Milad ke

Pimpinan Hizbul Wathan UMS (HW UMS) merayakan Milad ke-16 di Solo, Jawa Tengah. Acara ini menjadi momentum refleksi perjalanan gerakan kepanduan Muhammadiyah. HW UMS berkomitmen mencetak kader pemimpin berkarakter Islami dan berdampak. Kegiatan meliputi pemotongan tumpeng, pengesahan buku, serta talkshow sejarah HW UMS.

1,003
Milad un Nabi

Pimpinan Hizbul Wathan (HW) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merayakan Milad ke-16 di Ruang Meeting Besar Griya Mahasiswa UMS, Solo, Jawa Tengah, Sabtu lalu, namun perayaan ini justru memunculkan pertanyaan kritis tentang efektivitas HW UMS dalam mencetak “kader pemimpin yang berdampak” di tengah sejarah panjang organisasi yang sempat tenggelam. Kegiatan ini diklaim sebagai momentum refleksi, tetapi substansi dampaknya perlu dibuktikan.

Klaim Refleksi dan Dampak

Acara yang dihadiri keluarga besar HW UMS, Dewan Kafilah, dan jajaran pimpinan ini dimulai dengan pemotongan tumpeng, simbol rasa syukur yang kontras dengan tantangan nyata. Pengesahan buku pegangan dan majalah baru diklaim sebagai penguatan literasi dan dokumentasi, namun efektivitasnya dalam pengembangan kader masih menjadi tanda tanya.

Ketua Kafilah HW UMS, Muhammad Azibsyah, menyatakan usia 16 tahun sebagai fase penting refleksi dan evaluasi, berani mengklaim bahwa HW UMS telah melahirkan “kader-kader yang tangguh, berkarakter Islami, serta memiliki kapasitas kepemimpinan”. Namun, bukti konkret kontribusi signifikan kader-kader ini terhadap masyarakat luas belum terurai jelas.

Klaim ini semakin tajam ketika menengok sejarah kelam Hizbul Wathan. Organisasi kepanduan ini sempat “tenggelam” akibat kebijakan politik sejak tahun 1961, sebelum bangkit kembali pada 1999. Periode kelam ini menunjukkan betapa rentannya eksistensi HW terhadap gejolak eksternal, mempertanyakan daya tahan sejati di luar lingkup internal Muhammadiyah.

Janji dan Realitas Sejarah

Azibsyah sendiri menyatakan, “Milad ke-16 ini kami harapkan menjadi momentum untuk terus menumbuhkan semangat kaderisasi dan memperluas dampak gerakan Hizbul Wathan di tengah masyarakat.” Pernyataan ini, meski ambisius, masih terjebak dalam harapan tanpa blueprint aksi konkret yang transparan.

Perwakilan Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Tengah, Ramanda Sutan, menambahkan, “Kebangkitan tersebut secara resmi ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 2000 dengan mandat agar Hizbul Wathan berdiri dan berkembang di seluruh jenjang pendidikan Muhammadiyah.” Ia juga menegaskan, “Kita patut bersyukur bahwa Hizbul Wathan hingga hari ini tetap relevan dan eksis dalam gagasan awal pendiriannya.” Namun, “relevansi” ini perlu diuji di luar narasi internal, terutama dalam menghadapi dinamika sosial-politik kontemporer.

Tantangan Relevansi Masa Depan

Sebagai bagian dari acara, talkshow bersama para perintis HW UMS digelar, membahas sejarah dan nilai perjuangan. Diskusi ini, meskipun penting untuk transfer nilai, berisiko menjadi ajang nostalgia semata tanpa menyentuh tantangan adaptasi dan inovasi yang mendesak. HW UMS menyatakan harapan untuk terus berkembang dan melahirkan pemimpin yang berkontribusi nyata, namun janji ini menuntut lebih dari sekadar perayaan tahunan, melainkan pembuktian di lapangan.

More like this