Polemik Revisi Ijazah Jokowi: Rismon Sianipar Seret Albert Einstein dan Isaac Newton.

Rismon Sianipar membahas penelitiannya mengenai ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah terbit dalam buku Jokowi’s White Paper. Ia menegaskan revisi temuan penelitian bukan masalah. Rismon mencontohkan ilmuwan ternama seperti Albert Einstein dan Isaac Newton yang juga pernah merevisi hasil temuannya, menunjukkan fleksibilitas dalam proses ilmiah.

238
Polemik Revisi Ijazah Jokowi: Rismon Sianipar Seret Einstein & Newton

Rismon Sianipar, peneliti kontroversial di balik “Jokowi’s White Paper” yang mengklaim meneliti ijazah Presiden Joko Widodo, kini menyatakan kesediaan merevisi hasil risetnya secara masif. Pengakuan ini muncul di tengah keraguan publik atas validitas penelitian awalnya, yang sedianya menjadi bukti klaimnya.

Berbicara di Polda Metro Jaya pada Rabu (4/1/2026), Rismon berdalih bahwa revisi adalah hal lumrah, bahkan menyebut nama ilmuwan sekaliber Albert Einstein dan Isaac Newton untuk membenarkan langkahnya. Perbandingan yang jauh panggang dari api ini justru memicu pertanyaan serius tentang standar ilmiah dan integritas karyanya.

Revisi Masif, Kredibilitas Terancam

Penelitian Rismon Sianipar tentang ijazah Jokowi telah memicu polemik panjang, mempertanyakan keaslian dokumen pendidikan Presiden. Penerbitan buku “Jokowi’s White Paper” seharusnya menjadi puncak klaimnya, namun kini ia justru membuka pintu revisi substansial. Ini mengindikasikan bahwa karya yang sudah dipublikasikan tersebut ternyata belum final, bahkan jauh dari sempurna.

Rencana revisi besar-besaran ini, yang disebut-sebut bisa mencapai 700 halaman, secara implisit mengakui kelemahan fatal pada penelitian orisinalnya. Sebuah karya ilmiah yang membutuhkan koreksi sebesar itu setelah publikasi menodai kredibilitas metodologi dan temuan awalnya. Ini bukan sekadar perbaikan kecil, melainkan perombakan total.

Membandingkan revisi penelitian ijazah Jokowi dengan penemuan revolusioner Einstein atau Newton adalah upaya manipulatif. Ilmuwan besar merevisi teori untuk menyempurnakan pemahaman alam semesta berdasarkan data baru atau metode yang lebih akurat, bukan memperbaiki data dasar yang dipertanyakan keabsahannya sejak awal. Rismon mencoba menyamakan risetnya yang penuh polemik dengan karya para jenius.

Publik menuntut transparansi dan akuntabilitas ilmiah, bukan dalih yang berlindung di balik nama besar. Klaim Rismon justru memperkuat persepsi bahwa penelitiannya belum matang, terkesan terburu-buru, dan rentan terhadap kritik.

Situasi ini memperkeruh iklim ilmiah di Indonesia, di mana riset seringkali dijadikan alat politis tanpa melalui uji verifikasi ketat. Rismon Sianipar kini harus membuktikan validitas karyanya, bukan sekadar janji revisi yang justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya.

Dalih Ilmuwan Besar

“Einstein pun bisa merevisi formulanya, Newton sebagai penemu hukum mekanika juga bisa merevisi temuannya,” kata Rismon kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Rabu (4/1/2026), mencoba membenarkan posisinya.

Ia melanjutkan, “Orang lain juga bisa merevisi temuan orang lain.”

Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Rismon mengindikasikan revisi penelitiannya bisa mencapai sekitar 700 halaman, sebuah angka yang mencengangkan untuk sebuah koreksi yang diklaim sebagai hal biasa.

Latar Belakang Polemik

Polemik ijazah Presiden Jokowi telah menjadi isu berulang yang terus diangkat oleh berbagai pihak. Penelitian Rismon Sianipar menjadi salah satu yang paling vokal dalam mengklaim adanya anomali pada dokumen pendidikan Presiden.

Namun, dengan janji revisi masif ini, validitas klaim-klaim awal Rismon kembali dipertanyakan. Publik kini dipaksa menunggu hasil dari “penelitian revisi” yang belum jelas kapan rampungnya, sementara keraguan atas karya orisinalnya semakin dalam.

More like this
9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian Pengadilan

9 Jenderal Purnawirawan Gugat Polda Metro Jaya: Pakar Hukum Soroti Ujian di Pengadilan

admin
WFH ASN Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi

WFH ASN Tiap Jumat: Mensesneg Soroti Peluang Transformasi Birokrasi.

admin
Academics Urge ASEAN Centrality, UNCLOS as SCS Code of Conduct Foundation Amid Tensions

LCS Memanas, Akademisi Serukan Sentralitas ASEAN dan UNCLOS sebagai Fondasi Kode Etik

admin