UNIFIL Berduka: Penghormatan Penuh Haru untuk 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

UNIFIL menggelar upacara penghormatan bagi tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon dianugerahi medali PBB secara anumerta. Upacara dilaksanakan di Bandara Internasional Rafik Hariri, Lebanon, Kamis (2/4/2026). Mayor Jenderal Diodato Abagnara menyampaikan belasungkawa mendalam.

61
UNIFIL Berduka: Penghormatan Penuh Haru untuk 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur dalam misi pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon. Mereka adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Upacara penghormatan digelar UNIFIL di Bandara Internasional Rafik Hariri, Lebanon, Kamis (2/4/2026), mengukuhkan duka mendalam atas kehilangan ini.

Ketiga prajurit tersebut dianugerahi medali PBB dan Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) secara anumerta. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas dedikasi dan pengorbanan mereka dalam menjalankan tugas UNIFIL di Lebanon selatan, sebuah misi yang kini berlumur darah.

Pengorbanan di Tanah Asing

Kematian tiga prajurit ini menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi personel militer Indonesia dalam operasi perdamaian PBB. Mereka ditugaskan jauh dari rumah, di wilayah yang kerap bergejolak, demi tujuan yang seringkali menuntut pengorbanan tertinggi.

Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon adalah nama-nama yang kini terukir dalam daftar panjang pahlawan bangsa yang gugur di medan tugas internasional. Kepergian mereka meninggalkan jejak kepedihan dan pertanyaan tentang harga perdamaian.

Medali PBB dan LAF yang disematkan secara anumerta bukan sekadar simbol. Ini adalah pengakuan pahit atas nyawa yang melayang demi bendera PBB, sebuah pengakuan yang datang setelah pengorbanan tak terhingga.

Upacara di Bandara Internasional Rafik Hariri menjadi saksi bisu atas kepergian mereka. Sebuah seremoni formal yang menggarisbawahi realitas brutal dari misi yang diemban.

Mereka menunaikan tugas “hingga akhir hayat”, sebuah frasa yang tajam menusuk, menggambarkan kesetiaan absolut dan harga yang harus dibayar.

Belasungkawa dan Pengakuan

Kepala Misi dan Komandan Pasukan UNIFIL, Mayor Jenderal Diodato Abagnara, menyampaikan belasungkawa langsung kepada keluarga prajurit dan jajaran TNI. Kehilangan ini tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga komunitas internasional yang bergantung pada keberanian mereka.

“Mereka datang ke sini jauh dari rumah, dengan satu tujuan—untuk melayani perdamaian,” kata Abagnara, dikutip dari situs UNIFIL, Jumat (3/4/2026). “Mereka melakukannya dengan berani. Mereka melakukannya dengan penuh kehormatan.”

Abagnara menegaskan, “Mereka melakukannya hingga akhir hayat.” Pernyataan ini menjadi pengingat keras akan tuntutan tak kenal kompromi dari misi perdamaian.

Misi Perdamaian Berdarah

Indonesia secara konsisten mengirimkan pasukan terbaiknya untuk misi perdamaian PBB, termasuk UNIFIL, selama puluhan tahun. Namun, setiap pengiriman membawa serta risiko kematian dan cedera yang tidak pernah bisa diabaikan. Kejadian ini kembali menegaskan bahwa misi perdamaian bukan sekadar penempatan, melainkan arena perjuangan nyata yang menuntut nyawa.

More like this
9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian Pengadilan

9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian di Pengadilan

admin
WFH ASN Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi

WFH ASN Tiap Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi.

admin
Academics Urge ASEAN Centrality, UNCLOS as SCS Code of Conduct Foundation Amid Tensions

LCS Memanas, Akademisi Serukan Sentralitas ASEAN dan UNCLOS sebagai Fondasi Kode Etik

admin