Phylosopicture: Sorotan Utama di Lawang Sewu Short Film Festival
Komunitas film Phylosopicture UIN Walisongo memeriahkan Lawang Sewu Short Film Festival (LSSFF) di Semarang. Festival ini memutar dua film pendek, “Salim & His Noodle Family” dan “Bersepeda ke Bulan”. Sineas serta penggiat film berdiskusi dalam acara tersebut, mendukung perkembangan industri film lokal Jawa Tengah.
Komunitas film Phylosopicture dari KPI FDK UIN Walisongo hanya turut serta dalam Lawang Sewu Short Film Festival (LSSFF) di Aula Balai Kota Semarang pada Selasa (23/9). Kehadiran mereka di acara “Lawang Talks” ini, sebagaimana dilaporkan Kamis (25/9), diklaim sebagai wadah bagi sineas lokal, namun kontribusi nyata melampaui partisipasi itu sendiri masih dipertanyakan.
Festival ini menampilkan pemutaran dua film pendek dan sesi diskusi interaktif. Namun, sorotan kritis menunjuk pada minimnya terobosan konkret yang dihasilkan LSSFF, menyisakan keraguan atas efektivitasnya sebagai motor penggerak perfilman daerah.
Agenda utama Lawang Talks menampilkan dua karya: “Salim & His Noodle Family” garapan Ardian Parasto dan “Bersepeda ke Bulan” arahan Tries Supardi. Kedua film ini, dengan narasi dan visual unik, berhasil menarik perhatian audiens, menjadi inti dari acara tersebut.
Setelah pemutaran, sesi diskusi interaktif digelar, membuka ruang interaksi langsung antara penonton dan pembuat film. Meskipun diskusi berjalan antusias, pertanyaan krusial muncul: apakah forum ini benar-benar mendorong dialog kritis atau sekadar memenuhi agenda seremonial tanpa hasil signifikan bagi pengembangan sinema lokal?
Phylosopicture, komunitas film dari UIN Walisongo, mengklaim kehadirannya sebagai “bentuk dukungan aktif” terhadap industri film lokal. Namun, klaim ini terkesan generik; detail spesifik mengenai kontribusi nyata atau inisiatif lanjutan dari partisipasi mereka masih belum terungkap jelas ke publik.
Salah satu peserta Lawang Talks menyampaikan, “Acara seperti Lawang Talks ini sangat penting bagi ekosistem perfilman, khususnya di Semarang. Bisa menonton karya-karya berkualitas dan langsung berdiskusi dengan sutradaranya memberikan kami banyak sekali wawasan baru dan inspirasi untuk proyek-proyek kami ke depan. Kami sangat mengapresiasi Lawang Sewu Short Film Festival yang telah memfasilitasi ruang pertemuan yang berharga ini.” Kutipan anonim ini, meskipun bernada positif, gagal memberikan validasi kuat terhadap dampak transformatif festival, melainkan hanya menyoroti aspek apresiasi permukaan.
Membongkar Retorika Pengembangan Sinema Lokal
Sejak awal, Lawang Sewu Short Film Festival telah memposisikan diri sebagai platform penting untuk film pendek di Semarang. Namun, pengulangan format tanpa evaluasi mendalam atau indikator keberhasilan yang transparan berpotensi menjadikannya ajang yang kurang berdampak signifikan.
Untuk mencapai kemajuan nyata, komunitas film dan penyelenggara festival mesti melampaui sekadar “memeriahkan” dan “berdiskusi”. Diperlukan langkah-langkah strategis yang jelas, investasi terukur, dan komitmen konkret untuk benar-benar mengangkat kualitas dan eksistensi perfilman lokal, bukan hanya mengklaim sebagai “wadah” belaka.