Ketua DPRD Jateng Ukir Sejarah: 23 Dalang Pentaskan Wayang Kulit Maraton 30 Jam

Ketua DPRD Jateng, Sumanto, menggelar pentas wayang kulit 30 jam nonstop di Karanganyar. Acara ini menampilkan 23 dalang secara bergantian dengan lakon Bharatayuda Jayabinangun, memperingati Hari Wayang Nasional 7 November. Kegiatan ini bertujuan melestarikan budaya Jawa serta mengedukasi masyarakat tentang nilai luhur wayang, berlangsung 7-9 November.

1,746
23 Dalang, 30 Jam: Ketua DPRD Jateng Ukir Sejarah Wayang Kulit Maraton

Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, mengguncang Kabupaten Karanganyar dengan gelaran wayang kulit 30 jam non-stop, melibatkan 23 dalang. Perhelatan kolosal ini berlangsung di kediamannya, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, pada Jumat hingga Minggu, 7-9 November 2025, menandai peringatan Hari Wayang Nasional dan Dunia yang kerap luput dari perhatian publik.

Pentas maraton ini bukan sekadar hiburan, melainkan deklarasi tegas upaya pelestarian budaya adiluhung di tengah gempuran modernitas. Seluruh rangkaian lakon Bharatayuda Jayabinangun dipentaskan, menarik ribuan penonton yang memadati lokasi selama tiga hari tanpa henti.

Perang Bharatayuda dan Doorprize Mewah

Dari pementasan “Seta Ngraman” hingga klimaks “Baladewa Muksa,” 23 dalang secara bergantian menghidupkan epos Mahabharata, menyuguhkan intrik, moralitas, dan filosofi Jawa yang mendalam. Panitia bahkan mengiming-imingi penonton dengan beragam doorprize mulai dari kulkas hingga sepeda, langkah kontroversial yang mempertanyakan esensi apresiasi seni atau hanya daya pikat massa.

Perayaan Hari Wayang Nasional dan Dunia pada 7 November menjadi momentum krusial bagi Sumanto. Ia menuntut masyarakat tidak hanya sekadar menonton wayang, tetapi juga mencerna setiap pesan moral yang terkandung di dalamnya-sebuah tantangan besar di era digital ini.

Dedikasi Pelestarian atau Pencitraan Politik?

“Kita harus terus berupaya melestarikan budaya warisan nenek moyang. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli untuk nguri-uri?” tegas Sumanto, menyoroti urgensi konservasi budaya yang sering diabaikan. Ia menambahkan, pentas ini menjadi suntikan semangat bagi para pelaku seni yang selama ini mendedikasikan hidupnya untuk wayang.

Ki Sulardiyarto Pringgo Carito, Ketua Paguyuban Dalang Karanganyar, menjelaskan bahwa lakon Bharatayuda Jayabinangun merefleksikan “perang karma” atau filosofi “Sopo Sing Nandur Bakal Nggunduh” (siapa menanam akan menuai). “Ini ajang konsolidasi dalang Karanganyar agar terus berkreasi dan berkarya,” ujarnya, menggarisbawahi pentingnya regenerasi dan ruang ekspresi bagi seniman wayang.

Wayang: Warisan Dunia dalam Ancaman

Peringatan Hari Wayang Dunia setiap 7 November berakar dari pengakuan UNESCO pada 7 November 2003, yang menetapkan Wayang Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Namun, pengakuan global ini belum menjamin masa depan wayang di tingkat lokal. Sumanto sendiri diketahui rutin menggelar pentas wayang bulanan, sebuah inisiatif personal yang seharusnya menjadi tugas kolektif.

Tantangan terbesar kini adalah memastikan warisan budaya ini relevan bagi generasi muda, bukan sekadar tontonan nostalgia. Pertanyaan kritis muncul: Apakah perhelatan besar seperti ini cukup untuk mengikat kembali generasi muda pada akar budayanya, atau hanya menjadi respons sesaat terhadap peringatan formal yang belum sepenuhnya dirasakan urgensinya?

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin