Jangkauan Fenomenal MBG: 62,4 Juta Orang Terdampak, Dari Anak Sekolah hingga Ibu Hamil
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperluas jangkauan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) pada Jumat (22/5), total penerima manfaat MBG telah mencapai 62.454.064 orang. Jumlah tersebut mencakup berbagai kelompok sasaran, mulai dari peserta didik, balita, ibu menyusui, ibu hamil, hingga santri. (Foto Dok. Memorandum.co.id/ Disway)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperluas jangkauan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) pada Jumat (22/5), total penerima manfaat MBG telah mencapai 62.454.064 orang.
Jumlah tersebut mencakup berbagai kelompok sasaran, mulai dari peserta didik, balita, ibu menyusui, ibu hamil, hingga santri. Program ini menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan gizi nasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Dari total penerima manfaat tersebut, kelompok peserta didik menjadi penerima terbesar dengan jumlah mencapai 48.350.393 orang. Angka ini setara dengan 76,1 persen dari total data induk peserta didik sebanyak 63.574.421 jiwa.
Sementara itu, penerima manfaat dari kelompok balita mencapai 6.303.775 orang atau sekitar 37,7 persen dari total data induk balita nasional. Untuk kategori ibu menyusui (busui), jumlah penerima tercatat sebanyak 2.066.533 orang atau 75,2 persen dari total sasaran.
Adapun penerima manfaat dari kelompok ibu hamil (bumil) mencapai 868.259 orang atau sekitar 35,3 persen. Sementara itu, kategori santri tercatat sebanyak 644.664 orang atau 44,2 persen dari total sasaran nasional.
Selain itu, program MBG juga melibatkan sekitar 4.220.440 guru dan tenaga pendidik dalam pelaksanaannya sehingga total penerima manfaat mencapai 62.454.064 orang.
Adapun jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) operasional telah mencapai 29.225 unit di seluruh Indonesia. Sejak dimulai pada 6 Januari 2025, total sajian yang telah disalurkan mencapai 8,3 miliar porsi.
Program MBG juga telah menjangkau 374.175 sekolah penerima manfaat di seluruh Indonesia. Untuk mendukung operasional program, sebanyak 1.285.250 tenaga kerja terlibat, mulai dari pengolahan makanan hingga distribusi.
Dari sisi rantai pasok, BGN mencatat keterlibatan 142.387 supplier yang terdiri atas 59.921 UMKM, 13.306 koperasi, 690 KDKMP, 1.410 Bumdes, 157 Bumdesma, serta 66.903 supplier lainnya.
Keterlibatan pelaku usaha lokal tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (her/dav)
Kebijakan Baru Roblox: Pembatasan Chat Ketat untuk Anak di Bawah 16, Indonesia Jadi Pionir
Roblox memberlakukan kebijakan baru untuk pemain game online di Indonesia mulai 19 Mei 2026. Sistem akun berbasis usia (Roblox Kids dan Roblox Select) diterapkan demi perlindungan anak. Ini membatasi akses konten dan fitur chat, serta memperkuat kontrol orang tua. Langkah ini wujud kepatuhan regulasi.
Viral di China! AI Profesor Ini Dipakai Anak Muda untuk Hadapi Tekanan Orangtua
Foto: South China Morning Post
Teknologi.id –Fenomena penggunaan kecerdasan buatan atau AI kini semakin meluas, bahkan sampai ke ranah hubungan keluarga. Di China, seorang anak muda mencuri perhatian publik setelah menciptakan sosok profesor virtual berbasis AI untuk menghadapi nasihat kolot dari orangtuanya.
Alih-alih berdebat secara langsung, pemuda tersebut memilih membuat karakter digital bernama “Pak Zhao” yang tampil sebagai pria paruh baya dengan aura akademisi berwibawa. Sosok itu kemudian dijadikan tokoh utama dalam akun media sosial bertajuk “Lao Zhao jiang dao li” atau “Pak Zhao bicara masuk akal”.Cara unik ini langsung ramai dibicarakan warganet karena dianggap mencerminkan konflik generasi muda dengan pola pikir lama yang masih kuat di masyarakat China.
Pembuat akun tersebut mengaku sengaja menghadirkan figur “Pak Zhao” karena pendapat pribadinya kerap tidak dianggap serius oleh orangtuanya. Menurutnya, nasihat dari sosok yang terlihat tua, pintar, dan berpengalaman justru lebih mudah dipercaya.
Situasi ini membuatnya frustrasi. Terlebih, ia sering menerima kiriman artikel berisi petuah kuno yang dianggap sudah tidak relevan dengan kehidupan modern.
Di China sendiri, konten semacam itu populer dengan istilah “toxic chicken soup”. Istilah tersebut merujuk pada nasihat yang terdengar bijak, tetapi sebenarnya penuh tekanan sosial, doktrin lama, hingga mitos yang belum tentu sesuai dengan realitas masa kini.
Lewat “Pak Zhao”, ia mencoba membalik keadaan. Jika orangtuanya lebih percaya profesor dibanding anak sendiri, maka ia menciptakan profesor versinya sendiri dengan bantuan AI.
Sosok Profesor Dibuat Sangat Meyakinkan
Foto: ChatGPT
Agar terlihat realistis, identitas “Pak Zhao” dirancang dengan sangat detail. Dalam profil akun, karakter tersebut disebut sebagai pensiunan profesor asal Chongqing yang telah meneliti hubungan orangtua dan anak selama lebih dari 30 tahun.
Tak hanya itu, sosok tersebut juga diklaim pernah menempuh pendidikan di Singapura dan aktif menerbitkan berbagai karya ilmiah. Padahal, seluruh latar belakang itu sepenuhnya fiktif.
Untuk memperkuat kesan autentik, kreatornya memanfaatkan teknologi AI untuk membuat video yang menampilkan “Pak Zhao” sedang berbicara layaknya dosen atau motivator profesional.
Dengan teknologi AI generatif, proses produksi konten menjadi jauh lebih cepat. Dalam waktu singkat, akun tersebut langsung menerbitkan 18 artikel sekaligus yang membahas berbagai persoalan keluarga dan tekanan sosial yang sering dialami anak muda.
Bahas Tekanan Menikah hingga Karier
Topik yang diangkat “Pak Zhao” ternyata sangat dekat dengan kehidupan generasi muda China saat ini. Mulai dari tekanan untuk segera menikah, tuntutan memiliki pekerjaan mapan, hingga campur tangan orangtua dalam menentukan karier anak.
Salah satu isu yang paling banyak dibahas adalah anggapan bahwa menjadi pegawai negeri merupakan satu-satunya jalan menuju kehidupan sukses dan stabil.
Tak sedikit pula konten yang mengkritik pandangan lama soal perempuan yang dianggap wajib bisa memasak atau harus menikah di usia tertentu agar tidak dicap gagal.
Karena dibawakan oleh figur profesor yang tampak kredibel, pesan-pesan tersebut justru lebih mudah diterima oleh kalangan orangtua dibanding ketika disampaikan langsung oleh anak mereka sendiri.
Menariknya, keberhasilan akun “Pak Zhao” juga didukung oleh komunitas internet yang ikut bermain peran demi membuat karakter tersebut semakin terlihat nyata.
Beberapa pengguna internet sengaja meninggalkan komentar palsu yang mengaku pernah menghadiri seminar “Pak Zhao” di luar negeri.
Ada juga yang menyebut hubungan keluarga mereka membaik setelah mengikuti nasihat sang profesor.
Bahkan, sejumlah netizen membuat foto dokumentasi seminar fiktif menggunakan bantuan AI untuk memperkuat citra akademisi tersebut.
Kolaborasi unik ini membuat banyak pengguna baru percaya bahwa “Pak Zhao” benar-benar sosok nyata.
Cara Baru Anak Muda Melawan Stigma Lama
Fenomena ini akhirnya memicu diskusi luas di media sosial China. Banyak orang menilai strategi tersebut menunjukkan bagaimana generasi muda mulai mencari cara baru untuk menghadapi tekanan sosial dan pola pikir konservatif dari generasi sebelumnya.
Alih-alih melawan secara frontal, mereka memanfaatkan teknologi untuk membangun pendekatan yang lebih efektif dan mudah diterima.
Di sisi lain, kasus “Pak Zhao” juga memperlihatkan bagaimana AI kini bukan hanya dipakai untuk pekerjaan atau hiburan, tetapi juga menjadi alat komunikasi sosial yang mampu memengaruhi cara orang memahami sebuah pesan.Meski terdengar lucu dan kreatif, fenomena ini sekaligus menjadi gambaran adanya jarak pemahaman antara generasi muda dan orangtua di era digital saat ini.
Sahroni: Presiden dan Kapolri Tegas Larang Polisi Bekingi Koruptor, Anak Buahnya Harus Patuh!
loading…
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendukung Presiden Prabowo Subianto yang meminta masyarakat melaporkan oknum aparat yang jadi beking tindak kejahatan. Foto/Dok.SindoNews
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkap keprihatinannya mengenai aparat dari TNI dan Polri yang kerap menjadi beking para pejabat yang melakukan praktik korupsi. Hal tersebut diungkapkannya dalam pidatonya di rapat Paripurna ke-19 DPR, Rabu (20/5/2026).
Karenanya, Prabowo pun meminta masyarakat untuk tak segan melaporkan ulah oknum aparat yang tidak melaksanakan tugasnya melindungi rakyat. Merespons ketegasan Presiden Prabowo, Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni pun menyebut dirinya mendukung pemberantasan beking.
Menurut Sahroni, jajaran di bawah harus mengikuti komitmen Presiden dan Kapolri. “Komisi III 1.000% mendukung ketegasan Presiden Prabowo untuk menindak seluruh oknum aparat yang masih coba-coba menjadi beking tindak kejahatan. Nah Presiden dan Kapolri sudah komit, maka jajaran di bawah ya harus patuh,” ujar Sahroni dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Prabowo Terima Surat dari Anak Kelas 5 SD: Terima Kasih atas MBG
Sebuah surat kecil dari seorang anak berusia 11 tahun mungkin tidak akan mengubah jalannya kebijakan negara. Tapi isinya cukup untuk menghangatkan hati siapa saja yang membacanya. Alkhalifi Muhammad Marfen, siswa kelas 5D Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Sidoarjo, Jawa Timur, menulis surat untuk Presiden Prabowo Subianto. (Foto Dok. Bakom RI)
Nganjuk, Idola 92.6 FM-Sebuah surat kecil dari seorang anak berusia 11 tahun mungkin tidak akan mengubah jalannya kebijakan negara. Tapi isinya cukup untuk menghangatkan hati siapa saja yang membacanya.
Alkhalifi Muhammad Marfen, siswa kelas 5D Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Sidoarjo, Jawa Timur, menulis surat untuk Presiden Prabowo Subianto. Dengan tulisan tangan dan bahasa yang polos, Marfen menyampaikan rasa terima kasihnya atas program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini ia nikmati di sekolah.
Surat itu diterima Prabowo di sela kunjungan kerjanya ke Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur Sabtu (16/5). Presiden siang tadi meresmikan Museum Ibu Marsinah, monumen penghormatan atas perjuangan aktivis buruh Pahlawan Nasional Marsinah, sekaligus meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Terima kasih Bapak atas makan bergizi gratis. Saya senang menerimanya, karena makanannya bergizi,” tulis Marfen dalam suratnya.
Di penghujung surat, Marfen menyisipkan satu permohonan sederhana yang mencerminkan impian banyak anak seusianya: ingin melihat langsung sang Presiden, bukan hanya lewat layar televisi.
“Saya ingin bertemu dengan Bapak Presiden dengan ikut upacara 17 Agustus 1945 di Istana Negara, karena cuma bisa melihat di TV,” tulisnya.
Surat itu ditutup dengan doa yang tulus. “Terima kasih Bapak Presiden, sehat selalu,” demikian Marfen mengakhiri suratnya.
Program Makan Bergizi Gratis yang digulirkan pemerintahan Prabowo menyasar siswa dari jenjang PAUD hingga SMA, serta ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah lima tahun (balita) di seluruh Indonesia. Bagi Marfen dan jutaan anak lainnya, program ini bukan sekadar menu makan siang, melainkan perhatian nyata negara yang terasa hingga ke bangku sekolah. (her/dav)
200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, 80 Ribu di Antaranya di Bawah 10 Tahun
loading…
Menkomdigi Meutya Hafid mengungkap hampir 200.000 anak Indonesia telah terpapar judi online (Judol). Foto/istimewa
M – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkap hampir 200.000 anak Indonesia telah terpapar judi online (Judol), termasuk sekitar 80.000 anak di bawah usia 10 tahun. Angka tersebut disebut menjadi alarm serius bagi masa depan generasi bangsa.
Hal itu disampaikan Meutya saat kegiatan Indonesia GOID Menyapa Gass Pol Tolak Judol – Jauhi Judol, Anak Medan Pilih Masa Depan, Bukan Judi Online di Kota Medan, pada Rabu, 13 Mei 2026.
“Judi online adalah scam yang sistemnya memastikan pemain hampir selalu rugi dan kalah dalam jangka panjang. Karena itu, kita semua harus menjadi garda edukasi, saling mengingatkan, serta melindungi keluarga dan anak-anak kita dari maraknya praktik ilegal ini,” terang Meutya, dikutip Kamis (14/5/2026).
Menurut Meutya, pemberantasan judi online tidak cukup hanya melalui pemutusan akses dan penindakan hukum. Pemerintah juga terus memperkuat literasi digital dan melibatkan masyarakat sebagai benteng utama pencegahan.
Pemerintah Luncurkan Buku Panduan Pendidikan Antikorupsi untuk Perkuat Pendidikan Karakter Anak
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah daerah (Pemda), serta seluruh kementerian/lembaga terkait, meluncurkan Buku Panduan dan Bahan Ajar Pendidikan Antikorupsi (PAK), pada Senin (11/5). (Foto Dok. KPK)
Semarang, Idola 92.6 FM-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah daerah (Pemda), serta seluruh kementerian/lembaga terkait, meluncurkan Buku Panduan dan Bahan Ajar Pendidikan Antikorupsi (PAK), pada Senin (11/5).
Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menegaskan, langkah ini menjadi ruang paling strategis dalam membentuk karakter bangsa dan membangun budaya antikorupsi sejak dini. “Pendidikan harus menjadi fondasi membangun generasi berintegritas. Karena itu, penguatan integritas pendidikan dari pusat hingga daerah harus memiliki arah dan semangat yang sama,” tegas Setyo dalam sambutannya di Gedung Sasana Bhakti Praja Kemendagri, Jakarta.
KPK memandang penguatan integritas di sektor pendidikan masih menjadi pekerjaan besar bersama. Hal itu didasari dari hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang menunjukkan Indeks Integritas Pendidikan berada pada angka 69,50 dari skala 100.
Nilai tersebut menunjukkan sistem integritas pendidikan mulai terbentuk, namun belum sepenuhnya menjadi budaya yang konsisten di seluruh ekosistem pendidikan. Sebab demikian, pendidikan antikorupsi diposisikan sebagai strategi hulu negara untuk membangun fondasi karakter dan integritas generasi masa depan.
Peluncuran Buku Panduan dan Bahan Ajar PAK ini juga menjadi bagian dari upaya tindak lanjut dan evaluasi atas hasil SPI Pendidikan 2024, yang perbaikannya dilakukan sepanjang tahun 2025 oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Buku Panduan Pendidikan Antikorupsi akan disertai lima buku Bahan Ajar untuk guru-guru di seluruh jenjang, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA dan SMK. Dalam panduan ini, terdapat lima kompetensi kunci yang menjadi fondasi Pendidikan Antikorupsi, yaitu terkait ajaran menaati aturan; memahami konsep kepemilikan; menjaga amanah; mengelola dilema etis; dan membangun budaya antikorupsi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi membentuk generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berintegritas.
“Ini merupakan bagian dari kebijakan untuk memperkuat pendidikan karakter, khususnya kepribadian yang jujur, kepribadian yang berintegritas, bertanggung jawab, dan perilaku yang bersih dari segala macam bentuk korupsi,” ungkapnya, dalam siaran persnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri III, Akhmad Wiyagus, menekankan panduan tersebut menjadi pedoman bagi seluruh pemerintah maupun satuan pendidikan (satdik) di daerah dalam membangun ekosistem pendidikan berintegritas.
“Kepada seluruh Kepala Daerah untuk mendorong dan memastikan implementasi Pendidikan Antikorupsi dengan memanfaatkan Panduan dan Bahan Ajar Pendidikan Antikorupsi yang telah tersedia, sebagai upaya melakukan perbaikan konkret dan terukur guna meningkatkan integritas pendidikan secara nyata,” ujarnya.
Pelaksanaan SPI Pendidikan 2026
Tahun ini, KPK kembali melaksanakan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan sebagai instrumen untuk memotret kondisi integritas pendidikan di Indonesia. Adapun periode survei dilaksanakan sejak 13 April sampai dengan 31 Juli 2026.
Pelaksanaan SPI Pendidikan 2026 secara mutlak membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif pemangku kepentingan daerah sebagai aktor utama perubahan. Tidak hanya pemerintah daerah, pemangku kepentingan juga mencakup instansi pembina, instansi pengawas, hingga satuan pendidikan. Survei ini menjadi bagian dari evaluasi atas berbagai upaya penguatan integritas yang telah dilakukan bersama dalam satu tahun terakhir.
KPK berharap berbagai langkah perbaikan yang dilakukan dapat memperkuat implementasi pendidikan antikorupsi secara nyata dan berkelanjutan di seluruh satuan pendidikan.
“Penting menanamkan semangat masa depan tanpa korupsi mulai dari hari ini. Dengan demikian, pemberantasan korupsi sejatinya dimulai dari ruang kelas,” pungkas Setyo
Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo; Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana; Direktur Jejaring Pendidikan KPK, Dian Novianthi; jajaran kementerian/lembaga terkait; pemerintah daerah; kepala dinas pendidikan; serta para pemangku kepentingan di sektor pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. (her/dav)
Huawei Watch Kids X1 Bawa Fitur AI dan Safe Zone untuk Lindungi Anak
Foto: msn.com
Teknologi.id – Pasar perangkat wearable untuk segmen anak-anak kembali bergairah dengan inovasi terbaru dari Huawei. Secara resmi, Huawei Watch Kids X1 Series diperkenalkan sebagai solusi perangkat pintar yang menggabungkan fitur hiburan, komunikasi, dan keamanan tingkat tinggi. Keunggulan utama yang diusung oleh seri terbaru ini adalah kehadiran kamera depan yang memungkinkan orang tua tetap terhubung dengan buah hati melalui panggilan video berkualitas tinggi secara real-time.
Peluncuran ini mempertegas posisi Huawei dalam menghadirkan ekosistem teknologi yang inklusif untuk seluruh anggota keluarga. Dengan desain yang ceria namun tangguh, Watch Kids X1 dan X1 Pro dirancang untuk menemani aktivitas harian anak yang dinamis tanpa mengabaikan faktor keamanan data pribadi.
Fitur Unggulan Kamera Depan dan Komunikasi Visual
Foto: tekno.kompas.com
Kehadiran kamera depan pada Huawei Watch Kids X1 Series bukan sekadar fitur tambahan. Kamera ini dioptimalkan untuk mendukung panggilan video (video call) yang stabil bahkan dalam kondisi pencahayaan yang menantang. Bagi orang tua, fitur ini memberikan ketenangan lebih karena tidak hanya bisa mendengar suara, tetapi juga dapat melihat langsung lingkungan di sekitar anak saat mereka sedang berada di luar rumah.
Selain fungsi komunikasi, kamera pada varian X1 Pro juga dibekali kemampuan untuk menangkap momen-momen ceria anak dalam bentuk foto secara mandiri. Huawei juga menyertakan fitur AI Vision yang dapat membantu anak mengenali objek atau tanaman di sekitar mereka, menjadikan smartwatch ini sebagai alat belajar interaktif yang menyenangkan dan edukatif.
Sistem Keamanan Lokasi dan Privasi Data yang Ketat
Sebagai perangkat yang ditujukan untuk anak-anak, aspek keamanan menjadi prioritas utama. Huawei Watch Kids X1 Series dibekali dengan sistem pemosisian (GPS) yang sangat akurat, mencakup sembilan sistem pelacakan lokasi berbeda untuk memastikan data koordinat tetap presisi meskipun anak berada di dalam ruangan. Orang tua dapat mengatur Safe Zone melalui aplikasi, sehingga akan menerima notifikasi instan jika anak keluar dari area yang telah ditentukan.
Dari sisi privasi, Huawei memastikan bahwa seluruh data komunikasi dan lokasi terenkripsi dengan standar tinggi. Fitur Stranger Rejection memastikan bahwa jam tangan hanya bisa menerima panggilan dari nomor-nomor yang telah didaftarkan oleh orang tua, sehingga anak tetap aman dari gangguan pihak yang tidak dikenal.
Untuk urusan harga, perangkat canggih ini diposisikan sebagai perangkat premium di kelasnya. Di pasar global, Huawei Watch Kids X1 Pro dibanderol dengan harga mulai dari 249 euro. Sementara itu, untuk pasar dalam negeri, perangkat ini diperkirakan akan dipasarkan dengan rentang harga sekitar Rp4,2 juta hingga Rp4,3 juta.
Harga tersebut dinilai sepadan dengan kualitas material durabel, layar AMOLED yang tajam, serta teknologi proteksi mata yang disematkan Huawei guna menjaga kenyamanan penglihatan anak saat menggunakan perangkat dalam waktu lama
Mendukung Ekosistem Digital Keluarga yang Aman di Indonesia
Kehadiran perangkat pintar khusus anak seperti ini memiliki peran krusial dalam memperkenalkan teknologi secara bertanggung jawab sejak dini. Dengan fitur yang edukatif dan protektif, perangkat ini mendukung kemajuan teknologi di Indonesia melalui penyediaan gawai yang sehat bagi pertumbuhan anak-anak. Hal ini sejalan dengan tren pola asuh digital (digital parenting) yang semakin populer di kalangan keluarga modern tanah air.
Memilih Huawei Watch Kids X1 atau X1 Pro adalah investasi cerdas bagi orang tua yang mengedepankan keseimbangan antara kebebasan bermain anak dan kontrol keamanan yang mumpuni. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan emosional sekaligus benteng perlindungan yang efektif dalam kehidupan sehari-hari.
Prabowo Tak Paksa Anak Orang Kaya yang Tidak Butuh MBG
loading…
Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak akan memaksakan untuk memberikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada anak orang kaya. Foto: Dok Sindonews
GORONTALO – Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak akan memaksakan untuk memberikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada anak orang kaya. Hal itu dia sampaikan saat melakukan kunjungan ke Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan di Gorontalo, Sabtu (9/5/2026).
Dia menanyakan kepada para nelayan di Gorontalo, apakah anak mereka sudah menerima MBG di sekolah atau belum. “Bagaimana di Gorontalo? MBG sudah ada di sekolah-sekolah?” kata Prabowo.
Sejumlah nelayan mengaku anaknya belum mendapat MBG. Prabowo berjanji akan mencatat mana saja sekolah yang belum kebagian MBG. Sebab, Prabowo menegaskan semua sekolah yang merasa perlu akan diberikan MBG.
“Kita segera pokoknya tahun ini semua sekolah yang merasa perlu akan kita berikan MBG semuanya,” ujarnya.
Berkat Sekolah Rakyat, Anak 12 Tahun Ini Akhirnya Bisa Merasakan Bangku Sekolah
Kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seorang anak bernama Al-Jabbar (Al). Di usia 12 tahun, ia akhirnya bisa merasakan bangku sekolah seperti anak-anak lainnya. Hal itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (6/5). Menurut Saifullah, Al-Jabbar merupakan salah satu calon siswa Sekolah Rakyat bersama ratusan anak kurang beruntung lainnya, terutama dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. (Foto Dok. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI)
Jakarta, Idola 92.6 FM-Kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seorang anak bernama Al-Jabbar (Al). Di usia 12 tahun, ia akhirnya bisa merasakan bangku sekolah seperti anak-anak lainnya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Al-Jabbar merupakan salah satu calon siswa Sekolah Rakyat bersama ratusan anak kurang beruntung lainnya, terutama dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit.
Gus Ipul, sapaan akrabnya, mengatakan Al bahkan berani menyampaikan langsung kondisinya kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat berkunjung ke Istana Negara.
“Ini salah satu calon siswa Sekolah Rakyat dari Duren Sawit, enggak jauh dari sini, yang kemarin angkat tangan dan menyampaikan langsung kepada Pak Seskab. Secara spontan dia menyatakan nama saya Al-Jabbar, panggilannya Al. Saya usia 12 tahun, tapi saya belum pernah sekolah,” cerita Gus Ipul dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (6/5).
Al merupakan anak dari seorang ibu tunggal dan memiliki seorang adik. Ayahnya telah lama meninggal sehingga kondisi ekonomi keluarganya sangat sulit.
“Ayahnya sudah meninggal, status rumahnya juga masih menumpang dan ditemukan pada saat di lampu merah. Dia cerita juga di tengah-tengah dia yang belum pernah sekolah, dia bawa adiknya dan adiknya mau hanya sekolah PAUD, setelah itu dia enggak mau sekolah juga. Padahal Al ingin adiknya bisa sekolah,” kata Gus Ipul.
Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin atau yang berada di kelompok desil 1 dan 2. Program ini bertujuan memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Menurut Gus Ipul, saat pertama kali dimulai pada 2025, Sekolah Rakyat menampung lebih dari 15 ribu siswa dengan kondisi sosial ekonomi keluarga yang berbeda-beda, tetapi mayoritas berada di garis kemiskinan.
“Pertama, 60% orang tua yang bekerja sebagai guru atau penagih harian. 67% orang tua berpenghasilan di bawah 1 juta rupiah. 65% keluarga memiliki tanggungan di atasnya,” jelasnya.
Sementara dari riwayat pendidikannya, terdapat 454 siswa yang tidak atau belum pernah sekolah. Selain itu, 298 siswa tercatat putus sekolah, dan sebagian lainnya bahkan sudah bekerja untuk mencari nafkah.
“Di antara mereka banyak yang hidup bersama orang tua tunggal. Sebagian lagi mereka mengalami kekerasan,” pungkasnya.
Pemerintah menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat mencapai 46 ribu orang sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut diharapkan terus meningkat menjadi 100 ribu siswa pada 2027 dan lebih dari 200 ribu siswa pada 2028. (her/dav)