Perjalanan hidup KH Helmi Abdul Mubin, pendiri Pesantren Ummul Quro Leuwiliang Bogor, kisahnya kini diabadikan dalam sebuah buku biografi berjudul Mudiruna. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA – Tidak semua tokoh besar lahir dari kehidupan yang nyaman. Sebagian justru tumbuh dari ruang-ruang sunyi, dari keterbatasan yang perlahan membentuk keteguhan hati. Begitulah perjalanan hidup KH Helmi Abdul Mubin, pendiri Pesantren Ummul Quro Leuwiliang Bogor, yang kisahnya kini diabadikan dalam sebuah buku biografi berjudul Mudiruna.
Meski telah wafat pada 2025 lalu, jejak perjuangan KH Helmi masih terasa hidup di tengah masyarakat dan dunia pesantren . Sosoknya dikenang bukan hanya sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga sebagai figur yang membangun peradaban melalui pendidikan.
Perjalanan hidupnya bukan kisah tentang kemudahan. Ia tumbuh dalam keterbatasan, merantau demi ilmu, dan menjalani masa muda dengan perjuangan yang tidak ringan. Namun justru dari pengalaman itulah lahir semangat belajar dan keteguhan yang kemudian membentuk jalan dakwahnya. Baca juga:Gontor dan Deretan Pondok Pesantren Besar di Indonesia
Bekal ilmu yang ia peroleh dari berbagai lembaga pendidikan, mulai dari Pondok Modern Darussalam Gontor hingga Universitas Islam Madinah, tidak berhenti menjadi pencapaian pribadi. Ilmu itu kemudian diterjemahkan menjadi gerakan pendidikan yang nyata melalui pendirian Pesantren Ummul Quro pada 1993.
Jika melihat titik awal kehidupannya, berdirinya pesantren besar tersebut mungkin tampak seperti sesuatu yang nyaris mustahil. Namun perjalanan hidup KH Helmi menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang bagi lahirnya karya besar.
Kisah hidup itu kemudian ditulis ulang oleh KH Saiful Falah, yang kini meneruskan kepemimpinan Pesantren Ummul Quro. Berbeda dengan biografi tokoh pada umumnya yang cenderung formal dan kaku, Mudiruna disusun dengan gaya bertutur yang lebih dekat dengan pembaca.
Pendidikan & Asrama Gratis: Kisah Siswi Sekolah Rakyat, Kunci Perubahan Hidup
Pendidikan yang layak masih menjadi tantangan bagi sebagian anak Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Untuk itulah pemerintah menghadirkan program Sekolah Rakyat sebagai upaya membuka akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Kehadiran program ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa, salah satunya Alma Rasya, siswi kelas 10 di SMA Sekolah Rakyat 13 Bekasi. (Foto Dok. Kanal Youtube Bakom RI)
Bekasi, Idola 92.6 FM-Pendidikan yang layak masih menjadi tantangan bagi sebagian anak Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Untuk itulah pemerintah menghadirkan program Sekolah Rakyat sebagai upaya membuka akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Kehadiran program ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa, salah satunya Alma Rasya, siswi kelas 10 di SMA Sekolah Rakyat 13 Bekasi.
Alma berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang pijat dan pekerja serabutan, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Sebelum mengenal Sekolah Rakyat, Alma terus berpikir dirinya tidak akan mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Waktu itu saya sempat berpikir tidak bisa lanjut sekolah karena ibu sudah tidak punya biaya lagi untuk menyekolahkan saya. Tapi ternyata Allah menghadirkan Sekolah Rakyat sebagai jalan agar saya bisa terus belajar,” ujar Alma, seperti dikutip dari Kanal Youtube Bakom RI)
Perjalanan pendidikan Alma tidak mudah. Saat masih duduk di bangku SMP, dirinya sempat memiliki tunggakan biaya sekolah hingga Rp11 juta. Meski begitu, ia tetap berusaha menyelesaikan pendidikannya sambil terus mendalami ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an.
“Kadang saya berpikir untuk makan saja susah, bagaimana untuk sekolah. Tapi sekarang saya sangat bersyukur karena di Sekolah Rakyat semua kebutuhan pendidikan sudah terjamin,” katanya.
Melalui program Sekolah Rakyat, Alma mendapatkan berbagai fasilitas penunjang pendidikan mulai dari seragam, alat tulis, laptop, hingga kebutuhan makan dan asrama secara gratis. Menurutnya, fasilitas tersebut membuat dirinya lebih fokus dalam belajar dan mengejar cita-cita.
“Di sini kami diberikan fasilitas yang sangat membantu untuk belajar. Semuanya sudah tersedia sehingga orang tua tidak perlu lagi memikirkan kebutuhan saya selama sekolah,” jelasnya.
Selain fasilitas, Alma juga merasakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter dan semangat para siswa. Para guru tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga nilai etika, dan semangat perjuangan hidup.
“Guru-guru di sini tidak hanya mengajarkan ilmu akademis, tapi juga mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik dan bermanfaat,” ungkap Alma.
Kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat juga membentuk kedisiplinan dan kemandirian siswa. Selain kegiatan belajar di kelas, para siswa mengikuti berbagai kegiatan asrama, organisasi, hingga ekstrakurikuler yang membantu mengembangkan minat dan bakat mereka.
Meski harus jauh dari keluarga dan hidup tanpa penggunaan handphone sehari-hari, Alma mengaku banyak mendapatkan pelajaran hidup selama hampir 10 bulan menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Saya jadi lebih suka membaca dan lebih fokus belajar. Di sini saya belajar tentang perjuangan dan bagaimana menjadikan hidup lebih bermakna,” ujarnya.
Kini Alma memiliki mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri dan membahagiakan keluarganya. Ia bercita-cita menjadi dosen sekaligus reporter agar dapat mengangkat derajat keluarganya di masa depan.
“Sekolah Rakyat memberikan harapan baru dan mimpi baru untuk kami agar bisa terus sekolah dan berani bermimpi,” tutur Alma.
Program Sekolah Rakyat menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan akses pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak Indonesia, khususnya dari keluarga kurang mampu, agar mereka memiliki kesempatan yang sama dan jaminan pendidikan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kisah inspiratif Alma dapat disaksikan dalam program Sinergi Indonesia melalui kanal YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI. (her/dav)
Menguak Warisan Ask.com: 30 Tahun Kisah Pionir Mesin Pencari Mirip Chatbot AI Berakhir
Mesin pencari Ask.com, yang beroperasi tiga dekade, resmi ditutup pada 1 Mei 2026. Dikenal sebagai Ask Jeeves, platform ini pionir pencarian bahasa alami dan cikal bakal teknologi chatbot serta AI modern. Penutupan oleh IAC ini mengakhiri layanan Ask.com yang kalah bersaing dengan Google, namun warisannya krusial bagi evolusi internet.
Sekolah Rakyat & Pemerintah: Kisah Nenek Dampingi Yatim Piatu Wujudkan Mimpi Jadi Tentara
Mbah Aina (73) di Surakarta mengasuh Aditya, anak yatim piatu. Ia berjuang membiayai pendidikan Aditya. Kini, Aditya bersekolah gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, program Presiden Prabowo Subianto. Sekolah ini memfasilitasi Aditya mewujudkan cita-citanya menjadi tentara.
Dari Gerobak Tahu Bulat ke Ruang Kelas: Kisah Inspiratif Dai Mengubah Hidup di Sekolah Rakyat
Program Sekolah Rakyat di Bekasi menyediakan pendidikan gratis bagi siswa putus sekolah. Daifulloh Afif (19) adalah salah satu peserta yang kini melanjutkan pendidikan di SRMA 13 Bekasi. Program ini membantu individu terkendala ekonomi untuk kembali bersekolah. Fasilitas pendidikan dan kebutuhan siswa disediakan gratis.
Kisah di Balik Kain Nawal Yasin: Pesan Semangat yang Menggetarkan Hati Guru PAUD
Bunda PAUD Jateng, Nawal Arafah Yasin, hadiri Halalbihalal IGPAUD Muslimat NU Kaliwungu, Kendal. Ia berikan arahan pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai pondasi karakter. Nawal juga menulis pesan “Mengajar adalah teladan Rasulullah” untuk memotivasi guru PAUD. Kegiatan ini menegaskan dukungan Pemprov Jateng pada pengembangan PAUD di wilayah tersebut.
Nawal Yasin Soroti Naruna Ceramic Salatiga: Kisah Melejit dari Garasi Kecil ke 18 Negara
Naruna Ceramic, produsen keramik asal Salatiga, sukses mengekspor produknya ke 18 negara. Kualitas produk dan kekuatan desain menjadi kunci utama menembus pasar global. Didukung strategi pemasaran digital, Naruna Ceramic juga memberdayakan UMKM lokal. Kapasitas produksi mencapai ribuan unit keramik per bulan, membuktikan ketangguhan industri kreatif daerah.
Kisah Toy Story 2 Nyaris Hilang: Peringatan Mendesak Pentingnya Backup Data Digital Anda
Kehilangan data mengancam karya dan memori berharga. Pentingnya backup data disorot, seperti kasus Toy Story 2 yang terselamatkan. SanDisk dan WD menawarkan solusi penyimpanan data andal. Berbagai produk, dari flash drive hingga SSD portabel dan cloud storage, mendukung kebutuhan kreator digital hingga era AI. Backup adalah investasi penting.
Di Balik Tanda Tangan Prabowo: Buku Paradoks Indonesia & Kisah Core Memory Diaspora Tokyo
Presiden Prabowo Subianto bertemu diaspora Indonesia di Tokyo, Jepang. Pertemuan ini meninggalkan kesan mendalam, terutama bagi Taufik Rahman Akmal, seorang engineer dan konsultan. Taufik membawa buku “Paradoks Indonesia” karya Prabowo, berharap gagasan besar bagi masa depan Indonesia terus diperjuangkan dalam kepemimpinan beliau.
Menguak Kisah Sopir Bus: Kebahagiaan di Balik Roda Kemudi Mudik Gratis Jateng
Program mudik gratis Pemprov Jawa Tengah 2026 membawa manfaat bagi sopir bus dan penumpang. Persiapan armada bus meliputi pemeriksaan kendaraan serta cek kesehatan kru. Sebanyak 325 unit bus mengangkut 16.186 pemudik ke 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Keberangkatan dari TMII dan Masjid At-Tin Jakarta pada 16 Maret 2026.