Category: Jawa Tengah
Sambut Tahun Baru Islam Pemprov Dan Ulama Doakan Jateng Makin Makmur
SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama ulama dan santri menggelar doa bersama serta istigasah, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, di Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (16/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi dan doa, untuk kesejahteraan masyarakat serta kemajuan Jawa Tengah.
Tokoh ulama Jawa Tengah KH Ahmad Darodji, mengajak masyarakat memanjatkan doa agar berbagai harapan dan cita-cita dapat dikabulkan Allah SWT. Menurut dia, istigasah dan doa bersama menjadi ikhtiar spiritual, untuk memohon keberkahan, kemakmuran, dan keselamatan bagi masyarakat Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum refleksi untuk memperkuat persatuan dan kerukunan, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi daerah maupun bangsa.
Menurut dia, Jawa Tengah harus tetap guyub dan tidak mudah terpecah belah. Berbagai kritik terhadap pemerintah perlu menjadi bahan evaluasi, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Masyarakat juga diminta lebih bijak menyikapi informasi yang beredar, agar tidak mudah terpengaruh hoaks, fitnah, maupun disinformasi.
Luthfi menegaskan pentingnya melakukan verifikasi terhadap setiap informasi, sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dia menilai, penyebaran informasi yang tidak benar berpotensi memecah persatuan, dan mengganggu suasana kondusif yang selama ini terjaga di Jawa Tengah.
“Provinsi Jawa Tengah hari ini adalah salah satu provinsi yang aman-guliman, tata tentrem kerta raharja. Karena di dalamnya ada nafasnya gotong royong dan tepa selira, antara satu dengan yang lain,” kata Luthfi.
Pada kesempatan itu, Luthfi menyampaikan sejumlah capaian pembangunan daerah, di antaranya pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang mencapai 4,89 persen, penurunan angka kemiskinan dari 9,58 persen menjadi 9,39 persen, serta realisasi investasi hampir Rp29 triliun, yang mampu menyerap sekitar 92 ribu tenaga kerja.
Dia optimistis, Jawa Tengah akan terus berkembang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional, dengan dukungan stabilitas sosial, semangat gotong royong, dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, peringatan Tahun Baru Islam tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi sarana memaknai kembali semangat hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah, kata dia, merupakan proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera.
Menurut Gus Yasin sapaanya, semangat hijrah relevan dengan kondisi Jawa Tengah saat ini yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi. Dia mengajak masyarakat menyambut para investor dan pelaku usaha yang datang ke Jawa Tengah, dengan tetap menjaga suasana yang aman, rukun, dan kondusif.
“Kita harus menciptakan iklim yang ramah dan penuh kebersamaan, agar investasi berkembang, serta memberikan manfaat bagi masyarakat melalui lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan,” katanya.
Dalam kegiatan dilakukan, penyerahan simbolis bantuan berupa bantuan pendidikan kepada 100 anak yatim piatu, dan sembako 100 paket untuk panti asuhan. Ada pula penyerahan simbolik sertifikat tanah wakaf sebanyak 243 sertifikat oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid. (Ak/Ul, Diskomdigi Jateng)

Dongkrak Infrastruktur Perbatasan Perbaikan Jalan Provinsi Di Wonogiri Ditambah Jadi Rp42 Miliar
Apel Luar Biasa Salatiga Resmikan Sensus Ekonomi 2026: Tonggak Penting Perekonomian Daerah
SALATIGA – Menandai pelaksanaan Sensus Ekonomi Kota Salatiga Tahun 2026, Pemerintah Kota Salatiga menggelar Apel Luar Biasa, di halaman Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Senin (15/6/2026). Apel dipimpin Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, serta diikuti Wakil Wali Kota, Forkopimda, jajaran perangkat daerah dan unsur terkait.
Dalam arahannya, wali kota menegaskan, Sensus Ekonomi 2026 merupakan program strategis nasional yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan menghasilkan data yang akurat.
“Pendataan ini akan berlangsung pada pertengahan Juni hingga Agustus mendatang. Kegiatan ini akan menjadi data penting untuk memotret perkembangan dunia usaha, UMKM, perdagangan, jasa hingga ekonomi digital di Kota Salatiga,” ujar Robby.
Data yang diperoleh melalui sensus tersebut, diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi yang tepat sasaran, sekaligus mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, wali kota mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menyukseskan Sensus Ekonomi 2026, dengan memberikan informasi yang benar dan mendukung para petugas pendataan di lapangan.
“Ini merupakan salah satu program strategis nasional. Mari kita sukseskan bersama demi tersedianya data ekonomi yang berkualitas, untuk pembangunan Kota Salatiga yang lebih baik,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kota Salatiga juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) Kota Salatiga 2026. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas semangat inovasi yang terus tumbuh, di kalangan pelajar maupun masyarakat umum.
Pada kategori pelajar, SMK Negeri 2 Salatiga berhasil memborong tiga posisi juara melalui berbagai inovasi yang dihasilkan para siswanya. Yakni, Juara 1 dengan inovasi Helm Pendeteksi Fokus Pengendara (Siagaride), Juara II melalui karya Celengan Digital Pintar dengan Deteksi Uang Masuk, Penjumlahan Otomatis dan Pemantauan via Telegram (Smart Financial), dan Juara III dengan inovasi Sarung Tangan Penerjemah Bahasa Isyarat untuk Komunikasi yang Lebih Inklusif (Sign Language Glove).
Sementara, pada kategori umum, Juara I Tadris IPA FTIK UIN Salatiga, mengusung inovasi Sumber Energi Listrik Ramah Lingkungan “Bioreaktor Mikroalga”. Juara II Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW Salatiga menampilkan Horizontal Dekomposer Contraflow. Juara III FKIP UKSW Salatiga, melakui inovasi Salatiga Learning Through Traditional Play Arena “Saltopia”.
Wali kota menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menghadirkan berbagai gagasan kreatif dan inovatif, yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Terima kasih telah menghadirkan ide dan inovasi, yang membuktikan bahwa semangat berkarya di Salatiga terus tumbuh. Teruslah berinovasi, teruslah mencipta, dan teruslah menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di sekitar kita,” pungkas Robby.
Melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan apresiasi terhadap inovasi masyarakat melalui Krenova, Pemerintah Kota Salatiga berharap dapat mendorong lahirnya kebijakan berbasis data sekaligus menumbuhkan budaya inovasi sebagai bagian dari upaya mewujudkan Salatiga yang maju, kreatif, dan berdaya saing.
Penulis : Kontributor Kota Salatiga
Editor : Ul, Diskomdigi Jateng


Lepas 936 Petugas Sensus Ekonomi Bupati Sigit Tekankan Kerja Profesional Humanis Dan Berintegritas
Raih Opini Wtp Ke 11 Sragen Perkuat Tata Kelola Keuangan Yang Transparan

SEMARANG — Pemerintah Kabupaten Sragen kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2025, dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Capaian itu menandai keberhasilan Kabupaten Sragen mempertahankan opini WTP selama 11 kali berturut-turut sejak 2015.
Penghargaan dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) tersebut diserahkan oleh Kepala BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah kepada Bupati Sragen Sigit Pamungkas, dalam acara penyerahan LHP LKPD 2025, di Auditorium BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Kamis (11/6/2026).
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Sragen, Badrus Samsu Darusi, mengatakan, raihan opini WTP ke-11 berturut-turut menjadi bukti konsistensi Pemerintah Kabupaten Sragen, dalam mewujudkan tata kelola keuangan daerah yang transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Capaian tersebut sekaligus menunjukkan komitmen seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan, dalam menjaga kualitas pengelolaan APBD.
“Keberhasilan mempertahankan opini WTP tidak lepas dari komitmen dan kolaborasi seluruh jajaran pemerintah daerah, DPRD, serta stakeholder. Selain itu, kami terus memperkuat Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), meningkatkan kualitas laporan keuangan, dan memastikan setiap tindak lanjut hasil pemeriksaan diselesaikan secara tepat waktu,” ujarnya.
Menurut Badrus, mempertahankan opini WTP dari tahun ke tahun bukan tanpa tantangan. Beberapa hal yang masih menjadi perhatian, antara lain peningkatan kualitas pengelolaan aset tetap, kecermatan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan, kesiapan sumber daya manusia pengelola keuangan, hingga kompleksitas regulasi yang terus berkembang. Di sisi lain, opini WTP juga harus diiringi dengan kinerja nyata, agar pengelolaan anggaran benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pemkab Sragen berkomitmen menindaklanjuti seluruh rekomendasi BPK secara tepat waktu dan terukur. Selama ini, tingkat penyelesaian tindak lanjut rekomendasi BPK di Kabupaten Sragen, secara konsisten berada di atas 99 persen. Setiap catatan hasil pemeriksaan segera kami tindak lanjuti bersama perangkat daerah terkait, agar kualitas tata kelola keuangan terus meningkat,” katanya.
Badrus menambahkan, raihan WTP ke-11 menjadi motivasi bagi Pemkab Sragen, untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola keuangan daerah, memperkuat pengendalian internal, dan memastikan setiap anggaran memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Penulis: Henik/Yuli_DiskominfoSragen
Editor: Ul, Diskomdigi Jateng
Cegah Bullying Dan Kekerasan Nawal Yasin Perkuat Edukasi Kesehatan Mental Santri
WONOSOBO – Penguatan edukasi kesehatan mental bagi santri penting dilakukan, sebagai upaya mencegah kasus bullying, kekerasan, dan berbagai persoalan psikologis di lingkungan pesantren.
Hal itu ditekankan Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat menjadi narasumber kegiatan Pesantren Ramah Perempuan dan Anak (Penak), bertema “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Santri Konselor Sebaya di Pesantren”, di Pondok Pesantren Al Mubarok, Kabupaten Wonosobo, Senin (15/6/2026).
Menurut Nawal, kesehatan mental menjadi isu yang harus mendapat perhatian serius, khususnya di kalangan remaja dan santri. Penguatan ketahanan emosional dinilai penting untuk membentuk generasi yang tangguh, di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Kesehatan mental ini menjadi salah satu isu yang terus kita berikan penguatan,” katanya.
Nawal menjelaskan, edukasi kesehatan mental tidak hanya dilakukan di lingkungan pesantren, tetapi juga akan diperluas ke sekolah-sekolah melalui berbagai kegiatan pembinaan peserta didik.
“Bukan hanya di pesantren, tapi juga nanti di beberapa sekolah, kami akan mengadakan edukasi kesehatan mental ketika masa orientasi siswa,” ujar penulis buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual tersebut.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Kemudahan yang ditawarkan teknologi, seringkali membuat daya tahan mental dan kemampuan menghadapi tekanan perlu diperkuat, melalui pendampingan yang tepat.
“Jadi harapannya dalam situasi di mana Gen Z yang apa-apa serba instan, untuk resiliensi emosinya ini perlu ada penguatan-penguatan dan pembinaan,” jelas istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.
Dalam kesempatan itu, Nawal juga menyoroti masih terjadinya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pesantren. Berdasarkan data Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, tercatat terdapat 30 kasus kekerasan di pesantren selama periode 2019 hingga 2025.
Data tersebut menjadi pengingat, upaya pencegahan bullying dan kekerasan harus terus diperkuat melalui edukasi, pengawasan, serta sistem perlindungan yang memadai di lingkungan pesantren.
Karena itu, sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, pihaknya mendorong pembentukan satuan tugas (Satgas) anti-bullying dan antikekerasan di seluruh pesantren di Jawa Tengah, yang jumlahnya mencapai 5.451 lembaga.
Menurut Nawal, keberadaan satgas diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah. Apalagi, jumlah santri di Jawa Tengah mencapai 535.940 orang, sehingga membutuhkan perhatian dan perlindungan yang optimal.
Melalui langkah tersebut, Ketua TP PKK Jateng itu berharap, semakin banyak pesantren yang menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang santri, sekaligus mampu mendukung kesehatan mental, pembentukan karakter, serta perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Seorang santri peserta kegiatan, Dinara Kholidya Safina, mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait kesehatan mental dan pencegahan kekerasan di pesantren. Menurutnya, maraknya kasus bullying yang belakangan terjadi, membuat isu kesehatan mental menjadi penting untuk dipahami oleh para santri.
“Dari seminar ini, saya bisa mengetahui lebih luas, mana bullying atau tidak, mengetahui mana-mana saja batasan bullying, dan menambah wawasan luas juga tentang pesantren ramah perempuan dan anak,” ungkapnya. (At/Ul, Diskomdigi Jateng)

Dorong Pesantren Bebas Tbc Wali Kota Salatiga Perkuat Peran Kader Poskestren
SALATIGA – Kader Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) diminta terus sigap melakukan deteksi dini penyebaran penyakit menulah, khususnya tuberkulosis (TBC). Pasalnya, lingkungan pondok pesantren dengan sejumlah santri yang tinggal bersama, rentan terhadap penyebaran penyakit.
Hal itu disampaikan Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, saat membuka Seminar Tuberkulosis dan Penguatan Kader Poskestren, di Ruang Kaloka Lantai 4 Gedung Setda Kota Salatiga, Rabu (10/6/2026). Menurutnya, kader Poskestren memiliki peran penting sebagai ujung tombak deteksi dini dan pencegahan penyakit.
“Santri termasuk kelompok berisiko tinggi karena tinggal berkelompok dan memiliki aktivitas yang padat. Kader Poskestren adalah garda terdepan. Kalau kadernya kuat, paham, dan sigap, maka deteksi dini berjalan, pencegahan berjalan, dan rujukan ke puskesmas menjadi lebih cepat,” tegasnya.
Tak hanya menyoroti aspek medis, Robby juga mengajak seluruh pihak menghapus stigma terhadap penderita TBC, yang kerap menjadi penghalang proses penyembuhan.
“Yang paling berbahaya dalam TBC bukan hanya bakterinya, tetapi stigmanya. Santri yang terkena TBC sering dijauhi, alat makannya dipisahkan, bahkan dikucilkan. Saya titip, hilangkan stigma itu. Santri yang sakit TBC bukan untuk dijauhi, tetapi dirangkul dan didampingi hingga pengobatannya tuntas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Prasit Al-Hakim, menyampaikan, seminar itu diikuti sekitar 250 peserta, terdiri atas kader Poskestren, kader kesehatan TB, serta para pengasuh pondok pesantren.
Menurutnya, pengendalian TBC menjadi salah satu prioritas nasional yang saat ini terus didorong oleh Kementerian Kesehatan. Melalui penguatan kapasitas kader, Pemerintah Kota Salatiga berharap upaya skrining, edukasi, hingga pendampingan pengobatan, dapat berjalan lebih optimal di lingkungan pesantren.
“Dari total 43 pondok pesantren di Kota Salatiga dengan tidak kurang dari 4.745 santri, kami menargetkan tahun ini tercipta pesantren yang bebas TB sekaligus bebas penyakit kulit,” jelasnya.
Seminar tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai lembaga untuk memperkuat pemahaman peserta. Kementerian Agama Kota Salatiga memaparkan materi tentang Peran Kementerian Agama dalam Mewujudkan Pesantren Bebas TBC. Sementara itu, IDI Kabupaten Semarang membahas pentingnya deteksi dini, gejala, dan upaya pencegahan TBC. IDI Kota Salatiga menyampaikan materi mengenai kesehatan kulit di lingkungan pesantren, sedangkan MSI Kota Salatiga mengulas peran kader Poskestren sebagai pengawas minum obat bagi pasien TBC.
Melalui penguatan kader Poskestren ini, Pemerintah Kota Salatiga berharap pondok pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pembentukan karakter, tetapi juga menjadi lingkungan yang sehat, tanggap terhadap penyakit menular, serta bebas dari stigma terhadap para penyintas TBC.
Penulis : Kontributor Kota Salatiga
Editor : Ul, Diskomdigi Jateng
