Menghujat anak SD beli parfum Mykonos itu aneh bin norak!

Beberapa waktu lalu, Media sosial dihebohkan oleh sebuah konten TikTok yang memperlihatkan seorang anak SD yang ditanya soal menu MBG yang ia inginkan. Alih-alih menjawab “ayam goreng” atau “susu kotak”, anak tersebut dengan mantap menjawab: “Mykonos Monaco Royal”.

Respon-respons yang tak sedap dipandang mendominasi kolom komentar. Anak tersebut jadi sasaran empuk cyberbullying. Para netizen menghujat habis-habisan, memperingatkan soal dosa konsumtif, hingga akhirnya video tersebut di takedown. Ironis sekali, niat hati ingin terlihat keren di depan kamera, konten tersebut malah salah sasaran dan berakhir menjadi jejak digital yang kejam untuk sang anak.

Judgement netizen tidak berhenti di satu video itu saja. Hujatan-hujatan meluas ke video-video review parfum Mykonos lainnya.

Respons yang diberikan pada kolom komentarnya cukup beragam. Ada yang bikin plesetan nama parfum jadi kata-kata vulgar, ada yang mengkritik gaya bicara si bocah yang dianggap “sok dewasa” dan tidak tahan mendengarnya, hingga tuduhan FOMO.

Meskipun ada respons baik yang membela, mengatakan bahwa tren parfum tergolong positif sebagai bentuk awareness anak-anak terhadap bau matahari khas bocah habis main panas-panasan, hujatan-hujatan masih tetap dilayangkan. Banyak orang bersikap seolah-olah anak kecil yang menyukai parfum mahal adalah ancaman nyata bagi peradaban.

Akui saja kita dulu pernah FOMO, meski bukan barang kayak parfum Mykonos

Coba kita refleksi diri. Apa yang anak-anak Gen Alpha lakukan ini sebenarnya adalah pola klasik manusia: survival mode di pergaulan. Anak-anak mau dari zaman batu sampai zaman AI selalu punya kebutuhan mendasar untuk diterima di kelompok sebayanya (peer acceptance). Bedanya cuma ada di komoditas atau instrumennya saja.

Kita yang tumbuh di era 90-an atau 2000-an pasti ingat betapa superiornya anak yang membawa album isi kartu Pokemon, binder isi kertas diary bergambar, Tamiya balap, atau sepatu yang tumitnya bisa menyala kalau diinjak. Yang nggak punya? Ya siap-siap aja jadi penonton di pojokan.

Prinsipnya sama persis dengan hype nya parfum Mykonos. Anak-anak itu cuma ingin bilang ke temannya, “Hei! Aku juga gaul! Aku paham/punya barang yang lagi ngetren!”

Parfum Mykonos: dulu seluas lapangan basket, sekarang seluas algoritma

Sebenarnya, apa masalahnya sampai fenomena ini saya menganggap ini “salah sasaran”?

Berbeda dengan sekarang, generasi kita dulu melakukan aksi “pamer kelayakan gaul” ini di ruang terbatas: di kelas, koridor sekolah, hingga kantin. Kalau kita bertingkah konyol, yang mengetahuinya paling banyak ya satu sekolah.

Sementara anak-anak zaman sekarang dapat melakukan survival mode sosial mereka di media sosial. Lingkup pergaulan mereka yang dulunya hanya seluas lapangan basket, kini menjadi tak terbatas tergantung bagaimana algoritma membawanya. Keinginan sederhana untuk diakui teman sekelas menjadi bergeser. Mereka beradaptasi dengan cara yang terlalu cepat. Lalu jutaan orang yang merasa lebih dewasa yang lupa bahwa mereka dulu juga pernah konyol pada usianya menonton dan menghakimi mereka.

Bocah cari teman, netizen cari mangsa

Kalau kita membedahnya dari sisi psikologi sosial, tindakan anak-anak ini sangatlah wajar. Berdasarkan Social Identity Theory (SIT), mereka cuma sedang berjuang masuk ke dalam in-group (kelompok anak hits nan gaul) dan menghindari ketakutan terbesar anak sekolah: menjadi out-group (anak kuper yang dijauhi). Parfum Mykonos itu bukan hanya aroma, tapi instrumen yang dapat menyelamatkan mereka dari perundungan teman sebaya.

Yang justru aneh adalah respons orang yang merasa lebih dewasa. Di balik perlindungan anonimitas internet, orang-orang “dewasa” ini mendadak merasa punya hak untuk menghakimi anak kecil. Mereka melempar hujatan ke bocah yang belum pubertas seolah-olah sedang mengkritik kebijakan pejabat yang merugikan. Mengapa demikian? Karena menghujat anak kecil di internet itu mudah, murah, dan memberi kepuasan instan bahwa “saya adalah orang lebih tua/dewasa yang lebih bijak”.

Menuntut bocah dewasa, tapi orang dewasanya kek bocah

Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah bilang bahwa “Orang lain adalah neraka” (L’enfer, c’est les autres). Ketika kita berada di bawah tatapan orang lain, kita kehilangan kebebasan dan direduksi menjadi sekadar objek.

Anak-anak yang niat awalnya cuma ingin berekspresi secara bebas, netizen malah menyerangnya dengan hinaan. Hanya karena menyenangi jenis parfum yang mereka anggap tidak sesuai dengan umurnya, orang dewasa langsung memberi label: bocah FOMO, korban konsumerisme, atau produk gagal pengasuhan. Publik menghakimi identitas mereka tanpa memberi ruang untuk tumbuh dan belajar.

Masyarakat kita menuntut anak-anak tersebut untuk berpikiran matang dan bijaksana. Sementara orang dewasanya sendiri masih sering bertingkah kekanak-kanakan di kolom komentar. Ini adalah bentuk hipokrisi atau Sartre menyebutnya Bad Faith. Pura-pura tidak tahu padahal kita sendiri adalah bagian dari sistem sosial yang haus validasi.

Bocah berjuang eksis, netizen krisis empati

Kontroversi tren parfum Mykonos ini adalah gambaran bagi kita semua bahwa fenomena ini bukan lagi soal parfum mahal atau anak yang salah menafsirkan pertanyaan terkait menu makanan, melainkan soal respons kita di dunia digital yang makin krisis empati.

Anak-anak itu tidak salah. Mereka hanya bocah yang lahir di zaman ketika berjuang mempertahankan eksistensinya di pergaulan. Sayangnya, mereka terbawa ke algoritma yang salah dan berakhir terkena penghakiman oleh netizen yang judgemental.

Kalau ada yang perlu dibenahi, itu bukanlah cara anak-anak tersebut memilih hobi maupun tren. Melainkan jempol orang dewasa yang makin hari makin bersumbu pendek.

Penulis: Jesi Arista Fikria


Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Rekomendasi Parfum Aroma Melati, Bikin Kunti Core-mu Makin Kentara

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

268
Menghujat anak SD beli parfum Mykonos itu aneh bin norak!

Beberapa waktu lalu, Media sosial dihebohkan oleh sebuah konten TikTok yang memperlihatkan seorang anak SD yang ditanya soal menu MBG yang ia inginkan. Alih-alih menjawab “ayam goreng” atau “susu kotak”, anak tersebut dengan mantap menjawab: “Mykonos Monaco Royal”.

Respon-respons yang tak sedap dipandang mendominasi kolom komentar. Anak tersebut jadi sasaran empuk cyberbullying. Para netizen menghujat habis-habisan, memperingatkan soal dosa konsumtif, hingga akhirnya video tersebut di takedown. Ironis sekali, niat hati ingin terlihat keren di depan kamera, konten tersebut malah salah sasaran dan berakhir menjadi jejak digital yang kejam untuk sang anak.

Judgement netizen tidak berhenti di satu video itu saja. Hujatan-hujatan meluas ke video-video review parfum Mykonos lainnya.

Respons yang diberikan pada kolom komentarnya cukup beragam. Ada yang bikin plesetan nama parfum jadi kata-kata vulgar, ada yang mengkritik gaya bicara si bocah yang dianggap “sok dewasa” dan tidak tahan mendengarnya, hingga tuduhan FOMO.

Meskipun ada respons baik yang membela, mengatakan bahwa tren parfum tergolong positif sebagai bentuk awareness anak-anak terhadap bau matahari khas bocah habis main panas-panasan, hujatan-hujatan masih tetap dilayangkan. Banyak orang bersikap seolah-olah anak kecil yang menyukai parfum mahal adalah ancaman nyata bagi peradaban.

Akui saja kita dulu pernah FOMO, meski bukan barang kayak parfum Mykonos

Coba kita refleksi diri. Apa yang anak-anak Gen Alpha lakukan ini sebenarnya adalah pola klasik manusia: survival mode di pergaulan. Anak-anak mau dari zaman batu sampai zaman AI selalu punya kebutuhan mendasar untuk diterima di kelompok sebayanya (peer acceptance). Bedanya cuma ada di komoditas atau instrumennya saja.

Kita yang tumbuh di era 90-an atau 2000-an pasti ingat betapa superiornya anak yang membawa album isi kartu Pokemon, binder isi kertas diary bergambar, Tamiya balap, atau sepatu yang tumitnya bisa menyala kalau diinjak. Yang nggak punya? Ya siap-siap aja jadi penonton di pojokan.

Prinsipnya sama persis dengan hype nya parfum Mykonos. Anak-anak itu cuma ingin bilang ke temannya, “Hei! Aku juga gaul! Aku paham/punya barang yang lagi ngetren!”

Parfum Mykonos: dulu seluas lapangan basket, sekarang seluas algoritma

Sebenarnya, apa masalahnya sampai fenomena ini saya menganggap ini “salah sasaran”?

Berbeda dengan sekarang, generasi kita dulu melakukan aksi “pamer kelayakan gaul” ini di ruang terbatas: di kelas, koridor sekolah, hingga kantin. Kalau kita bertingkah konyol, yang mengetahuinya paling banyak ya satu sekolah.

Sementara anak-anak zaman sekarang dapat melakukan survival mode sosial mereka di media sosial. Lingkup pergaulan mereka yang dulunya hanya seluas lapangan basket, kini menjadi tak terbatas tergantung bagaimana algoritma membawanya. Keinginan sederhana untuk diakui teman sekelas menjadi bergeser. Mereka beradaptasi dengan cara yang terlalu cepat. Lalu jutaan orang yang merasa lebih dewasa yang lupa bahwa mereka dulu juga pernah konyol pada usianya menonton dan menghakimi mereka.

Bocah cari teman, netizen cari mangsa

Kalau kita membedahnya dari sisi psikologi sosial, tindakan anak-anak ini sangatlah wajar. Berdasarkan Social Identity Theory (SIT), mereka cuma sedang berjuang masuk ke dalam in-group (kelompok anak hits nan gaul) dan menghindari ketakutan terbesar anak sekolah: menjadi out-group (anak kuper yang dijauhi). Parfum Mykonos itu bukan hanya aroma, tapi instrumen yang dapat menyelamatkan mereka dari perundungan teman sebaya.

Yang justru aneh adalah respons orang yang merasa lebih dewasa. Di balik perlindungan anonimitas internet, orang-orang “dewasa” ini mendadak merasa punya hak untuk menghakimi anak kecil. Mereka melempar hujatan ke bocah yang belum pubertas seolah-olah sedang mengkritik kebijakan pejabat yang merugikan. Mengapa demikian? Karena menghujat anak kecil di internet itu mudah, murah, dan memberi kepuasan instan bahwa “saya adalah orang lebih tua/dewasa yang lebih bijak”.

Menuntut bocah dewasa, tapi orang dewasanya kek bocah

Filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre pernah bilang bahwa “Orang lain adalah neraka” (L’enfer, c’est les autres). Ketika kita berada di bawah tatapan orang lain, kita kehilangan kebebasan dan direduksi menjadi sekadar objek.

Anak-anak yang niat awalnya cuma ingin berekspresi secara bebas, netizen malah menyerangnya dengan hinaan. Hanya karena menyenangi jenis parfum yang mereka anggap tidak sesuai dengan umurnya, orang dewasa langsung memberi label: bocah FOMO, korban konsumerisme, atau produk gagal pengasuhan. Publik menghakimi identitas mereka tanpa memberi ruang untuk tumbuh dan belajar.

Masyarakat kita menuntut anak-anak tersebut untuk berpikiran matang dan bijaksana. Sementara orang dewasanya sendiri masih sering bertingkah kekanak-kanakan di kolom komentar. Ini adalah bentuk hipokrisi atau Sartre menyebutnya Bad Faith. Pura-pura tidak tahu padahal kita sendiri adalah bagian dari sistem sosial yang haus validasi.

Bocah berjuang eksis, netizen krisis empati

Kontroversi tren parfum Mykonos ini adalah gambaran bagi kita semua bahwa fenomena ini bukan lagi soal parfum mahal atau anak yang salah menafsirkan pertanyaan terkait menu makanan, melainkan soal respons kita di dunia digital yang makin krisis empati.

Anak-anak itu tidak salah. Mereka hanya bocah yang lahir di zaman ketika berjuang mempertahankan eksistensinya di pergaulan. Sayangnya, mereka terbawa ke algoritma yang salah dan berakhir terkena penghakiman oleh netizen yang judgemental.

Kalau ada yang perlu dibenahi, itu bukanlah cara anak-anak tersebut memilih hobi maupun tren. Melainkan jempol orang dewasa yang makin hari makin bersumbu pendek.

Penulis: Jesi Arista Fikria


Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Rekomendasi Parfum Aroma Melati, Bikin Kunti Core-mu Makin Kentara

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat carainiya.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

More like this
Tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah bencana

Tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah bencana

admin
Kartu kredit, contoh terbaik dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik dunia hanya ramah sama orang kaya

admin
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang?

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang?

admin