Simfoni Aksara Lintas Benua: Kaligrafi China-Arab di Pameran Tiongkok

Pameran Kaligrafi dan Lukisan Tiongkok-Indonesia di Banyumas menyajikan perpaduan unik kaligrafi China serta Arab. Acara di Pusat Bahasa Mandarin Putera Harapan Purwokerto ini menampilkan 215 karya seniman Indonesia dan Tiongkok. Pameran tersebut menunjukkan integrasi seni goresan kuas shufa China dengan pola kaligrafi Arab, memperingati 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

1,636
Kaligrafi China Arab: Harmoni Lintas Benua di Pameran Tiongkok

Pameran kaligrafi yang mengklaim sebagai jembatan budaya Tiongkok-Indonesia di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, segera berubah menjadi ajang promosi investasi. Dibuka pada Selasa, 25 November 2025, acara ini menampilkan perpaduan kaligrafi China dan Arab, namun Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono tanpa tedeng aling-aling mengaitkannya langsung dengan agenda ekonomi yang lebih besar, memunculkan pertanyaan tentang prioritas di balik gelaran budaya ini.

Digelar di Pusat Bahasa Mandarin Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto, pameran “Setinggi Gunung, Sejauh Mata Memandang, Berbagi Suka dan Duka” ini menampilkan 215 karya seniman dari kedua negara. Pameran tiga hari ini diselenggarakan oleh Yayasan Putera Harapan dan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, ostensibly untuk merayakan 75 tahun hubungan diplomatik, 70 tahun Konferensi Asia-Afrika, serta 620 tahun pelayaran Laksamana Zheng He.

Perpaduan visual kaligrafi Arab dan guratan kuas shufa China tampak pada sejumlah karya, termasuk ahli kaligrafi Purwokerto, Amir Husaini, yang memamerkan kaligrafi Arab bernuansa Mandarin dengan kutipan “tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”. Dua maestro Tiongkok, Wang Liquan dan Chen Xiaoying, juga berkontribusi dengan karya kolaboratif; Wang bahkan menyerahkan kaligrafi bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika” kepada Bupati.

Agenda Ekonomi Terselubung

Saat membuka pameran, Bupati Sadewo Tri Lastiono menyatakan, “Ini luar biasa, kolaborasi kaligrafi China dan Arab di Banyumas. Kita patut bangga.” Namun, retorika budaya ini segera bergeser.

Secara mengejutkan, Bupati langsung menghubungkan kolaborasi seni tersebut dengan “peluang kerja sama ekonomi, termasuk potensi investasi dari Guangxi dan Shandong.” Ia bahkan secara spesifik menyinggung “rencana pembangunan jalan tol Pejagan-Banyumas-Cilacap yang ditargetkan mulai 2028-2029.”

Dengan nada menekan, Sadewo menegaskan, “Banyumas siap menerima investor. Saya pastikan tidak ada transaksi dalam perizinan. Kalau ada yang meminta di luar ketentuan, tidak sampai seminggu akan saya tindak.” Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa acara kebudayaan ini dimanfaatkan sebagai panggung untuk menarik modal asing.

Direktur Puhua Chen Tao, di sisi lain, berusaha mempertahankan narasi awal pameran. “Pameran tersebut dirancang sebagai ruang dialog budaya yang memadukan teknik, filosofi, dan ekspresi dari dua tradisi kaligrafi besar dunia, sehingga melahirkan karya baru yang tidak hanya indah, juga sarat nilai sejarah,” ujarnya.

Pameran yang berlangsung hingga 27 November 2025 ini dibuka dengan penabuhan 10 tambur bersama dan penulisan shufa kolaboratif bertema “shn go shu chng”, yang berarti harapan agar persahabatan dan pertukaran seni dua budaya terus mengalir. Namun, narasi persahabatan budaya ini terdistorsi oleh ambisi ekonomi yang lebih terang-terangan dari pejabat daerah.

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin