Bukan Sekadar Pertunjukan: 20 Dalang Cilik Pati Jaga Api Wayang Kulit Tetap Menyala

Pemerintah Kabupaten Pati menggelar pertunjukan wayang kulit yang melibatkan 20 dalang cilik. Inisiatif ini merupakan upaya nyata melestarikan seni tradisional di tengah arus modernisasi. Kegiatan ini digagas oleh Yayasan Sanggar Sihing Krida Murti untuk mengembangkan potensi dalang cilik di Pati.

1,793
Pati's 20 Young Puppeteers: Keeping Wayang Kulit's Flame Burning

Pemerintah Kabupaten Pati menggelar pertunjukan wayang kulit melibatkan 20 dalang cilik di Pendopo Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Minggu, 9 November 2025. Acara ini diklaim sebagai upaya melestarikan seni tradisional di tengah gempuran modernisasi, namun efektivitasnya dalam jangka panjang masih dipertanyakan di tengah minimnya strategi konkret pemerintah.

Langkah ini, yang bertepatan dengan peringatan Hari Wayang Dunia, lebih terkesan sebagai respons simbolis daripada strategi komprehensif menghadapi pergeseran budaya. Bupati Pati Sudewo hadir dalam pembukaan, menyampaikan retorika kebanggaan atas potensi lokal tanpa merinci rencana aksi berkelanjutan.

Retorika Versus Realitas Pelestarian

Inisiatif pertunjukan ini datang dari Yayasan Sanggar Sihing Krida Murti (SKM), bukan sepenuhnya dari anggaran atau program pemerintah daerah. Yayasan SKM selama ini konsisten membina bakat seni pedalangan anak-anak, mengindikasikan bahwa beban utama pelestarian tradisi justru dipikul oleh komunitas.

Meskipun Bupati Sudewo mengakui Pati memiliki “potensi besar dalam dunia pedalangan,” pertanyaan muncul: apa kontribusi nyata pemerintah selain sekadar apresiasi dan penyediaan tempat? Modernisasi terus menggerus minat, dan sebuah pertunjukan tunggal, seberapa pun meriahnya, tak serta-merta menghentikan erosi budaya.

Kutipan yang Membias

“Kami merasa bangga dan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan yang digagas oleh Yayasan Sanggar Sihing Krida Murti (SKM) dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia,” ujar Bupati Pati Sudewo. Pernyataan ini jelas menunjukkan inisiator acara adalah yayasan, bukan pemerintah daerah.

Sudewo melanjutkan, “Saya semakin tahu bahwa ternyata di Kabupaten Pati punya potensi besar dalam dunia pedalangan. Anak-anak ini adalah penerus kebanggaan seni tradisi kita.” Pengakuan potensi ini terkesan terlambat, baru terekspos saat ada inisiatif dari pihak ketiga.

Ia pun “memberikan apresiasi khusus kepada Yayasan SKM yang selama ini konsisten membina dan mengembangkan bakat anak-anak di bidang seni tradisional, khususnya pedalangan.” Ini menggarisbawahi peran krusial yayasan dan menyoroti ke mana tanggung jawab pelestarian tradisi selama ini diemban.

“Saya berpesan kepada anak-anak maupun Yayasan SKM supaya selalu tekun, gigih, dan istikamah dalam berlatih karena tantangan ke depan makin nyata dan makin besar,” kata Sudewo, sekaligus “berharap agar seni pedalangan tetap lestari dan tidak tergerus perkembangan zaman.” Harapan dan pesan ini, tanpa dukungan program yang kuat, berpotensi hanya menjadi angin lalu.

Beban Pelestarian di Pundak Komunitas

Kegiatan ini, yang disebut “bukti nyata” potensi Pati, sejatinya menyoroti ketergantungan pada organisasi non-pemerintah seperti Yayasan SKM dalam menjaga warisan budaya. Pemerintah Kabupaten Pati, di sisi lain, belum menunjukkan cetak biru strategi jangka panjang yang konkret untuk mengintegrasikan wayang kulit ke dalam kurikulum pendidikan atau program kebudayaan yang lebih masif.

Tanpa intervensi struktural dan investasi signifikan, “melestarikan” wayang kulit hanya akan menjadi jargon, sementara beban sesungguhnya ada pada dedikasi segelintir individu dan komunitas yang berjuang melawan arus modernisasi tanpa dukungan penuh dari pemangku kebijakan.

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin