Menunggu Dijemput: Film Indonesia Ini Sukses Curi Perhatian di Madani International Film Festival 2025

Film “Menunggu Dijemput” karya KPI UIN Walisongo Phylosopicture dan BM Production sukses ditayangkan di Madani International Film Festival 2025. Film produksi 2023 ini mendapat sambutan positif penonton saat diputar dalam program Madani Kidz di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

2,156
"Menunggu Dijemput": Film Indonesia Curi Perhatian di Madani International Film Festival 2025

Jakarta – Film “Menunggu Dijemput”, produksi tahun 2023 dari komunitas film KPI UIN Walisongo Phylosopicture dan BM Production, berhasil menembus Madani International Film Festival (MIFF) 2025. Penayangan di segmen Madani Kidz pada Sabtu, 11 Oktober 2025, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, menuai respons yang digambarkan “hangat” dari penonton, didominasi keluarga dan anak-anak.

Pencapaian ini menyoroti kemampuan produksi kampus untuk meraih panggung internasional, meskipun terbatas pada program spesifik dan dua tahun pasca-produksi. Keberhasilan ini, bagaimanapun, patut dicermati apakah menandakan terobosan signifikan atau sekadar sorotan temporer bagi sebuah karya komunitas.

Penayangan dan Respon Publik

Lokasi penayangan, yang dipenuhi penonton dari berbagai kalangan termasuk keluarga dan anak-anak, mengindikasikan bahwa film ini menemukan pasarnya. Para penonton “tampak menikmati alur cerita yang disajikan,” demikian laporan. Sebuah narasi yang tampaknya sederhana, namun efektif menarik perhatian audiens termuda festival.

Madani International Film Festival dikenal sebagai ajang bergengsi. Namun, partisipasi “Menunggu Dijemput” dalam program Madani Kidz membingkai penerimaan film ini pada audiens yang spesifik. Ini memunculkan pertanyaan tentang daya tarik universal film tersebut di luar ceruk demografi anak-anak.

Sebuah film komunitas yang menembus festival internasional adalah langkah maju. Akan tetapi, validitas “sambutan hangat” ini harus diukur dari dampak jangka panjang: apakah akan ada distribusi lebih luas, atau hanya menjadi catatan kaki manis dalam sejarah komunitas kampus itu sendiri?

Respons dari Sineas

Abid Hibanillah, perwakilan Phylosopicture, menyatakan kebahagiaannya atas “respons positif dan tawa dari para penonton cilik yang hadir.” Ia menambahkan, “Sebuah kebanggaan bahwa film yang kami produksi pada 2023 ini terus hidup dan dapat dinikmati oleh audiens beraneka ragam di festival terhormat seperti MIFF. Ini membuktikan bahwa cerita yang tulus akan selalu relevan.”

Dari BM Production, Ahnaf Hariyanta ikut bersuara. Ia menganggap, “Terpilihnya ‘Menunggu Dijemput’ dalam program Madani Kidz merupakan sebuah validasi atas kerja keras kami. Momen saat berdiskusi dengan penonton setelah film selesai adalah pengalaman yang tak ternilai.”

Ucapan terima kasih pun mengalir, “Terima kasih kepada pihak festival dan semua yang telah hadir,” pungkas Ahnaf.

Seorang penonton, yang tidak disebutkan namanya, turut menyampaikan antusiasme, “Senang sekali bisa menonton film-film karya anak bangsa. Semoga semakin banyak film seperti ini deh.” Komentar ini menggarisbawahi kerinduan publik akan konten lokal, tanpa secara spesifik menyoroti kualitas film secara kritis.

Latar Belakang Produksi

Film “Menunggu Dijemput” sendiri adalah produk tahun 2023. Kemunculannya di MIFF 2025, dua tahun setelah produksi awal, menunjukkan perjalanan panjang sebuah karya dari komunitas kampus yang mencari pengakuan.

Ini mempertegas tantangan yang dihadapi produksi film independen dan komunitas. Meskipun mendapat “sambutan hangat” di panggung festival khusus anak-anak, masa depan dan jangkauan audiens yang lebih luas dari film ini masih menjadi pertanyaan besar bagi para sineas muda di balik layarnya.

More like this
Konjen China Rayakan Imlek di Sam Poo Kong Semarang, Perkuat Diplomasi Budaya

Konjen China di Imlek Sam Poo Kong: Sorotan Diplomasi Budaya dari Semarang

admin