Prabowo Tak Paksa Anak Orang Kaya yang Tidak Butuh MBG
loading…
Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak akan memaksakan untuk memberikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada anak orang kaya. Foto: Dok Sindonews
GORONTALO – Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak akan memaksakan untuk memberikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada anak orang kaya. Hal itu dia sampaikan saat melakukan kunjungan ke Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan di Gorontalo, Sabtu (9/5/2026).
Dia menanyakan kepada para nelayan di Gorontalo, apakah anak mereka sudah menerima MBG di sekolah atau belum. “Bagaimana di Gorontalo? MBG sudah ada di sekolah-sekolah?” kata Prabowo.
Sejumlah nelayan mengaku anaknya belum mendapat MBG. Prabowo berjanji akan mencatat mana saja sekolah yang belum kebagian MBG. Sebab, Prabowo menegaskan semua sekolah yang merasa perlu akan diberikan MBG.
“Kita segera pokoknya tahun ini semua sekolah yang merasa perlu akan kita berikan MBG semuanya,” ujarnya.
Berkat Sekolah Rakyat, Anak 12 Tahun Ini Akhirnya Bisa Merasakan Bangku Sekolah
Kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seorang anak bernama Al-Jabbar (Al). Di usia 12 tahun, ia akhirnya bisa merasakan bangku sekolah seperti anak-anak lainnya. Hal itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (6/5). Menurut Saifullah, Al-Jabbar merupakan salah satu calon siswa Sekolah Rakyat bersama ratusan anak kurang beruntung lainnya, terutama dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seorang anak bernama Al-Jabbar (Al). Di usia 12 tahun, ia akhirnya bisa merasakan bangku sekolah seperti anak-anak lainnya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Al-Jabbar merupakan salah satu calon siswa Sekolah Rakyat bersama ratusan anak kurang beruntung lainnya, terutama dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit.
Gus Ipul, sapaan akrabnya, mengatakan Al bahkan berani menyampaikan langsung kondisinya kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat berkunjung ke Istana Negara.
“Ini salah satu calon siswa Sekolah Rakyat dari Duren Sawit, enggak jauh dari sini, yang kemarin angkat tangan dan menyampaikan langsung kepada Pak Seskab. Secara spontan dia menyatakan nama saya Al-Jabbar, panggilannya Al. Saya usia 12 tahun, tapi saya belum pernah sekolah,” cerita Gus Ipul dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (6/5).
Al merupakan anak dari seorang ibu tunggal dan memiliki seorang adik. Ayahnya telah lama meninggal sehingga kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit.
“Ayahnya sudah meninggal, status rumahnya juga masih menumpang dan ditemukan pada saat di lampu merah. Dia cerita juga di tengah-tengah dia yang belum pernah sekolah, dia bawa adiknya dan adiknya mau hanya sekolah PAUD, setelah itu dia enggak mau sekolah juga. Padahal Al ingin adiknya bisa sekolah,” kata Gus Ipul.
Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin atau yang berada di kelompok desil 1 dan 2. Program ini bertujuan memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Menurut Gus Ipul, saat pertama kali dimulai pada 2025, Sekolah Rakyat menampung lebih dari 15 ribu siswa dengan kondisi sosial ekonomi keluarga yang berbeda-beda, tetapi mayoritas berada di garis kemiskinan.
“Pertama, 60% orang tua yang bekerja sebagai guru atau penagih harian. 67% orang tua berpenghasilan di bawah 1 juta rupiah. 65% keluarga memiliki tanggungan di atasnya,” jelasnya.
Sementara dari riwayat pendidikannya, terdapat 454 siswa yang tidak atau belum pernah sekolah. Selain itu, 298 siswa tercatat putus sekolah, dan sebagian lainnya bahkan sudah bekerja untuk mencari nafkah.
“Di antara mereka banyak yang hidup bersama orang tua tunggal. Sebagian lagi mereka mengalami kekerasan,” pungkasnya.
Pemerintah menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat mencapai 46 ribu orang sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut diharapkan terus meningkat menjadi 100 ribu siswa pada 2027 dan lebih dari 200 ribu siswa pada 2028. (her/dav)
Refly Harun Sebut Jokowi Membiarkan Anak Bangsa Berkelahi soal Ijazah
loading…
Pengacara Roy Suryo dan Dokter Tifa, Refly Harun menyebut Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) membiarkan anak bangsa meributkan masalah ijazah. Foto: Dok SindoNews/Achmad Al Fiqri
JAKARTA – Pengacara Roy Suryo dan Dokter Tifa, Refly Harun menyebut Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) membiarkan anak bangsa meributkan masalah ijazah. Sebab, hingga saat ini Jokowi tidak memperlihatkan ijazahnya ke publik.
Dia meminta agar perkara Roy Suryo dan Dokter Tifa harus segera dihentikan. Bahkan, ia meminta agar Jokowi menunjukkan sikap kenegarawanan dengan menyelesaikan perkara ini di luar pengadilan.
“Atau kita bicara tentang out of the court, yaitu penyelesaian bagaimana sisi kenegarawanan seorang Jokowi,” katanya dalam Program Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (5/5/2026).
Hardiknas 2026: Stafsus Menag dan 38 Anak Pemulung, Beasiswa Jadi Titik Balik Masa Depan
Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar merayakan Hardiknas 2026. Ia mengunjungi Yayasan Rumah Hebat Anak Indonesia di Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (2/5). Yayasan ini menyediakan pendidikan nonformal gratis bagi 38 anak kurang mampu usia 4-12 tahun, didukung 7 relawan pengajar.
Anak Sering Main Medsos? Studi Ungkap Risiko Gangguan Membaca
Foto: Freepik
Teknologi.id– Penggunaan media sosial pada anak usia dini kembali menjadi sorotan. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Research on Adolescence mengungkap adanya keterkaitan antara intensitas penggunaan media sosial dengan kemampuan membaca pada anak di bawah usia 16 tahun.
Penelitian tersebut menemukan bahwa anak-anak yang secara rutin menghabiskan waktu di media sosial cenderung mengalami kesulitan dalam mengenali serta mengucapkan kata secara utuh. Temuan ini menjadi perhatian, mengingat kemampuan membaca merupakan fondasi penting dalam perkembangan kognitif.
Dampak pada Kemampuan Verbal dan Waktu Membaca
Studi yang melibatkan lebih dari 10.000 anak berusia 10 tahun dan dilakukan selama enam tahun ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berpotensi menggeser waktu anak dari aktivitas penting lainnya.
Anak-anak yang lebih sering terpapar media sosial dilaporkan memiliki waktu yang lebih sedikit untuk membaca buku maupun berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sosialnya. Kondisi ini kemudian dikaitkan dengan penurunan kemampuan verbal serta pemahaman bahasa secara umum.
Selain itu, paparan bahasa alternatif seperti singkatan atau gaya komunikasi tidak baku yang umum digunakan di media sosial juga dinilai turut memengaruhi cara anak memahami dan menggunakan bahasa.
Tidak Sepenuhnya Negatif
Foto: Troomi
Meski demikian, penelitian ini tidak serta-merta menyimpulkan bahwa media sosial hanya membawa dampak buruk. Anak-anak yang aktif menggunakan media sosial juga ditemukan memiliki kemampuan pengolahan informasi yang lebih baik.
Di sisi lain, akses terhadap berbagai sumber informasi yang luas menjadi salah satu keuntungan yang diperoleh dari penggunaan platform digital tersebut.
Sebagai langkah untuk meminimalkan dampak negatif, para peneliti menekankan pentingnya keseimbangan dalam konsumsi informasi anak. Media sosial sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber bacaan.
Anak didorong untuk tetap mengakses bahan bacaan lain di luar platform digital, seperti buku atau sumber edukatif lainnya. Pendekatan ini dinilai dapat membantu menjaga kemampuan bahasa sekaligus mengurangi dampak dari paparan gaya komunikasi yang tidak baku.
Dalam konteks ini, peran orang tua dan lingkungan menjadi krusial dalam mengarahkan pola konsumsi media anak. Pengawasan serta dorongan untuk membaca secara aktif dinilai menjadi kunci dalam menjaga perkembangan kemampuan literasi.
Studi ini sekaligus menegaskan bahwa penggunaan teknologi pada anak memerlukan pengelolaan yang tepat. Tanpa keseimbangan, manfaat yang ditawarkan dapat berubah menjadi tantangan bagi perkembangan kemampuan dasar seperti membaca.
Kekerasan Daycare Yogyakarta Bukti Lemahnya Pengawasan Pemerintah di Lembaga Penitipan Anak
Kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha, Sorosutan, Yogyakarta, kini telah terungkap. Polisi menggerebek lokasi pada Jumat (24/4/2026). Sebanyak 103 anak menjadi korban, 53 di antaranya mengalami luka fisik. Daycare beroperasi tanpa izin resmi, menyoroti lemahnya sistem perlindungan anak di Indonesia. Penegakan hukum yang tegas didorong untuk kejahatan serius ini.
Komdigi Ungkap TikTok Nonaktifkan 1,7 Juta Akun Anak
Menkomdigi Meutya Hafid mengungkapkan perkembangan kepatuhan platform digital terhadap aturan perlindungan anak (PP Tunas). TikTok menjadi platform pertama yang melaporkan langkah konkret secara transparan. Sejak 28 Maret 2026, TikTok menonaktifkan 1,7 juta akun pengguna di bawah 16 tahun, meningkat signifikan. Ini menunjukkan komitmen nyata dalam penanganan kejahatan digital.
Sekolah Rakyat Jadi Penopang Harapan bagi Anak yang Tumbuh Tanpa Sosok Ibu di Pati
Suyanto (51 tahun) berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada petugas pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Berkat bantuan petugas tersebut, Najijaten Niswah, putri bungsunya, bisa bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 12 Pati, Jawa Tengah. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Pati, Idola 92.6 FM-Suyanto (51 tahun) berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada petugas pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
Berkat bantuan petugas tersebut, Najijaten Niswah, putri bungsunya, bisa bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 12 Pati, Jawa Tengah.
“Saya terima kasih kepada pegawai PKH yang menyekolahkan (anak saya) di SR,” kata Suyanto, ditemui di rumahnya di Desa Tegalwero, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati.
Sudah tiga tahun Suyanto bekerja sendiri menghidupi tiga anaknya. Istrinya meninggal.
Sebagai buruh tani, khususnya menjadi pemotong kayu, penghasilan sehari rata-rata Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Itu pun tak tentu bergantung seberapa banyak yang membutuhkan jasanya.
Dari keadaan orang tuanya, Najijaten sangat layak masuk Sekolah Rakyat. Rumahnya pun seadanya. Dinding masih sebatas bata tanpa semen. Lantai rumah pun sangat sederhana tanpa keramik.
Keadaan dapur bahkan sangat sederhana. Hanya ada kompor gas yang sudah menghitam, sama hitamnya dengan bokong wajan. Ditambah sejumlah kecil perabotan dapur.
Suyanto berterima kasih anaknya bisa bersekolah di Sekolah Rakyat. Apalagi Najijaten juga senang bersekolah di sana.
“Saya senang, di sana sudah dicukupi. Semua gratis, makan pun gratis,” kata dia.
Suyanto juga berterima kasih atas pemberian gergaji mesin dari Pemerintah. Gergaji itu membuat pekerjaannya lebih mudah. (her/dav)
Istri dan Anak Bandar Narkoba Koh Erwin Ditahan di Rutan Bareskrim
loading…
Istri dan anak Koh Erwin tak berbicara kepada awak media setelah ditangkap penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri. Foto/Puteranegara
JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri melakukan penahanan terhadap istri dan dua anak bandar narkoba Erwin Iskandar alias Koh Erwin . Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso mengungkapkan mereka bakal langsung ditahan di Rutan Bareskrim seusai dilakukan sejumlah proses pemeriksaan.
“Tahan, tahan, ya. Begitu cukup unsur, digelarkan dulu, dilakukan penahanan. Untuk menentukan penahanan harus digelarkan melalui beberapa pihak supaya unsurnya terpenuhi, ya,” kata Eko di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).
Diketahui, Virda Virginia Pahlevi yang merupakan istri dari Koh Erwin, Hadi Sumarho Iskandar dan Christina Aurelia yang merupakan anak dari Koh Erwin, sudah dibawa ke Gedung Bareskrim seusai ditangkap di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Berdasarkan pantauan di Gedung Bareskrim Polri, mereka tiba pukul 17.20 WIB. Istri dan anak Koh Erwin tak berbicara kepada awak media setelah ditangkap penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.
Istri dan anak Koh Erwin juga terlihat tangannya diborgol. Mereka berusaha menutupi wajah dengan jaket. Mereka langsung menuju Gedung Bareskrim Polri untuk dilanjutkan proses pemeriksaan.
Penyidik yang mendampingi juga terlihat membawa koper dan tas diduga berisikan barang bukti terkait dengan penangkapan tersebut. Eko mengungkapkan, pihaknya juga melakukan penyitaan terhadap sejumlah aset terkait perkara itu. “Barang bukti tindak pencucian uang dari hasil tindak pidana narkotika disita dari ketiga tersangka tersebut, berupa rumah, ruko, gudang, kendaraan bermotor, serta berbagai dokumen terkait,” ujar Eko.
Determinasi Sutarti: Dapur MBG Jadi Benteng Biayai Perang Anak Lawan Kanker Tulang & Cuci Darah
Sutarti (56), warga Klaten, terbantu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini memungkinkannya membiayai pengobatan anak yang berjuang melawan kanker tulang dan gagal ginjal. Penghasilan pasti dari dapur MBG dekat rumah, sehingga Sutarti bisa merawat anaknya. Program ini sangat berarti bagi keluarga.