinteraksi dengan internet.
Integrasi Mendalam dengan Android
Keunggulan lain dari COSMO adalah integrasinya yang disebut memiliki akses tingkat sistem di Android. Dengan akses tersebut, AI dapat memahami aplikasi yang sedang digunakan dan membaca konteks konten yang tampil di layar.
Integrasi semacam ini memungkinkan COSMO memberikan bantuan yang lebih relevan sesuai aktivitas pengguna saat itu. Misalnya, AI dapat langsung membantu merangkum dokumen, mengatur jadwal dari percakapan, atau membuat pengingat otomatis berdasarkan isi layar.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa Google tampaknya ingin menciptakan AI yang benar-benar menyatu dengan ekosistem Android, bukan hanya menjadi aplikasi tambahan semata.
Meski sudah mulai ramai dibicarakan, COSMO saat ini masih berstatus proyek eksperimental. Kemunculannya di Google Play Store hanya berlangsung singkat dan diduga merupakan bagian dari pengujian internal Google.
Sampai sekarang, Google belum memberikan pernyataan resmi terkait jadwal peluncuran global maupun detail integrasi COSMO ke perangkat Android. Namun, banyak pengamat memperkirakan teknologi ini akan diperkenalkan lebih lanjut dalam ajang tahunan Google I/O 2026.
Jika benar dirilis secara luas, COSMO berpotensi menjadi langkah besar Google dalam persaingan AI modern. Dengan kemampuan yang lebih proaktif dan integrasi mendalam ke Android, COSMO bisa menjadi evolusi baru asisten digital yang lebih pintar dan lebih memahami kebutuhan pengguna sehari-hari.
Jepang Kembangkan Drone Kardus AirKamuy 150, Bisa Dirakit Tanpa Alat dalam 5 Menit
Foto: TechSpot
Teknologi.id – Konflik berkepanjangan di Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah telah memberikan satu pelajaran krusial bagi militer modern: drone murah sekali pakai yang diproduksi secara masif memiliki nilai strategis yang setara dengan senjata presisi bernilai jutaan dolar. Menanggapi pergeseran taktik ini, sebuah startup asal Jepang kini mendorong batasan efisiensi lebih jauh dengan mengganti rangka pesawat komposit yang mahal menjadi material yang sangat sederhana, yakni kardus bergelombang (corrugated cardboard).
Kementerian Pertahanan Jepang dilaporkan telah mengadakan pertemuan khusus dengan Air Kamuy, produsen drone yang berbasis di Jepang, untuk membahas potensi penggunaan militer dari teknologi unik ini. Langkah Tokyo ini mengisyaratkan ambisi besar untuk memimpin produksi drone berbiaya rendah di tengah kalkulasi peperangan masa depan yang kini sangat dipengaruhi oleh jumlah unit dan kecepatan manufaktur.
Mengenal AirKamuy 150: Ringan, Cepat, dan Mematikan
Foto: X/@shinjirokoiz
Fokus utama ketertarikan pemerintah Jepang tertuju pada AirKamuy 150, sebuah drone bersayap tetap (fixed-wing) multiperan. Secara konseptual, drone ini sering disandingkan dengan drone Lucas buatan Amerika Serikat dan Shahed dari Iran yang telah membuktikan ketangguhannya sebagai drone bunuh diri di berbagai medan tempur.
Meskipun memiliki kemiripan fungsi, AirKamuy 150 menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki pesaingnya: kemudahan perakitan dan operasional yang ekstrem. Jika drone jenis Shahed atau Lucas membutuhkan fasilitas teknis tertentu, AirKamuy 150 dirancang untuk bisa dirakit hanya dalam waktu lima menit menggunakan tangan kosong tanpa alat khusus. Secara teori, perusahaan mana pun yang memiliki stok kardus standar dapat memproduksi bodi drone ini secara massal.
Efisiensi Biaya di Level Ekstrem
Daya tarik utama dari penggunaan material kardus adalah harganya yang jauh di bawah standar militer konvensional. Sebagai perbandingan:
Drone Lucas (AS): Memakan biaya pembuatan sekitar US$ 10.000 (sekitar Rp 174 juta) per unit.
Drone AirKamuy 150: Hanya menelan biaya maksimal USD 3.000 (sekitar Rp 48 juta) per unit.
Selain lebih murah, bobotnya yang sangat ringan memberikan keunggulan pada aspek kecepatan. AirKamuy 150 mampu melaju hingga kecepatan maksimal 74 mph (119 km/jam), mengungguli drone Lucas yang memiliki kecepatan puncak 63 mph. Rangkanya yang dapat dilipat hingga rata (flat-pack) juga memberikan efisiensi logistik yang luar biasa, memudahkan transportasi dalam jumlah besar ke garis depan pertempuran.
Taktik “Swarm” dan Keterbatasan Jarak
Air Kamuy mengiklankan kemampuan “swarm attacks“ atau serangan kawanan sebagai salah satu potensi penggunaan utamanya. Dengan material yang sangat murah, militer dapat meluncurkan ratusan drone sekaligus secara serempak untuk membebani dan menjebol sistem pertahanan udara musuh yang jauh lebih mahal. Mengingat misi drone bunuh diri adalah perjalanan satu arah, penggunaan pelindung baja tebal dianggap tidak lagi relevan dibandingkan dengan kuantitas serangan.
Namun, penggunaan material ringan dan tenaga listrik murni membawa konsekuensi pada jarak tempuh. Berbeda dengan Lucas yang ditenagai mesin bensin konvensional dengan jangkauan hingga 512 mil (823 km), AirKamuy 150 hanya sanggup terbang selama sekitar 80 menit. Hal ini membatasi jangkauan operasionalnya hanya untuk misi-misi jarak pendek.
Masa Depan Strategi Pertahanan
Sejauh ini, Air Kamuy masih memosisikan produknya untuk keperluan latihan sasaran tempur, pengujian, serta aplikasi sipil seperti pengiriman paket darurat. Namun, keterlibatan aktif Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan arah pengembangan ke ranah pertahanan nasional.
Seiring dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI) otonom, integrasi perangkat lunak kawanan pada perangkat murah seperti drone kardus ini diprediksi akan mengubah aritmatika strategi militer global secara permanen. Jika material semurah kardus mampu meruntuhkan hambatan produksi senjata canggih, maka konsep pertahanan udara dunia harus segera beradaptasi dengan ancaman yang lebih masif namun jauh lebih murah.
Meta Kembangkan AI Kloning Mark Zuckerberg: Pertanda Akhir Era Rapat Konvensional?
Foto: AI Generated
Teknologi.id-Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini dimanfaatkan untuk menciptakan representasi digital dari eksekutif perusahaan. Meta saat ini dilaporkan tengah mengembangkan kloningan kecerdasan buatan dari CEO Mark Zuckerberg. Entitas digital ini dirancang untuk mewakili Zuckerberg dalam berinteraksi serta memberikan umpan balik secara langsung kepada para karyawan Meta pada saat ia tidak sempat atau tidak bersedia hadir secara fisik.
Proyek kloning digital ini tengah diprioritaskan oleh perusahaan. Meta tidak menggunakan desain avatar standar, melainkan mengembangkan karakter tiga dimensi (3D) dengan desain visual yang fotorealistis. Karakter yang diotaki oleh sistem AI tersebut diprogram agar mampu berinteraksi melakukan tanya jawab dengan karyawan secara real-time atau langsung.
Pelatihan Langsung oleh Mark Zuckerberg
Foto: Getty Images
Untuk memastikan akurasi kloningan digital tersebut, Meta menerapkan proses pelatihan data yang sangat spesifik. Sumber yang familier dengan pengembangan ini menyebutkan bahwa Zuckerberg terlibat secara langsung dalam melatih sekaligus menguji coba versi kecerdasan buatan dari dirinya tersebut.
Sistem AI ini dilatih dengan menggunakan data dari citra visual dan rekaman suara asli sang CEO. Selain itu, sistem kecerdasan buatan ini juga merekam dan meniru gerak-gerik, intonasi berbicara, hingga berbagai pernyataan publik yang pernah disampaikan oleh Zuckerberg. Langkah ini dilakukan agar karyawan yang berinteraksi dengan AI tersebut tetap merasa terhubung dengan sosok aslinya.
Tidak sebatas meniru tampilan fisik dan gaya bicara, kloningan ini juga dibekali dengan pemahaman terkait operasional perusahaan. Karakter AI tersebut secara khusus mempelajari pemikiran Zuckerberg mengenai strategi terbaru Meta. Tujuannya adalah agar entitas digital tersebut mampu memberikan saran atau masukan strategis kepada karyawan yang bertanya, bukan sekadar memberikan respons sapaan biasa.
Pengembangan kloningan CEO ini juga berkaitan dengan rencana jangka panjang Meta untuk publik. Apabila eksperimen karakter AI Zuckerberg ini berhasil, perusahaan mempertimbangkan untuk mulai mengizinkan para kreator konten dan influencer di platform mereka untuk membuat avatar AI dari diri mereka sendiri.
Rencana tersebut merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya. Pada tahun 2024 lalu, Meta telah memamerkan demonstrasi awal mengenai karakter AI yang dapat dikembangkan oleh kreator. Saat ini, raksasa media sosial tersebut juga sudah mulai memberikan akses kepada kreator di Instagram untuk membuat versi AI dari diri mereka. Versi AI tersebut difungsikan untuk berinteraksi langsung dan membalas komentar-komentar dari para pengikutnya.
Selain kreator, Meta sebenarnya juga memungkinkan pengguna umum untuk membuat chatbot AI yang bisa diatur (custom). Namun, perusahaan telah mengeluarkan kebijakan baru yang membatasi fitur tersebut. Mulai tahun ini, fitur pembuatan chatbot khusus itu tidak dapat lagi diakses oleh pengguna yang masih berusia remaja.
Di luar proyek kloningan untuk rapat karyawan ini, Mark Zuckerberg secara pribadi semakin intensif terlibat dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Ia diketahui menghabiskan waktu sekitar 5 hingga 10 jam setiap minggunya untuk terjun langsung melakukan penulisan kode komputer (coding). Waktu tersebut juga digunakan untuk mengikuti berbagai tinjauan teknis pada proyek-proyek AI Meta lainnya.
Zuckerberg sedang mengembangkan sebuah agen AI personal yang juga berbasis pada dirinya. Namun, agen cerdas ini memiliki fungsi yang berbeda dari kloningan untuk karyawan; agen ini dirancang khusus untuk membantunya menyelesaikan berbagai tugas dan rutinitas sehari-hari. Proyek asisten pribadi ini dipastikan berjalan terpisah dari sistem kloningan yang dikembangkan Meta untuk keperluan rapat internal.
Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat
Presiden RI Prabowo Subianto menceritakan perjalanan panjang pengabdiannya di dunia pencak silat selama lebih dari tiga dekade. Hal itu disampaikannya dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-16 Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Masa Bakti 2026–2030 di Jakarta Convention Center, Sabtu (11/4). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menceritakan perjalanan panjang pengabdiannya di dunia pencak silat selama lebih dari tiga dekade. Hal itu disampaikannya dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-16 Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Masa Bakti 2026–2030 di Jakarta Convention Center, Sabtu (11/4).
Dalam suasana penuh haru dan kebanggaan, Prabowo menyebut momen tersebut sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya bersama pencak silat. Prabowo menuturkan, keterlibatannya di IPSI telah berlangsung selama 34 tahun, baik sebagai Wakil Ketua Umum maupun Ketua Umum.
“Kalau dihitung hari ini, bisa dikatakan saya sudah mengabdi di pencak silat selama 34 tahun. Kalau tidak salah Sebagai Wakil Ketua Umum 4 periode. Kemudian sebagai Ketua Umum 5 periode,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyampaikan keputusan untuk tidak melanjutkan jabatannya sebagai Ketua Umum PB IPSI, seiring tanggung jawabnya sebagai Presiden RI.
“Alhamdulillah hari ini saya menyatakan bahwa saya mohon izin untuk tidak lanjutkan sebagai Ketua Umum PB IPSI karena saya sudah mengemban tugas kebangsaan yang menyita waktu saya, sehingga tidak mungkin saya efektif sebagai Ketua Umum PB IPSI,” ucapnnya, seperti dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
Ia mengakui, dalam beberapa tahun terakhir dirinya tidak lagi aktif secara langsung, namun tetap memberikan dukungan bagi perkembangan pencak silat nasional.
“Saya pun minta maaf berapa saat ini, bisa dikatakan sudah hampir 3 tahun saya tidak terlalu aktif di depan. Tapi saya mendukung selalu dari belakang. Apalagi sekarang presiden, saya kira pembinaan PB IPSI akan lebih dahsyat lagi,” bebernya.
Prabowo juga mengingatkan bahwa kepemimpinan di IPSI adalah bagian dari estafet perjuangan, sekaligus menyinggung sosok pendahulunya. “Sebenarnya Ketua Umum PB IPSI itu adalah Pak Eddy Nalapraya. Saya hanya penggantinya. Saya tidak tahu pengganti saya siapa. Saudara yang akan putuskan,” ujar Prabowo.
Dalam refleksi pribadinya, Prabowo mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap pencak silat telah tumbuh sejak kecil, dipengaruhi oleh keluarga yang juga memiliki kedekatan dengan dunia pencak silat.
“Saya ingin sedikit nostalgia karena kakek saya salah satu juga Penggemar dan pendiri perguruan pencak silat di Madiun, Setia Hati. Itu tahun sebelum kemerdekaan,” katanya.
“Kemudian orang tua saya juga salah satu pembina Pengurus Besar IPSI cukup lama juga. Sehingga bagi saya, pencak silat adalah suatu panggilan sebagai anak bangsa,” Prabowo melanjutkan.
Meski tak lagi menjabat, Prabowo menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pencak silat. “Dengan jabatan atau pun tidak, seorang pendekar adalah sampai napas dia terakhir, dia pendekar,” Prabowo menyatakan komitmennya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena belum berhasil membawa pencak silat masuk Olimpiade, namun tetap optimistis hal itu dapat terwujud di masa mendatang.
“Banyak tugas PB IPSI ke depan. Saya minta maaf belum berhasil membawa pencak silat ke Olimpiade. Kita terus berusaha. Saya yakin pengganti saya nanti akan akan berhasil membawa ke Olimpiade. Saya yakin,” ucapnya.
Prabowo mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi mengharumkan nama bangsa melalui pencak silat di kancah internasional. Ia menegaskan, selain mengejar prestasi global, menjaga kemurnian nilai pencak silat tetap menjadi hal utama.
“Kita mendukung norma berbangsa di mata dunia. Perjalanan masih jauh, kita berharap pencak silat akan masuk Olimpiade. Kita yakin akan masuk, tapi kita tidak perlu juga terlalu obsesi. Obsesi kita harus menjaga untuk kemurnian pencak silat itu sendiri. Kalau ilmunya murni, ilmunya kuat,” pungkasnya. (her/dav)
Ilmuwan Kembangkan Bio-AI dari Neuron Tikus yang Bisa Belajar Real-Time
Foto: ChatGPT
Teknologi.id –Dunia kecerdasan buatan kembali memasuki babak baru. Kali ini, para ilmuwan tidak hanya mengandalkan algoritma dan chip silikon, tetapi juga memanfaatkan neuron hidup sebagai bagian dari sistem komputasi. Pendekatan ini melahirkan konsep baru yang dikenal sebagai bio-AI sebuah perpaduan antara jaringan biologis dan teknologi pembelajaran mesin.
Dalam penelitian terbaru, para peneliti berhasil mengembangkan sistem yang menggunakan neuron dari korteks tikus untuk menjalankan tugas komputasi secara langsung. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa jaringan biologis tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari organisme, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai “mesin” pemrosesan informasi layaknya komputer.
Menggabungkan Neuron Hidup dan Machine Learning
Konsep utama dari bio-AI ini adalah mengintegrasikan neuron hidup dengan sistem pembelajaran mesin dalam satu ekosistem. Neuron yang digunakan diambil dari korteks tikus, kemudian “dilatih” agar mampu merespons sinyal tertentu dan menghasilkan output yang terukur.
Berbeda dengan AI konvensional yang sepenuhnya berbasis perangkat lunak, sistem ini bekerja dengan memanfaatkan aktivitas listrik alami dari neuron. Artinya, proses komputasi tidak lagi hanya bergantung pada kode, tetapi juga pada dinamika biologis yang kompleks.
Pendekatan ini memberi keunggulan tersendiri. Neuron hidup memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi, sehingga dapat belajar dan menyesuaikan diri secara real-time tanpa perlu pemrograman ulang secara manual.
Cara Kerja: Reservoir Computing dengan Loop Tertutup
Teknologi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada konsep reservoir computing. Dalam metode ini, jaringan neuron bertindak sebagai “reservoir” yang memproses input menjadi pola sinyal yang kompleks.
Neuron-neuron tersebut dihubungkan dengan perangkat microelectrodearray serta sistem mikrofluida. Alat ini berfungsi untuk merekam aktivitas listrik neuron, mengubahnya menjadi data digital, lalu mengirimkan kembali sinyal sebagai stimulasi listrik.
Proses ini membentuk sistem loop tertutup, di mana output dari neuron akan kembali menjadi input untuk sistem itu sendiri. Siklus ini berlangsung sangat cepat, dengan jeda sekitar 330 milidetik, memungkinkan pembelajaran terjadi secara berkelanjutan.
Menariknya, seluruh proses ini berjalan secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Sistem mampu menyesuaikan responsnya berdasarkan pola yang diterima, mirip seperti cara otak belajar dari pengalaman.
Desain Jaringan Mikro yang Lebih Efisien
Untuk meningkatkan performa, para peneliti tidak hanya mengandalkan neuron secara acak. Mereka merancang struktur khusus berupa jaringan mikro yang terdiri dari 128 ruang kecil yang saling terhubung melalui kanal mikro.
Desain ini bertujuan untuk mengurangi masalah umum pada jaringan biologis, yaitu sinkronisasi berlebihan. Dalam kondisi normal, neuron cenderung menembak sinyal secara bersamaan, yang justru mengurangi kompleksitas informasi.
Dengan pembagian ke dalam ruang-ruang kecil, interaksi antar neuron menjadi lebih beragam dan dinamis. Hasilnya, sistem mampu menghasilkan pola sinyal yang jauh lebih kompleks dan efisien.
Mampu Menghasilkan Pola Kompleks
Salah satu pencapaian penting dari sistem bio-AI ini adalah kemampuannya dalam menghasilkan berbagai jenis pola gelombang. Mulai dari pola sederhana seperti gelombang sinus, persegi, dan segitiga, hingga pola yang lebih kompleks seperti Lorenz attractor.
Kemampuan ini menunjukkan bahwa jaringan neuron biologis dapat digunakan untuk memodelkan sistem dinamis yang rumit. Dalam pengujian, tingkat akurasi yang dicapai juga cukup tinggi, dengan nilai korelasi di atas 0,8.
Hal ini menjadi indikasi bahwa bio-AI memiliki potensi besar untuk digunakan dalam berbagai aplikasi komputasi yang membutuhkan fleksibilitas dan adaptasi tinggi.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski menjanjikan, teknologi ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satu tantangan utama adalah penurunan performa setelah proses pelatihan dihentikan. Tanpa stimulasi berkelanjutan, kemampuan neuron dalam mempertahankan pola cenderung melemah.
Selain itu, jeda umpan balik sekitar 330 milidetik juga menjadi kendala, terutama untuk aplikasi yang membutuhkan respons sangat cepat terhadap perubahan sinyal.
Kedua hal ini menjadi fokus utama penelitian lanjutan, terutama dalam upaya meningkatkan stabilitas dan kecepatan sistem.
Ke depan, para peneliti berencana untuk mengembangkan perangkat khusus yang mampu mengurangi latensi sekaligus meningkatkan efisiensi komunikasi antar neuron. Jika berhasil, bio-AI berpotensi menjadi fondasi bagi generasi baru sistem kecerdasan buatan.
Aplikasinya pun sangat luas, mulai dari antarmuka otak-mesin, prostetik saraf, hingga pengembangan AI hibrida yang menggabungkan keunggulan biologis dan digital.
Dengan kemajuan ini, batas antara mesin dan makhluk hidup semakin kabur. Bio-AI bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga langkah awal menuju paradigma baru dalam dunia komputasi.
Terinspirasi Avatar: Ilmuwan China Kembangkan Tanaman Bercahaya Mandiri Energi
Ilmuwan China berhasil menciptakan tanaman bercahaya paling terang melalui rekayasa genetika. Inovasi bioteknologi ini menggunakan gen kunang-kunang dan jamur, menghasilkan tanaman bioluminescent tanpa listrik. Potensinya besar untuk pencahayaan kota ramah lingkungan dan pariwisata, mengurangi emisi. Anggrek hingga sukulen kini dapat memancarkan cahaya alami.
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan Lab School. FKIP UMS melakukan benchmarking ke SD Muhammadiyah 1 Candi Labschool Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Kunjungan ini bertujuan menyiapkan pendirian sekolah laboratorium berkelanjutan dan unggul. Proses perizinan Lab School UMS mencapai tahap akhir. SD Mica menjadi acuan penting pengelolaan sekolah inklusi.