Mensos Gelar Open House Sekolah Rakyat Jelang 1 Tahun Beroperasi
loading…
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menggelar open house Sekolah Rakyat menjelang satu tahun penyelenggaraannya pada Juli 2026. Foto: Istimewa
BOGOR – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menggelar open house Sekolah Rakyat menjelang satu tahun penyelenggaraannya pada Juli 2026. Melalui kegiatan ini, para tamu yang hadir bisa melihat langsung proses pembelajaran di Sekolah Rakyat.
Sebelumnya, open house telah diawali oleh kedatangan Pengurus Nasional Karang Taruna ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi pada Mei lalu (13/5). Kali ini giliran para calon siswa (casis) bersama orang tuanya yang mendapat kesempatan untuk mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Bogor.
“Hari ini kita diberi kesempatan untuk bersilaturahmi, bertemu dengan Bapak Ibu sekalian dalam rangka kegiatan Open House Sekolah Rakyat menjelang satu tahun dimulainya penyelenggaraan Sekolah Rakyat pada Juli tahun 2025 lalu,” kata Gus Ipul didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat berdialog dengan casis di SRMP 10 Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026).
Kedatangan casis dan orang tua casis disambut oleh penampilan yel-yel, pidato 4 bahasa asing, dan paduan suara dari siswa SRMP 10 Bogor serta penampilan tari. Pada kesempatan ini mereka juga berkesempatan untuk berdialog dengan Gus Ipul.
Acara dipandu oleh MC yang merupakan siswa SRMA 13 Bekasi, bernama Misfan Nazriel Faturrahman. Dia membuka dan memandu acara menggunakan Bahasa Inggris, menunjukkan bahwa kepercayaan dirinya telah tumbuh selama hampir satu tahun di Sekolah Rakyat.
Berkat Jembatan Gantung 240 Meter, Pelajar Aceh Tamiang Kini Bisa Berangkat Sekolah dengan Mudah
Senyum bahagia terpancar dari wajah para pelajar di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka kini dapat berangkat ke sekolah dengan lebih cepat, aman, dan nyaman berkat kehadiran jembatan gantung sepanjang 240 meter yang menghubungkan Desa Bandar Mahligai dan Desa Sekerak Kiri. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Aceh Tamiang, Idola 92.6 FM-Senyum bahagia terpancar dari wajah para pelajar di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka kini dapat berangkat ke sekolah dengan lebih cepat, aman, dan nyaman berkat kehadiran jembatan gantung sepanjang 240 meter yang menghubungkan Desa Bandar Mahligai dan Desa Sekerak Kiri.
“Kalau jembatannya bagus, jadi kalau pergi sekolah lebih mudah. Nggak perlu naik perahu lagi, jadi bisa langsung melintasi jembatan,” ujar seorang siswi SMP di Aceh Tamiang.
Jembatan yang ia maksud adalah Jembatan Perintis Garuda, yang kini membentang di atas Sungai Tamiang sepanjang 240 meter dengan lebar 1,2 meter dan kapasitas beban hingga 400 kilogram. Infrastruktur ini menjadi salah satu jembatan gantung terpanjang di Indonesia sekaligus ikon baru Kabupaten Aceh Tamiang.
Jembatan ini dibangun sebagai respons cepat terhadap dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada November 2025 dan diselesaikan hanya dalam waktu tiga bulan oleh prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gabungan.
Sebelum jembatan dibangun, warga harus menyeberangi sungai menggunakan perahu kayu atau memutar perjalanan darat melalui Karang Baru dan Sungai Liput dengan waktu tempuh antara satu hingga dua jam. Kini, perjalanan antardesa dapat dilakukan hanya dalam waktu sekitar lima menit.
Komandan Resor Militer (Korem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran mengatakan, pembangunan jembatan tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang selama puluhan tahun mengalami keterbatasan akses.
“Jembatan ini sudah puluhan tahun tidak ada akses. Atas permintaan masyarakat pascabanjir Aceh, akhirnya kami bangun. Panjangnya 240 meter dan menjadi jembatan gantung terpanjang di Indonesia,” ujar Ali Imran.
Kini, jembatan itu menjadi akses vital yang memperlancar mobilitas masyarakat, mulai dari aktivitas ekonomi hingga pendidikan.
Bagi para pelajar, kehadiran jembatan tersebut bukan hanya memangkas waktu perjalanan, tetapi juga menghadirkan rasa aman saat berangkat dan pulang sekolah. Siswi SMP tersebut mengaku kondisi jembatan cukup nyaman untuk dilalui.
“Jembatannya kalau dipakai bergantian-bergantian nggak terlalu goyang. Kalau dipakai rame-rame baru terasa goyangnya,” katanya.
Tak hanya bicara soal kenyamanan, siswi itu juga menitipkan pesan terima kasih kepada para prajurit TNI dan pemerintah yang telah mewujudkan pembangunan jembatan yang selama ini dinantikan masyarakat.
“Untuk Bapak TNI, terima kasih sudah membuat jembatannya. Untuk Bapak Presiden, terima kasih sudah membantu kami untuk membuat jembatan agar bisa melintas dengan mudah,” tuturnya.
Selain menjadi penghubung utama bagi warga dua desa, Jembatan Gantung Perintis Garuda kini juga mulai berkembang sebagai destinasi wisata baru di Aceh Tamiang. Bentangan jembatan yang panjang dengan latar Sungai Tamiang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan pengunjung. (her/dav)
Petani di Cipanas Rasakan Dampak Nyata MBG: Penghasilan Naik, Uang Sekolah Terjamin
Petani di Cipanas turut merasakan dampak nyata MBG. Penghasilan mereka naik dan uang sekolah terjamin. Hal itu seperti dialami Bayu Sudrajat (43 tahun), petani di Cipanas Cianjur. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Cipanas, Idola 92.6 FM-Di tengah hamparan kebun sayur yang hijau, Bayu Sudrajat (43 tahun) memulai aktivitasnya seperti biasa. Sudah hampir tiga dekade, sejak 1996, ia menggantungkan hidup dari bertani sayur.
Namun belakangan, ada perubahan yang benar-benar ia rasakan. Harga sayuran membaik, hasil panen lebih cepat terjual, dan penghasilan keluarga menjadi lebih stabil sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saya lebih enak sekarang. Kalau pokcoy dulu biasa jual Rp7.000, sekarang bisa sampai Rp14.000-Rp15.000,” ujar Bayu saat ditemui di perkebunan sayur Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (1/6).
Bukan hanya pokcoy. Menurut Bayu, komoditas lain seperti daun bawang juga mengalami kenaikan harga yang cukup baik. “Dengan adanya MBG, sekarang sudah naik. Daun bawang juga sudah naik. Sekarang melonjak bagus,” katanya.
Bagi petani kecil seperti Bayu, perubahan terbesar bukan hanya soal harga, tetapi juga kemudahan menjual hasil panen. Dulu, ia harus membawa sayuran ke pasar besar dengan biaya dan tenaga tambahan. Kini, pembeli justru datang langsung ke kebun.
“Lebih mudah juga jualnya. Kalau dulu kan harus ke pasar. Nah, selama ada MBG sekarang, banyak yang ngambil di kebun juga. Jadi, tidak harus ke pasar,” kata dia.
Bayu bercerita para petani sempat mengeluh sebelum program MBG berjalan. Harga tidak menentu, penjualan lambat, sementara biaya produksi terus berjalan. Kini, menurutnya, keadaan mulai berubah dan membaik.
Tambahan penghasilan itu bukan sekadar angka. Dari hasil kebun, ia bisa membantu kebutuhan keluarga, membayar biaya sekolah anak, hingga memutar kembali modal untuk menanam.
“Ya, untuk keluarga. Untuk biaya sekolah juga kan. Separuh buat modal, kembali lagi ke kebun,” tuturnya.
Tambahan untuk sekolah anak
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Sidik, petani sayur lainnya di Cipanas. Ia mengaku penghasilannya meningkat dan hasil panen kini lebih cepat terserap pasar.
“Sudah ada MBG, alhamdulillah peningkatan sayuran naik. Penghasilan sekarang naik,” ujar Sidik.
Baginya, peningkatan pendapatan sangat berarti untuk keberlangsungan keluarga. “Penghasilannya buat sekolah anak, buat keluarga, alhamdulillah,” katanya.
Sidik menilai program MBG memberi manfaat nyata bagi petani karena distribusi hasil panen menjadi lebih cepat dan pasti. “Bermanfaat sekali, penjualan hasil makin cepat,” ujarnya.
Di tengah aktivitas Bayu dan Sidik merawat kebun. Mereka turut menyampaikan harapan dan rasa terima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto, agar kondisi yang mulai membaik ini bisa terus berlanjut.
Bagi mereka, hasil panen yang terserap dengan baik bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang menjaga dapur tetap menyala dan masa depan anak-anak tetap berjalan.
“Terima kasih buat Bapak Presiden sudah mengadakan program MBG ini. Alhamdulillah saya jadi terbantu sebagai petani,” kata Sidik. Sementara Bayu menambahkan, dengan adanya MBG, petani lebih enak dan sejahtera. (her/dav)
Sekolah Kartini Berdaya: Bongkar Isu Kekerasan, Perkuat Literasi Digital.
Perempuan muda Jepara didorong memiliki literasi digital, ketahanan mental, dan pemahaman hukum. Hal ini disampaikan Pemkab Jepara pada peluncuran Sekolah Kartini Berdaya. HMI Jepara menginisiasi program ini sebagai respons terhadap tantangan kekerasan seksual dan eksploitasi perempuan. Materi pelatihan mencakup perlindungan sosial, kesehatan, AI, serta digital marketing.
Jangkauan Fenomenal MBG: 62,4 Juta Orang Terdampak, Dari Anak Sekolah hingga Ibu Hamil
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperluas jangkauan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) pada Jumat (22/5), total penerima manfaat MBG telah mencapai 62.454.064 orang. Jumlah tersebut mencakup berbagai kelompok sasaran, mulai dari peserta didik, balita, ibu menyusui, ibu hamil, hingga santri. (Foto Dok. Memorandum.co.id/ Disway)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperluas jangkauan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) pada Jumat (22/5), total penerima manfaat MBG telah mencapai 62.454.064 orang.
Jumlah tersebut mencakup berbagai kelompok sasaran, mulai dari peserta didik, balita, ibu menyusui, ibu hamil, hingga santri. Program ini menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan gizi nasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Dari total penerima manfaat tersebut, kelompok peserta didik menjadi penerima terbesar dengan jumlah mencapai 48.350.393 orang. Angka ini setara dengan 76,1 persen dari total data induk peserta didik sebanyak 63.574.421 jiwa.
Sementara itu, penerima manfaat dari kelompok balita mencapai 6.303.775 orang atau sekitar 37,7 persen dari total data induk balita nasional. Untuk kategori ibu menyusui (busui), jumlah penerima tercatat sebanyak 2.066.533 orang atau 75,2 persen dari total sasaran.
Adapun penerima manfaat dari kelompok ibu hamil (bumil) mencapai 868.259 orang atau sekitar 35,3 persen. Sementara itu, kategori santri tercatat sebanyak 644.664 orang atau 44,2 persen dari total sasaran nasional.
Selain itu, program MBG juga melibatkan sekitar 4.220.440 guru dan tenaga pendidik dalam pelaksanaannya sehingga total penerima manfaat mencapai 62.454.064 orang.
Adapun jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) operasional telah mencapai 29.225 unit di seluruh Indonesia. Sejak dimulai pada 6 Januari 2025, total sajian yang telah disalurkan mencapai 8,3 miliar porsi.
Program MBG juga telah menjangkau 374.175 sekolah penerima manfaat di seluruh Indonesia. Untuk mendukung operasional program, sebanyak 1.285.250 tenaga kerja terlibat, mulai dari pengolahan makanan hingga distribusi.
Dari sisi rantai pasok, BGN mencatat keterlibatan 142.387 supplier yang terdiri atas 59.921 UMKM, 13.306 koperasi, 690 KDKMP, 1.410 Bumdes, 157 Bumdesma, serta 66.903 supplier lainnya.
Keterlibatan pelaku usaha lokal tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (her/dav)
Cerita Guru Sekolah Rakyat: Pemerintah Benar-Benar Menjamin Pendidikan Anak-Anak di Sekolah Rakyat
Program Sekolah Rakyat hadir sebagai upaya membuka akses pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Di balik proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari, para guru menjadi bagian penting dalam mendampingi sekaligus membangun semangat belajar siswa, termasuk di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Bekasi, Idola 92.6 FM-Program Sekolah Rakyat hadir sebagai upaya membuka akses pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Di balik proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari, para guru menjadi bagian penting dalam mendampingi sekaligus membangun semangat belajar siswa, termasuk di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi.
Salah satu pengajar di sekolah tersebut, Haikal, guru sejarah SRMA 13 Bekasi, menceritakan perjalanannya hingga akhirnya bergabung menjadi pengajar di Sekolah Rakyat. Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu mengaku tertarik menjadi bagian dari program ini karena memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan sekaligus isu kesejahteraan sosial.
“Saya memang dari dulu tertarik dengan kesejahteraan sosial dan juga dunia pendidikan. Di Sekolah Rakyat ini, dua-duanya bisa saya jalani sekaligus,” ujar Haikal.
Haikal menjelaskan dirinya mengetahui proses rekrutmen Sekolah Rakyat saat sedang menunggu pengumuman seleksi guru di sekolah lain.
Ia kemudian mengikuti serangkaian tahapan seleksi, mulai dari tes psikologi, tes bahasa Inggris, hingga wawancara sebelum akhirnya dinyatakan lolos dan ditempatkan di Bekasi.
Meski sempat memiliki kekhawatiran mengenai proses belajar siswa dengan latar belakang ekonomi yang berbeda-beda, pandangannya berubah setelah bertemu langsung dengan para murid.
“Awalnya saya berpikir mungkin akan berbeda. Tapi setelah bertemu langsung, ternyata sama saja seperti anak-anak sekolah lainnya. Semangat belajarnya juga luar biasa,” katanya.
Menurut Haikal, pengalaman yang paling membekas justru ketika dirinya mengunjungi rumah beberapa siswa.
Ia melihat secara langsung kondisi tempat tinggal yang sangat terbatas, bahkan tanpa ruang khusus untuk belajar. Namun, hal tersebut tidak mengurangi semangat mereka untuk menuntut ilmu.
“Ketika saya datang ke rumahnya, saya sampai berpikir mereka belajar di mana. Rumahnya hanya satu ruangan untuk semuanya. Tapi begitu di sekolah, semangat belajar mereka luar biasa. Bahkan setelah belajar di kelas selesai, mereka masih meminta tambahan belajar kepada wali asuh,” ungkapnya.
Dalam proses pembelajaran, Sekolah Rakyat juga memanfaatkan fasilitas digital seperti laptop dan smart board untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Namun menurut Haikal, tantangan lain muncul karena sebagian siswa masih belum terbiasa menggunakan perangkat teknologi.
“Kadang ada sedikit kendala karena mereka belum terbiasa menggunakan laptop atau teknologi pembelajaran. Tapi justru di situ proses belajarnya berjalan. Mereka jadi perlahan lebih melek teknologi,” jelasnya.
Ia menambahkan, fasilitas tersebut sangat membantu guru untuk membuat metode belajar yang lebih kreatif dan interaktif. Penggunaan internet di sekolah pun tetap diawasi dengan pembatasan akses media sosial agar siswa lebih fokus pada kegiatan belajar.
Selain pembelajaran akademik, Sekolah Rakyat juga menanamkan pendidikan karakter melalui pembiasaan adab dan disiplin sehari-hari. Salah satunya melalui budaya 5S, yakni senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
“Setiap pagi anak-anak dibiasakan salim dengan guru. Kami selalu mengingatkan bahwa adab itu lebih tinggi daripada ilmu,” ujar Haikal.
Sebagai sekolah berasrama, Sekolah Rakyat juga dinilai membantu siswa lebih fokus belajar tanpa distraksi penggunaan telepon genggam.
Berbagai aktivitas positif disiapkan agar siswa tetap aktif dan produktif sepanjang hari.
“Banyak anak yang justru lebih suka sibuk. Mereka minta kegiatan terus, mulai dari olahraga sampai nonton film bersama supaya tidak bosan,” tambahnya.
Bagi Haikal, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi salah satu bentuk nyata upaya memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Menurutnya, siswa tidak hanya mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak, tetapi juga dukungan penuh untuk melanjutkan cita-cita mereka.
“Anak-anak di sini benar-benar dijamin pendidikannya. Bahkan orang tua mereka juga mendapat pendampingan dan bantuan sosial. Jadi mereka bisa lebih fokus mengejar masa depan,” katanya.
Haikal pun mengaku bangga dapat menjadi bagian dari Sekolah Rakyat dan mendampingi para siswa yang memiliki semangat belajar tinggi di tengah keterbatasan hidup yang mereka hadapi.
Kisah lengkap mengenai semangat belajar dan perjuangan para guru di Sekolah Rakyat Menengah Atas 13 Bekasi dapat disaksikan melalui program Sinergi Indonesia di kanal YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI. (her/dav)
Mensos Nonaktifkan Dua Pejabat terkait Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat
loading…
Mensos Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menonaktifkan sementara dua pejabat terkait proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kemensos saat konferensi pers di Kantor Kemensos, Rabu (13/5/2026). Foto: Binti Mufarida
JAKARTA – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menonaktifkan sementara dua pejabat yang terkait proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kementerian Sosial. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran proses pendalaman atas temuan yang muncul dalam evaluasi internal.
Sebelumnya, Gus Ipul telah berkonsultasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait potensi kerawanan korupsi khususnya dalam program Sekolah Rakyat. Kajian ini dilakukan setelah anggaran pengadaan sepatu Sekolah Rakyat senilai Rp27 miliar menjadi sorotan publik.
Dua pejabat yang dibebastugaskan sementara yakni Kepala Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa selaku Pejabat Pembuat Komitmen serta Kepala Subbagian Perlengkapan dan Barang Milik Negara.
Keputusan ini merupakan bagian dari upaya menjaga objektivitas dan efektivitas proses investigasi yang tengah berjalan. “Dalam kaitan dengan keperluan tersebut, juga untuk kelancaran terhadap proses pendalaman yang dimaksud, serta demi kelancaran proses pengadaan berikutnya, saya membebaskan tugaskan sementara dari jabatannya,” ujar Gus Ipul dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Sosial, Rabu (13/5/2026).
Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Masyarakat Miskin, Jumlah Siswa Sekolah Rakyat Capai 46 Ribu di Tahun Ini
Pemerintah mempeluas akses pendidikan bagi masyarakat miskin melalui program Sekolah Rakyat yang menjadi bagian dari program strategis Presiden Prabowo Subianto. Hal itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf sebelum bertemu Presiden Prabowo di Istana Negara dalam rapat terbatas (Ratas), Selasa (12/5). (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Pemerintah mempeluas akses pendidikan bagi masyarakat miskin melalui program Sekolah Rakyat yang menjadi bagian dari program strategis Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf sebelum bertemu Presiden Prabowo di Istana Negara dalam rapat terbatas (Ratas), Selasa (12/5).
Menteri yang akrab disapa Gus Ipul ini menyampaikan bahwa perkembangan jumlah peserta didik Sekolah Rakyat akan meningkat signifikan pada tahun ajaran 2026–2027.
“Kami juga melaporkan persiapan secara khusus penyelenggaraan Sekolah Rakyat di tahun 2026–2027 yang Insyaallah akan kita mulai pembelajarannya pada bulan Juli yang akan datang dengan alokasi siswa mencapai 32 ribu untuk tahun ini,” ujar Gus Ipul.
Ia menjelaskan, pada tahun sebelumnya jumlah siswa Sekolah Rakyat telah mencapai lebih dari 15 ribu peserta didik. Dengan tambahan 32 ribu siswa baru tahun ini, total penerima manfaat program tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 46 ribu siswa.
“Tahun lalu 15 ribu lebih, artinya kalau digabung tahun ini sudah ada sekitar 46 ribu lebih siswa Sekolah Rakyat,” katanya.
Menurut Gus Ipul, perluasan Sekolah Rakyat merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat akses pendidikan bagi keluarga miskin dan kelompok rentan agar memperoleh kesempatan belajar yang lebih layak dan berkualitas.
Selain membahas pendidikan, Kementerian Sosial juga melaporkan perkembangan penyaluran bantuan sosial tepat sasaran. Pemerintah ingin memastikan bansos tidak membuat masyarakat bergantung, melainkan menjadi pintu masuk menuju program pemberdayaan ekonomi sehingga penerima bantuan bisa mandiri ke depannya.
“Bansos ini kan diharapkan tidak membuat masyarakat demotivasi. Malah justru sebaliknya dengan bansos ini diharapkan masyarakat lebih semangat dengan mengikuti program strategis Presiden yang lain,” ujarnya. (her/dav)
Kunjungi Miangas, Prabowo Janji Renovasi Semua Sekolah 2-3 Tahun ke Depan
loading…
Presiden Prabowo Subianto berjanji merenovasi seluruh sekolah di Indonesia dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Hal itu disampaikan Prabowo saat meninjau SMKN 2 Talaud, Pulau Miangas, Kepulauan Talaud, Sulut, Sabtu (9/5/2026). Foto: Setpres
TALAUD – Presiden Prabowo Subianto berjanji merenovasi seluruh sekolah di Indonesia dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Hal itu disampaikan Prabowo saat meninjau SMKN 2 Talaud yang berada di Pulau Miangas, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sabtu (9/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo ingin melihat langsung kondisi Pulau Miangas yang merupakan wilayah terluar Indonesia di bagian utara. “Saya datang ingin lihat keadaan di Pulau Miangas, pulau terluar Republik Indonesia di paling utara,” ujarnya.
Lokasi Pulau Miangas cukup dekat dengan Filipina. Prabowo turut menyinggung pembangunan Bandara yang diresmikan Presiden Ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
“Saya baru saja dari Filipina, ternyata cukup dekat dari Filipina. Dan kita bersyukur, saya presiden kedua, Pak Jokowi sudah. Pak Jokowi resmikan bandara ya, saya nanti akan perbaiki atau melihara supaya lebih bagus lagi,” katanya.
Dia sempat berdialog dengan pihak sekolah kemudian menanyakan kondisi renovasi SMKN 2 Talaud. “Sekolah ini sudah direnovasi belum tahun ini? Ini sudah dapat renovasi? Sudah dapat layar? Layar yang baru? Sudah ada. Di SMP sudah ada. Semua sekolah sudah?” kata Prabowo.
Pemerintah berkomitmen merenovasi seluruh sekolah di Indonesia secara bertahap. “Baik, nanti semua sekolah akan kita renovasi tahun ini dan 2-3 tahun ke depan semua sekolah di Indonesia akan kita renovasi,” ucapnya.
Prabowo di Pulau Terluar Miangas: Ini Perintahnya untuk Sekolah dan Puskesmas
Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Pulau Miangas, Sabtu (9/5). Ia berkomitmen mempercepat pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan di wilayah terluar Indonesia. Prabowo memerintahkan renovasi sekolah dan perbaikan puskesmas segera dilakukan, termasuk di Miangas. Revitalisasi fasilitas pendidikan dan kesehatan ini menjadi prioritas utama pemerintah.