Rayakan Hari Anak Pelajar Smpn 7 Pekalongan Bermain Jengklek Suit
KOTA PEKALONGAN – Sorak-sorai terdengar dari halaman SMP Negeri 7 Kota Pekalongan saat ratusan siswa memainkan jenglek suit, estafet kelereng, dan permainan memasukkan pensil ke dalam botol.
Koordinator Kesiswaan SMP Negeri 7 Kota Pekalongan, Paramitaning Gupitasari, mengatakan, kegiatan itu menjadi bagian dari perayaan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Kamis (23/7/2026). Tujuannya menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, aktif, dan menyenangkan dengan sejenak meninggalkan gawai dan kembali menikmati permainan tradisional bersama teman-teman.
Setiap peserta mengikuti satu jenis permainan agar seluruh siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan merasakan suasana kebersamaan.
Menurut Mita, peringatan Hari Anak Nasional melalui permainan tradisional telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya dan diharapkan menjadi agenda rutin sekolah.
“Kami ingin permainan tradisional tetap dikenal anak-anak karena tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan kebersamaan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan program Pagi Ceria berupa senam bersama, kemudian dilanjutkan berbagai permainan tradisional secara berkelompok, seperti jenglek suit, estafet membawa kelereng, memasukkan pensil ke dalam botol, dan estafet air melingkar.
Kepala SMP Negeri 7 Kota Pekalongan, Andari, mengatakan, permainan tradisional dipilih sebagai sarana mengajak anak-anak memperbanyak interaksi langsung dengan teman sebaya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai.
“Seluruh permainan dirancang untuk melatih kerja sama, tanggung jawab, disiplin, dan kekompakan antarsiswa dalam suasana yang menyenangkan,” ujar Andari.
Menurutnya, selain melestarikan permainan tradisional, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa ruang bermain bersama tetap penting dalam mendukung tumbuh kembang anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Penulis: Dian, Tim Liputan Kominfo Kota Pekalongan
Dari Rak Buku Ke Ruang Usaha Wajah Baru Perpustakaan Di Wonosobo
WONOSOBO – Perpustakaan kini tak lagi sekadar identik dengan rak buku dan ruang baca. Di Wonosobo, perpustakaan berkembang menjadi ruang belajar keterampilan hingga mendorong lahirnya peluang usaha bagi masyarakat.
Perubahan peran perpustakaan itu ditampilkan melalui Festival Literasi Kabupaten Wonosobo 2026 yang digelar di kompleks Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda), 23–25 Juli 2026.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Arpusda Kabupaten Wonosobo, Nilawati Diah, mengatakan, festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo. Di dalamnya terdapat puluhan stan literasi, pelaku industri kecil menengah (IKM), perpustakaan desa, sekolah, taman bacaan masyarakat, hingga komunitas literasi dalam satu ruang kolaborasi.
“Kami ingin mengenalkan bahwa perpustakaan masa kini telah bertransformasi melalui pendekatan inklusi sosial menjadi wadah produktif untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan demi meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Nilawati, pendekatan inklusi sosial diwujudkan melalui keterlibatan pelaku IKM yang mempraktikkan berbagai hasil pembelajaran berbasis perpustakaan. Mulai dari keterampilan membatik hingga pengolahan singkong menjadi keripik bernilai ekonomi, seluruhnya menunjukkan bahwa literasi dapat melahirkan peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Lebih lanjut, sebanyak 33 stan literasi nonkomersial turut meramaikan festival. Stan tersebut menampilkan inovasi perpustakaan desa dan perpustakaan sekolah dari 15 kecamatan, serta diikuti Pojok Baca Nadliyin, Kementerian Agama, dan berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Selain pameran, festival juga menghadirkan gelar wicara literasi, pertunjukan seni pelajar, serta penampilan grup musik lokal.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pembukaan festival. salah seorang pengunjung, Nana, mengaku kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi para pelajar.
“Festival Literasi ini menjadi sarana belajar yang menarik dan interaktif. Anak-anak bisa belajar sambil bermain, sehingga lebih menyenangkan. Saya juga senang karena banyak produk UMKM berkualitas dengan harga terjangkau dan bisa menikmati berbagai penampilan seni,” tuturnya.
Saat membuka kegiatan, Asisten Administrasi Umum Sekda Wonosobo, Mohammad Riyatno, yang membacakan sambutan Bupati Wonosobo, mengatakan festival menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya membaca sekaligus memperkuat kolaborasi membangun masyarakat yang cerdas dan adaptif.
Menurutnya, sinergi pemerintah daerah bersama Bunda Literasi Daerah diharapkan mampu memperluas gerakan literasi berbasis keluarga sehingga tercipta ekosistem belajar yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo turut memberikan penghargaan kepada perpustakaan desa terbaik, pemenang lomba resensi buku, lomba bertutur tingkat SD/MI, hingga penghargaan bagi pihak yang mendukung Gerakan Literasi Daerah melalui hibah sarana audiovisual dan arsip sejarah daerah.
Melalui Festival Literasi 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap budaya membaca tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan semata, tetapi juga mampu melahirkan masyarakat yang lebih kreatif, produktif, dan sejahtera melalui pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat.
3 hal yang bikin saya meninggalkan Alfagift, beralih Klik Indomaret
Dulu saya termasuk pengguna setia aplikasi belanja Alfagift untuk memenuhi kebutuhan harian. Tanpa pikir panjang, tanpa menimbang banyak hal, pokoknya Alfagift harga mati. Alasannya sederhana saja, interface aplikasi ini simpel, enak.
Banyak aplikasi belanja terasa seperti masuk pasar malam digital, bikin mata capek. Banner iklannya di mana-mana, tombol numpuk, promo muter-muter. Alfagift hadir dengan tampilan yang menurut saya lebih santai dan simpel. Rasanya aplikasi ini ngerti kalau orang cuma mau beli sabun, mie instan, dan kopi tanpa harus diajak ikut undian mobil dulu.
Sementara itu, dulu saya merasa Klik Indomaret agak ramai tampilannya. Terlalu banyak warna. Terlalu banyak informasi. Saya bahkan pernah uninstall karena malas lihat tampilannya.
Akan tetapi, hidup memang suka ngelucu. Kadang yang tampilannya sederhana, lama-lama bikin emosi juga pada akhirnya.
Dan, setelah berkali-kali memakai layanan pesan antar dua aplikasi ini, Alfagift dan Klik Indomaret, saya mulai sadar akan satu hal: untuk urusan pengantaran online, Klik Indomaret ternyata lebih bikin tenang daripada Alfagift.
#1 Waktu pengiriman Alfagift sungguh menguji kesabaran
Poin pertama sekaligus yang paling sering bikin saya pengen tepok jidat adalah masalah waktu pengiriman. Saya tahu Alfagift punya opsi pengiriman cepat. Kalau nggak salah ada keterangan pesanan bisa dikirim maksimal sekitar satu jam setelah pemesanan, terutama kalau order sebelum jam tertentu malam hari. Dan yang paling menggoda, itu gratis.
Nah, kata gratis ini memang sering bikin manusia rela memaafkan banyak hal. Masalahnya, pengirimannya sering banget molor.
Dan ini bukan sekali dua kali ya. Bukan kejadian langka yang bisa dimaklumi sambil ngebatin, “Yaudahlah mungkin emang lagi ramai.” Bukan. Ini cukup sering sampai saya hafal pola kecewanya pesan di alfagift. Harus rela digantung dalam kondisi apapun.
Pernah saya pesan sekitar setengah delapan malam. Dalam kepala saya paling datangnya mentok jam setengah 9 lah ya. Santai. Tapi ternyata barang baru sampai sekitar jam sebelas malam. Iya, jam sebelas malam! Astagfirullahaladzim kata gue teh.
Pada titik itu saya bahkan sudah melewati fase marah dan hanya bisa bengong, “Ini abang kurirnya habis touring dulu apa gimana ya?”
Dan yang bikin capek sebenarnya bukan cuma lamanya. Tapi ketidakpastiannya. Kita digantung. Entahlah, ada apa dengan alfa.
Kalau di Klik Indomaret memang ada opsi pengiriman tercepat yang berbayar. Awalnya saya agak pelit dan mikir, “Ngapain bayar ongkir kalau ada yang gratis?”
Akan tetapi, setelah dicoba, ternyata mereka lebih jelas. Ada pilihan jam pengiriman dengan estimasi yang lebih realistis. Dan, yang paling penting: on time. Untuk kebutuhan mendesak, poin ketepatan waktu dan kejelasan pesan antar adalah kunci.
Ternyata ketenangan batin memang kadang harus dibayar beberapa ribu rupiah. Daripada gratis tapi saya menua dalam penantian. Sungguh sangat tidak estetik.
#2 Komunikasi yang bikin pembeli frustrasi
Masalah kedua yang bikin saya mulai pindah hati adalah soal komunikasi. Ini penting banget, apalagi kalau belanja online itu bukan buat jajan lucu-lucuan, tapi buat kebutuhan mendesak.
Di Klik Indomaret, biasanya setelah pesanan diproses, ada admin atau CS yang langsung menghubungi lewat WhatsApp. Kedengarannya sepele, tapi ini membantu banget. Kita jadi bisa komunikasi cepat kalau ada barang kosong, alamat kurang jelas, atau titip request tertentu. Responnya juga relatif sat-set.
Sementara di Alfagift, komunikasi lebih mengandalkan fitur chat di aplikasi. Dan jujur saja, kadang rasanya seperti sedang kirim pesan pakai burung merpati. Lama, suka error mendadak, kadang pesan masuknya telat, dan tiba ada pesan otomatis penundaan pengiriman karena penerima tidak di tempat, padahal saya menunggu sampai lumutan.
Yang bikin gemas, kadang yang balas admin, kadang yang antar, kadang dua-duanya beda orang dan informasinya bikin saya harus mengulang penjelasan dari awal. Capek deh,
Pengalaman paling bikin saya frustasi terjadi waktu saya rawat inap sendirian di rumah sakit. Saat itu saya benar-benar mengandalkan layanan online untuk beli kebutuhan pribadi. Saya pesan beberapa barang dan request supaya pengantaran bisa langsung ke ruang pasien karena memang diperbolehkan pihak rumah sakit.
Masalahnya, komunikasi di aplikasi Alfagift itu lambat sekali. Saya bolak-balik menjelaskan posisi ruangan, tapi responnya lama dan tidak sinkron. Ujung-ujungnya barang tidak bisa sampai ke kamar pasien seperti yang saya harapkan. Dan, dalam kondisi sakit, percayalah, hal beginian tuh terasa jauh lebih melelahkan daripada biasanya.
Setelahnya saya mencoba beralih pakai Klik Indomaret, dan mereka cenderung lebih update. Kurirnya juga lebih gampang dihubungi karena ada jalur WhatsApp tadi. Jadi koordinasi kecil seperti “langsung ke ruang pasien ya pak” atau “titip ke nurse station” bisa cepat beres.
#3 Stok barang fresh yang sering kosong
Hal ketiga yang sebenarnya receh tapi lama-lama terasa juga adalah stok barang fresh. Entah kenapa, setiap saya cari buah-buahan di Alfagift, sering kosong. Atau malah memang jarang tersedia. Sangat disayangkan. Entah stok produk-produk fresh memang terbatas atau bagaimana, saya cukup sering gagal beli buah di sana.
Sementara di Klik Indomaret, pilihan barang fresh menurut pengalaman saya sedikit lebih aman. Nggak selalu lengkap juga sih, tapi setidaknya peluang menemukan buah potong atau stok makanan segar terasa lebih besar. Kalau ada stok buah yg sudah terbayar ternyata tidak fresh, admin langsung chat untuk pembatalan.
Dan di usia sekarang, ketika niat makan buah itu sudah termasuk pencapaian hidup, melihat tulisan “stok habis” rasanya cukup menyakitkan.
Pada akhirnya saya sadar, ternyata aplikasi bagus itu bukan cuma soal tampilan yang enak dilihat. Karena kalau cuma mengandalkan interface cantik tapi bikin orang nunggu tiga jam sambil mantengin notifikasi, ya lama-lama kalah juga sama aplikasi yang mungkin tampilannya biasa saja tapi kerjanya jelas.
Saya tetap mengakui Alfagift punya banyak kelebihan. Apalagi soal desain aplikasi yang menurut saya masih lebih nyaman dipakai. Tapi, untuk urusan layanan lainnya, saya mulai lebih sering membuka Klik Indomaret. Karena semakin dewasa, saya sadar satu hal, kalau yang dicari manusia ternyata bukan sekadar gratis ongkir, tapi kepastian.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
WONOSOBO – Sebanyak 166 desa di Kabupaten Wonosobo bersiap untuk menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026, agar jabatan kepala desa yang masa tugasnya berakhir tahun depan tidak kosong.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo mulai mematangkan seluruh tahapan pelaksanaan guna memastikan pesta demokrasi tingkat desa berlangsung aman, tertib, dan kondusif. Persiapan tersebut ditandai dengan sosialisasi penyelenggaraan Pilkades Serentak 2026 dan penandatanganan kesepakatan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk menjaga stabilitas keamanan, ketertiban, serta kelancaran pelayanan masyarakat, Rabu (22/7/2026).
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, mengatakan Pilkades bukan sekadar agenda rutin pemerintahan, melainkan momentum penting untuk menentukan arah pembangunan desa.
“Pilkades bukan hanya agenda pemerintah, melainkan gerakan bersama demi memastikan arah pembangunan Wonosobo semakin terang, terarah, dan selaras dengan cita-cita pembangunan daerah,” ujarnya.
Selain menyiapkan seluruh tahapan penyelenggaraan, pemkab juga mengantisipasi potensi kerawanan sosial dengan mengajak seluruh elemen masyarakat menolak politik uang, penyebaran hoaks, intimidasi, maupun kampanye yang memecah belah warga.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Wonosobo, Harti, menjelaskan, Pilkades 2026 membawa sejumlah perubahan regulasi dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Salah satunya ialah dimungkinkannya pelaksanaan Pilkades dengan calon tunggal melalui mekanisme musyawarah desa apabila memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Regulasi terbaru memberikan ruang bagi pelaksanaan Pilkades dengan calon tunggal melalui mekanisme musyawarah desa. Hal ini menjadi salah satu perubahan penting dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya,” jelasnya.
Menurut Harti, setelah sosialisasi tingkat kabupaten, tahapan akan dilanjutkan dengan sosialisasi di tingkat kecamatan, pembentukan panitia, penjaringan dan penyaringan bakal calon kepala desa, masa kampanye, masa tenang, hingga pemungutan suara yang dijadwalkan berlangsung serentak pada November 2026.
Pemkab Wonosobo berharap seluruh masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam setiap tahapan Pilkades sehingga pesta demokrasi desa mampu melahirkan kepala desa yang berintegritas sekaligus menjaga persatuan dan kondusivitas di tengah masyarakat.
Slbn Banjarnegara Bekali Siswa Berkebutuhan Khusus Dengan Keterampilan
BANJARNEGARA – Setiap Rabu, siswa SLB Negeri Banjarnegara tidak hanya belajar di kelas. Mereka membatik, melukis, membuat kriya kayu, hingga mencuci sepeda motor dan mobil sebagai bagian dari pembelajaran vokasi.
Salah seorang pelajar SLB Negeri Banjarnegara, Trianto, memilih mengikuti kelas seni lukis. Ia mengaku senang karena dapat menyalurkan bakat sekaligus belajar lebih percaya diri melalui karya yang dibuatnya.
Guru vokasi SLB Negeri Banjarnegara, Purwo Handoko, menjelaskan, pemilihan bidang keterampilan dilakukan secara fleksibel. Sebagian siswa memilih sesuai minat, sementara sebagian lainnya mendapatkan pendampingan guru agar menemukan bidang yang paling sesuai dengan potensi mereka.
Purwo menegaskan, keterbatasan intelektual maupun hambatan sensorik tidak boleh menjadi penghalang untuk berkarya.
“Kami berusaha mengembangkan kemampuan mereka melalui bidang keterampilan sehingga setelah lulus memiliki bekal yang nyata,” ujarnya, saat ditemui di sekolah tersebut, Rabu (22/7/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SLB Negeri Banjarnegara, Antono Aribowo, mengatakan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pada pembentukan kemandirian.
“Melalui kegiatan vokasi, kami menggali potensi khusus yang dimiliki masing-masing anak secara lebih mendalam,” ujarnya,
Lebih lanjut, pembelajaran vokasi diharapkan menjadi bekal nyata bagi siswa untuk menjalani kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Sekolah ingin setiap lulusan memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja maupun berwirausaha.
“Harapan kami selaras dengan slogan sekolah, yaitu ceria, mandiri, dan berprestasi. Minimal anak-anak mampu mandiri, bahkan membuka usaha dengan bekal keterampilan yang dipelajari di sekolah,” katanya.
Melalui pembelajaran vokasi, SLB Negeri Banjarnegara berharap setiap siswa memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk bekerja, berwirausaha, maupun hidup lebih mandiri di tengah masyarakat.
Mayura Wana Pesan Harmoni Alam Dari Pembatik Muda Pekalongan
KOTA PEKALONGAN – Seekor burung merak yang bersinar di tengah gelapnya hutan, menjadi simbol harapan dalam karya batik “Mayura Wana”. Karya ciptaan pembatik muda Kota Pekalongan, Trias Intan Pandini itu, menjadi salah satu sorotan dalam pameran “Batik Membumi, Generasi Peduli”, yang diselenggarakan Museum Batik Kota Pekalongan, sebagai bagian dari peringatan ulang tahun ke-20 museum.
Trias menjelaskan, mayura diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti burung merak, sedangkan wana berarti hutan liar. Melalui motif tersebut, Karya tersebut menggambarkan seekor merak yang bersinar di tengah gelapnya hutan, sebagai simbol keseimbangan kehidupan dengan alam.
Trias ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam melalui media batik.
“Mayura Wana mempresentasikan manusia sebagai makhluk hidup, yang harus hidup berdampingan dan menjaga keseimbangan dengan alam. Saya berharap generasi muda semakin mencintai batik, bangga mengenakannya, dan terus berkarya, sehingga pembatik muda Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia, bahwa batik memiliki makna, filosofi, dan pesan kehidupan,” ujar Trias, saat ditemui di Museum Batik Pekalongan, Kamis (23/7/2026).
Kepala Museum Batik Kota Pekalongan, Nurhayati Sinaga, mengatakan, Mayura Wana merupakan satu dari 15 karya terbaik yang lolos kurasi, dan dipamerkan di Museum Batik Kota Pekalongan. Seluruh karya berasal dari mahasiswa Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU), Universitas Pekalongan (Unikal), siswa SMK kompetensi batik, hingga masyarakat umum melalui mekanisme open submission.
Jumlah karya yang dipamerkan menyesuaikan kapasitas ruang pamer. Seluruh peserta pun harus melalui proses seleksi oleh kurator.
“Ruang pamer kami hanya mampu menampilkan maksimal 15 karya. Karena itu, seluruh karya yang masuk harus melalui proses kurasi. Ke depan kami berharap semakin banyak pembatik muda yang berpartisipasi, sehingga semakin banyak karya yang dapat diapresiasi masyarakat,” katanya.
Nurhayati menjelaskan, pameran batik berlangsung pada 22 Juli hingga 12 Agustus 2026. Selain menjadi bagian dari peringatan dua dekade Museum Batik, pameran tersebut juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menampilkan perspektif baru dalam membatik, tanpa meninggalkan akar budaya.
Antusiasme pengunjung pun terlihat sejak hari pertama penyelenggaraan. Rina Wulandari, warga Kabupaten Batang, mengaku sengaja datang untuk menikmati karya-karya para pembatik muda.
“Saya senang melihat anak-anak muda mampu menghadirkan motif batik yang tetap berakar pada budaya, tetapi dikemas dengan ide-ide yang segar. Pameran seperti ini sangat inspiratif dan membuat masyarakat semakin bangga terhadap batik sebagai warisan budaya Indonesia,” ujarnya.
Pameran ini menunjukkan, batik tidak hanya hidup sebagai warisan budaya, tetapi juga terus berkembang melalui gagasan generasi muda. Di tangan para pembatik muda, setiap motif bukan sekadar karya seni, melainkan media untuk menyampaikan pesan tentang lingkungan, identitas, dan kehidupan
Penulis: Dian, Tim Liputan Dinkominfo Kota Pekalongan
Gubernur Luthfi Terima Masyarakat Jateng Guyub Aspirasi Ditindaklanjuti
SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menerima perwakilan masyarakat yang tergabung dalam Jateng Guyub, di Rumah Rakyat, Kantor Gubernur Jateng, Jumat (24/7/2026). Perwakilan masyarakat itu menyampaikan berbagai aspirasi kepada Gubernur Jateng, mulai dari agraria, lingkungan, hingga pertanian.
Dalam dialog yang berlangsung terbuka, Ahmad Luthfi menegaskan, Rumah Rakyat merupakan ruang bagi seluruh masyarakat, untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemerintah.
Menurutnya, penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional yang dijamin undang-undang, selama dilakukan secara tertib dan tidak mengganggu ketertiban umum.
“Saya senang sekali bapak-bapak telah datang ke sini. Dari kemarin draft-nya sudah disiapkan oleh Pak Asisten. Masalah tebu sudah ada penyelesaian, lingkungan hidup, dan lain sebagainya. Jadi, inilah wajah rumah gubernur adalah rumah rakyat,” ujar Luthfi.
Gubernur mengapresiasi jalannya aksi Jateng Guyub yang berlangsung kondusif. Menurutnya, ketertiban dalam menyampaikan pendapat menjadi modal penting dalam membangun daerah.
Luthfi menjelaskan, berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat mulai ditindaklanjuti, sejak pertemuan awal dengan perwakilan Jateng Guyub pada Senin (20/7/2026).
Selama dia menjalankan agenda pemerintahan di berbagai daerah, jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap bekerja menginventarisasi dan menindaklanjuti setiap laporan masyarakat.
“Itulah mekanisme daripada pemerintahan. Bukan one man show, bukan Superman,” tegasnya.
Sebagai bukti laporan masyarakat langsung ditindaklanjuti, Luthfi menyebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan 56 truk angkutan tebu, untuk membantu petani di Kabupaten Blora.
Bantuan tersebut merupakan respons atas persoalan yang disampaikan masyarakat, dan kini tinggal memasuki tahap pelaksanaan.
Selain itu, Luthfi juga mengingatkan seluruh SMA Negeri di Jawa Tengah, agar tidak melakukan praktik titip-menitip maupun pungutan dalam proses pendidikan. Dia menegaskan, akan memberikan sanksi tegas kepada kepala sekolah yang melanggar.
“Tidak ada satu pun SMA di tempat kita yang titip-titip. No titip, no jastip (jasa penitipan). Kalau ada, saya copot kepseknya (kepala sekolahnya),” tegas Luthfi.
Dalam audiensi tersebut, salah satu perwakilan menyampaikan adanya dugaan kriminalisasi terhadap warga di Blora.
Menanggapi hal itu, Luthfi menegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi proses penegakan hukum. Namun, pemerintah siap memberikan pendampingan dan memfasilitasi koordinasi, apabila diperlukan.
“Kalau pendampingan oke. Tetapi aspek penegakan hukum itu ada di kepolisian, ada di kejaksaan, bukan di gubernuran,” katanya.
Meski demikian, gubernur memastikan seluruh laporan masyarakat akan tetap ditindaklanjuti, sesuai kewenangan masing-masing.
“Saya sudah sampaikan, aduan yang masuk akan saya datangi,” ujarnya.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar, mengatakan, seluruh masukan dari Jateng Guyub telah diterima Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Persoalan yang disampaikan meliputi pertambangan, pertanian, konflik agraria, dugaan kriminalisasi, infrastruktur, hingga persoalan tebu.
“Kami telah menerima seluruh masukan masyarakat, yang menurut kami sangat bagus,” kata Iwan sapaan akrabnya.
Dia menjelaskan, persoalan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan segera ditindaklanjuti. Sementara, yang menjadi kewenangan pemerintah pusat maupun pemerintah kabupaten/ kota, akan dikoordinasikan dengan instansi terkait.
Menurut Iwan, Gubernur Ahmad Luthfi selalu mengedepankan dialog sebagai cara menyelesaikan persoalan masyarakat. Karena itu, Rumah Rakyat akan terus dibuka sebagai ruang komunikasi antara pemerintah dan warga.
Koordinator Aksi Jateng Guyub, Joko Priyanto, mengapresiasi kesediaan Gubernur Ahmad Luthfi menerima langsung aspirasi dari perwakilan Jateng Guyub.
Dia mengatakan, terdapat sejumlah persoalan dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Joko menambahkan, komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan terus dilakukan secara berkala, untuk mengawal penyelesaian berbagai persoalan lain, mulai dari konflik agraria, pertambangan, pertanian, hingga persoalan infrastruktur di berbagai daerah.
Sementara Perwakilan Jateng Guyub dari Batang, Itor, berharap komitmen pemerintah benar-benar diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kita tetap masih percaya dengan sistem yang di Jateng. Saya mohon setegas-tegasnya sistemnya itu benar-benar dijalankan,” ujarnya. (Humas Jateng)*ul
Sekda Jateng Tegaskan Pentingnya Kualitas Pengasuhan Dan Pendidikan Anak
SEMARANG – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan peringatan Hari Anak Nasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan belaka, melainkan momentum untuk terus memperkuat kualitas pengasuhan dan pendidikan anak secara menyeluruh.
Hal itu disampaikan saat Seminar Hari Anak Nasional, yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (DPD PP PAUD) Jawa Tengah, di Gedung Dharma Wanita Jateng, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi momentum bagi seluruh orang tua, pendidik, dan pemangku kepentingan, untuk kembali mengingat tanggung jawab bersama dalam mendidik anak secara menyeluruh. Sebab, pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter anak.
Menurutnya, pendidikan formal perlu diimbangi dengan pendidikan karakter, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan memiliki nilai-nilai kebangsaan. Karenanya, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter anak sejak usia dini.
“Hari Anak mengingatkan kembali, tanggung jawab kita sebagai orang tua terhadap anak-anak. Pendidikan tidak hanya pendidikan formal, tetapi juga bagaimana membangun karakter anak secara komprehensif,” dia yang juga Pembina DPD PP PAUD Jawa Tengah ini.
Sumarno mengapresiasi penyelenggaraan seminar yang bertema “Anak Indonesia Bahagia, Bangsa Sehat” tersebut. Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang penting untuk berdiskusi dan berbagi gagasan mengenai peningkatan kualitas PAUD.
“PAUD merupakan pondasi bagi anak-anak kita, sehingga menjadi tahapan pendidikan yang sangat strategis,” katanya.
Sekda menegaskan, kualitas pendidikan pada jenjang PAUD akan sangat menentukan keberhasilan anak pada jenjang pendidikan berikutnya. Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, guru, dan orang tua untuk memastikan anak memperoleh fondasi pendidikan yang kuat.
Menurut Sumarno, melalui pembelajaran yang tepat sejak usia dini, anak-anak akan memiliki kesiapan belajar, karakter yang baik, serta kemampuan sosial dan emosional yang baik, sehingga bisa menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan masa depan.
Ketua DPD PP PAUD Jawa Tengah, Indah Sumarno, menjelaskan, forum itu diselenggarakan untuk membekali para pendidik, agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, inklusif, dan menyenangkan bagi anak-anak.
“Melalui forum ini, kami berharap para pendidik semakin memahami bahwa setiap anak berhak mendapatkan layanan pendidikan yang bebas dari kekerasan, menghargai keberagaman, serta mendukung kesehatan dan kesejahteraan mereka,” ucapnya.
Indah menambahkan, pendekatan pembelajaran pada anak usia dini harus berpusat pada anak, salah satunya dengan memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk belajar melalui bermain.
Selain peningkatan kompetensi teknis mengajar, forum ini juga dirancang sebagai wadah untuk membangun jejaring dan kolaborasi antarpendidik, guna meningkatkan mutu layanan PAUD secara berkelanjutan di Jawa Tengah.
Indah menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dan masyarakat, dalam memajukan dunia pendidikan anak.
“Keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak bisa berdiri sendiri. Ini hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang erat antara penyelenggara, pendidik, orang tua, masyarakat, dunia usaha, hingga pemerintah,” tegasnya.
Melalui kegiatan itu, diharapkan seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu dan wawasan yang diperoleh ke satuan PAUD masing-masing, sehingga tercipta ekosistem pendidikan anak usia dini yang berkualitas, ramah, dan membahagiakan di seluruh Jawa Tengah. (Humas Jateng)*ul
Percepat Transformasi Industri Hijau Gubernur Luthfi Siapkan Insentif Pajak
SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempertegas komitmennya mempercepat transformasi menuju industri hijau, dengan memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah, kawasan industri, pelaku industri, hingga SMA/SMK dalam ajang Jateng Green Industrial Summit 2026, di Grand Candi Hotel Semarang, Kamis (23/7/2026).
Acara tersebut dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), serta Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi menjadi langkah mendorong seluruh pemangku kepentingan menjadikan industri hijau sebagai kebutuhan, dalam pembangunan ekonomi Jawa Tengah.
“Orientasi kegiatan kita memberikan awards kepada pemerintah kabupaten/ kota, SMA, kawasan industri, industri besar maupun industri kecil. Tujuannya bukan hanya sekadar mendapatkan awards, tetapi menjadi pilihan sekaligus kebutuhan, bahwa ke depan Jawa Tengah harus mengedepankan industri hijau, sustainable, dan energi terbarukan,” kata Luthfi.
Menurutnya, penerapan industri hijau akan meningkatkan daya saing Jawa Tengah di tingkat internasional, karena menunjukkan komitmen terhadap pengembangan ekonomi hijau.
“Dunia internasional akan melihat bahwa Jawa Tengah telah menerapkan green economy. Mulai dari hulu sampai hilir akan kita laksanakan, baik industri kecil, menengah, besar, pemerintah kabupaten/kota maupun kawasan industri. Green economy menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Untuk mempercepat transformasi tersebut, lanjut Luthfi, Pemprov Jawa Tengah akan memberikan berbagai insentif bagi pelaku usaha yang menerapkan prinsip industri hijau.
“Untuk kawasan industri akan mendapatkan insentif pajak, apabila menerapkan industri hijau maupun energi terbarukan. Itu sudah saya perintahkan kepada dinas kita. Selain itu juga akan mendapatkan prioritas-prioritas lain yang ke depan akan menjadi daya tarik, karena ini merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi,” tegasnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia mengatakan, penghargaan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada pemerintah kabupaten/ kota, kawasan industri, serta pelaku industri yang telah menunjukkan komitmen dalam menerapkan prinsip industri hijau.
“Penghargaan ini juga menjadi instrumen untuk mendorong percepatan transformasi industri menuju industri yang lebih efisien, berdaya saing, rendah emisi, dan berkelanjutan,” terangnya.
Penghargaan diberikan dalam lima kategori, yakni pemerintah daerah dengan komitmen pengembangan industri hijau terbaik, kawasan industri bertransformasi industri hijau, industri besar dan menengah dengan transformasi industri hijau terbaik, industri kecil dengan transformasi menuju industri hijau terbaik, serta SMA/SMK terbaik dalam mendukung program pendidikan hijau.
Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Disperindag Jawa Tengah dan Amdatara untuk mendampingi 1.000 industri kecil dan menengah (IKM) bertransformasi menuju industri hijau hingga 2027. Menariknya, penyelenggaraan Jateng Green Industrial Summit 2026 dilaksanakan tanpa menggunakan APBD, melainkan sepenuhnya didukung melalui kemitraan CSR bersama PT Sucofindo dan Amdatara sebagai mitra strategis.
‘Ini murni dari kemitraan tanpa dana APBD,” pungkasnya. (Wk/Ul, Diskomdigi Jateng)