Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana tercatat memiliki kekayaan Rp9.022.400.000. Foto: Arif Julianto
JAKARTA – Tindakan tegas Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam membongkar dugaan korupsi penyimpangan tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2025-2026 dinilai sebagai bukti nyata komitmen Korps Adhyaksa dalam mengeksekusi visi besar Presiden Prabowo Subianto terkait pemberantasan korupsi di Tanah Air. Menurut Pengamat Politik Ujang Komarudin, respons cepat yang ditunjukkan oleh pihak Kejaksaan merupakan langkah hukum yang sangat positif dalam mengusut tuntas setiap indikasi penyimpangan di jajaran kementerian maupun Lembaga (K/L).
“Tentu tugas besar bangsa ini adalah pemberantasan korupsi, dan pak presiden punya tugas itu. Selain janji kampanye tetapi fakta dan kenyataannya kita masih negara korup di dunia. Oleh karena itu, saya melihat dan respons positif bagus, kalau ada dugaan korupsi baik itu di K/L termasuk BGN ya kalau bahasa saya harus dicari bukti-buktinya untuk diseret ke pengadilan,” ujar Ujang, Rabu (3/6/2026).
Kecepatan Kejaksaan dalam bergerak di kasus BGN ini juga mempertegas posisinya sebagai institusi penegak hukum utama yang diandalkan oleh kepala negara. Berbeda dengan lembaga ad hoc, Kejaksaan bergerak di atas rel prosedur formal yang kuat guna memastikan supremasi hukum berjalan tanpa hambatan birokrasi.
Ancaman Nyata di Gamping Sleman: Pesimisme Ekonomi Dorong Pemuda ke Jurang Judi Online
Bahaya mengintai Gamping Sleman. Situasi berbahaya itu bernama anak muda yang mulai kecanduan judol dan pinjol. Dan penyebabnya, ternyata lebih berbahaya.
Saya lahir dan besar di Gamping Sleman. Daerah yang berkembang. Baik dari segi pembangunan juga kultur sosial. Perkembangan itu bisa kami lihat dengan mata telanjang. Namun, kami tidak bisa memilikinya.
Belakangan saya sering mendengar percakapan yang menyedihkan untuk ukuran anak muda seusia saya. Bukan lagi soal cita-cita, rencana menikah, atau impian membuka usaha. Yang lebih sering muncul justru obrolan tentang cicilan, pinjaman online, tagihan yang belum lunas, sampai cerita teman yang diam-diam mulai bermain judi online.
Dulu saya mengira fenomena judol dan pinjaman online hanya ramai di media sosial. Sampai kemudian saya menyadari bahwa beberapa orang yang saya kenal ternyata sudah masuk ke dalam lingkaran itu.
Ada teman saya di Gamping Sleman, yang awalnya hanya meminjam beberapa ratus ribu rupiah untuk kebutuhan mendesak. Ada yang tergoda bermain judol karena melihat tangkapan layar kemenangan orang lain di grup WhatsApp. Ada yang berangkat dari rasa penasaran, lalu berakhir menjadi kebiasaan. Tidak semua berakhir hancur. Tetapi hampir semua berakhir dengan penyesalan.
Saya tidak sedang membenarkan judol atau pinjaman online. Dua-duanya jelas menyimpan banyak masalah. Namun, saya merasa kita terlalu sering membahasnya dari sudut pandang moral semata.
Seolah-olah semua orang yang terjerat judol di Gamping Sleman hanya karena kurang iman, kurang bijak, atau terlalu malas bekerja. Padahal, kenyataannya, sering lebih rumit.
Saya melihat banyak anak muda di sekitar saya bukan sedang mencari kekayaan instan. Mereka sedang mencari jalan keluar yang terasa mungkin. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyedihkan.
Di Gamping dan banyak wilayah Sleman lain, harga tanah terus bergerak naik. Perumahan baru terus bermunculan. Setiap beberapa bulan sekali, saya menemukan lahan yang dulu kosong berubah menjadi bangunan baru. Sebagai warga lokal, saya tentu senang daerah saya berkembang.
Namun, di saat yang sama, ada perasaan aneh. Terutama ketika menyadari bahwa semakin banyak pembangunan justru membuat banyak anak muda semakin jauh dari kemungkinan memiliki rumah sendiri.
Ironisnya, kami lahir, tumbuh, sekolah, dan mencari nafkah di Sleman. Tetapi semakin dewasa, kami mulai sadar bahwa belum tentu kami mampu membeli tempat tinggal di daerah tempat kami dibesarkan. Itulah yang membuat banyak anak muda di Gamping Sleman kecanduan judol atau pinjaman online.
Kecemasan anak muda di Gamping Sleman
Sekarang, percakapan anak muda sudah berubah. Bekerja keras masih penting, tetapi rasanya semakin sulit percaya bahwa kerja keras saja cukup. Ketika harga tanah naik jauh lebih cepat daripada pendapatan, harapan mulai berubah bentuk menjadi kecemasan.
Kecemasan itu kemudian bertemu dengan dunia digital yang menawarkan jalan pintas. Pinjaman cair dalam hitungan menit. Paylater tersedia dalam beberapa klik. Judol menjanjikan kemenangan besar hanya dengan modal kecil. Semua hadir di layar ponsel yang sama. Semua menawarkan ilusi yang sama: “Mungkin hidupmu bisa sedikit lebih ringan besok pagi.”
Saya rasa, di sinilah letak persoalan yang jarang kita bicarakan. Bukan sekadar soal anak muda Gamping Sleman tergoda judul atau terjebak pinjaman online. Melainkan mengapa tawaran-tawaran semacam itu terasa masuk akal.
Ketika seseorang merasa masa depannya masih terbuka lebar, dia cenderung berpikir panjang sebelum mengambil risiko. Namun, ketika masa depan mulai terlihat kabur, orang lebih mudah tergoda pada sesuatu yang menawarkan hasil cepat.
Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Ini adalah kenyataan di Gamping Sleman. Sebab, jika kita hanya sibuk menghakimi tanpa memahami mengapa, kita tidak benar-benar menyelesaikan apapun.
Kehidupan yang berubah celaka
Saya melihat sendiri beberapa teman di Gamping Sleman berubah setelah terjerat judol dan pinjaman online. Ada yang menjadi lebih tertutup, sulit diajak ketemu, banyak yang berusaha biasa saja tapi stres.
Yang paling menyedihkan, banyak dari mereka sebenarnya bukan pemalas. Teman-teman saya ini para pekerja keras. Namun, yang mereka dapat, tak lagi cukup untuk membuat mereka merasa aman.
Mungkin karena itulah saya selalu merasa ada yang salah ketika orang terus-menerus mengatakan bahwa Jogja atau Sleman masih murah. Hanya murah bagi yang datang membawa modal dari kota besar. Bagi mereka yang sudah memiliki rumah warisan, mungkin iya. Bagi investor yang membeli tanah sebagai aset, jelas iya.
Namun, bagi banyak anak muda lokal yang memulai semuanya dari nol, kehidupan jadi celaka. Kami hidup di daerah yang terus berkembang, tetapi sering tidak ikut menikmati hasil perkembangan tersebut.
Anak-anak muda di Gamping Sleman hanya bisa menyaksikan harga properti naik, tetapi pendapatan kami tetap tiarap. Warga melihat pembangunan, tetapi tetap bertanya-tanya apakah suatu hari nanti kami bisa memiliki tempat tinggal sendiri.
Judol menawarkan harapan palsu bagi anak muda Gamping Sleman
Dan di tengah kegelisahan itu, judol serta pinjaman online datang menawarkan sesuatu yang sebenarnya palsu, yaitu harapan instan. Itulah sebabnya saya tidak melihat fenomena judol dan pinjol semata-mata sebagai persoalan individu.
Saya melihatnya sebagai gejala yang lebih besar. Gejala tentang anak-anak muda Gamping Sleman yang mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan kita kejar melalui jalur yang normal. Ketika rumah terasa mustahil, pekerjaan terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus bergerak naik, sebagian orang mulai mencari jalan yang tidak masuk akal.
Masalahnya, jalan yang tidak masuk akal itu malah tampak paling masuk akal. Khususnya bagi mereka yang sedang terdesak. Mungkin itulah hal yang paling membuat saya sedih sebagai anak yang lahir dan besar di Gamping Sleman.
Sekali lagi, tidak sedikit yang memang bodoh dan malas bekerja sehingga mengabdikan diri dalam lingkaran setan bernama judol. Namun, tidak menutup fakta bahwa di ekonomi sekarang bagi banyak anak muda lokal, judol adalah keniscayaan.
Pada akhirnya, yang lebih berbahaya daripada judol adalah alasan ketika anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang masuk akal. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena harapan yang seharusnya mereka miliki, perlahan menjadi barang yang semakin mahal.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.
Petani di Cipanas Rasakan Dampak Nyata MBG: Penghasilan Naik, Uang Sekolah Terjamin
Petani di Cipanas turut merasakan dampak nyata MBG. Penghasilan mereka naik dan uang sekolah terjamin. Hal itu seperti dialami Bayu Sudrajat (43 tahun), petani di Cipanas Cianjur. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Cipanas, Idola 92.6 FM-Di tengah hamparan kebun sayur yang hijau, Bayu Sudrajat (43 tahun) memulai aktivitasnya seperti biasa. Sudah hampir tiga dekade, sejak 1996, ia menggantungkan hidup dari bertani sayur.
Namun belakangan, ada perubahan yang benar-benar ia rasakan. Harga sayuran membaik, hasil panen lebih cepat terjual, dan penghasilan keluarga menjadi lebih stabil sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saya lebih enak sekarang. Kalau pokcoy dulu biasa jual Rp7.000, sekarang bisa sampai Rp14.000-Rp15.000,” ujar Bayu saat ditemui di perkebunan sayur Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (1/6).
Bukan hanya pokcoy. Menurut Bayu, komoditas lain seperti daun bawang juga mengalami kenaikan harga yang cukup baik. “Dengan adanya MBG, sekarang sudah naik. Daun bawang juga sudah naik. Sekarang melonjak bagus,” katanya.
Bagi petani kecil seperti Bayu, perubahan terbesar bukan hanya soal harga, tetapi juga kemudahan menjual hasil panen. Dulu, ia harus membawa sayuran ke pasar besar dengan biaya dan tenaga tambahan. Kini, pembeli justru datang langsung ke kebun.
“Lebih mudah juga jualnya. Kalau dulu kan harus ke pasar. Nah, selama ada MBG sekarang, banyak yang ngambil di kebun juga. Jadi, tidak harus ke pasar,” kata dia.
Bayu bercerita para petani sempat mengeluh sebelum program MBG berjalan. Harga tidak menentu, penjualan lambat, sementara biaya produksi terus berjalan. Kini, menurutnya, keadaan mulai berubah dan membaik.
Tambahan penghasilan itu bukan sekadar angka. Dari hasil kebun, ia bisa membantu kebutuhan keluarga, membayar biaya sekolah anak, hingga memutar kembali modal untuk menanam.
“Ya, untuk keluarga. Untuk biaya sekolah juga kan. Separuh buat modal, kembali lagi ke kebun,” tuturnya.
Tambahan untuk sekolah anak
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Sidik, petani sayur lainnya di Cipanas. Ia mengaku penghasilannya meningkat dan hasil panen kini lebih cepat terserap pasar.
“Sudah ada MBG, alhamdulillah peningkatan sayuran naik. Penghasilan sekarang naik,” ujar Sidik.
Baginya, peningkatan pendapatan sangat berarti untuk keberlangsungan keluarga. “Penghasilannya buat sekolah anak, buat keluarga, alhamdulillah,” katanya.
Sidik menilai program MBG memberi manfaat nyata bagi petani karena distribusi hasil panen menjadi lebih cepat dan pasti. “Bermanfaat sekali, penjualan hasil makin cepat,” ujarnya.
Di tengah aktivitas Bayu dan Sidik merawat kebun. Mereka turut menyampaikan harapan dan rasa terima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto, agar kondisi yang mulai membaik ini bisa terus berlanjut.
Bagi mereka, hasil panen yang terserap dengan baik bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang menjaga dapur tetap menyala dan masa depan anak-anak tetap berjalan.
“Terima kasih buat Bapak Presiden sudah mengadakan program MBG ini. Alhamdulillah saya jadi terbantu sebagai petani,” kata Sidik. Sementara Bayu menambahkan, dengan adanya MBG, petani lebih enak dan sejahtera. (her/dav)
Ancaman Nyata Coffee Shop: Saat Pendekar Kopi Menguji Barista, Rojali Menggerogoti Laba Owner
Barista menghadapi ‘pendekar kopi’ yang detail terkait minuman, namun sering minim pembelian. Pemilik coffee shop resah oleh ‘rojali’ (rombongan jarang beli) yang memenuhi tempat tanpa transaksi berarti. Kedua tipe pelanggan ini menimbulkan tantangan operasional serta memengaruhi profitabilitas bisnis. Dinamika ini krusial dalam industri kopi.
PKBM Mandiri Pamerkan Keterampilan Warga: Dari Ruang Kelas ke Karya Nyata!
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mandiri Giritontro, Wonogiri, menggelar Pameran Hasil Belajar dan Penilaian Sumatif Akhir Tahun (PSAT) 2025/2026 pada 1 Juni 2026. Kegiatan ini mengapresiasi capaian warga belajar dan memberdayakan masyarakat. Fokusnya pada peningkatan keterampilan hidup, kewirausahaan, serta kepedulian sosial melalui bakti sosial, pelatihan memasak, dan pakan fermentasi.
DPR Geram: Persoalan Mina Tak Kunjung Usai, Kapan Solusi Nyata Datang?
loading…
Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Marwan Dasopang saat di Mina, Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026). Foto: Andri/Sari
MEKKAH – Persoalan kepadatan jemaah di Mina kembali menjadi perhatian dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Meski secara umum pelaksanaan haji tahun ini dinilai berjalan baik, keterbatasan ruang dan fasilitas di kawasan Mina masih menjadi tantangan yang dirasakan langsung oleh jemaah Indonesia.
Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Marwan Dasopang, menilai persoalan tersebut tidak bisa terus dibiarkan berulang tanpa solusi jangka panjang. Hal itu disampaikannya melalui rilis yang diterima Parlementaria di Mina, Makkah, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026).
Menurut Marwan, secara keseluruhan tahapan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berlangsung sesuai agenda dan patut diapresiasi. Pelayanan kepada jemaah, kata dia, telah berjalan cukup baik sejak fase kedatangan hingga puncak ibadah haji.
“Secara keseluruhan penyelenggaraan haji berjalan baik. Tahapan-tahapan awal hingga puncak pelaksanaan ibadah berlangsung sesuai agenda. Kita patut mengapresiasi berbagai pihak yang telah bekerja keras memberikan pelayanan kepada jemaah. Namun kondisi di Mina masih menjadi tantangan utama,” kata Politisi Fraksi PKB ini.
Prabowo Ungkap Bukti Nyata: Rp10,8 Miliar Uang Beredar Dongkrak Ekonomi Desa
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penggerak baru ekonomi desa dengan menciptakan perputaran uang hingga Rp10,8 miliar per tahun di setiap desa. Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan pada peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Nganjuk, Idola 92.6 FM-Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penggerak baru ekonomi desa dengan menciptakan perputaran uang hingga Rp10,8 miliar per tahun di setiap desa.
Menurutnya, angka tersebut jauh lebih besar dibanding dana desa yang sebelumnya rata-rata sekitar Rp1 miliar.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan pada peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5).
Menurut Presiden, dampak MBG tidak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menghidupkan rantai ekonomi desa, mulai dari petani, peternak, hingga pelaku UMKM lokal.
“Kita bikin MBG. Mendasar. Artinya adalah bahwa tiap hari di desa beredar uang,” ujar Prabowo.
Dalam paparannya, Presiden menghitung potensi perputaran ekonomi dari pelaksanaan MBG di tingkat desa. Dengan asumsi 3.000 penerima manfaat dan nilai Rp15 ribu per porsi, uang yang beredar setiap hari dapat mencapai Rp45 juta. “Rp15.000 kali 3.000, Rp45 juta tiap hari,” katanya.
Prabowo menjelaskan, jika dihitung selama 20 hari dalam satu bulan, maka total uang yang beredar mencapai sekitar Rp900 juta per bulan atau Rp10,8 miliar dalam setahun.
“Sebelum ada MBG, kita kirim Rp1 miliar dana desa. Dengan MBG, kita tambah sekitar Rp10 miliar,” ungkapnya.
Menurut Prabowo, perputaran ekonomi tersebut akan langsung dirasakan masyarakat desa karena kebutuhan pangan dipasok dari lingkungan sekitar.
“Di satu desa ada Rp10,8 miliar yang beredar. Artinya, peternak lele bisa menjual hasilnya, petani bawang merah bisa terjual, pembuat tempe mendapat pembeli, penjual telur juga hidup. Semua produsen di desa itu bergerak,” ujarnya.
Presiden menilai skema tersebut sekaligus mampu memangkas biaya logistik karena pasar tersedia langsung di desa masing-masing.
“Dan kita bisa memangkas biaya logistik. Tidak perlu jauh-jauh ke pasar, karena pasarnya ada di desa sendiri. Ini adalah dampak dari MBG. Sekian ratus triliun akan beredar di desa-desa, kelurahan, kabupaten, ratusan triliun,” kata Prabowo.
Prabowo menegaskan bahwa kombinasi Program MBG dengan Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi fondasi kebangkitan ekonomi nasional berbasis kerakyatan.
“MBG ditambah dengan Koperasi Desa Merah Putih ini akan membangkitkan ekonomi kita. Sekarang saya kira secara jujur para kepala desa, para bupati, sudah mulai merasakan. Ke depan akan lebih merasakan,” tegasnya.
Meski demikian, Presiden mengakui pelaksanaan program berskala besar tentu menghadapi berbagai tantangan dan persoalan yang harus terus dibenahi.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengingatkan seluruh unsur pemerintahan agar menjaga integritas dan tidak menyalahgunakan kewenangan.
“Pemerintahan saya tidak ragu-ragu. Siapa pun yang melanggar, menyimpang, dan menyalahgunakan kewenangan akan kita tertibkan, kita bersihkan, kita copot dari jabatan,” pungkas Presiden. (her/dav)
Dampak Nyata Program MBG: Permudah Akses Makanan Bergizi hingga Kurangi Pengeluaran Masyarakat
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari meningkatnya akses terhadap makanan bergizi hingga membantu meringankan pengeluaran rumah tangga sehari-hari. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (13/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari meningkatnya akses terhadap makanan bergizi hingga membantu meringankan pengeluaran rumah tangga sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (13/5).
“MBG bukan sekadar program makan siang. Ada dampak nyata yang sudah dan akan terus dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Qodari menjelaskan, pada Januari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) telah menerbitkan Laporan Hasil Survei Monitoring dan Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis.
Hasil survei menunjukkan peningkatan pada sejumlah indikator utama terkait manfaat program bagi masyarakat.
Berdasarkan laporan BPS, kemudahan masyarakat dalam memperoleh makanan bergizi meningkat dari 81,4 persen menjadi 84,1 persen.
Selain itu, perilaku konsumsi makanan bergizi juga mengalami peningkatan, dari 80,3 persen menjadi 84,1 persen.
Tak hanya itu, program tersebut dinilai membantu masyarakat menghemat waktu dan biaya kebutuhan harian. Persentase masyarakat yang merasa terbantu dalam menyiapkan makan siang meningkat dari 75,4 persen menjadi 78,3 persen.
Lebih lanjut, data BPS menunjukkan persentase masyarakat yang merasakan pengeluaran sehari-hari menjadi lebih ringan naik dari 73,6 persen menjadi 75,9 persen.
Pada kesempatan yang sama, Qodari menyebut pemerintah juga mencatat peningkatan kualitas pelaksanaan program, terutama dari sisi menu makanan yang diberikan kepada siswa.
Hal itu tercermin dari meningkatnya persentase siswa yang menghabiskan seluruh porsi makanan MBG.
“Persentase siswa yang menghabiskan seluruh porsi MBG meningkat dari 66,9 persen pada Juli 2025 menjadi 69,8 persen pada November 2025. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan kualitas menu dan cita rasa secara berkala,” ungkapnya.
Selain berdampak pada penerima manfaat, Qodari menyampaikan bahwa program MBG turut memberikan efek positif terhadap pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok penyediaan makanan bergizi.
Pemerintah mencatat mayoritas pemasok (supplier) program mengalami kenaikan penjualan selama periode pelaksanaan.
“Selama periode Januari–Oktober 2025, sebanyak 85,6 persen supplier MBG mencatat kenaikan nilai penjualan,” katanya.
Capaian data BPS tersebut menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi stimulus ekonomi yang mendukung pertumbuhan usaha lokal dan sektor pangan nasional. (her/dav)
Istri Nelayan Ikut Senang, KNMP Leato Selatan Bawa Perubahan Nyata untuk Keluarga di Pesisir
Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, disambut hangat oleh para istri nelayan. Mereka bersyukur karena Leato Selatan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian langsung dari pemerintah. Fatra Ismail, Marlena, Yusran Gaigo, Mardia Arif, dan Hartati Marjuk dengan kompak menyampaikan rasa bahagia atas perubahan yang mulai dirasakan sejak KNMP Leato Selatan berdiri. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Gorontalo, Idola 92.6 FM-Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, disambut hangat oleh para istri nelayan.
Mereka bersyukur karena Leato Selatan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian langsung dari pemerintah. Fatra Ismail, Marlena, Yusran Gaigo, Mardia Arif, dan Hartati Marjuk dengan kompak menyampaikan rasa bahagia atas perubahan yang mulai dirasakan sejak KNMP Leato Selatan berdiri.
“Alhamdulillah, ada perubahan. Alhamdulillah, ada perubahan,” kata mereka serentak.
Para istri nelayan itu menyebut program KNMP telah membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat pesisir. Berbagai fasilitas penunjang kini mulai tersedia demi meningkatkan kesejahteraan nelayan serta keluarga.
Mardia Arif, salah satu istri nelayan, menyebutkan sejumlah fasilitas yang sudah hadir antara lain bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang terintegrasi dengan KNMP, pabrik es, fasilitas kuliner, ruang genset, hingga perbengkelan yang mendukung aktivitas nelayan sehari-hari.
“Sudah ada bangunan Koperasi Merah Putih, KNMP. Ada fasilitas pabrik es, ada kuliner, ada ruang genset. Perbengkelan,” ucap Mardia.
Pada kesempatan itu, para ibu mengaku sangat tersentuh dengan perhatian Prabowo terhadap kehidupan nelayan. Mereka menyampaikan terima kasih, berharap program ini bisa terus berlanjut dan memberi dampak lebih besar bagi kesejahteraan warga.
Mereka berharap keberadaan KNMP dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan di kawasan pesisir untuk ikut berkembang dan memiliki aktivitas produktif.
“Harapan kami, ke depannya kami semua, ibu-ibu, punya fasilitas, punya partisipasi, punya peningkatan, ke depannya, ibu-ibu punya kegiatan,” kata Mardia dan ibu-ibu nelayan lainnya. (her/dav)
Sagara Technology Partner IT Outsourcing & Proyek Nyata Talenta Digital
Foto: Btech Teknologi.Id — Di tengah percepatan transformasi digital Indonesia 2026, tantangan terbesar bagi perusahaan bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi, melainkan menemukan tim ahli yang tepat untuk mengeksekusinya. Sagara Technology, sebagai ekosistem talenta digital terdepan, hadir dengan solusi IT Outsourcing yang revolusioner. Sagara bukan hanya penyedia tenaga kerja, melainkan mitra strategis yang menghubungkan kebutuhan bisnis […]