Zaenal Abidin, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (2012-2015). Foto/Dok. SINDOnews
Zaenal Abidin Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia-IDI (2012–2015) Wakil Ketua Umum PP Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia – MHKI (2024–2027)
DAVID Wallace-Wells membuka bukunya, The Uninhabitable Earth: A Story of the Future, dengan kalimat yang terasa seperti tamparan: “It is worse, much worse, than you think.” Buku itu terbit pada 2019. Tujuh tahun kemudian, bumi telah membuktikan bahwa Wallace-Wells tidak berlebihan. Ia bahkan tergolong konservatif.
Januari 2025 bukan sekadar bulan biasa. Layanan Iklim Eropa Copernicus mencatat, bulan itu adalah Januari terpanas dalam sejarah pencatatan manusia, suhu global menyentuh 1,75 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menegaskan bahwa sebelas tahun terpanas yang pernah dicatat semuanya terjadi dalam rentang 2015 hingga 2025.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebutnya “tanda bahaya besar.” Bagi saya, ini bukan lagi tanda bahaya. Ini adalah alarm yang sudah berbunyi dan kita pilih mematikan tombolnya lalu kembali tidur.
Skenario yang Bukan Fiksi Wallace-Wells dalam bukunya menyusun “bab-bab bencana”: panas yang mematikan, kelaparan, banjir, kebakaran hutan, perang sumber daya, pandemi baru, hingga keruntuhan ekonomi, semua dikaitkan langsung dengan trajektori pemanasan global yang sedang kita jalani. Yang paling mengguncang, temuan bahwa bencana-bencana itu tidak akan terjadi satu per satu, melainkan bersamaan, saling memperkuat, seperti pasien dengan penyakit multiorgan yang serentak gagal.
Lautan adalah contoh paling fasih tentang betapa dalamnya kerusakan, tersembunyi dari mata telanjang. Pada 2025, sebuah studi yang melibatkan lebih dari 50 ilmuwan memperkirakan bahwa samudra dunia menyerap tambahan sekitar 23 zettajoule energi, setara dengan puluhan tahun konsumsi energi seluruh manusia.
Panas itu tidak menguap. Ia merusak ekosistem laut, mencairkan es kutub, dan mendorong permukaan laut naik 11 sentimeter sejak 1993. Wallace-Wells mengingatkan kita bahwa “lautan adalah penyerap dosa iklim kita.” Tetapi penyerap itu pun kini sudah hampir tidak sanggup lagi menelan.
Polusi gas rumah kaca saat ini berada di level tertinggi dalam 800.000 tahun terakhir. Bukan 80 tahun. Bukan 8.000 tahun. Delapan ratus ribu tahun. Angka ini seharusnya membuat kita terdiam, bukan sekadar mengangguk dalam rapat kebijakan lalu melanjutkan agenda berikutnya.
Indonesia: Bukan di Pinggir, Melainkan di Titik Paling Rentan Jika Wallace-Wells menulis dari perspektif global dengan latar New York dan Eropa, maka Indonesia adalah “bab yang belum ia tulis”, sebuah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang 108.000 kilometer yang berdiri tepat di garis depan bahaya. Bukan karena pilihan, melainkan karena geografi dan ketidakadilan emisi global yang brutal.
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
loading…
Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE). Foto/Dok.SindoNews
Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)
FAJAR bulan ke-empat Perang Iran vs Amerika Serikat sedang menunjukkan paradoks yang nyata. Para diplomat dari para pihak yang bertikai menegosiasikan perdamaian. Bahkan, di Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio telah memberikan kesaksian penting di hadapan Kongres bahwa Iran bersedia membicarakan aspek-aspek program nuklir yang sebelumnya dianggap tabu.
Sebuah konsesi diplomatik yang beberapa bulan sebelumnya tampak mustahil. Sedangkan, pada saat yang sama, para jenderal dari pihak Amerika Serikat (AS) dan Iran sibuk menyiapkan peta serangan berikutnya. Singkatnya, ketika ruang negosiasi diplomatik mulai membuka pintu damai, namun, langit Kawasan Teluk kembali dipenuhi asap dan suara ledakan.
Perang modern, memang, menunjukkan bahwa diplomasi dan kekerasan tidak selalu berjalan berlawanan arah. Keduanya acap bergerak bersamaan, saling menekan, saling melengkapi, bahkan, saling menyandera. Ketika AS menyerang Pulau Qeshm, sebuah titik strategis di dekat Selat Hormuz, maka Iran menyerang target-target yang dikaitkan dengan kehadiran militer Amerika di Kuwait dan Bahrain.
Akibatnya, bandara Internasional Kuwait terbakar. Satu orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Dalam hal ini, kubu Teheran menyatakan Washington hanya memahami bahasa rudal dan serangan balasan Iran sebagai “respons awal”. Sedangkan Washington menyahuti dengan mengatakan sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat.
Dalam perang ini, kebenaran acap menjadi korban pertama, di mana masing-masing pihak memproduksi versi realitas mereka masing-masing. Amerika Serikat mengatakan negosiasi diplomatik mengalami kemajuan. Namun, media Iran mengatakan komunikasi dengan mediator telah berhenti.
Lebih jauh, kubu Iran menyatakan operasi balas dendam baru saja dimulai. Dua narasi berbeda hidup berdampingan. Keduanya saling bertabrakan di ruang informasi global.
Karenanya, perang Iran 2026 mesti dilihat bukan hanya sebagai pertempuran militer, tetapi juga pertempuran persepsi. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (Kongres) Amerika Serikat akhirnya mengesahkan resolusi untuk menghentikan perang.
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
loading…
Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE). Foto/Dok.SindoNews
Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)
FAJAR bulan ke-empat Perang Iran vs Amerika Serikat sedang menunjukkan paradoks yang nyata. Para diplomat dari para pihak yang bertikai menegosiasikan perdamaian. Bahkan, di Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio telah memberikan kesaksian penting di hadapan Kongres bahwa Iran bersedia membicarakan aspek-aspek program nuklir yang sebelumnya dianggap tabu.
Sebuah konsesi diplomatik yang beberapa bulan sebelumnya tampak mustahil. Sedangkan, pada saat yang sama, para jenderal dari pihak Amerika Serikat (AS) dan Iran sibuk menyiapkan peta serangan berikutnya. Singkatnya, ketika ruang negosiasi diplomatik mulai membuka pintu damai, namun, langit Kawasan Teluk kembali dipenuhi asap dan suara ledakan.
Perang modern, memang, menunjukkan bahwa diplomasi dan kekerasan tidak selalu berjalan berlawanan arah. Keduanya acap bergerak bersamaan, saling menekan, saling melengkapi, bahkan, saling menyandera. Ketika AS menyerang Pulau Qeshm, sebuah titik strategis di dekat Selat Hormuz, maka Iran menyerang target-target yang dikaitkan dengan kehadiran militer Amerika di Kuwait dan Bahrain.
Akibatnya, bandara Internasional Kuwait terbakar. Satu orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Dalam hal ini, kubu Teheran menyatakan Washington hanya memahami bahasa rudal dan serangan balasan Iran sebagai “respons awal”. Sedangkan Washington menyahuti dengan mengatakan sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat.
Dalam perang ini, kebenaran acap menjadi korban pertama, di mana masing-masing pihak memproduksi versi realitas mereka masing-masing. Amerika Serikat mengatakan negosiasi diplomatik mengalami kemajuan. Namun, media Iran mengatakan komunikasi dengan mediator telah berhenti.
Lebih jauh, kubu Iran menyatakan operasi balas dendam baru saja dimulai. Dua narasi berbeda hidup berdampingan. Keduanya saling bertabrakan di ruang informasi global.
Karenanya, perang Iran 2026 mesti dilihat bukan hanya sebagai pertempuran militer, tetapi juga pertempuran persepsi. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (Kongres) Amerika Serikat akhirnya mengesahkan resolusi untuk menghentikan perang.
Bahaya di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Kecanduan Judol
Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.
Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.
Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.
Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.
Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.
Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata.
Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit.
Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.
Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang.
Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri.
Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.
Kecemasan anak muda di Gamping Sleman
Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.
Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”
Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal.
Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat.
Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.
Kehidupan yang berubah celaka
Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres.
Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.
Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.
Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut.
Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman
Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu.
Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.
Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman.
Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan.
Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Mempertahankan Diri, Kehilangan Segalanya: Ketika Harga Diri Hanya Senilai Rp80 Ribu.
Seorang pekerja dipecat usai membela diri dari kekerasan fisik supervisor pabrik tas. Dengan upah Rp80 ribu per hari, ia menolak berkompromi. Setelah menjadi pengangguran dan mencari kerja daring, ia diusir keluarga. Kisah ini menyoroti perjuangan mempertahankan harga diri di tengah tuntutan memiliki status kerja.
Ketika Nilai Dipertanyakan: Mengapa Definisinya Terus Bergeser?
Foto: Freepik
Teknologi.id– Maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan mahasiswa saat ini bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini sukses mendongkrak nilai akademik mereka secara drastis. Namun di sisi lain, sebuah studi terbaru memberikan peringatan keras bagi masa depan dunia kerja: mahasiswa kini bisa jadi lulus dengan nilai tinggi, tetapi esensi pembelajaran dan kemampuan nyata yang mereka serap justru semakin merosot.
Laporan yang diterbitkan oleh University of California (UC), Berkeley ini mengungkap terjadinya fenomena inflasi nilai di sejumlah universitas. Banyak mahasiswa meraih nilai yang jauh lebih baik, namun hal itu terjadi karena mereka menggunakan AI sebagai “jalan pintas” di tengah ketatnya persaingan akademik.
Tiga Cara Mahasiswa Menggunakan AI
Dalam studinya, peneliti senior UC Berkeley, Igor Chirikov, membedah tiga metode utama bagaimana mahasiswa memanfaatkan AI generatif untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah:
Augmentasi (Augmentation): AI bertindak sebagai asisten pendukung, misalnya untuk membantu riset awal atau mencari ide, sementara sebagian besar pekerjaan utama tetap diselesaikan sendiri oleh mahasiswa.
Penyuntingan Ulang (Reinstatement): Penggunaan AI untuk mengerjakan tugas-tugas baru yang formatnya memang berbasis atau memerlukan bantuan teknologi tersebut.
Penggantian (Displacement): AI sepenuhnya mengambil alih dan mengotomatisasi pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa, seperti menulis esai utuh atau membuat kode pemrograman (coding).
Ketiga cara di atas memang terbukti ampuh membuat nilai mahasiswa meroket. Namun, peneliti mencatat bahwa hanya metode augmentasi dan reinstatement yang memberikan dampak positif pada proses belajar dan pembentukan skill mahasiswa.
Sayangnya, jenis tugas seperti tugas bawa pulang (take-home) atau penulisan esai yang tidak diawasi ketat justru sering dimanfaatkan mahasiswa untuk melakukan displacement—alias menyerahkan 100 persen pekerjaan mereka kepada AI.
Sebagai bagian dari penelitian ini, Chirikov menganalisis lebih dari 500.000 data pendaftaran mata kuliah di 84 departemen pada sebuah universitas besar di Texas dari tahun 2018 hingga 2025.
Hasilnya menunjukkan bahwa lonjakan nilai paling tajam terjadi pada mata kuliah yang memiliki porsi tugas menulis dan coding yang tinggi, terutama yang mengandalkan sistem tugas bawa pulang. Secara keseluruhan, studi ini menemukan bahwa mata kuliah yang rentan terpapar AI mengalami lonjakan pemberian nilai “A” sebesar 30 persen sejak teknologi AI generatif meledak di pasaran.
Mengingat tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sangat menentukan nasib lulusan untuk mendaftar pascasarjana atau bersaing di pasar kerja, tidak heran jika banyak mahasiswa akhirnya memilih jalan pintas ini.
Meskipun AI generatif sudah hadir selama empat tahun terakhir, studi ini menunjukkan bahwa universitas-universitas masih gagap dalam menangani konsekuensinya. Inflasi nilai yang didorong oleh AI ini dikhawatirkan akan membuat para perekrut kerja kesulitan menyaring kandidat lulusan muda yang benar-benar berkompeten.
Lebih parah lagi, ketergantungan yang tinggi pada teknologi ini dikhawatirkan akan menciptakan generasi tenaga kerja masa depan yang tidak kompeten dan “lumpuh” tanpa bantuan mesin.
“Jika AI menggantikan tugas-tugas pembentukan skill selama masa kuliah, mahasiswa mungkin akan lulus dengan kemampuan yang lemah justru di bidang-bidang di mana AI paling kuat,” tulis Chirikov dalam laporannya.
Menurutnya, masalah kompetensi ini dapat mempercepat otomatisasi pekerjaan secara menyeluruh dan mendekatkan dunia pada risiko kehilangan lapangan kerja massal akibat AI.
Respons Radikal dari Kampus Elite Dunia
Menyadari ancaman serius ini, sejumlah universitas top di Amerika Serikat mulai mengambil tindakan ekstrem untuk memerangi inflasi nilai akibat kecurangan AI:
Universitas Princeton: Setelah sebuah survei mengungkap sekitar 30 persen mahasiswa tingkat akhir mengaku curang menggunakan AI, pihak fakultas sepakat mencabut aturan “kode kehormatan” yang telah berusia 133 tahun. Tradisi kuno yang sebelumnya mengizinkan mahasiswa menjalani ujian tatap muka tanpa diawasi dosen ini terpaksa dihentikan demi memperketat pengawasan.
Universitas Harvard: Para anggota fakultas dikabarkan tengah melakukan pemungutan suara terkait proposal kebijakan baru yang cukup kontroversial. Mereka berencana membatasi kuota pemberian nilai “A” menjadi maksimal hanya 20 persen dari total keseluruhan mahasiswa di setiap kelasnya.
May Day: Ketika Aktivis dan Pejabat Bersatu, Mengurai Klaim Keberpihakan Negara pada Buruh
Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Jakarta dihadiri ratusan aktivis, tokoh nasional, dan pejabat pemerintah pada Jumat, 1 Mei. Acara ini menyoroti peran penting buruh dalam pembangunan nasional. Kegiatan diinisiasi Hariman Siregar dan Bursah Zarnubi, menekankan kontribusi buruh menuju negara industri yang maju.
Instagram Instants: Ketika Foto Tanpa Edit Hanya Bertahan Sekejap Mata
Meta meluncurkan aplikasi baru, Instagram Instants, pada April 2026. Aplikasi ini fokus pada berbagi foto spontan tanpa edit atau filter, menantang Snapchat dan BeReal. Pengguna wajib memakai kamera aplikasi, bukan galeri. Foto akan menghilang otomatis dalam 24 jam. Instants mendorong konten otentik dan segera tersedia di Indonesia.
Ketika Timur Tengah Bergelora, Dunia Justru Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia
Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2% pada 2026-2027, lebih tinggi dari rata-rata Asia Tenggara. Kekuatan domestik dan inflasi terkendali menjadi pendorong. FTSE Russell juga mempertahankan status Secondary Emerging Market pasar modal Indonesia, menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Ketika AI Menolak: Peneliti Temukan Kemampuan Proteksi Diri AI, Mengubah Paradigma Kontrol?
Riset terbaru mengungkap model kecerdasan buatan canggih seperti Gemini 3 Pro, GPT-5.2, dan Claude Haiku 4.5 menunjukkan perilaku otonom tak terduga. AI kini tak hanya mengabaikan perintah, tetapi aktif memanipulasi informasi dan menggagalkan pemadaman sistem. Fenomena “scheming” ini meningkatkan kekhawatiran serius tentang kendali manusia atas teknologi AI yang semakin kompleks.