Alas Roban dan Michelle Ziudith: Terungkap, Kesan Syuting yang Penuh Misteri

Michelle Ziudith bagikan kesan syuting Film Alas Roban di Solo. Produksi film ini dilakukan langsung di Alas Roban, lokasi yang dikenal sakral dan penuh misteri. Tujuannya menangkap suasana horor. Film Alas Roban mengangkat legenda tragedi dengan kisah mendalam. Taskya Namya juga sampaikan pengalaman selama proses syuting.

1,269
Michelle Ziudith: Terungkap, Kesan Syuting Penuh Misteri Alas Roban

Artis Michelle Ziudith blak-blakan soal pengalaman syuting film horor terbarunya, “Alas Roban”, di lokasi yang ia sebut “dilarang banget” dan “sakral banget”. Pengakuan ini muncul dalam acara temu sapa pemain film di Mal Solo Paragon, Jawa Tengah, Sabtu (27/12/2025) malam, memicu pertanyaan soal etika produksi film yang mengeksploitasi lokasi berbalut mitos dan tragedi. Tim produksi sengaja memilih Alas Roban demi menangkap kesan mistisnya, mengabaikan klaim kesakralan dan larangan yang melekat di tempat itu.

Keputusan krusial untuk melakukan syuting langsung di Alas Roban, lokasi yang diakui Michelle masih kental dengan suasana misteri dan tragedi, menunjukkan ambisi produser untuk meraup keuntungan dari citra angker yang sudah melegenda. Alas Roban dikenal luas dengan berbagai cerita kelam dan insiden tragis, kini diangkat ke layar lebar dengan dalih “mengemas horor secara hangat”. Ini ironis, ketika sebuah lokasi yang dianggap sakral justru dijadikan panggung komersial.

Eksploitasi Kesakralan Demi Sinema

Film “Alas Roban” menampilkan kisah seorang ibu, Sita (Michelle Ziudith), yang membawa anaknya, Gendis (Fara Shakila), menumpang bus terakhir menuju Semarang. Gendis, yang memiliki keterbatasan penglihatan, mulai mengalami kejadian aneh–mendengar suara asing dan kerasukan–setelah bus mogok di Alas Roban. Plot ini memanfaatkan reputasi Alas Roban sebagai jalur angker, lengkap dengan ancaman supranatural dari sosok Dewi Raras.

Narasi film yang menggabungkan elemen horor dengan bumbu “kisah menghangatkan hati” atau “kisah haru” patut dicermati. Apakah ini upaya untuk memberikan kedalaman cerita, atau sekadar strategi pemasaran agar lebih menarik bagi penonton yang mungkin enggan menonton horor murni? Pilihan untuk syuting di lokasi asli yang dilarang menunjukkan bahwa narasi mistis dan potensi tragedi dianggap lebih berharga daripada penghormatan terhadap kepercayaan lokal.

Pengakuan Para Pemain

“Menariknya adalah syutingnya langsung di Alas Roban yang jelas-jelas di situ masih sangat dilarang banget dan tempatnya masih sakral banget,” ungkap Michelle Ziudith, pemeran tokoh Sita, mengonfirmasi eksploitasi lokasi mistis tersebut. Ia menambahkan, “Kami memutuskan syuting di tempatnya langsung yang berarti ada yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh dilakukan. Walaupun tempatnya masih sakral tapi tim memutuskan tetap syuting di situ, yang masih kental suasana misteri dan tempat tragedi.”

Michelle secara gamblang mengakui daya tarik Alas Roban yang “banyak tragedi terjadi di sana sehingga akhirnya ini difilmkan.” Ia mencoba membenarkan keputusan tersebut dengan menyatakan bahwa “meski horor, kisahnya dikemas dengan sangat hangat. Kisah Ibu Sita dan Gendis, film ini menyeramkan sekaligus menghangatkan hati.”

Artis Taskya Namya, pemeran tokoh Tika, juga membagikan kesannya. “Menurutku karena ketemu sama Michelle lagi setelah 12 tahun yang lalu, ini film horor pertama bareng sama Michelle, dulu kita ketemu di FTV pertama kali. Alhamdulillah chemistry dengan semua cast mudah, sutradara juga mudah,” kata Taskya.

Taskya sepakat dengan Michelle tentang dimensi emosional film ini. “Kalau mencari kehororan pasti akan ada, tapi cerita akhirnya akan bikin kalian menangis dan kangen sama ibu kalian,” ujarnya, menegaskan kembali bahwa film ini berupaya menyentuh emosi penonton di luar kengerian.

Mitos dan Tragedi Alas Roban

Film “Alas Roban” memusatkan plot pada upaya Sita menyelamatkan putrinya dari Dewi Raras, yang murka karena janji ritual lama dilupakan. Dibantu sepupunya, Tika, dan sopir ambulans Anto (Rio Dewanto) yang memahami mitos Alas Roban, Sita harus kembali ke hutan angker itu bersama penjaga spiritual, Bu Emah (Dewi Pakis), untuk menggelar ritual terakhir sebelum malam keramat tiba. Film ini secara terang-terangan membangun cerita di atas fondasi mitos dan potensi bahaya yang telah membalut nama Alas Roban selama bertahun-tahun.

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin