Istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menepis isu tentang pengunduran diri Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Foto/Binti Mufarida
JAKARTA – Istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menepis isu tentang pengunduran diri Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Prasetyo juga menegaskan bahwa Presiden Prabowo tidak berencana untuk melakukan pergantian kabinet atau reshuffle kursi Menkeu dalam waktu dekat.
“Enggak ada, enggak ada (pengunduran diri Menkeu),” tegas Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dinilai masih memiliki ruang untuk kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak menilai pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, dalam siaran pers di Jakarta, Senin (18/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Nilai tukar rupiah yang belakangan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dinilai masih memiliki ruang untuk kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kompak menilai pelemahan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor musiman, bukan karena persoalan fundamental ekonomi domestik.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan lantaran kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik.
Menurut dia, pemerintah saat ini lebih fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga.
“Nanti kita perbaiki (pelemahan Rupiah). Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu. Nanti kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (18/5).
Ia mengatakan, sebagian sentimen negatif yang membayangi rupiah muncul karena kekhawatiran bahwa kondisi saat ini menyerupai krisis 1997–1998. Namun, Purbaya menilai situasinya sangat berbeda.
Pandangan serupa juga disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Perry menjelaskan, penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu faktor musiman. Karena itu, tekanan terhadap rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara.
“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang,” ujar Perry di Gedung DPR RI.
BI meyakini tekanan tersebut akan mereda pada semester kedua tahun ini. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah biasanya mulai menguat pada periode Juli hingga September.
“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” kata Perry.
Keyakinan itu juga menjadi dasar BI untuk tetap menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa mengganggu likuiditas di dalam negeri.
Perry menegaskan, bank sentral siap melakukan langkah lanjutan untuk memperkuat rupiah apabila diperlukan.
Perry menambahkan, BI juga belajar dari pengalaman krisis 1997–1998. Saat itu, fokus besar pada stabilisasi rupiah justru berujung pada pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi.
“Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow,” tegas Perry.
Dengan kombinasi fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat serta pola musiman yang diperkirakan akan mereda dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah dan BI optimistis tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama dan mata uang Garuda masih berpeluang kembali menguat. (her/dav)
APBN Indonesia Terkini: Menkeu Ungkap Kondisi Keuangan Negara, Cadangan Masih Kuat?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sangat sehat. APBN mampu biayai program pemerintah dan dorong pertumbuhan ekonomi. Ia membantah isu kas negara tersisa Rp120 triliun. Purbaya menjelaskan, Rp120 triliun adalah bagian Saldo Anggaran Lebih (SAL), bukan total kas negara yang melimpah.
Menkeu Purbaya Dorong Redenominasi Rupiah: Mengungkap Tujuan Sebenarnya di Balik Kebijakan Ini
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa berencana redenominasi rupiah. Proses ini menyederhanakan nilai nominal mata uang tanpa mengubah daya beli. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi ekonomi, menjaga stabilitas rupiah, dan kredibilitas internasional. Rancangan Undang-Undang Redenominasi ditargetkan selesai pada 2027. Ini berbeda dengan sanering.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Mendadak Sambangi Sekolah, Misi Apa yang Dibawa?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengunjungi SMAN 3 Jakarta. Ia menyampaikan materi tentang peran APBN dalam program Kemenkeu Mengajar. Siswa dan guru menyambut antusias, berinteraksi langsung. Kunjungan ini bertujuan menumbuhkan minat pelajar pada APBN dan peran pemerintah di bidang ekonomi. Plakat apresiasi diserahkan kepada sekolah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka 300 lowongan kerja bagi lulusan SMA sebagai pegawai beacukai. Perekrutan ini bertujuan memenuhi kebutuhan tenaga lapangan yang meningkat. Kebijakan ini merupakan bagian rencana Kemenkeu menambah 19.500 pegawai hingga 2029, termasuk mengisi kekosongan akibat pensiun/mutasi. Persyaratan akan diumumkan.
Tuntas! Menkeu Purbaya Jamin Dana Bencana Aceh Cukup Tanpa Ganggu APBN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan anggaran Rp60 triliun untuk penanganan bencana di Sumatera, meliputi Aceh, Sumbar, dan Sumut, tidak mengganggu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dana bencana aman, sementara MBG tetap berjalan, termasuk bagi siswa saat libur dan kelompok 3B.