Author: admin
Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa dua kali makan di Jogja
Saat ditanya tentang culture shock pertama kali merantau di Jakarta, kebanyakan orang mungkin menjawab harga kos, macet, hingga biaya makan. Namun, bagi saya, culture shock yang sesungguhnya adalah tarif parkir SCBD Jakarta.
Sebagai orang Gunungkidul yang sempat kuliah dan bekerja di Jogja selama beberapa tahun, saya tumbuh dengan pemahaman parkir itu biaya receh. Memang ada beberapa tempat yang tarifnya lumayan mahal, terutama mal atau rumah sakit besar, tapi tetap saja rasanya masih masuk akal.
Sekitar 2018, saya bekerja di Lippo Plaza Jogja. Saat itu saya cukup familiar dengan tarif parkir di pusat perbelanjaan. Untuk motor, biasanya tarifnya Rp3.000 pada jam pertama, lalu bertambah Rp2.000 per jam berikutnya. Yang penting, ada batas maksimal. Umumnya sekitar Rp5.000 per hari.
Mobil juga kurang lebih sama. Tarif awal sekitar Rp5.000, lalu bertambah beberapa ribu rupiah setiap jam. Namun, tetap ada batas maksimal harian, biasanya Rp10.000 sampai Rp15.000 tergantung lokasi.
Jujur saja, pada masa itu saya sudah menganggap tarif seperti itu mahal. Maklum, saya berasal dari daerah yang terbiasa dengan parkir Rp2.000 seharian. Jadi ketika harus membayar Rp5.000 untuk menitipkan motor selama bekerja, rasanya sudah seperti dipalak secara profesional.
Tarif parkir di SCBD Jakarta lebih “gila”
Tahun 2019 saya diterima bekerja di Jakarta. Status saya waktu itu naik menjadi karyawan tetap setelah sebelumnya bekerja sebagai tenaga outsourcing di Jogja. Kesempatan itu tentu saya syukuri, meski proses perpindahannya penuh drama. Dalam waktu dua minggu saya harus mengurus tiket, mencari kos, dan mempersiapkan hidup baru di kota yang sebelumnya hanya saya lihat di televisi.
Saat pertama kali tinggal di Jakarta, saya belum membawa motor. Saya lebih banyak mengandalkan transportasi umum dan sesekali ojek online. Karena itu, urusan parkir belum terlalu saya pikirkan.
Sampai suatu hari saya melihat seorang teman membayar parkir motor sekitar Rp25.000. Saya ingat betul ekspresi saya waktu itu, “Lho, parkir motor kok segitu?”
Sebagai orang yang terbiasa dengan sistem parkir Jogja, angka itu terasa tidak masuk akal. Dalam pikiran saya saat itu, Rp25.000 bisa dipakai untuk makan. Bahkan, kalau sedang hemat, uang sebanyak itu bisa cukup untuk dua kali makan sederhana di Jogja.
Teman saya hanya tertawa. Katanya, itu hal biasa di Jakarta. Saya masih belum percaya. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian saya merasakannya sendiri.
Syok setelah mengalaminya sendiri
Sekitar 2023, saya bekerja di kawasan SCBD Jakarta. Saat itu saya sudah menggunakan motor untuk mobilitas sehari-hari. Alasannya sederhana saja, mengejar waktu.
Saya sering berpikir naik motor lebih praktis. Tidak perlu menunggu kendaraan umum, tidak perlu transit, dan terasa lebih fleksibel ketika harus berangkat pagi.
Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Sampai suatu sore saya keluar dari area parkir sebuah pusat perbelanjaan di kawasan SCBD Jakarta. Seperti biasa, saya menempelkan kartu Flazz dan menunggu palang terbuka.
Lalu saya melihat layar pembayaran yang menunjukkan angka Rp28.000. Saya sampai menatap layar itu beberapa detik untuk memastikan tidak salah baca. Iya, mata saya benar, dua puluh delapan ribu rupiah, untuk parkir motor!
Saat itu untungnya tidak ada antrean panjang di belakang saya. Jadi saya masih punya waktu untuk mencerna kenyataan hidup tanpa harus malu dilihat orang lain.
Dalam hati saya cuma bisa berpikir, “Ini motor saya dititipkan atau sekalian dikasih makan?” Barulah saya memahami perbedaan mendasar antara sistem parkir yang saya kenal di Jogja dan yang saya temui di banyak tempat di Jakarta.
Sistem parkir SCBD Jakarta agak berbeda
Tarif dasarnya memang mirip. Motor biasanya dikenakan biaya beberapa ribu rupiah pada jam pertama dan bertambah setiap jam berikutnya. Bedanya, banyak tempat di Jakarta tidak menerapkan batas maksimal harian.
Artinya, semakin lama kendaraan terparkir, semakin besar biaya yang harus dibayar. Kalau bekerja delapan sampai sepuluh jam, angkanya bisa membengkak tanpa ampun. Yang membuat saya makin syok adalah ketika mulai menghitungnya dalam skala bulanan.
Misalnya, biaya parkir SCBD rata-rata Rp20.000 per hari kerja. Jika dikalikan sekitar 22 hari kerja dalam sebulan, hasilnya sudah mencapai Rp440.000. Itu hanya untuk parkir, belum bensin, servis motor, dan banyak biaya lain yang mengikuti ketika memutuskan membawa kendaraan pribadi.
Di situlah saya mulai sadar bahwa biaya hidup di Jakarta sering kali datang dari pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak kita perhitungkan sejak awal.
Orang sering membicarakan mahalnya kos di Jakarta. Memang benar. Orang juga sering membicarakan harga makanan, biaya nongkrong, atau cicilan kendaraan. Itu juga benar.
Akan tetapi, ada pengeluaran kecil yang diam-diam ikut menggerogoti dompet tanpa banyak disadari. Salah satunya adalah parkir. Sejak saat itu saya mulai mengubah kebiasaan.
Belajar dari pengalaman
Saya berusaha berangkat lebih awal dan memberi waktu lebih longgar untuk perjalanan. Dengan begitu, saya bisa lebih sering menggunakan kombinasi KRL dan TransJakarta.
Jujur saja, transportasi umum tetap punya kekurangan. Kadang ramai, kadang harus berdiri, kadang harus berjalan kaki cukup jauh dari halte atau stasiun. Namun, setelah membandingkannya dengan biaya parkir yang pernah saya bayar, rasa capek itu terasa lebih mudah diterima.
Toh tarif TransJakarta hanya beberapa ribu rupiah untuk perjalanan yang jauh. KRL juga relatif murah dibandingkan biaya membawa kendaraan pribadi ke pusat kota setiap hari.
Pada akhirnya, pengalaman melihat angka Rp28.000 di layar parkir SCBD Jakarta mengajarkan saya satu hal sederhana yaitu biaya hidup di Jakarta tidak selalu datang dari hal-hal besar.
Dan, bagi seorang perantau dari Gunungkidul yang dulu pernah mengeluh karena harus membayar parkir Rp5.000 di Jogja, tarif parkir motor di Jakarta adalah pelajaran finansial yang tidak akan pernah saya lupakan.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Kenia IntanBACA JUGA Sisi Gelap Kerja di SCBD: Gaji Sebulan Habis buat Hedon Gara-gara Stres Kerjaan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2026 oleh
Salatiga Pecahkan Rekor Leprid Lewat Penyerahan Simbolis 1 276 Anggrek

SALATIGA – Peringatan Hari Jadi ke-1.276 Kota Salatiga menjadi momentum istimewa. Selain berlangsung khidmat melalui upacara di Lapangan Pancasila, Kamis (24/7/2026), Kota Salatiga juga mencatatkan prestasi nasional dengan meraih penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) atas penyerahan simbolis tanaman anggrek terbanyak, yakni sebanyak 1.276 tanaman.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas komitmen Pemerintah Kota Salatiga dalam menggerakkan masyarakat untuk mencintai lingkungan sekaligus memperkuat identitas kota melalui gerakan Salatiga Sejuta Anggrek. Penyerahan simbolis 1.276 tanaman anggrek dilakukan bertepatan dengan Hari Jadi ke-1.276 Kota Salatiga sebagai representasi usia kota sekaligus simbol harapan agar semangat pelestarian lingkungan terus tumbuh di tengah masyarakat.
Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, mengatakan penghargaan dari Leprid bukanlah tujuan utama, melainkan hasil dari gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan seluruh warga Salatiga. Namun yang lebih penting adalah semangat yang melatarbelakanginya, yakni mengajak masyarakat mencintai lingkungan dan meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Inilah jejak yang ingin kita tinggalkan, yaitu kebermanfaatan,” ujarnya.
Menurut Robby, peringatan Hari Jadi bukan sekadar merayakan bertambahnya usia Kota Salatiga, tetapi juga menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang pembangunan yang telah dilalui bersama.
“Hari Jadi Kota Salatiga bukan hanya tentang merayakan usia, tetapi tentang perjalanan panjang yang telah kita lalui bersama. Kehadiran seluruh masyarakat menjadi energi bagi kami untuk terus menghadirkan program-program yang berpihak kepada masyarakat, mulai dari pemberdayaan UMKM, bantuan sosial, hingga pelayanan publik yang semakin berkualitas,” katanya.
Ia menambahkan, tema “Beragam Nyaman, Salatiga Toleran” mencerminkan semangat persatuan yang selama ini menjadi kekuatan utama Kota Salatiga. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi modal penting dalam mewujudkan visi Salatiga BEDA, Salatiga Mendunia.
“Ketika pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan berjalan bersama, saya yakin visi Salatiga BEDA, Salatiga Mendunia akan semakin cepat terwujud. Kolaborasi adalah kekuatan terbesar yang kita miliki,” tegasnya.
Selain upacara Hari Jadi, rangkaian kegiatan juga dihadiri unsur Forkopimda, DPRD, ASN, mantan wali kota, tokoh masyarakat, pelajar, serta berbagai elemen masyarakat. Raihan penghargaan Leprid menjadi penanda komitmen Kota Salatiga dalam menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat, sekaligus memperkuat citranya sebagai kota yang hijau, toleran, dan berdaya saing.Penulis:KontributorKotaSalatiga
Editor:WH/DiskomdigiJtg
942 Orang Daftar Beasiswa Santri Dan Pengasuh Pesantren Pemprov Jateng 15 Orang Lolos Kuliah Luar Negeri
Ubah Strategi Penanggulangan Kemiskinan Purbalingga Gotong Royong Libatkan Semua Kekuatan Daerah
PURBALINGGA – Pemerintah Kabupaten Purbalingga menerapkan pendekatan baru dalam penanggulangan kemiskinan. Melalui Purbalingga Gotong Royong, akan menyatukan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, media, hingga masyarakat, dalam satu gerakan kolaboratif berbasis data.
Program tersebut diluncurkan bersamaan dengan Sistem Informasi Pelaporan Intervensi Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (SI Pinter), di Graha Adiguna, Kompleks Pendopo Dipokusumo, Selasa (21/7/2026), sebagai upaya memastikan seluruh intervensi penanganan kemiskinan lebih terintegrasi dan tepat sasaran.
Sekretaris Daerah Kabupaten Purbalingga, Herni Sulasti, mengatakan persoalan kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya melalui bantuan sosial atau program yang berjalan sendiri-sendiri.
“Program penanggulangan kemiskinan tidak boleh dilaksanakan secara rutin, administratif, dan terpisah-pisah. Diperlukan perubahan cara kerja dari pendekatan sektoral menjadi pendekatan terpadu, kolaboratif, berbasis data, dan berorientasi pada hasil,” tegasnya.
Menurut Herni, keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah daerah, menjadikan kolaborasi sebagai kebutuhan strategis. Karena itu, Program Purbalingga Gotong Royong dirancang untuk menyatukan kontribusi pemerintah, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, Baznas, PMI, media, komunitas, hingga masyarakat dalam satu arah kebijakan.
Dijelaskan, SI Pinter sebagai sistem yang mengintegrasikan data kebutuhan masyarakat, sekaligus mencatat seluruh intervensi yang dilakukan berbagai pihak.
“Data tidak boleh hanya menjadi daftar nama, tetapi harus menunjukkan siapa yang membutuhkan, apa kebutuhannya, siapa yang membantu, kapan diberikan, dan bagaimana hasilnya,” jelasnya.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Purbalingga, Suroto mengungkapkan, berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Triwulan II Tahun 2026, terdapat 56.311 rumah tangga atau 176.439 jiwa yang masuk kelompok Desil 1. Jumlah itu sekitar 16,43 persen dari total penduduk Kabupaten Purbalingga.
Lebih lanjut, pemetaan kebutuhan menunjukkan masih terdapat 2.380 rumah tidak layak huni, 4.659 rumah tangga belum memiliki jamban layak, 7.080 rumah tangga membutuhkan akses air bersih, 137 rumah tangga belum menikmati listrik mandiri, 3.923 penyandang disabilitas, 866 anak tidak sekolah, serta 17.736 warga yang belum bekerja secara produktif.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Purbalingga juga menyalurkan berbagai bantuan hasil kolaborasi dengan dunia usaha, Baznas, dan sejumlah lembaga sosial. Bantuan meliputi perbaikan rumah tidak layak huni, jambanisasi, penyediaan air bersih, alat bantu disabilitas, bantuan pendidikan, bantuan usaha, hingga pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.

Penulis: Gn, Prokompim Purbalingga
Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Jateng
Pemkot Pekalongan Skrining 1 350 Warga Untuk Putus Rantai Penularan Tbc
KOTA PEKALONGAN – Untuk mempercepat penanganan sekaligus memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC), Pemerintah Kota Pekalongan menerapkan strategi jemput bola dalam menemukan kasus lebih dini, melalui program Active Case Finding (ACF). Program itu dilaksanakan sejak pekan ketiga Juli hingga September 2026, yakni dengan metode skrining kepada 1.350 orang warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Wali Kota Pekalongan, Ahmad Afzan Arslan Djunaid, mengatakan, program yang diluncurkan Dinas Kesehatan Kota Pekalongan itu, melibatkan petugas puskesmas bersama kader Mentari Sehat Indonesia. Pemeriksaan dilakukan dengan mendatangi lingkungan tempat tinggal pasien TBC menggunakan layanan skrining, termasuk dukungan pemeriksaan X-ray.
Menurutnya, hingga saat ini terdapat 140 orang pasien TBC yang menjalani pengobatan.
“Karena TBC merupakan penyakit menular, kita harus melakukan jemput bola. Pengobatannya juga tidak mudah, karena pasien harus disiplin menjalani terapi selama enam bulan,” ujarnya, di aula Labkesda setempat, Senin (20/7/2026).
Menurut Aaf, sapaan akrabnya, masyarakat tidak perlu khawatir mengikuti pemeriksaan, karena tujuan utama program ini adalah menemukan kasus sejak dini, agar penderita segera memperoleh pengobatan dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti, menjelaskan, selama ini penemuan kasus TBC lebih banyak bergantung pada pasien yang datang sendiri ke fasilitas kesehatan. Melalui ACF, petugas akan mendatangi keluarga maupun warga yang memiliki kontak erat dengan pasien, untuk menjalani pemeriksaan.
Puji mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala TBC, seperti batuk lebih dari dua minggu, demam terutama pada malam hari, serta penurunan nafsu makan. Ia menegaskan, pengobatan TBC harus dijalani secara tuntas selama sedikitnya enam bulan, agar pasien benar-benar sembuh dan tidak menjadi sumber penularan baru.
Pelaksanaan ACF, imbuhnya, didukung melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Bank Jateng yang menyalurkan bantuan senilai Rp122,42 juta untuk kegiatan skrining di lapangan.
Pemkot Pekalongan berharap kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat mampu mempercepat penemuan kasus TBC, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini dan target eliminasi TBC dapat tercapai.

Penulis: Dian, Tim Liputan Dinkominfo Kota Pekalongan
Editor: Tn/Ul, Dinas Komdigi Jateng
Sekolah Jadi Kunci Penyaluran Bantuan Tepat Sasaran Baznas Kota Tegal Perkuat Kolaborasi

KOTA TEGAL – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tegal memperkuat kolaborasi dengan seluruh satuan pendidikan untuk memastikan bantuan pendidikan dan sosial benar-benar diterima siswa yang membutuhkan. Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam menyediakan data yang akurat sebagai dasar penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
Ketua Baznas Kota Tegal, Harun Abdi Manap, mengatakan sekolah menjadi mitra penting karena mengenal langsung kondisi peserta didik dan keluarganya.
“Kami berharap sekolah aktif menyampaikan data siswa yatim dan keluarga kurang mampu secara akurat. Baznas tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga berupaya memberdayakan ekonomi orang tua agar keluarga penerima manfaat dapat keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan,” ujarnya, pada Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Program Baznas bersama kepala sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA negeri maupun swasta se-Kota Tegal di Pendopo Ki Gede Sebayu, Rabu (22/7/2026).
Menurut Harun, validitas data menjadi faktor penting agar program bantuan pendidikan maupun pemberdayaan ekonomi benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, keterlibatan sekolah tidak hanya sebatas mendukung penghimpunan zakat, tetapi juga memastikan penyaluran bantuan berlangsung tepat sasaran.
Sekretaris Daerah Kota Tegal, Agus Dwi Sulistyantono, mengatakan zakat perlu dikelola secara profesional agar memberi dampak yang lebih luas bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Zakat jangan hanya menjadi bantuan konsumtif, tetapi harus menjadi instrumen pemberdayaan. Masyarakat yang menerima bantuan diharapkan dapat meningkat taraf hidupnya hingga mampu mandiri,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua I Baznas Kota Tegal, Herlien Tedjo Oetami, menyampaikan penghimpunan ZIS Baznas Kota Tegal pada 2025 mencapai sekitar Rp3,18 miliar atau 64 persen dari target Rp5 miliar. Pada 2026, Baznas menargetkan penghimpunan meningkat menjadi Rp7,523 miliar.
Untuk mencapai target tersebut, Baznas mengharapkan dukungan seluruh kepala sekolah dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dalam membangun budaya berbagi di lingkungan pendidikan.
Melalui kolaborasi tersebut, imbuhnya, Baznas Kota Tegal berharap penghimpunan zakat yang meningkat sejalan dengan semakin akuratnya penyaluran bantuan pendidikan dan program pemberdayaan masyarakat, sehingga manfaat zakat dapat dirasakan lebih luas sekaligus mendukung upaya penurunan angka kemiskinan di Kota Tegal.

Penulis: Riyadh Royahin, Diskominfo Kota Tegal
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng
Rayakan Hari Anak Pelajar Smpn 7 Pekalongan Bermain Jengklek Suit

KOTA PEKALONGAN – Sorak-sorai terdengar dari halaman SMP Negeri 7 Kota Pekalongan saat ratusan siswa memainkan jenglek suit, estafet kelereng, dan permainan memasukkan pensil ke dalam botol.
Koordinator Kesiswaan SMP Negeri 7 Kota Pekalongan, Paramitaning Gupitasari, mengatakan, kegiatan itu menjadi bagian dari perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Kamis (23/7/2026). Tujuannya menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, aktif, dan menyenangkan dengan sejenak meninggalkan gawai dan kembali menikmati permainan tradisional bersama teman-teman.
Setiap peserta mengikuti satu jenis permainan agar seluruh siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan merasakan suasana kebersamaan.
Menurut Mita, peringatan Hari Anak Nasional melalui permainan tradisional telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya dan diharapkan menjadi agenda rutin sekolah.
“Kami ingin permainan tradisional tetap dikenal anak-anak karena tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan kebersamaan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan program Pagi Ceria berupa senam bersama, kemudian dilanjutkan berbagai permainan tradisional secara berkelompok, seperti jenglek suit, estafet membawa kelereng, memasukkan pensil ke dalam botol, dan estafet air melingkar.
Kepala SMP Negeri 7 Kota Pekalongan, Andari, mengatakan, permainan tradisional dipilih sebagai sarana mengajak anak-anak memperbanyak interaksi langsung dengan teman sebaya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai.
“Seluruh permainan dirancang untuk melatih kerja sama, tanggung jawab, disiplin, dan kekompakan antarsiswa dalam suasana yang menyenangkan,” ujar Andari.
Menurutnya, selain melestarikan permainan tradisional, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa ruang bermain bersama tetap penting dalam mendukung tumbuh kembang anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Penulis: Dian, Tim Liputan Kominfo Kota Pekalongan
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng
Dari Rak Buku Ke Ruang Usaha Wajah Baru Perpustakaan Di Wonosobo
WONOSOBO – Perpustakaan kini tak lagi sekadar identik dengan rak buku dan ruang baca. Di Wonosobo, perpustakaan berkembang menjadi ruang belajar keterampilan hingga mendorong lahirnya peluang usaha bagi masyarakat.
Perubahan peran perpustakaan itu ditampilkan melalui Festival Literasi Kabupaten Wonosobo 2026 yang digelar di kompleks Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda), 23–25 Juli 2026.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Arpusda Kabupaten Wonosobo, Nilawati Diah, mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Di dalamnya terdapat puluhan stan literasi, pelaku industri kecil menengah (IKM), perpustakaan desa, sekolah, taman bacaan masyarakat, hingga komunitas literasi dalam satu ruang kolaborasi.
“Kami ingin mengenalkan bahwa perpustakaan masa kini telah bertransformasi melalui pendekatan inklusi sosial menjadi wadah produktif untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan demi meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Nilawati, pendekatan inklusi sosial diwujudkan melalui keterlibatan pelaku IKM yang mempraktikkan berbagai hasil pembelajaran berbasis perpustakaan. Mulai dari keterampilan membatik hingga pengolahan singkong menjadi keripik bernilai ekonomi, seluruhnya menunjukkan bahwa literasi dapat melahirkan peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Lebih lanjut, sebanyak 33 stan literasi nonkomersial turut meramaikan festival. Stan tersebut menampilkan inovasi perpustakaan desa dan perpustakaan sekolah dari 15 kecamatan, serta diikuti Pojok Baca Nadliyin, Kementerian Agama, dan berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Selain pameran, festival juga menghadirkan gelar wicara literasi, pertunjukan seni pelajar, serta penampilan grup musik lokal.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pembukaan festival. salah seorang pengunjung, Nana, mengaku kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi para pelajar.
“Festival Literasi ini menjadi sarana belajar yang menarik dan interaktif. Anak-anak bisa belajar sambil bermain, sehingga lebih menyenangkan. Saya juga senang karena banyak produk UMKM berkualitas dengan harga terjangkau dan bisa menikmati berbagai penampilan seni,” tuturnya.
Saat membuka kegiatan, Asisten Administrasi Umum Sekda Wonosobo, Mohammad Riyatno, yang membacakan sambutan Bupati Wonosobo, mengatakan festival menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya membaca sekaligus memperkuat kolaborasi membangun masyarakat yang cerdas dan adaptif.
Menurutnya, sinergi pemerintah daerah bersama Bunda Literasi Daerah diharapkan mampu memperluas gerakan literasi berbasis keluarga sehingga tercipta ekosistem belajar yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo turut memberikan penghargaan kepada perpustakaan desa terbaik, pemenang lomba resensi buku, lomba bertutur tingkat SD/MI, hingga penghargaan bagi pihak yang mendukung Gerakan Literasi Daerah melalui hibah sarana audiovisual dan arsip sejarah daerah.
Melalui Festival Literasi 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap budaya membaca tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan semata, tetapi juga mampu melahirkan masyarakat yang lebih kreatif, produktif, dan sejahtera melalui pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat.

Penulis: Kontributor Wonosobo
Editor: Tn, Dinas Komdigi Jateng
3 hal yang bikin saya meninggalkan Alfagift, beralih Klik Indomaret
Dulu saya termasuk pengguna setia aplikasi belanja Alfagift untuk memenuhi kebutuhan harian. Tanpa pikir panjang, tanpa menimbang banyak hal, pokoknya Alfagift harga mati. Alasannya sederhana saja, interface aplikasi ini simpel, enak.
Banyak aplikasi belanja terasa seperti masuk pasar malam digital, bikin mata capek. Banner iklannya di mana-mana, tombol numpuk, promo muter-muter. Alfagift hadir dengan tampilan yang menurut saya lebih santai dan simpel. Rasanya aplikasi ini ngerti kalau orang cuma mau beli sabun, mie instan, dan kopi tanpa harus diajak ikut undian mobil dulu.
Sementara itu, dulu saya merasa Klik Indomaret agak ramai tampilannya. Terlalu banyak warna. Terlalu banyak informasi. Saya bahkan pernah uninstall karena malas lihat tampilannya.
Akan tetapi, hidup memang suka ngelucu. Kadang yang tampilannya sederhana, lama-lama bikin emosi juga pada akhirnya.
Dan, setelah berkali-kali memakai layanan pesan antar dua aplikasi ini, Alfagift dan Klik Indomaret, saya mulai sadar akan satu hal: untuk urusan pengantaran online, Klik Indomaret ternyata lebih bikin tenang daripada Alfagift.
#1 Waktu pengiriman Alfagift sungguh menguji kesabaran
Poin pertama sekaligus yang paling sering bikin saya pengen tepok jidat adalah masalah waktu pengiriman. Saya tahu Alfagift punya opsi pengiriman cepat. Kalau nggak salah ada keterangan pesanan bisa dikirim maksimal sekitar satu jam setelah pemesanan, terutama kalau order sebelum jam tertentu malam hari. Dan yang paling menggoda, itu gratis.
Nah, kata gratis ini memang sering bikin manusia rela memaafkan banyak hal. Masalahnya, pengirimannya sering banget molor.
Dan ini bukan sekali dua kali ya. Bukan kejadian langka yang bisa dimaklumi sambil ngebatin, “Yaudahlah mungkin emang lagi ramai.” Bukan. Ini cukup sering sampai saya hafal pola kecewanya pesan di alfagift. Harus rela digantung dalam kondisi apapun.
Pernah saya pesan sekitar setengah delapan malam. Dalam kepala saya paling datangnya mentok jam setengah 9 lah ya. Santai. Tapi ternyata barang baru sampai sekitar jam sebelas malam. Iya, jam sebelas malam! Astagfirullahaladzim kata gue teh.
Pada titik itu saya bahkan sudah melewati fase marah dan hanya bisa bengong, “Ini abang kurirnya habis touring dulu apa gimana ya?”
Dan yang bikin capek sebenarnya bukan cuma lamanya. Tapi ketidakpastiannya. Kita digantung. Entahlah, ada apa dengan alfa.
Kalau di Klik Indomaret memang ada opsi pengiriman tercepat yang berbayar. Awalnya saya agak pelit dan mikir, “Ngapain bayar ongkir kalau ada yang gratis?”
Akan tetapi, setelah dicoba, ternyata mereka lebih jelas. Ada pilihan jam pengiriman dengan estimasi yang lebih realistis. Dan, yang paling penting: on time. Untuk kebutuhan mendesak, poin ketepatan waktu dan kejelasan pesan antar adalah kunci.
Ternyata ketenangan batin memang kadang harus dibayar beberapa ribu rupiah. Daripada gratis tapi saya menua dalam penantian. Sungguh sangat tidak estetik.
#2 Komunikasi yang bikin pembeli frustrasi
Masalah kedua yang bikin saya mulai pindah hati adalah soal komunikasi. Ini penting banget, apalagi kalau belanja online itu bukan buat jajan lucu-lucuan, tapi buat kebutuhan mendesak.
Di Klik Indomaret, biasanya setelah pesanan diproses, ada admin atau CS yang langsung menghubungi lewat WhatsApp. Kedengarannya sepele, tapi ini membantu banget. Kita jadi bisa komunikasi cepat kalau ada barang kosong, alamat kurang jelas, atau titip request tertentu. Responnya juga relatif sat-set.
Sementara di Alfagift, komunikasi lebih mengandalkan fitur chat di aplikasi. Dan jujur saja, kadang rasanya seperti sedang kirim pesan pakai burung merpati. Lama, suka error mendadak, kadang pesan masuknya telat, dan tiba ada pesan otomatis penundaan pengiriman karena penerima tidak di tempat, padahal saya menunggu sampai lumutan.
Yang bikin gemas, kadang yang balas admin, kadang yang antar, kadang dua-duanya beda orang dan informasinya bikin saya harus mengulang penjelasan dari awal. Capek deh,
Pengalaman paling bikin saya frustasi terjadi waktu saya rawat inap sendirian di rumah sakit. Saat itu saya benar-benar mengandalkan layanan online untuk beli kebutuhan pribadi. Saya pesan beberapa barang dan request supaya pengantaran bisa langsung ke ruang pasien karena memang diperbolehkan pihak rumah sakit.
Masalahnya, komunikasi di aplikasi Alfagift itu lambat sekali. Saya bolak-balik menjelaskan posisi ruangan, tapi responnya lama dan tidak sinkron. Ujung-ujungnya barang tidak bisa sampai ke kamar pasien seperti yang saya harapkan. Dan, dalam kondisi sakit, percayalah, hal beginian tuh terasa jauh lebih melelahkan daripada biasanya.
Setelahnya saya mencoba beralih pakai Klik Indomaret, dan mereka cenderung lebih update. Kurirnya juga lebih gampang dihubungi karena ada jalur WhatsApp tadi. Jadi koordinasi kecil seperti “langsung ke ruang pasien ya pak” atau “titip ke nurse station” bisa cepat beres.
#3 Stok barang fresh yang sering kosong
Hal ketiga yang sebenarnya receh tapi lama-lama terasa juga adalah stok barang fresh. Entah kenapa, setiap saya cari buah-buahan di Alfagift, sering kosong. Atau malah memang jarang tersedia. Sangat disayangkan. Entah stok produk-produk fresh memang terbatas atau bagaimana, saya cukup sering gagal beli buah di sana.
Sementara di Klik Indomaret, pilihan barang fresh menurut pengalaman saya sedikit lebih aman. Nggak selalu lengkap juga sih, tapi setidaknya peluang menemukan buah potong atau stok makanan segar terasa lebih besar. Kalau ada stok buah yg sudah terbayar ternyata tidak fresh, admin langsung chat untuk pembatalan.
Dan di usia sekarang, ketika niat makan buah itu sudah termasuk pencapaian hidup, melihat tulisan “stok habis” rasanya cukup menyakitkan.
Pada akhirnya saya sadar, ternyata aplikasi bagus itu bukan cuma soal tampilan yang enak dilihat. Karena kalau cuma mengandalkan interface cantik tapi bikin orang nunggu tiga jam sambil mantengin notifikasi, ya lama-lama kalah juga sama aplikasi yang mungkin tampilannya biasa saja tapi kerjanya jelas.
Saya tetap mengakui Alfagift punya banyak kelebihan. Apalagi soal desain aplikasi yang menurut saya masih lebih nyaman dipakai. Tapi, untuk urusan layanan lainnya, saya mulai lebih sering membuka Klik Indomaret. Karena semakin dewasa, saya sadar satu hal, kalau yang dicari manusia ternyata bukan sekadar gratis ongkir, tapi kepastian.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Kenia IntanBACA JUGA 5 Hal Enaknya Belanja Pakai Alfagift.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2026 oleh